
Bela sudah bersiap siap, mereka sudah janjian sama Lia akan jalan jalan ke mol. wanita beranak satu itu langsung mau, dia merasa mungkin akan mengurangi sedikit kesedihannya.
''Bel, sudah rapi mau kemana?''
''oh...iya ma, bela emang mau ketemu mama. kami mau jalan sama Lia ke mol, paling bentar lagi dia datang.''
''iya sayang.... jalan lah mama tau kamu pasti pusing, semoga pulang nanti beban mu berkurang.''
''mudah mudahan ma,''
''itu sepertinya mobil Lia, kami jalan dulu ma.''
''iya, hati hati nak apa lagi kamu bawa Angga.''
''iya ma, assalamualaikum...''
''walaikumsalam'' ujar Raisa membalas salam dari menantunya. bela keluar, benar saja Lia sudah turun dari mobil menghampiri mereka.
''bawa apa ini? sini aku masukin mobil.''
''biasa Li, nanti kamu juga tau kalau udah punya anak.''
''he...he...jadi pengen punya anak juga.''
''hus...nikah dulu baru punya anak.''
''iya tau, ini juga udah mau nikah ko.''
''masa sih say, kapan?''
''udah naik dulu, nanti kita ngobrol lagi.'' mereka naik ke mobil Lia, gadis itu mulai menjalankan mobil dengan perlahan. Lia memang tidak pernah membawa mobil sampai ngebut, baginya biar lambat asal selamat.
''bagaimana kabarmu Bel? apa gala masih terus dengan wanita itu?''
''beginilah, tentu saja masih. aku udah gak perduli, tekat ku sudah bulat berpisah adalah jalan terbaik daripada di madu. yang aku khawatirkan Angga, dia kekeh akan memisahkan kami kalau aku memilih cerai.''
''huh...sabar sayang, suatu saat dia akan menyesali keputusannya.''
__ADS_1
''udah kita gak usah bahas itu, aku masih kepo dengan pernikahanmu. kapan sih?''
''minggu depan, persiapannya sih udah hampir selesai. Doni nyuruh aku berhenti bekerja, aku mau fokus jadi istri yang baik. maaf ya baru kasi tau.''
''gak apa apa, aku turut bahagia. semoga rumah tangga kalian nanti langgeng, sampe kakek nenek.''
''aamiin....''
Sepanjang perjalanan dua sahabat itu terus saja ngobrol, sedangkan Angga hanya diam sesekali melihat mereka bergantian. anak itu begitu manis duduk di pangkuan Bela, gak terasa mereka sudah sampai di mol.
''sini, biar Lia yang dorong Angga. belajar... nanti kalau sudah punya anak, udah mahir.''
''dorong begini gak usah belajar, semua juga bisa. yang harus belajar itu....''
''apa? Bel jangan bilang belajar cara bikin anak ya.''
''he....he....emang aku mau bilang itu.''
''isss itu juga gak usah belajar kali, biar aku belum pernah. tapi naluri setiap orang itu pasti ada ke arah itu, aku tau kamu juga gak pernah belajar bikin anak sebelum menikah. tapi setelah menikah ni Angga buktinya, langsung tokcer.''
''kita liat mainan yok, buat Angga.''
''gak usah, mainan dia udah banyak.''
Mereka akhirnya berkeliling sampe Bela kecapean, sedangkan Lia masih aja semangat padahal belanjaan gadis itu sudah banyak. sedangkan Angga sudah tertidur, saking capek wanita itu menabrak seseorang. belanjaan yang bela pegang sampai jatuh ke lantai.
''maaf, maaf...aku gak sengaja.'' ujar Bela tanpa melihat orang yang di tabrak nya. ibu satu anak itu langsung memungut belanjaannya.sedangkan pria yang di tabrak, melihat orang yang menabraknya langsung kaget.
''Bela...''
Mendengar namanya disebut, wanita itu langsung berdiri dan melihat orang yang memanggil namanya. saat itu juga Bela kaget, ternyata dia adalah teman sekolahnya semasa SMA dulu.
''frey Aksa Adhitama, apa itu kau?''
''Bela, apa kabar?''
''kayaknya aku pernah dengar nama itu, siapa Bel?'' tanya Lia.
__ADS_1
''oh....ini teman saya waktu SMA dulu, namanya Frey Aksa Adhitama.''
Mendengar jawaban Bela Lia hanya nyengir, gadis itu masih memikirkan nama pria tampan di hadapannya. dia pernah dengar nama itu, tapi gak ingat samasekali di mana? dan siapa yang mengucapkannya. padahal Doni lah yang mengucapkan nama itu, tapi Lia gak ingat sama sekali.
''maaf Frey, aku gak sengaja.''
''gak apa apa, Bel apa ini anak mu? ko kayaknya mukanya gak asing.''
''iya, dia anakku. he...he... dia mirip sama papanya. apa mungkin kamu mengenal papanya? mereka memang sangat mirip, kalau seumuran kayak adik kakak.''
''oh ya Bel, gak enak ngobrol sambil berdiri. kita duduk di sana aja yok, sambil makan lebih enak ngobrol.''
''maaf Frey, lain kali aja. aku gak enak ngerepotin.''
''gak ngerepotin kok, maaf ya ngeliat anak mu aku jadi teringat sama anakku. kalau mereka berumur panjang, mungkin anakku seumuran anak mu Bel.''
Mendengar ucapan sahabatnya, Bela jadi gak tega. dia akhirnya menyetujui ajakan Frey, sedangkan Lia merasa senang, gadis itu berharap mereka jadi pasangan. Lia sudah membayangkan, Frey yang menggantikan Gala. menurut Lia Frey jauh lebih tampan, dan melihat dari penampilannya juga lebih kaya.
''Lia kenapa cengar-cengir, ayo...''
''hah iya... ayo.''
Gadis itu akhirnya mengikuti mereka dari belakang, Frey memesan makanan untuk mereka. pria itu masih ingat makanan kesukaan Bela, sedangkan Lia ngikut apa yang di pesankan Frey. setelah pesanan mereka terhidang, Bela kaget. karena itu semua adalah makanan kesukaan nya semua.
''ada apa? apa kau tidak menyukainya?'' ujar Frey.
Lia juga heran, melihat semua makanan itu. tapi dia hanya jadi penonton, mau bertanya dia sungkan.
''bukan begitu, tapi ini semua adalah makanan kesukaanku. kau masih mengingatnya?''
''tentu saja aku masih mengingatnya, he...he...ayo kita makan saja. Lia kamu juga, ayo makan.''
''i iya,'' mereka makan dengan lahap, sedari tadi berkeliling sudah capek dan juga kelaparan. Frey terus aja memperhatikan Bela, pria itu dari dulu menyukai Bela. sebenarnya Bela juga menyukai Frey, tapi dia mau fokus belajar gak mau pacaran.
sampai mereka selesai makan, pria tampan itu masih curi curi pandang. Lia memperhatikan keduanya, dia penasaran apa hubungan mereka di masa lalu.
''
__ADS_1