Suamiku Tukang Selingkuh

Suamiku Tukang Selingkuh
bab 73 jahil


__ADS_3

Pagi hari gala bangun dengan kepala yang masih pusing karena habis minum semalam, pria itu duduk di pinggir ranjang sambil memegang kepala nya. Beberapa saat dia duduk baru mulai sadar saat ini dia tidak pakai celana, yang tersisa tinggal bokser dan kemeja yang di gulung lengannya.


Gala pun menyadari kalau tangan nya terluka begitu juga dengan lutut nya, dia mulai sadar samar samar di ingatannya semalam dia mabuk dan pulang sendiri terjatuh dan menabrak Guci.


"tapi siapa yang mengobati lukaku? Apakah Lusi? Kalau sampai dia yang melakukan nya awas saja, apa dia menyentuhku? ah sial..."


Gala masuk kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang masih bau alkohol, lama dia berendam sambil memikirkan putranya yang entah di mana keberadaan nya. Selesai mandi dan berpakaian ayah satu anak itu duduk termenung di pinggir kasur, tiba tiba pintu kamarnya di ketuk.


Tok, tok,


Gala membuka pintu ternyata ada Rena mengantar sarapan untuknya, dia kembali duduk di pinggir kasur sedangkan gadis itu menaruh nampan berisi sarapan di atas meja.


"ini sarapan nya tuan"


"iya taruh aja nanti saya makan"


"maaf tuan apa lukanya sudah di obati pagi ini?"


"belum, apa kamu yang mengobati lukaku semalam? Atau apakah Lusi?"


"maaf tuan aku yang melakukannya bukan nyonya Lusi, sekali lagi aku minta maaf sudah lancang."


"jadi kamu yang sudah membuka celanaku? Apa kau menyentuhku?"


Rena ketar ketir di tuduh begitu padahal niat nya baik hanya untuk mengobati tuannya, dia sama sekali tidak ada niat lain selain menolong majikannya. pipinya Rena sudah merah menahan malu, Gala merasa senang dia semakin ingin mengerjai gadis itu.


"i iya aku yang sudah membukanya, tapi tuan kalau gak di buka bagaimana aku bisa mengobati kaki tuan. Aku gak menyentuh nya tuan itu begitu merosot langsung aku tutup pake selimut kok,"


"aku gak percaya bisa aja kamu bohong kan, sekarang kamu saya hukum cepat obati lukaku"


"baik tuan" Rena pun mengambil obat dan mendekati Gala, gadis itu duduk di lantai dan mulai mengobati lutut Gala. Dia sangat gugup karena harus berhadapan dengan tuannya, bagaimana pun Rena tau diri hanya seorang pembantu.

__ADS_1


"kakinya sudah tuan, sekarang sini tangan nya biyar saya obati."


Rena berdiri kemudian menunduk dan meraih tangan Gala, dia pun fokus mengobati tangan tuannya sedangkan Gala terus saja memandangi Rena. Gadis itu tidak berani menatap Gala, dia begitu takut membuat kesalahan pada hal pria di hadapannya ingin melihat wajah nya.


Gala saat ini merasa senang menggoda gadis itu, entah kenapa melihat pipi merah dan ekspresi ketakutan Rena membuat Gala merasa gemes.


"sudah selesai tuan, aku permisi dulu sebaiknya anda sarapan dulu tuan"


"eh tunggu dulu, kalau berbicara sama orang lihat lihat lawan bicaramu kenapa dari tadi kamu menunduk Ren?"


Rena menatap Gala merasa heran, dia gak nyangka kalau tuannya bisa jahil dan itu terjadi akhir akhir ini. Rena melihat Gala tersenyum padanya, sudah lama semenjak Angga hilang gala tidak pernah tersenyum lagi. pria itu sering kali menangis dan minum alkohol, dan kerja pun tidak pernah kalau gak terpaksa.


"permisi tuan"


"tunggu kamu mau kemana? Hukumanmu belum selesai, sekarang kamu harus menyuapi aku"


"tapi tuan aku rasa tangan nya gak apa apa kalau cuma untuk makan, sepertinya gak akan sakit bila tuan mengangkat sendok"


"kau ini cerewet sekali, kamu yang bilang gak ada kerjaan dan gak mau makan gaji buta. Sekarang kamu di kasi kerjaan malah menolak, jadi cepat lah ambil sarapanku itu nanti keburu basi."


"kenapa kamu dari tadi hanya menunduk, bagaimana kalau kamu salah malah nyuap mata."


"maaf tuan, a apa sudah ada perkembangan soal keberadaan ibu Bela dan den Angga?"


"belum, apa kamu sangat menyayangi putraku?"


"tentu saja tuan, biar pun aku cuma pengasuhnya tapi setiap hari kami bersama tentu saja timbul rasa sayang di antara kami."


"oh begitu ya, kalau Angga sudah ketemu tapi dia di rawat Bela apa kamu akan pulang kampung?"


"ya aku akan pulang kampung, aku rasa memang den Angga lebih bagus di asuh oleh ibunya sendiri. Sebaiknya tuan mengalah dan jangan egois lagi, itu demi kebaik bersama."

__ADS_1


"egois hhh.... Aku rasa aku ini memang terlalu egois, oh ya kalau kamu pulang kampung nanti. apa yang akan kau lakukan di sana?"


"tidak ada tuan, aku memang sudah di suruh orang tuaku untuk pulang. Ya mungkin saja cuma bantu kedua orang tuaku aja, kalau ngak mungkin aku akan menikah tuan."


Gala merasa kaget pas Rena bilang mau menikah, entah kenapa ayah satu anak itu merasa nyaman mengobrol sama gadis itu. Tapi pas Rena bilang menikah Gala merasa gak terima, wajahnya sekarang tidak ceria seperti tadi lagi.


"sudah sudah aku kenyang"


"tapi tuan ini padahal tinggal sedikit Lo"


"kamu mau menikah memangnya umurmu berapa? Dan memangnya kamu punya pacar?"


"umurku sudah 22 tahun tuan, dan itu sudah ideal untuk menikah he he aku gak punya pacar tuan"


"punya pacar ngak tapi mau menikah, terus kamu mau nikah sama siapa? Sama kambing bandot?"


"he he he bisa jadi bapak saya kan emang melihara bandot"


Rena pun membereskan sisa makanan tuannya dan hendak pergi, tapi Gala mencegahnya supaya tidak pergi. tangan Rena di tarik Gala dan saat ini wajah mereka sangat dekat, mereka saling tatap setelah beberapa saat Rena menarik tangannya dan mundur.


"ada apa lagi tuan?"


"apa iya kamu akan menikahi bandot?"


"Ais tuan ini mana mungkin aku menikahi bandot, aku hanya bercanda di dunia ini masih banyak laki laki kenapa harus bandot. Lagian aku ini gak terlalu jelek, pasti di kampung ada laki laki yang mau sama aku tuan"


"kata siapa kamu jelek, orang kamu itu cantik kok di sini juga pasti ada yang mau sama kamu kok"


"tapi tuan aku selama di sini gak pernah kemana mana, yang kerja di sini juga udah punya istri semua jadi gak mungkin saya menikah dengan orang sini."


"pokok nya selama Angga belum ketemu kamu gak boleh pulang kampung, dan kamu harus siap mengurus keperluanku."

__ADS_1


"baik tuan, aku permisi dulu"


Rena keluar dari kamar gala dengan membawa nampan sisa sarapan Gala, gadis itu santai saja dengan perubahan tuannya. Dia berpikir Gala seperti itu karena sedang pusing memikirkan putranya, dan dia butuh teman untuk bercerita.


__ADS_2