
"bagaimana mas, apa Angga baik baik saja?"
"aku tidak bertemu dengan Rena dan juga Angga, tapi aku bertemu dengan bibik Emi."
"terus apa kata dia?"
"katanya hp gadis itu di sita sama Mak lampir, terus susu Angga sudah di ganti dengan susu formula."
"apa? Yang benar aja mas dia kan gak suka susu formula, selain itu dia benar benar tidak cocok minum susu itu."
"aku sudah memberikan nomor Bela kepada bik Emi, semoga mereka bisa menghubungi nya secepatnya kalau ngak dia tidak akan tenang "
"ya sudah telfon Bela dan juga Frey."
"oh iya ya untung kamu ingatin aku sayang." Doni pun kemudian menelfon Bela dan juga Frey, dia pun menceritakan percakapannya dengan bik Emi tanpa ada yang di tambah tambahi atau di kurangi.
Doni mengantar istrinya pulang ke rumahnya dan dia pun kembali ke tempat kerja.
...****************...
Rena turun ke bawah sambil menggendong Angga, dia sangat rewel karena dia tidak bisa menerima susu formula yang di beli Lusi. Biar pun kata Lusi itu susu mahal akan tetapi Angga tidak cocok dengan susu itu, balita itu sudah mulai diare dan dia jadi rewel.
"ada apa Rena? Kenapa den Angga jadi rewel? Apa dia tidak enak badan?"
"sepertinya begitu bik, dia mulai mencret tidak cocok dengan susu itu."
"apa susunya masih di kasi?"
"ngak bik tapi aku bingung dia pengen nyusu tapi aku gak berani ngasi susu itu lagi."
"sebaiknya kita telfon ibu bela aja,"
"kita kan gak tau no nya bik,"
"ada ini tadi di kasi den Doni, ini ambil hp nya masuk aja ke kamarmu aku akan mengawasi nyonya."
Rena mengambil hp bik Emi dia pun menghubungi Bela di dalam kamarnya, sedangkan Angga sedang tertidur di gendongan gadis itu.
"halo, buk Bela ini Rena."
"Rena bagaimana Angga? Apa dia baik baik saja?"
__ADS_1
"tidak buk dia sedang tidak baik baik saja."
"maksud kamu apa Rena? Tolong bicara yang jelas."
"begini buk Bela, susu Angga memang tinggal sedikit waktu itu, tuan sama nyonya tau kalau kita sering berhubungan. Jadi tuan marah dan dia menyuruh nyonya untuk membeli susu formula, dan nyonya pun membuang asi dari ibu."
"terus Ren bagaimana dengan putraku? Apa dia mau minum susu itu? Kalau dia mau biarin aja, dia memang harus jadi anak yang kuat."
"itu dia buk Angga sama sekali tidak cocok dengan susu itu, bahkan dia sudah mulai mencret dan dia sangat rewel."
"apa Gala tidak tau kalau putranya sedang diare?"
"tidak buk Bela, akhir akhir ini tuan sering pulang malam dan nyonya selalu mengalihkan perhatiannya."
"apa wanita itu tau kalau Angga Sedang diare?"
"sudah aku kasi tau tapi dia seperti tidak perduli, malahan dia bilang jangan kasi tau tuan."
"Ya sudah aku akan segera kesana untuk mengantarkan asi untuk Angga."
"kalau sudah sampai cepat hubungi no ini buk Bela, ini aku pake hp bik Emi. Kita harus hati hati ini karena nyonya ada di rumah."
"baiklah aku mengerti," Bela pun mematikan telfon dan segera menyambar tasnya, ibu satu anak itu pun segera memesan taxi kemudian cepat cepat turun ke bawah.
"tolong tunggu sebentar pak aku akan masuk kerumah untuk mengambil sesuatu,"
"baik nona," Bela pun masuk kedalam rumah untuk mengambil stok susu untuk Angga yang sudah menumpuk, karena beberapa hari ini belum pernah di antar ke rumah Gala.
"kok udah pulang nak? Biasanya kamu pulangnya sore?"
"aku mau antar susu untuk Angga, ibu gak usah khawatir cucumu baik baik saja."
"syukurlah kalau dia baik baik saja, sekarang ibu bisa tenang."
"ya sudah Bela jalan dulu, ibu ayah mana?"
"ya sudah hati hati ya, ayah kamu lagi istirahat di kamar." Bela pun Salim dan mencium punggung tangan ibu Laila dan segera keluar rumah.
Ibu satu anak itu langsung naik ke taxi yang memang sedari tadi menunggunya, dia pun memberitahu alamat yang akan mereka tuju. Tidak menunggu lama mereka pun sampai di depan rumah mantan suaminya Gala.
Setelah mobil berhenti dia pun mengeluarkan hp dari dalam tasnya, kemudian menelfon Bibik Emi.
__ADS_1
"halo bibik Emi "
"halo, oh ini ibu Bela ya?"
"iya bik ini aku sudah di depan rumah di dalam taxi, suruh aja Rena keluar tolong kalau bisa bawa Angga. Aku sudah sangat merindukannya."
"baiklah buk Bela, aku akan memberitahu Rena dulu." bibik Emi pun menemui Rena yang sedang ada di taman belakang, sedangkan Lusi saat ini sedang tidur di kamarnya.
"Rena itu ibu Bela sudah menunggu di depan, nanti langsung masuk aja ke dalam taxi."
"nyonya bagaimana?"
"tenang nyonya saat ini sedang tidur, tadi dia berpesan jangan ada yang mengganggunya karena dia mau tidur siang."
"oh kalau begitu aku akan bawa Angga juga supaya dia bisa bertemu dengan mamanya."
"iya ibu Bela juga tadi ngomong ingin bertemu dengannya."
"Baiklah bik aku keluar dulu takut nyonya keburu bangun."
Rena keluar bersama Angga, sampai di gerbang gadis itu menemui satpam.
"pak Toni tolong jangan kasi tau kalau saya menemui ibu bela, kasian den Angga sedang sakit."
"oh iya Rena kemaren nyonya memang mengatakan, kalau seandainya Rena bertemu dengan buk Bela harus segera melapor."
"apa bapak akan melapor?"
"tidak cepatlah nanti ketauan sama nyonya, lebih baik aku di pecat dari pada patuh sama nyonya kita yang baru ini. Ini juga demi kesehata den Angga sebaiknya buruan sana."
"terima kasih pak Toni." pria paruh baya itu pun membukakan gerbang untuk Rena dan juga Angga, gadis itu melihat taxi yang terparkir tidak jauh dari gerbang. Rena pun langsung berjalan dengan cepat dan masuk ke dalam mobil itu.
"putraku mama sangat merindukanmu sayang." Bela langsung menggendong Angga dan melepas kerinduannya, dia menangis saking bahagia bisa memeluk putranya itu. Sedangkan Rena ikut menangis melihat ibu dan anak itu, sedangkan supir taxi hanya diam dan memperhatikan dari kaca.
Tiba tiba Angga memanggil Bela, "mama" mendengar itu Bela langsung menciumi putranya, Rena juga kaget tapi dia senang ternyata anak asuhnya masih ingat mamanya.
"apa kamu mendengar itu Rena? Dia memanggil mama."
"iya aku mendengarnya buk Bela, tentu saja dia akan memanggilmu mama."
"sayang ayo panggil mama lagi nak."
__ADS_1
"mama mama." balita itu sering bangat memanggil mama kepada Bela, dan dia begitu bahagia mendengar itu.