
Frey memarkir mobilnya di sebuah restoran, mereka pun berjalan memasuki restoran tersebut. Bela baru saja mau duduk tapi sudah di towel seseorang, dia pun nengok ternyata itu adalah Lia.
"Lia kamu sama siapa? Aku udah kangen." mereka pun berpelukan saling melepas rindu, setelah Bela bekerja mereka belum pernah bertemu lagi.
"aku sama Doni, kami baru sampai biasa ngidam pengen makan di sini."
"oh...apa keponakanku sehat?"
"Alhamdulillah sehat, kamu bagaimana apa baik baik saja?"
"udah nanti saja ngobrolnya, Doni ayo kita sebaiknya duduk di sebelah sana aja. Kita gabung saja makannya kalau makan rame rame akan terasa enak." ujar Frey.
Mereka pun makan bersama, Lia dan Bela terus saja ngobrol asik sampe sampe mereka lupa kalau ada dua orang pria yang merasa di cuekin.
"oh begitu ya mentang mentang bertemu sahabatnya lupa sama suami,"
Lia menengok suaminya, "maaf mas aku udah kangen bangat sama sahabatku ini."
"Frey juga sahabatku kami juga jarang bertemu, tapi aku biasa aja gak sampe lupa sama kamu."
Melihat kelakuan Doni, Frey dan bela tertawa mereka heran saja melihat tingkah nya.
"maaf ya, mas Doni memang sangat sensitif semenjak aku hamil."
Lia pun membujuk suaminya, awalnya dia masih ngambek tapi lama lama dia luluh juga. Akhirnya Bela tidak ngobrol berduaan lagi dengan Lia, dia sangat mengerti perasaan Doni begitu juga dengan Frey. Meski dia merasa sahabatnya lucu tapi dia mengerti itu karena kehamilan istrinya.
"enak juga ya Don punya istri, ada yang merhatiin kayak kamu." ujar Frey.
"he...he...kenapa kamu gak menikah lagi Frey, kamu ini ganteng, mapan, duda apa lagi. buruan lah kalian menikah jangan di lama lamain lagi."
"kalian ngomong apaan sih, oh ya Don coba selidiki kenapa Rena tidak pernah menghubungi ku lagi."
"ah yang benar bel, aku gak pernah ke rumah itu lagi semenjak mama Raisa pergi dan Gala menikahi Mak lampir itu."
"iya Don biasanya Rena selalu menghubungiku mengabari keadaan putraku, tapi ini di hubungi juga gak bisa."
__ADS_1
"oh... Baiklah nanti aku akan mampir dan menanyakan Rena."
"tapi Don jangan sampai Gala dan Lusi tau kamu menanyakan itu, mereka bisa memarahi gadis itu."
"iya aku tau kok, gala sampai saat ini masih sangat membencimu karena memilih bercerai dengannya."
"huh, aku mohon Don tolong kasikan no ku ke Rena. Bilang kalau ada apa apa cepat hubungi aku."
"iya tenang aja Bel, kalau soal itu beres."
"aku tadinya mau ngajak Frey ke sana setelah makan siang, tapi kalau kamu bisa aku gak jadi ke sana. Karena aku takut Lusi berbuat sesuatu kepada Rena, dia itu sangat galak. di depan Gala aja dia itu baik tapi kalau suaminya gak ada kejam betul dia itu."
Mendengar ucapan Bela Frey juga jadi merasa khawatir, dia takut wanita itu berbuat sesuatu kepada Angga.
"emang dasar itu mak lampir, belum kapok rupanya dia pada hal sudah dua kali dia itu gelut denganku."
"jangan sampe tiga kali ya, mas mohon ingat kamu itu lagi hamil."
"he...he...ngak lah mas kalau saat ini, tapi jangan macam macam dia kalau aku sudah melahirkan."
"udah udah segala sesuatu tidak harus di selesaikan dengan berantem Lia sayang, sebaiknya kamu makan yang banyak supaya bayi kita sehat."
