
Rena mendengar suara Angga menangis sangat kencang, gadis itu pun langsung berlari naik ke atas untuk melihat anak asuhnya. Begitu sampai di depan pintu Rena hendak masuk tapi Lusi marah dan menyuruhnya keluar, gadis itu pun benar benar tidak berdaya dan pintu kamar Angga di tutup oleh Lusi.
Rena menangis di depan pintu dan terus memanggil Lusi supaya membuka pintu, tapi wanita itu tidak mau membuka pintu dia takut ketahuan karena lalai menjaga anak itu. Sampai sampai kepala Angga benjol terbentur lantai saat dia jatuh.
"aduh bagaimana ini? Apa dua hari ini kepalanya kembali normal ya, gimana kalau suamiku marah. Ah sial amat sih, untung dia diam dan sudah tidur."
Rena masih memanggil manggil Lusi, wanita itu pun keluar kamar dan kembali menutup pintu.
"Rena kamu ngapain masih manggil manggil, sana kamu pergi Angga sedang tidur berisik tau"
"tapi nyonya ada apa? Kenapa dia tadi menangis sangat kencang sampai sampai terdengar ke bawah?"
"kamu ini gak usah belagu seolah olah kamu adalah ibunya, kamu itu cuma pembantu namanya juga anak kecil ya pasti terkadang ya menangis."
"nyonya izinkan aku untuk melihatnya"
"udah kamu turun aja kerja sana, sekarang dia sedang tidur ganggu aja"
Dengan berat hati Rena pun turun ke bawah, gadis itu pergi ke dapur sambil menangis.
"ada apa? Mana den Angga? Kenapa dia tadi menangis sangat kencang?"
"bik kalau nanya satu satu, aku gak tau Angga kenapa bik soalnya aku gak di izinin nyonya untuk melihatnya. Kalau kata nyonya sekarang dia sedang tidur."
"ya Allah semoga anak itu baik baik saja, ya sudah sebaiknya bantu bibik menyelesaikan masakan ini bentar lagi waktunya makan siang."
Mereka berdua melanjutkan masak makan siang yang sempat tertunda karena tangisan Angga, selesai masak Lusi menyuruh bibik Emi mengantar makan siang untuk dia dan Angga.
Sampai di depan pintu bibik Emi pun mengetuk nya, dengan cepat pintu di buka oleh Lusi.
" ini makan siang untuk nyonya dan den Angga" saat bibik Emi hendak masuk langsung di cegah sama Lusi, tapi bibik Emi sempat melihat Angga sedang duduk di karpet sambil bermain.
__ADS_1
Wanita paruh baya itu agak sedikit tenang setelah melihat anak itu, dia pun buru buru turun ke bawah dan menceritakan nya kepada Rena. Setelah mendengar apa yang di lihat bibik Emi baru lah gadis itu agak sedikit tenang.
Lusi tidak pernah keluar lagi dari kamar Angga, wanita itu terus mengurung diri di kamar bersama anak sambungnya itu. Sampai tiba waktu makan malam baru dia turun membawa Angga, melihat majikannya mau makan Rena pun hendak menggendong Angga Tapi di cegah wanita itu.
"biyar aku suap Angga nyonya,dia kan belum makan"
"udah gak usah aku juga bisa kok"
"tapi nyonya kan mau makan"
"gak usah ku bilang ya gak usah ngeyel kamu ya Ren, selesai nyuap Angga nanti aku bisa makan kok."
"baik lah nyonya, aku hanya ingin bantu karena itu adalah tugas saya."
Lusi tidak menjawab omongan Rena lagi dia terus saja menyuap Angga, melihat Rena Angga terus saja manggil dia mama.
"mama"
"apa kamu ngajarin dia supaya manggil kamu mama?"
"huh aku gak percaya, pasti kamu sedang bermimpi mau jadi nyonya di rumah ini ya"
"tidak nyonya, aku sama sekali gak ada kepikiran seperti itu. Sumpah nyonya."
