
Mungkin dia terasa baik dengan memberikan banyak uang kepada kedua temannya namun dia melakukan itu tentu saja harus selalu ada harga yang di bayar oleh teman yang sudah menggunakan uangnya itu sebab dia tidak ingin mengeluarkan uang secara cuma-cuma dan dia tidak akan pernah mengeluarkan uang untuk hal yang tidak menguntungkan baginya.
Aku sudah bisa tahu kemana akal bulus yang sering dia lakukan kepadaku selama ini atau kepada ayahku hingga ayah bisa tertipu karena wajahnya itu.
Setelah mendengar jawaban dariku Siska langsung melayangkan tangannya berniat menampar aku namun dengan cepat aku berhasil menahan tangannya, untung kali ini dia tidak bersama teman atau anak buahnya yang lain sehingga aku bisa menahan dia dan sedikit memberikan dia pelajaran agar tidak mengganggu aku dengan seenaknya lagi.
"Apa.... Kau..berani menamparku? Hah! Kau pikir aku tidak berani melawanmu Siska, karena kau masih berani melawanku maka aku tidak akan tinggal diam, rasakan ini....plakkk" sebuah tamparan yang berhasil aku layangkan ke pipi kanannya.
Namun saat itu aku mungkin dalam suasana yang sial karena ternyata ada kak Brain disana yang melihat kejadian itu dan mungkin aku telah masuk dalam perangkap Siska lagi.
"Sesilia!" Teriak kak Brain yang tiba-tiba saja muncul dari dalam kelas dan dia berjalan cepat ke arahku.
Dia langsung mendorong aku sangat kuat hingga tubuhku menghantam ke dinding dan aku sedikit merasakan sakit di bagian punggungku.
"Menjauh kau dari Siska!" Bentak kak Brain ke padaku.
Aku tidak mengerti mengapa dia bisa percaya dan memperlakukan Siska dengan baik sedangkan kepadaku sebelumnya dia bahkan tidak melakukan semua itu dia justru membenciku dan hanya menjadikan aku sebagai pijakan agar dia bisa secepatnya menjadi pewaris perusahaan Bramantyo tersebut.
Aku sangat benci melihat mereka berdua yang terlihat sama saja dan melihat semua drama juga kebohongan yang selalu mereka tampakkan di mata publik.
"Harusnya kau tahu kenapa aku berani menampar dia, karena jika aku tidak menahan tangannya dan membalikkan serangan maka wajahku yang akan di tampar olehnya!" Bentakku kepada kak Brain.
Aku sangat geram melihat dia yang memperhatikan Siska dengan begitu lekat, bukan karena aku menyukainya tapi aku sangat benci melihat itu karena seharusnya akulah yang berada di tempatnya saat ini.
"Kau masih bisa menyalahkan Siska disaat sudah jelas aku melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri, bahkan tanganmu yang menahan tangan Siska dan kau menamparnya, apa kau tidak malu dengan kelakuanmu itu?" Bentak balik kak Brain kepadaku,
"Kak jaga ucapanmu, kau tidak pernah mengetahui apapun tenang aku ataupun Siska, kau sudah tertipu olehnya dan aku merasa kasihan denganmu" balasku sambil segera pergi meninggalkan mereka.
Namun kak Brain malah berlari menghampiriku lagi dan dia menahan tanganku sehingga membuat aku sangat jengkel di buatnya aku segera menghempaskan tangannya itu dengan cepat karena tidak ingin orang sepertinya menyentuh bagian tubuhku walau seujung jari.
"CK... Lepaskan tanganku, aku tidak Sudi di sentuh oleh orang buta sepertimu!" Ucapku dengan sinis,
"Sesilia sejak kapan kau berubah? Dulu kau sangat lemah lembut dan kau baik itu kenapa dulu aku setuju bertunangan denganmu, aku juga menyukaimu tapi kenapa kau seperti ini, itu membuat aku merasa menyesal pernah menyukaimu" ucap kak Brain membuat hatiku terluka,
"Jadi kau pernah menyukaiku? Haha...lucu sekali, lalu kenapa kau harus menyesal dan mengatakan semua itu kepadaku, aku sama sekali tidak perduli denganmu, perasaanmu atau semua tentangmu dan orang-orang yang hanya mementingkan bisnis saja!" Balasku kepadanya dengan tegas.
Aku segera pergi meninggalkan dia meski kak Brain sialan itu terus berteriak tidak jelas kepadaku.
