
Hingga dia mulai memutuskan untuk segera bangkit dari ranjang dan menggendong Sesilia lalu memindahkan dia ke ranjangnya dan menyelimuti Sesilia, barulah dia segera pergi membersihkan dirinya sambil terus berusaha memikirkan apa saja yang sudah dia lakukan semalam.
Namun sekuat apapun tuan Arnold berusaha memikirkannya dia tetap tidak bisa mengingat apapun tentang kejadian semalam setelah dia tidak sadarkan diri.
Karena dia kebingungan dan tetap tidak berhasil mengingat kejadian dia semalam dia pun hanya bisa langsung membersihkan diri dan segera menghubungi sekretaris Ken untuk datang ke kediamannya dan membawa sarapan seperti biasa, sedangkan di sisi lain aku masih tidur saat itu hingga aku mulai mengerjap-ngerjapkan mataku dan mulai menatap ke sekeliling dan mulai sadar ketika melihat sekeliling kamar.
"Astaga..... Kenapa aku bisa tidur disini, aishhh..... Aaargghhh aku akan kesiangan" teriakku kaget saat melihat jam yang ada diatas meja.
Aku langsung bangkit berdiri dan keluar dari kamar tuan Arnold lalu langsung pergi menuju kamarku dengan terburu-buru bahkan aku tidak sadar jika ada tuan Arnold yang berdiri di dekatku saat itu, saking terburu-burunya aku sampai lupa membawa tasku sehingga ketika sudah berada di luar rumah aku harus kembali berlari masuk ke dalam untuk mengambil tasku lagi yang tertinggal.
"Astaga....aku melupakan tasku, aaahhhh" ucapku sambil menepuk jidatku pelan.
Aku berlari lagi masuk ke dalam dan tidak sengaja menabrak tuan Arnold cukup keras.
"Brukkk...." Suaraku yang menabrak tubuh tuan Arnold, hingga membuat kepalaku sedikit sakit,
"Aduduh....ahhh... Sakit sekali, tuan kenapa kau malah berdiri disini menghalangi jalanku saja!" Ucapku sambil memegangi lagi keningku yang terasa cukup sakit,
"Heh, apa kau kesurupan atau apa? Harusnya aku yang marah dan membentakmu karena kau terus berlari kesana kemari tidak jelas!" Balas tuan Arnold yang malah balik membentakku keras,
"Tuan aku kesiangan karenamu, sudahlah....aku harus pergi sekarang juga, sebelum aku semakin terlambat" balasku mengabaikan dia.
Aku langsung berlari masuk ke kamar membawa tas ku dan ketika aku keluar lagi tuan Arnold sudah kembali berdiri di depan kamarku dan tangannya menahanku begitu saja dia terus menghalangi jalanku meski aku terus berusaha menghindar darinya.
__ADS_1
"Tuan apa yang kau lakukan aku harus pergi ke kampus aku harus keluar, cepat menyingkir lah tuan!" Ucapku mendesaknya.
Dia malah diam saja dan tetap menahanku disana, dia tidak membiarkan aku untuk pergi padahal aku sudah sangat kesiangan saat ini dan aku tidak ingin membuang banyak waktu lagi dengannya, aku berusaha keras mendorong tangan tuan Arnold namun tangannya itu sangatlah kuat hingga aku sendiri saja bahkan tidak bisa mendorongnya meski sudah mencobanya berkali-kali.
"Eughhh ...tuan cepat biarkan aku pergi, kau ini kenapa sih?" Ucapku semakin kesal dengannya,
"Heh.... Apa kau ini gila atau apa, lihat tanggal, apakah kau juga ngampus di hari libur seperti ini?" Ucap tuan Arnold sambil menyentuh dahiku dengan jari telunjuknya.
"A...apa libur, memangnya ini hari apa?" Tanyaku balik dengan mata terbelalak lebar dan merasa kebingungan sendiri,
"Ini hari Minggu bodoh!" Balas tuan Arnold kepadaku.
Aku pun merasa sangat lega ketika mendengarnya dan langsung bisa bernafas dengan lega, aku pikir ini adalah hari Senin sebelumnya namun ternyata bukan, aku merasa sangat senang ketika tahu bahwa hari ini libur.
Tuan Arnold langsung menarik tanganku dan ku lihat sekretaris Ken datang ke rumah dengan memakai pakaian yang santai seperti setelah olahraga, dan ini salah pertama kalinya aku melihat penampilan seorang sekretaris Ken yang sangat keren ketika mengenakan seragam olahraga seperti itu, dia menjadi terlihat jauh lebih bersahaja daripada sebelumnya.
"Wow..... sekretaris Ken kau terlihat tampan dan cukup keren dengan memakai pakaian oleh raga itu" ucapku begitu saja.