Lusi pun akhirnya tidak menanggapi omongan Rena, wanita itu terus saja menyuap Angga sampai selesai. Setelah selesai menyuap Angga baru kemudian Lusi makan juga, selesai makan wanita itu pun kembali ke kamar Angga dan menutup pintu.
Sebenarnya Lusi sudah mulai cape ngurus Angga, akan tetapi dia mau mengambil hati suaminya jadi dia tetap kekeh ingin mengurus anak itu.
Angga asyik bermain di atas karpet sedangkan Lusi berbaring di dekatnya sambil main hp, tiba tiba gala menelfon.
"halo mas"
__ADS_1
"halo Lusi, kamu sedang apa? Angga di mana? apa dia baik baik saja?"
"mas kalau nanya itu satu satu, aku lagi sama Angga di kamarnya dia baik baik saja."
"oh syukurlah, hanya saja aku begitu merindukannya."
"apa hanya merindukan Angga saja?"
"oh tentu saja tidak sayang, aku juga merindukanmu"
"benarkah? ya sudah, kalau merindukan kami cepat selesai kan kerjaan di sana, biyar cepat pulang dan sepertinya Angga juga sudah merindukan mu mas."
"baiklah aku tutup dulu, pokoknya jaga Angga dengan baik ya." Gala pun mematikan hp, baru saja Lusi mau rebahan Angga tiba tiba nangis.
Dia pun mendengar Angga buang angin sangat kencang, berbarengan dengan itu balita gembul itu semakin menangis.
Lusi pun mengganti popok Angga, dia pun kaget ternyata anak itu mencret.
"oh kamu sedang mencret, apa perutnya sakit? Aduh bagaimana ini?"
Selesai mengganti popok Angga, Lusi kemudian membuat susu dan membawa Angga ke kasur. Karena dia sudah ngantuk gak berapa lama susu nya habis dan Angga pun tertidur.
"aduh syukurlah dia sudah tidur, sungguh merepotkan sebaiknya aku juga tidur. Rasanya badanku pegel semua, ternyata mengurus anak kecil sangat capek."
Baru saja Lusi terpejam Angga sudah bangun dan menangis lagi, setelah di periksa ternyata anak itu kembali buang air. Lusi pun kembali mengganti popok nya tapi Angga masih saja menangis, wanita itu pun kembali membuat susu dan memberikannya. Setelah susu habis Angga pun kembali tertidur, Lusi melihat jam sudah menunjukkan 11.30.
Lusi kembali tidur lagi, dia begitu kesel dengan Angga yang bentar bentar menangis dan buang air. Sedangkan Rena tidak bisa tidur, gadis itu berdiri di depan pintu kamar Angga dengan perasaan yang begitu khawatir.
Gadis itu mencoba masuk tapi ternyata di kunci dari dalam, begitulah Angga sudah gak bisa tidur karena perutnya sakit dan bentar bentar buang air. Anak itu terus saja menangis dan itu tentu saja sangat mengganggu Lusi yang sangat mengantuk, dia pun kesel dan membuka pintu kamar Angga.
Mendengar pintu di buka Rena buru buru sembunyi, karena saat Lusi membuka kunci Rena sedang menangis di depan pintu. Lusi keluar dari kamar Angga kemudian masuk ke kamar sebelah, melihat itu Rena sempat nekat hendak masuk ke kamar Angga tapi dia ragu.
__ADS_1
Tiba tiba wanita itu keluar dari kamarnya dan kembali masuk ke kamar Angga, setelah masuk Lusi kembali menutup pintu. Angga masih saja menangis, Lusi membuat susu lagi untuk Angga. Dia mencampur susu itu dengan obat tidur, biarpun cuma sedikit tentu saja itu tidak seharusnya di lakukan nya.
Tapi karena Lusi sudah kesel dan memang dia tidak pernah menyayangi Angga, maka dia mencampur susu itu dengan obat tidur.