
Pak Asep berhenti di depan rumah orang tua bela, wanita itu pun segera turun dari mobil. dia masih jauh depan rumah, sudah memanggil manggil ayah dan ibunya.
''ayah, ibu bela pulang.''
Laila dan Diki merasa senang melihat putrinya, setelah menikah baru ini dia mengunjungi orang tuanya. Bela langsung menghambur ke dalam pelukan ibunya, wanita paruh baya itu pun merangkul anaknya dengan erat. dia begitu merindukan anak semata wayang nya itu.
Ketiga manusia yang sedang melepas rindu itu, asik berpelukan karena mereka memang benar benar kangen satu sama lain. sedangkan pak Asep sibuk menurunkan barang bawaan bela, yang di siapkan oleh mertuanya mama Raisa.
''ayo masuk sayang, ibu kangen bangat.''
''bela ke sini sama siapa?'' ujar Diki.
''sendiri yah, mas gala kerja sedangkan mama ngurus papa. kesehatannya semakin menurun.''
''nona ini semua di taro di mana?'' ujar Asep.
''apa itu bel? banyak amat nak.'' ujar Laila.
''gak tau ma, itu semua yang nyiapin mama.''
''ya Allah banyak amat, apa gak ngerepotin mertuamu ini nak?''
''he... he... ayo kita bawa masuk,'' ujar bela. merekapun masuk masing masing menenteng bawaan bela, dan sisanya di angkut pak Asep.
Diki, bela, dan laila duduk di ruang tamu, Asep sudah selesai memasukkan barang barang bawaan bela. pria itu pun pamit pulang.
''pak Asep mau pulang?'' ujar bela.
''iya nona, tadi den Gala menelfon Asep. katanya nanti sore dia yang akan menjemput nona.''
''oh... ngopi dulu mang.''
''gak usah non, mang Asep langsung pulang aja.''
''ya sudah kalau begitu, hati hati ya mang Asep.''
''iya non,'' Asep pun keluar, kemudian memasuki mobil. meninggalkan bela di rumah orangtuanya.
''bagai mana kabarmu nak?'' ujar Laila.
''baik Bu, tapi entah kenapa setelah naik mobil tadi kepalaku sakit bangat Bu. pusing kayak mabok kendaraan itu.''
''masa sih nak, setau ibu dari kecil kamu kan gak pernah mabuk kendaraan.''
__ADS_1
''iya ayah juga ingat, sejauh apa juga berkendara kamu gak pernah tu mabuk.'' kata Diki pula.
''makanya itu bela bingung yah, nah
tuh kan pusing lagi.''
''kalau masuk angin, kita makan dulu yok,'' ujar Laila. wanita itu pun bangkit menuju dapur, menyiapkan makan siang untuk mereka.
Melihat ibunya mau menyiapkan makan siang, Bela ikut bangun. Dia hendak membantu ibu Laila, baru berjalan dua langkah kearah dapur. Bela merasa pusing, dia tetap berjalan. tiba tiba penglihatannya gelap, saat itu juga bela gak tau apa apa lagi dia pingsan.
''kamu kenapa nak?'' ujar Diki sambil berlari menangkap bela yang jatuh. Diki menggendong bela ke kamar nya, sedangkan Laila yang mendengar teriakan suaminya langsung lari ke kamar bela. dia sempat melihat Diki menggendong putrinya masuk ke kamar, wanita paruh baya itu menyusul ke kamar Bela.
''bela kenapa yah?''
''gak tau, tiba tiba dia pingsan Bu.''
''mana minyak kayu putih Bu?''
''sebentar saya ambil dulu.''
''cepat Bu.''
Bu laila pun mengoles minyak ke perut bela, mendekat kan ke hidung putrinya. setelah beberapa saat wanita itu pun siuman.
''kamu tadi pingsan sayang.''
''oh iya tadi bela mau nyusul lbu ke dapur, tiba tiba penglihatan ku gelap. udah itu gak ingat apa apa lagi, pas buka mata bela udah di kamar.''
''jangan jangan kamu hamil nak,'' kata ibu Laila.
''entahlah Buz apa sebaiknya bela periksa.''
''sebaiknya begitu nak, nanti kalau gala jemput kalian ke rumah sakit dulu.''
''gimana jadi gak kita makan, ayah udah lapar nie.''
''bela di sini aja, nanti Mama antar makanannya.''
''ngak Bu, pelan pelan bela kuat ko. kangen makan bareng kayak dulu.''
''ya udah ayo, Mama pegangin.'' ujar ibunya. mereka pun pergi menuju ruang makan, saat makan bela begitu senang. karena udah lama gak makan masakan ibunya, diapun makan dengan lahap.''
Melihat bela makan dengan lahap, Diki pun merasa senang. Selesai makan, Laila membereskan bekas makan mereka. sedangkan bela duduk dengan Diki di ruang tamu.
__ADS_1
''bagai mana nak, apa suamimu memperlakukanmu dengan baik?''
''Alhamdulillah yah dia baik ko.''
''sukur lah ayah itu khawatir, mengingat kalian di jodohkan. takut kalau dia gak menerima kamu nak.''
''ya udah istirahat di kamar aja, ayah juga mau istirahat.'' Diki pun pergi ke kamarnya, begitu juga dengan bela.
sekitar jam empat sore, Gala datang menjemput istrinya. Bela yang mendengar suara mobil pun, langsung menyusul suaminya keluar.
''mas masuk dulu yok,'' ujar bela.
''assalamualaikum.'' ujar gala.
''walaikumsalam, masuk nak duduk dulu.'' kata Diki.
Gala duduk, begitu juga dengan Bela duduk di sebelah suaminya.
''begini nak Gala, tadi bela pingsan. kalau kata ibu kayaknya dia hamil, makanya biyar jelas sebaiknya kalian periksa dulu ke dokter.''
Gala langsung menoleh ke istrinya, ''kenapa kamu gak kasi tau tadi?''
''bela gak apa apa mas, bela gak mau mas khawatir. takut ganggu mas Gala kan lagi kerja.''
''ya udah, sana siap siap biyar kita ke dokter.''
''baik mas,'' Bela pun masuk ke kamar mengambil hp dan juga tasnya.
Gala dan Bela pamit kepada Diki dan istrinya, setelah itu mereka langsung berangkat ke rumah sakit. Sampai di rumah sakit, Gala mendaftarkan Bela. setelah menunggu beberapa saat tibalah giliran bela, mereka masuk keruangan dokter tersebut. Dokter mulai memeriksa istri Gala.
''yang di rasa apa?'' ujar dokter.
''dia tadi siang pingsan dok, katanya kepalanya pusing.''
''baiklah, kita periksa dulu ya,'' kata dokter itu. diapun mulai memeriksa lewat USG.
''Ibu memang sedang hamil ya, ini sudah kelihatan masih kecil bangat. usianya dua Minggu.''
''apa? gak salah kan dok.'' ujar gala bahagia.
''tentu saja istri anda sedang hamil, lihatlah yang bulat itu bayinya. dia masih sangat kecil, baiklah akan saya kasi obat pusing dan beberapa vitamin. jangan terlalu capek dulu.''
''baik dok,'' ujar bela.
__ADS_1
Setelah selesai, merekapun menebus obat dan segera pulang.