Suamiku Tukang Selingkuh

Suamiku Tukang Selingkuh
bab 83


__ADS_3

Gala pulang kerja seperti biasa langsung masuk ke kamarnya, dia bersih bersih dan rencananya akan mengajak Rena makan malam dan membicarakan pernikahan. Dia belum tau kalau mama nya saat ini sudah kembali, setelah selesai mandi ayah satu anak itu pun keluar dan hendak ke kamar Rena.


Gala berjalan beberapa langkah dan bertemu dengan Raisa, dia merasa kaget sekaligus senang karena tidak bisa di pungkiri ia memang sangat merindukan wanita yang telah melahir kan nya itu.


"mama aku gak salah liat kan?"


"tentu saja kamu tidak salah liat ini memang mama, apa kamu tidak menyukai mama kembali?"


Gala langsung memeluk mama nya sambil menangis bahagia, dia sekarang sudah mengerti kenapa selama ini tidak pernah di restui dengan Lusi.


"ma maafin Gala karena tidak mendengar omongan mama, sekarang sudah terbukti apa yang mama bilang bahwa aku telah menyia nyiakan berlian demi kerikil jalanan."


"sudah sudah mama sudah lama memaafkan kamu nak, yang penting sekarang kamu harus lebih bijak setiap mengambil keputusan."


"iya ma, apa mama sudah tau kalau Lusi sudah aku ceraikan?"


"tentu saja mama sudah tau dan karena dia sudah tidak ada di rumah ini lagi makanya mama kembali, bagaimana surat cerai kalian?"


"sedang aku urus dan tolong restui aku menikahi Rena ma, secepatnya kami akan menikah dan setelah surat cerai ku keluar aku akan meresmikan pernikahan kami. Meski kami menikah belum ada surat tapi yang penting kami sudah Syah di mata agama, soal surat nanti bisa menyusul ma."


Tanpa mereka sadari ternyata Rena mendengar obrolan ibu dan anak itu, dia pun merasa kalau Gala memang serius mau menikahinya.


"oh ya tadi kamu mau kemana nak?"


"aku sebenarnya mau ngajak Rena makan malam dan membicarakan tantang pernikahan kami ma"


Mendengar omongan Gala Rena langsung lari masuk kembali ke kamar nya, dia tidak mau sampai ketauan sedang menguping.

__ADS_1


"ya sudah sana mama akan menunggu di meja makan" Gala pun bangun dan berjalan menuju kamar Rena, sampai di depan pintu dia pun mengetuk dengan perlahan.


Tok, tok,


Rena sudah tau yang mengetuk pintu adalah Gala dia pun segera membukanya.


"tuan"


"boleh aku masuk?" Rena tidak menjawab tapi dia mundur supaya Gala bisa masuk.


"ayo duduk dulu" Gala duduk di pinggir kasur dengan ragu ragu Rena pun ikut duduk dan agak jauh dari Gala.


"Rena kamu gak usah takut aku gak akan pernah menyakitimu, maaf.... apa pun yang kulakukan waktu itu di luar kendaliku. Sungguh biarpun aku akui akhir akhir ini aku sangat senang bisa mengobrol denganmu, tapi tak pernah terlintas di pikiranku untuk melakukan hal itu."


"aku tau tuan hanya saja rasa takut itu tetap datang saat berhadapan dengan anda tuan,"


"tidak apa apa tapi seiring berjalannya waktu aku pastiin perasaan itu akan segera hilang, percayalah Ren aku sungguh sungguh mau menikah bukan karena terpaksa. Jujur aku sangat nyaman berada di dekatmu dan berbicara denganmu, kau sudah membantu aku bangkit dari keterpurukan ku secara tidak sengaja aku mulai nyaman bersamamu Ren."


"apa maksudmu bercerai, aku sudah gagal dua kali dan soal cinta aku belum bisa memastikannya saat ini tapi aku sangat ingin selalu berada dekat denganmu."


"apa? Sebaiknya pikirkan lagi tuan dengan seksama aku tidak apa apa seandainya tuan tidak jadi menikahi ku, aku akan pulang ke kampung."


"maksudmu apa Ren bahkan aku sudah menghubungi kedua orang tuamu, mereka sudah tau semuanya dan mereka juga bilang kalau semuanya terserah padamu. Dan aku juga mau memberikan ini padamu."


"apa ini tuan?"


"bukalah aku ingin menghubungimu tapi kamu gak punya hp, maaf dulu aku mengetahui Lusi mengambil hp mu tapi saat itu aku buta karena cinta jadi tidak perduli. Sekarang aku sangat menyesal dan anggaplah itu sebagai ganti hp mu yang dulu di ambil Lusi."

__ADS_1


"tapi tuan ini terlalu bagus pasti ini sangat mahal, bisa gak ganti dengan hp yang biasa saja"


"tidak bisa Ren aku sudah membeli itu dan kalau di kembalikan tidak mungkin lagi, gak apa apa pakailah dan kamu bisa menghubungi orang tuamu kapan pun kamu mau. Dan aku juga bisa menghubungimu kalau ada hal penting."


"baiklah terimakasih tuan"


"oh iya aku tadi di suruh mama untuk memanggilmu kita akan makan malam, sebaiknya kita keluar kasihan mama menunggu kita terlalu lama."


"tapi tuan aku bisa makan bersama bibik nanti, bagaimana pun ini tidak mudah bagiku semuanya terasa canggung"


"Rena dengerin aku ya, sebentar lagi kita akan menikah mulai sekarang kamu harus membiasakan diri ok"


"baik tuan" mereka pun keluar dan langsung ke ruang makan, sedangkan mama Raisa sudah duduk menunggu mereka dan makanan sudah tersaji di atas meja.


"ayo Rena duduk sini mama sudah lapar"


"iya ma" Rena pun duduk di sebelah Gala, sungguh dia merasa malu duduk bersama majikannya.


"ada apa Ren? Jangan malu malu kamu harus makan banyak, mama sudah lama selalu makan sendiri sekarang aku makan bersama kalian. Sungguh ini membuat mama merasa bahagia."


"aku gak malu kok ma cuma akhir akhir ini aku memang gak selera makan"


"udah kamu makan yang banyak gak usah terlalu memikirkan apa yang sudah terjadi, aku akan selalu menjagamu dan kita secepatnya akan menikah."


Rena hanya diam karena dia masih belum yakin dengan Gala, dan dia sendiri juga merasa bahwa menikah bukanlah solusi dari apa yang terjadi kepada dia dan Gala. Rena sama sekali tidak mencintai Gala, bahkan dalam mimpi pun dia tidak pernah berpikir akan menikah dengan majikannya itu.


Mereka bertiga akhirnya makan tanpa ada obrolan lagi, mereka sibuk dengan pikiran masing masing. Gala yang sudah mulai menyukai Rena sering curi curi pandang, mama Raisa pun tidak luput dari tingkah putranya itu.

__ADS_1


Melihat kelakuan Gala, Raisa yakin bahwa saat ini anaknya sudah mulai mencintai Rena. meski Rena saat ini tidak ada perasaan terhadap Gala tapi Raisa yakin dia akan menjadi istri yang baik untuk putranya.


Selesai makan Rena hendak mencuci piring tapi di cegah Raisa dan juga Gala, dia semakin canggung dengan semua itu bagai mana pun Rena masih merasa dia hanya seorang pengasuh. Tapi dia sama sekali tidak bisa berbuat apa apa, akhirnya dia mencoba pasrah menerima takdir hidupnya.


__ADS_2