"Sesilia awas kau, aku akan pastikan kau menyesal karena pernah menolakku!" Teriak kak Brain yang aku abaikan.
Aku juga memang tidak pernah menyukainya, hanya saja aku benci jika barang yang seharusnya menjadi milikku justru malah di ambil oleh Siska dan dia sudah merebut semuanya dariku, ku pikir Brain tidak akan dia embat juga namun nyatanya dia rampas juga dariku, dan aku pikir Brain tidak akan menyukai Siska karena sikapnya namun aku lagi-lagi lupa bahwa Siska adalah rubah betina yang selalu memakai banyak topeng di wajahnya.
Sehingga dia dapat merubah karakternya kapanpun dia mau dan dia masih berada dalam perlindungan ibunya dengan kekuasaan ayahku, hingga aku yang merupakan putri sahnnya harus tersingkir dan di hilangkan dalam sejarah keluarga sendiri bahkan ibuku juga berakhir dengan tragis karena mereka semua.
Bayangan menyakitkan itu terus saja menghantuiku dan aku tidak bisa berhenti untuk merasa sedih dan terpukul ketika mengingat semua kejadian itu.
Aku pergi berjalan menuju gerbang kampus dan menunggu sekretaris Ken untuk menjemputku disana seperti biasanya, aku menahan air mataku karena aku takut sekretaris Ken datang dengan tuan Arnold dan aku tidak ingin dia mengetahui hal ini.
__ADS_1
Sampai tidak lama sekretaris Ken tiba dan dia ternyata sendirian dia keluar dari mobil dan menghampiriku.
"Bocah mini ayo kita pergi, apa.kau sudah menunggu lama disini?" Ucap sekretaris Ken sambil mengacak bagian atas rambutku pelan,
"Sekretaris Ken boleh aku memelukmu sebentar?" Tanyaku kepadanya,
"Ehh... Untuk apa?" Tanya sekretaris Ken balik dengan menaikkan kedua alisnya merasa heran.
Aku tidak mau berbicara lagi dan langsung memeluknya dengan erat sambil menangis di dalam pelukannya, aku tidak bisa menahan air mataku lagi sehingga langsung saja menangis ketika ada sekretaris Ken disana.
Sekretaris Ken juga membalas pelukanku pada akhirnya dan dia menepuk pundakku pelan beberapa kali, hingga menenangkan diriku.
"Hey... Ada apa dengan, sudah jangan menangis, mana ada bocah nakal mudah menangis sepertimu, ayo masuk dulu ke mobil dan ceritakan semuanya padaku aku akan senantiasa mendengarkanmu" ujar sekretaris Ken sambil menuntunku segera masuk ke dalam mobil.
Dia bahkan membukakan pintu mobil untukku dan memasangkan sabuk pengamannya dengan baik, aku sungguh merasa di perhatikan oleh ya dan aku mulai menganggap dia sebagai kakakku juga.
Hingga setelah mobil melaju aku mulai berbicara kepada sekretaris Ken dan meminta izin agar dia terus menjadi kakak untukku.
"Sekretaris Ken bisakah kau berjanji untuk menjadi kakakku selamanya?" Tanyaku kepadanya,
"Tentu saja, aku akan menjadi kakakmu selama yang kau inginkan bahkan sampai aku menikah dan meninggal nanti" balas dia sambil tersenyum menanggapinya.
Aku merasa senang mendengar jawabannya itu dan sekarang aku merasa bahwa diriku tidak sendirian lagi di dunia ini, aku percaya bahwa masih ada sekretaris Ken dan tuan Arnold yang masih ada di sampingku meski mereka adalah orang asing pada dasarnya, tetapi walau begitu mereka tetap merawat aku dan menjagaku dengan sangat baik sampai aku merasa jauh lebih aman dan nyaman di samping mereka di bandingkan dengan ayahku sendiri.
Hingga sesampainya di kediaman tuan Arnold aku tidak melihat keberadaan dia di dalam rumah dan sekretaris Ken juga sudah pergi saat itu sehingga aku pikir dia masih berada di kantornya aku pun duduk menonton televisi sendirian hingga menunggu tuan Arnold pulang sampai tidak lama sekretaris Ken kembali datang dia membawa masuk tuan Arnold dalam keadaan mabuk berat bahkan tubuhnya sempoyongan tidak jelas.
