
Saat sudah tinggal ada mereka berdua sekretaris Ken langsung merubah cara bicaranya dan dia dengan sengaja menggoda tuan Arnold.
"Baik tuan Arnold, tapi ngomong ngomong tumben sekali kau mau mencari tahu tentang seorang perempuan, gadis pula" ucap sekretaris Ken diakhiri senyuman mengejek,
"Lakukan saja perintahku atau gajihmu akan aku habiskan seluruhnya!" Ancam tuan Arnold yang berhasil membungkam mulut sekretaris Ken seketika.
"Huuh, iya iya dasar kau sensitif sekali sih" gerutu sekretaris Ken yang merasa kesal karena dia tidak bisa menggoda sahabatnya seperti apa yang sudah dia rencanakan.
Sesilia yang sudah berada di depan ruang rawat ibunya dia segera masuk ke dalam perlahan namun dia justru malah melihat ayahnya yang tengah berbicara di telpon dengan pembicaraan yang mesra.
"Iya sayang kamu tenang saja, sekarang wanita ini sudah tidak bisa melakukan apapun bahkan dia juga tidak akan bisa memberitahu hubungan kita pada putrinya, rumah itu akan tetap menjadi milikmu dan putri kita selamanya" ucap Johana pada telponnya.
Sesilia sangat kaget dan dia langsung melabrak sang ayah karena emosinya sudah memuncak seketika.
"AYAH APA YANG KAU LAKUKAN?, Beraninya kau mengkhianati ibu bahkan di saat kondisi ibu seperti ini!" Bentak Sesilia dengan mata yang terbelalak lebar.
Johana sangat kaget dan dia langsung mematikan panggilan telponnya saat melihat Sesilia masuk ke dalam ruangan dan membentak dia.
Walau sudah ketahuan dengan jelas oleh mata kepala putrinya sendiri, Johana sama sekali tidak merasa malu apalagi merasa bersalah dia malah dengan santai memegangi kedua lengan Sesilia dan berusaha menjelaskan juga menutupi kelakuan bej*tnya itu.
"Eh, Sesilia kapan kau masuk ke sini dan apa yang kamu bicarakan ayah tidak mengerti maksudmu?" Balas Johana berpura pura polos dan berusaha menutupi perbuatannya itu,
"Hah....jangan sok polos, aku jelas mendengar semuanya dengan baik, dan siapa wanita juga putri yang kau maksud itu, atau jangan jangan sebenarnya perusahaan kita baik baik saja dan kau dengan sengaja ingin membuang aku dan ibu, iya?" Bentakku lagi dengan emosi yang sudah sampai ke ubun ubun.
Johona membelalakkan matanya sangat lebar, dia kaget dan gugup saat mendengar bentakkan dari putrinya itu.
__ADS_1
"Bagaimana dia bisa mengetahui semuanya?" Gumam Johana merasa kaget sendiri,
"APA?, kenapa kau diam, sudah aku duga semua yang aku katakan barusan adalah kebenaran, mulai sekarang aku putuskan kau bukan ayahku lagi dan aku sendiri yang akan mengurusi perceraian kau dan ibuku!" Ucapku dengan suara yang gemetar menahan tangis.
Aku langsung bergegas pergi dari hadapan ayahku karena aku sudah tidak bisa menahan air mata yang menggenang di balik pelupuk mataku yang hampir sekali jatuh, aku tidak perduli bahkan ketika ayah meneriaki dan terus berusaha menghentikanku, aku mengabaikannya dan terus berlari keluar dari rumah sakit sampai masuk ke dalam taxi begitu saja.
"Sesilia tunggu, ayah bisa jelaskan!, Sesilia...." Teriak Johana yang mengejar Sesilia.
Sayangnya Sesilia sudah masuk ke dalam taxi dan dia terus menangis terisak tanpa tahu harus berbuat apa lagi setelah tiba tiba saja tuhan menerapkan cobaan yang begitu berat bagi keluarganya, kami baru saja mendengarkan kabar bahwa perusahaan ayah mengalami kolep dan hampir bangkrut.
Lalu dia harus pindah pada rumah yang jauh lebih kecil dari kediamannya sebelumnya itupun rumahnya harus di beli dengan tabungan mandiri milik ibunya Sesilia, sampai tiba tiba saja ibunya jatuh pingsan tak sadarkan diri hingga saat ini dan dokter sudah memvonis bahwa ibunya akan lumpuh permanen seumur hidup.
Sesilia sungguh sangat frustasi dia berhenti di sebuah taman kota yang tak jauh dari rumah sakit tempat ibunya di rawat.