"iya kamu juga Bel makan yang banyak, gak usah khawatir nanti Doni akan ke rumah Gala. Iya kan Don?"
"iya, aku akan ke sana nanti."
"aku percaya sama kamu Don," bela pun agak lega,akhirnya dia makan dengan lahap karena dia sudah sangat lapar. Mereka berempat kemudian makan dengan tenang tanpa ada obrolan, sampai hidangan yang di pesan sudah berpindah ke perut mereka.
Selesai makan Frey membayar semua makanan mereka, Bela pun pamit sama Lia untuk kembali ke tempat kerja.
"Lia aku duluan ya, aku masih harus kerja jaga kesehatan ada keponakanku di sini. Ingat itu lain waktu kita makan bersama lagi ya."
"iya say, aku kalau udah kenyang malas mau bangun. Ya sudah duluan saja aku sama Doni bentar lagi, jangan terus mikirin Angga kamu tau kan Rena sangat menyayangi dia. Aku yakin gadis itu pasti akan menjaganya dengan baik."
"mudah mudahan seperti itu, Don nanti kalau sudah bertemu Rena kabari aku ya."
__ADS_1
"ok, tenang aja Bel."
"Doni kami duluan ya aku mau ngantar Bela dulu, kalau ada apa apa hubungi aku."
"iya Frey nanti kamu akan aku kabari." Frey dan Bela pun keluar dari restoran menuju mobil, pria tampan itu pun membukakan pintu untuk Bela baru kemudian dia naik dan mulai menjalankan mobil meninggalkan tempat itu.
"udah belum duduknya biyar kamu aku antar pulang, setelah mengantar kamu aku akan ke rumah Gala untuk melihat keadaan Angga."
"aku akan ikut, tenang saja nanti aku akan menunggu di mobil saja. Aku juga begitu khawatir dengan anak ganteng itu, tolong Don jangan menolak keinginanku ini."
"hah baiklah tapi gak usah turun dari mobil ya."
"iya aku janji," mereka pun meninggalkan restoran itu dan pergi ke rumah Gala. Sampai di rumah megah itu satpam pun membuka pagar karena sudah mengenal Doni, setelah memarkir mobil pria itu pun hendak keluar.
"Lia sayang ingat di mobil aja ya, gak usah keluar sepertinya Mak lampir itu sedang ada di rumah."
"kok kamu tau mas."
"ya itu ada mobilnya, semoga gak ketauan ya sama wanita itu." Doni pun turun dari mobil dan berjalan memasuki rumah, sampai di dalam terlihat sepi gak ada siapa siapa dia berjalan ke dapur ternyata bibik Emi sedang mencuci piring.
"bik Rena ada di mana sekarang? Dan Mak Lampir ada di mana? Eh maksud saya nyonya di mana?"
"nyonya baru saja naik ke atas dia habis makan siang, dan Rena sepertinya ada di atas den sedang mengurus Angga. Akhir akhir ini dia rewel karena stok ASI-nya habis, Rena di paksa tuan sama nyonya memberikan susu formula."
"oh ya bik kok Rena gak pernah menghubungi Bela, ada apa?"
"apa perlu saya panggil Rena,"
"gak usah bik tolong jawab pertanyaan saya tadi."
"oh iya den itu Rena gak menghubungi ibu Bela karena hp nya di sita sama nyonya, dan kami mau telfon dari telfon rumah atau hp butut saya tapi gak tau no nya."
"gak apa apa bik butut yang penting ada pulsanya, nah ini no ibu Bela kalau ada apa apa suruh Rena menghubungi dia. Aku pergi dulu bik nanti ketauan sama Mak lampir, oh iya yang di bawahnya itu nomor saya bik kalau ada apa apa kasi tau saya juga."
"baik den." Doni pun keluar dari rumah itu dan segera menaiki mobilnya meninggalkan rumah megah itu.
__ADS_1