Aku yang tadinya diam mematung seorang diri melihatnya, segera aku berlari menghampiri dan membantu sekretaris Ken untuk memapah tuan Arnold dan tubuhku yang pendek tentu saja merasa berat badan tuan Arnold tertumpu padaku bahkan aku sulit sekali untuk melangkahkan kaki menaiki tangga untuk menuju kamar tuan Arnold saat itu.
"AA..ahhh...aduh...kenapa dia berat sekali sih" gerutuku merasakan dia yang sangat berat di pundakku,
"Sudah .... Jangan mengeluh... Ayo cepat melangkah Sesilia...ini hampir sampai" balas sekretaris Ken yang juga bekerja keras mengangkatnya.
Aku segera membukakan pintu kamar tersebut dan kembali membantu sekretaris Ken membawa tuan Arnold masuk ke kamarnya, hingga akhirnya kami berhasil menidurkan dia di ranjang.
"Hah...ham..hah....aishhh...aku harus membuat perhitungan kepada orang yang sudah berani menyuruh tuan Arnold meminum alkohol, benar-benar dia ini" gerutu sekretaris Ken sambil merapihkan setelan jasnya.
Aku terperangah mendengar perkataannya dan aku kaget ketika mendengar bahwa tuan Arnold di paksa seseorang untuk meminum wine sampai dia tidak sadarkan diri seperti itu, bahkan saat aku melirik ke arahnya lagi pipinya terlihat merona dan membuat aku ingin muntah melihatnya.
"Se.. sekretaris Ken kenapa dia minum, jika dia tahu bahwa badannya tidak tahan dengan minuman" ucapku kepada sekretaris Ken.
"Begitulah dia, dia memang selalu memaksakan semuanya dan berpura-pura kuat sendirian, dia melakukannya pasti untuk memenangkan kerjasama dengan perusahaan luar negeri Diaman meminum minuman bersama akan menjadi tradisi mereka ketika sepakan dalam sebuah perjanjian, memang begitu jika berhubungan dengan pihak luar negeri" balas sekretaris Ken kepadaku.
Aku hanya mengangguk mendengarkannya saja karena aku sendiri tidak terlalu mengerti dalam urusan seperti itu dan hanya membiarkan orang-orang dewasa yang melakukannya.
Bahkan ketika aku masih menjadi putri seorang presdir aku tidak pernah pergi ke kantor untuk melihat lihat aku hanya selalu tinggal di rumah dan pergi ke sekolah, sekarang aku sedikit menyesal karena tidak pernah menginjakkan kaki di kantor itu.
Tapi mau bagaimana lagi menyesal juga sudah terlambat untukku semua sudah berubah dengan sedemikian rupa saat ini dan tidak ada lagi yang bisa aku lakukan selain menatap kehidupan yang baru untukku dan menghindari orang-orang seperti mereka untuk selamanya.
__ADS_1
Aku juga sudah tidak mendambakan apapun dalam hidup ini, aku hanya ingin menjalani hidup seperti kebanyakan orang, tinggal dengan aman dan damai juga bisa hidup dengan bahagia meski sederhana, itu lebih membuatku senang daripada bergelimang harta namun di penuhi dengan konflik yang tiada ujungnya bahkan hingga membuat nyawa seseorang melayang untuk sebuah uang.
Setelah berhasil menidurkan tuan Arnold sekeren Ken pun berpamitan padaku dan menitipkan tuan Arnold, aku hanya mengangguk dan segera mengantarkan sekretaris Ken hingga di depan pintu masuk.
"Kalo begitu aku pergi ya, jaga dia dengan baik" ucap sekretaris Ken kepadaku,
"Tenang saja aku akan menjaganya, hati-hati di jalan sekretaris Ken" balasku kepadanya sambil melambaikan tangan.
Hingga mobil yang dikemudikan oleh sekretaris Ken tidak terpandang mata lagi dan sudah pergi meninggalkan halaman rumah barulah aku kembali masuk dan pergi memeriksa tuan Arnold karena tadi aku lihat dia belum melepaskan sepatu dan jasnya sama sekali.
Aku pergi ke kamarnya dan membantu dia untuk melepaskan sepatu yang masih melekat di kakinya, itu cukup susah untuk aku lepaskan karena tuan Arnold terus saja tidak berhenti berguling di atas kasurnya hingga membuat selimut yang sudah aku tutupi untuk badannya kini malah jatuh ke lantai berserakan dan dia juga menyulitkan aku untuk membuka sepatunya itu.
"E...e..ehh....aishhh..tidakkah kau bisa diam sejenak saja, aaargghhh aku sangat jengkel" gerutuku sudah frustasi karenanya.