Aku tidak tahu jika ketika aku memuji sekretaris Ken tuan Arnold akan marah dan merajuk hingga tiba-tiba saja tuan Arnold langsung semakin menarik tanganku dan membawa aku ke ruang makan dengan cepat,
"Sudah ayo kita sarapan saja, Ken sajikan makanan ya" ucap tuan Arnold memerintah dengan wajah yang cemberut.
Sedangkan sekretaris Ken sudah tahu bahwa tuan Arnold itu cemburu kepadanya sebab Sesilia memuji penampilannya kalo ini sedangkan tentu saja sekretaris Ken tahu bahwa tuan Arnold belum pernah mendapatkan pujian sedikitpun dari seorang Sesilia, sehingga pantas saja jika dia merasa iri seperti itu.
__ADS_1
"Tuan kapan kau akan mencari pelayan untuk memasakkan makanan dan melakukan semua pekerjaan rumah, agar aku tidak perlu terus mengirimi kau makanan, dan kau juga tidak perlu memesan makanan dari luar setia hati" ucap sekretaris Ken sambil menyajikan makanan untuk sarapan di hadapan kami.
Mendengar perkataan dari sekretaris Ken aku pikir memang ada benarnya, dengan begitu aku juga tidak perlu membantu dia membersihkan rumahnya yang cukup luas ini karena aku merasa sedikit kasihan kepala pelayan panggilan yang hanya datang untuk membersihkan rumah lalu langsung kembali dan tidak tinggal sepanjang hari di rumah itu sehingga tidak bisa melayaninya dengan penuh.
"Ahhh ... Iya juga yah, lagian pelayan yang biasa itu kenapa dia hanya datang dan pergi lagi, kenapa tidak pakai dia saja untuk menjadi pelayan di rumahmu sekalian, lagi pula ada banyak kamar di tempat ini kau hanya harus memberikannya satu atau meminjamkannya satu untuk pelayanmu itu sehingga jika dia ada di rumahmu maka kau bisa menyuruh dia kapanpun, iya kan" tambahku mencoba mengutarakan pemikiranku kepadanya.
Aku pikir tuan Arnold akan mempertimbangkan hal tersebut namun nyatanya aku salah dia justru malah terlihat sedikit marah. Dan bahkan aku tidak bisa menenangkannya sekarang sebab aku juga tidak tahu pasti kepada dia marah sebenarnya.
"Tidak aku tidak akan menyewa pelayan apalagi untuk tinggal di kediamanku ini, lagi pula sekarang ini kan ada kau, kenapa tidak kau saja yang aku jadikan sebagai pelayan ku atau ya bahasa lembutnya asisten pribadiku, kau akan menjadi lebih mudah dalam segala jika orang tahu bahwa aku majikanmu atau orang yang mengenalimu atau juga...." Ucap tuan Arnold terpotong dengan gerutuanku.
"CK.... orang-orang hanya akan menghormati jika aku menjadi pacarmu, bukan pelayanmu dasar kau ini" gerutuku pelan.
Dia yang mendengar itu seketika tertawa begitu pula dengan sekretaris Ken yang terlihat sangat puas mendengarkan itu, aku sangat kesal dan rasanya ingin sekali menjambak rambut sekretaris Ken saat itu juga namun sayangnya aku ingat dengan kebaikan yang dia lakukan kepadaku sebelumnya, dia juga adalah kakak angkat bagiku dalam identitas kampus.
Sehingga aku mau tidak mau harus menghormatinya dan tidak membuat keributan apalagi masalah dengannya, jika tidak aku hanya takut dia akan membongkar semua itu dan yang ada aku akan di keluarkan dari kampus tersebut.
"Ahahaha.... bocah kecil kau itu memang benar ahaha, jawabanmu tadi sangat pas sekali" tawa sekretaris Ken yang menggelegar dan membuat aku sangat kesal dengannya,
"Aishh.... sekretaris Ken kau benar-benar menguji kesabaranku sekali, cepat hentikan tawu itu sebelum aku menyimpan mulutmu dengan tisyu!" Bentakku sambil menatapnya dengan tajam,
"Ahahah.... Iya iya...aku akan berhenti sekarang, tenang.... Tenang kau ini sensitif sekali sih" balas sekretaris Ken sambil menghentikan tawanya dengan cepat meski dia tetap terlihat kembali menahan tawa itu.
"CK....kau masih saja ingin tertawa padaku, aarrkhhh sekretaris Ken rasakan ini" ucapku sambil langsung membekap mulut sekretaris Ken dengan tanganku sekuat tenaga hingga dia mau untuk berhenti menertawakan aku lagi.
__ADS_1
"Eum....eumm....euuu....heuuy" ucap sekretaris Ken yang berontak menepuk nepuk tanganku yang membekap mulutnya saat itu.