Dia terus menangis terisak dan merasa tidak bisa menerima semua yang terjadi pada kehidupannya saat ini, terlebih melihat kondisi ibunya juga kelakuan sang ayah yang baru saja dia ketahui saat ini.
Cukup lama Sesilia berdiri di sana sambil memegangi ponselnya yang sudah mati sejak lama karena kehabisan batrai, dia kembali melihat ponselnya di mana di belakang ponsel tersebut terdapat sebuah foto polaroid dirinya dengan kedua orangtuanya di saat dia masih kecil, melihat wajah sang ayah hatinya kembali terasa sakit dan seakan teriris pisau yang tajam berkali kali.
"Sakit....sakit sekali....hiks..hiks...kenapa ayah tega melakukan ini kepadaku dan ibu, dan sejak kapan dia menghindari ibu, tega sekali dia mengotori keluarga ini hiks...hiks.." tambah Sesilia sambil memegangi dadanya yang terasa sangat sesak.
Dia mengambil foto polaroid itu dan menyobek bagian di mana terletak sosok ayahnya, lalu dia melemparkan foto itu ke bawah jembatan dengan penuh emosi.
"Eughhhh......pergi kau...aku membencimu kau bukan ayahku lagi" teriak Sesilia sambil mengusap air matanya untuk terakhir kalinya.
Waktu sudah hampir gelap dan Sesilia segera pergi kembali ke rumah sakit, hingga sesampainya di sana Sesilia segera mengurusi perpindahan ibunya, dia tidak ingin ayahnya terus mengganggu dan menemui ibunya lagi sehingga Sesilia sudah memutuskan untuk memindahkan ibunya ke rumah sakit lain saat itu juga.
__ADS_1
Meski tangannya terasa sakit karena bekas luka di telapak tangannya kembali terbuka, Sesilia tetap tidak menghiraukan rasa sakit di tangannya dia lebih mementingkan ibunya dan segera pergi dari sana secepatnya, di tambah dia sudah memberikan pesan kepada pihak rumah sakit untuk menyembunyikan tempatnya berpindah.
Setelah semua urusan pemindahan ibunya ke rumah sakit baru yang cukup jauh dari sana Sesilia langsung kembali ke rumahnya dan dia mengambil sertifikat rumah tersebut ke dalam koper yang sudah dia siapkan, Sesilia terus berbenah dan memasukkan semua barang penting miliknya ke dalam koper lalu bersiap untuk segera kembali ke rumah sakit.
Namun saat dia selesai mengunci pintu, ayahnya baru saja tiba di sana dan keluar dari mobil terburu buru lalu menahan lengan Sesilia dengan kuat.
"Sesilia tunggu mau kemana kau membawa semua koper itu?" Tanya ayahnya dengan curiga,
"Siapa kau?, Lepaskan tanganku!" Ucap Sesilia dengan wajah datar yang penuh kebencian terhadap Johana.
Johana yang mendengar ucapan putrinya begitu tidak menghormati dia dan berpura pura tidak mengenalinya tentu saja dia marah besar dan langsung membentak Sesilia sangat keras dengan penuh emosi.
"SESILIA, jaga mulutmu itu ayah tidak pernah mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu!" Bentak Johana dengan mata yang terbelalak.
Sesilia hanya tersenyum simpul dengan mata sinis menyepelekan ucapan ayahnya tersebut karena dia sudah sangat membenci ayahnya karena sudah mengkhianati keluarganya sendiri sampai membuat ibunya jatuh sakit seperti sekarang.
"Haha...berani sekali kau masih mau mengaku sebagai ayahku, setelah apa yang kau lakukan padaku dan ibu apa kau pikir dirimu masih pantas disebut ayah olehku ha?" Kata Sesilia dengan tatapan sinis dan merotasikan matanya.
Sesilia menghempaskan lengannya yang di tahan oleh Johana dan dia segera pergi dengan cepat dari kediamannya itu, Johana berusaha menghentikan Sesilia namun dia tidak berhasil tapi masih sempat mengikuti Sesilia sampai dia berada di depan rumah lamanya yang begitu mewah.
"Kenapa anak itu kembali ke rumah ini?, Gawat Dona dan Siska pasti tengah di rumah sekarang" gerutu Johana merasa cemas.
Saat Sesilia baru saja keluar dari taxi Johana langsung berlari kembali menahan langkah Sesilia yang hendak masuk ke dalam rumah tersebut.
"Minggir, kau menghalangi jalanku!" Bentak Sesilia dengan tegas,
__ADS_1
"Sesilia apa yang kau lakukan?, Rumah ini sudah menjadi milik orang lain kau akan mengganggu pemilik rumah jika masuk dengan sembarangan, jaga sikapmu!" Balas Johana balik membentak Sesilia.