Aku mengambil selimut yang dia terus buang begitu saja ke lantai, aku mengambil selimut itu dan tidak ingin memakaikannya lagi kepada dia karena tuan Arnold terus membuang selimut itu setiap kali aku menyelimuti tubuhnya.
"Aishh.... Terserah kau saja lah, tidak perduli memakai selimut atau tidak huh!" Bentakku sudah sangat kesal.
Aku berusaha keras melepaskan jas yang masih dia pakai, aku menggulingkan tubuhnya dan menyeret dia sekuat tenagaku bahkan hingga menjambak rambutnya karena dia tidak bisa diam, sampai aku berhasil melepaskan jas nya itu dan barulah aku bisa merasa tenang dan beristirahat sejenak di tepi ranjangnya.
Namun baru saja aku beristirahat dia justru malah muntah ke lantai dan mengenai kakiku, hingga membuat aku sangat jijik melihatnya.
"Eumm...howekk...." Suara dia yang memuntahkan makanan dari perutnya ke lantai hingga mengenai kakiku.
"Aaaarrkkkkk....aishh ini menjijikan!" Gerutuku sambil menjatuhkan kepalanya dariku.
Aku rasanya ingin menangis dengan kencang saat itu ketika melihat dia yang terus muntah kesana kemari, sehingga membuat aku harus terus membersihkannya sampai tengah malam dan aku tidak bisa beristirahat sebab dia sangat menjengkelkan semalaman, aku juga tidak bisa menyadarkannya karena pengaruh dari minuman itu masih ada dalam otaknya.
Hingga aku menjatuhkan diri di sofa kecil yang ada di kamarnya dan tidak sanggup lagi untuk bergerak sedikitpun, aku terus harus memegangi pelan dan sapu karena untuk berjaga jaga sebab dia bisa tiba-tiba saja kembali muntah atau membuat keributan lainnya.
Hingga tidak terasa aku mulai ketiduran di sana saking lahnya membersihkan semua lantai di kamar tersebut dan beberapa benda yang terkena muntahnya tuan Arnold itu.
Aku bahkan terus mencuci kakiku sangat lama dan merendamnya dengan wewangian agar rasa jijik itu tidak terus menghantuiku, malam itu menjadi malam yang sangat menyebalkan untukku dan aku ingin sekali menampar tuan Arnold untuk menyadarkannya namun mengingat aku menumpang di rumah ya aku tidak bisa melakukan itu kepada tuan rumah.
Di tambah aku juga takut tidak pernah bisa membalas semua kebaikannya di tambah dia juga yang membiayai kuliahku saat ini, sehingga aku anggap saja semua kekesalanku dan pengorbananku saat mengurusinya sebagai bayaran atas kebaikan dia kepadaku selama ini meski pun aku pikir mungkin itu akan tetap kurang.
Sampai ke esokan paginya tuan Arnold yang bangun lebih dulu dia masih merasakan kepalanya yang sakit dan berdenyut namun saat membuka matanya dengan lebar dia melihat sekeliling kamarnya masih baik-baik saja dan hanya dia yang memakai kemeja kerjanya juga sepatu yang sudah terlepas di tambah dia melihat ke arah Sesilia yang tidur di sofa kamarnya.
"Ehh...siapa yang membawaku pulang, dan siapa yang menidurkan aku kemari?" Tanya tuan Arnold keheranan sendiri.
"Dia?... Apa jangan-jangan semalam dia yang mengurusi aku?" Ucap tuan Arnold menduga-duga lagi.
Dia langsung menutupi wajahnya dengan bantal yang ada disana saking merasa malunya karena dia takut dirinya akan melakukan hal-hal aneh ketika dia tengah tidak sadarkan diri semalam.
"Aaaartghhhh... bagaimana ini, apa aku melakukan hal yang aneh atau membuat dia membenciku, aaahhh aku harus bagaimana sekarang" gerutu tuan Arnold terus memikirkan.
Hingga dia mulai memutuskan untuk segera bangkit dari ranjang dan menggendong Sesilia lalu memindahkan dia ke ranjangnya dan menyelimuti Sesilia, barulah dia segera pergi membersihkan dirinya sambil terus berusaha memikirkan apa saja yang sudah dia lakukan semalam.
__ADS_1
Namun sekuat apapun tuan Arnold berusaha memikirkannya dia tetap tidak bisa mengingat apapun tentang kejadian semalam setelah dia tidak sadarkan diri.