Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Di Mall


__ADS_3

"Heh, berhenti berbicara di dekat kupingku atau aku akan menjatuhkan mu!" Ucap tuan Arnold membuat aku langsung diam.


Aku tidak tahu kemana dia akan membawaku hingga ternyata dia membawa aku masuk ke dalam sebuah toko pakaian yang besar dan luar biasa, disana banyak sekali pakaian yang berjejer rapih dan sangat modis, mulai dari gaun, setelah hingga atasan dan bawahan tersedia dengan lengkap di tempat tersebut.


Tuan Arnold kemudian menurunkan aku di salah satu tempat duduk yang tersedia disana dan salah satu pelayan toko menggempur kami juga menawarkan jasanya untuk membantu aku memilih-milih pakaian yang ada disana.


Aku berniat untuk menolaknya dengan halus karena sedikitpun tidak terpikir untuk membeli pakaian di tempat mewah seperti ini, namun dengan cepat tuan Arnold langsung mengiyakan ucapan pelayan itu dan dia menyuruhku untuk duduk diam disana sementara dia sendiri pergi berkeliling mencari pakaian wanita dengan pelayan tersebut.


"Tunggu disini, ingat jangan kemana mana!" Ucapnya mendominasi.


Dia memperlakukan aku seperti anak kecil, bahkan beberapa orang mengira aku putrinya, karena dia menggendong aku di punggungnya, sedikit menyebalkan namun itu membuatku tertawa.


"Ehh....tuan...aishh...kenapa dia pergi begitu saja, menyebalkan untuk siapa dia membeli pakaian wanita?" Gerutuku memikirkan.


Aku tidak bisa menghentikan dia karena dia sudah pergi cukup jauh masuk ke dalam jajaran pakaian yang super banyak di sekitar sana hingga aku hanya bisa melihat bagian kepalanya saja dari kejauhan.


Aku mulai bosan karena dia pergi memilih pakaian begitu lama hingga tiba-tiba saja seseorang memanggil namaku dan ternyata itu adalah Siska juga ibunya Dona, ku rasa mereka juga tengah berbelanja di toko yang sama dengan tuan Arnold.


"Ehh.....Sesilia, sedang apa kau disini?" Tanya Siska dengan wajah sombongnya,


"Tentu saja aku sedang berbelanja menurutmu apa lagi" balasku tanpa melihat wajahnya sama sekali.


Aku sengaja ingin membuatnya kesal dan lagi pula aku benci melihat wajah sombong dan jahat miliknya itu makanya aku memalingkan pandangan ke arah lain.


"CK.....mana mungkin kau sanggup membeli pakaian mahal di toko ini, lihat itu semua harga di toko ini adalah yang paling mahal dan kualitas yang terbaik, punya uang darimana kau sanggup membeli pakaian di toko ini, atau jangan-jangan kau mencuri yah?" Ucapnya membuatku emosi.


Aku ingin bangkit berdiri dan menamparnya namun aku tidak bisa melakukan itu di tempat umum, juga kakiku mungkin akan bermasalah jika aku bertengkar dengannya saat ini, aku berusaha menahan emosi di dalam diriku dan menatap dia dengan tajam.


"Sanggup atau tidaknya aku berbelanja disini itu bukan urusanmu!" Balasku dengan tegas.


Mungkin Siska marah dan kesal dengan jawaban yang aku berikan kepadanya sehingga dia memanggil ibunya dan merengek meminta pembelaan seperti anak anjing pecundang.

__ADS_1


"Ibu....lihat itu, dia sangat menjengkelkan, bisakah kau melakukan sesuatu padanya agar dia tidak berani melawan ucapanku dengan sombong seperti itu" ucapnya kepada Dona,


Aku sudah tahu Dona akan menghampiriku dan dia langsung menyuruh pelayan di toko itu untuk mengusirku.


"Pelayan...usir dia, kenapa kalian mengijinkan seorang pengemis sepertinya masuk ke dalam toko mewah ini, apa kalian mau barang-barang mahal disini hilang dicuri olehnya?" Bentak Dona menghinaku sebagai pencuri.


Untungnya pelayan di toko itu baik dan mereka tidak mengusirku meski Dona terus memintanya dengan kasar bahkan sampai memarahi mereka habis-habisan.


"Maaf nyonya, tetapi nona ini juga pengunjung di toko kami sehingga kami harus tetap melayaninya dengan baik, jika anda merasa tidak nyaman anda bisa mengabaikannya" ucap pelayan tersebut terdengar sangat adil,


"A..APA? kalian mengabaikan perintahku? Apa kalian tidak lihat di televisi hah! apa kalian tidak tahu siapa aku, buar aku beritahu aku adalah istri sah tuan Johana, pengusaha yang kaya raya dan berpengaruh di kota ini, apa kau tidak tahu itu hah!" Bentaknya dengan bangga memperkenalkan dirinya di depan banyak orang.


Aku hanya tersenyum kecil melihat dia lebih mirip mempermalukan dirinya sendiri, karena publik tahu jelas bahwa semua kekayaan yang dimiliki oleh Johana adalah dari ibuku serta pengaruhnya berasal dari keluarga Kiehl dan aku satu-satunya putri dari Laura Kiehl ibu kandungku dan istri satu-satunya Johana di mata publik.


Ku pikir saat itu Laura hanya bermimpi dan mengigau, para pelayan di toko itu juga hanya saling tatap satu sama lain dan mereka tidak mengenali Dona dan Siska sampai akhirnya Dona mengambil remote tv yang ada di atas meja dan menyalakan salah satu tv yang ada di toko itu lalu dari layar tersebut terlihat konferensi pers dimana Johana sudah memberitahu publik istri dan putri barunya.


Bahkan dia mengubah semua aset perusahaan atas namanya sendiri aku sangat syok dan terpukul ketika melihat tayangan tersebut, sama sekali tidak pernah menduga bahwa hal paling menyedihkan dan yang paling aku takutkan akan terjadi sebegitu cepatnya kepadaku.


Mereka terlihat begitu senang melihat aku menderita karena menyaksikan kabar tersebut.


"Haha...kenapa kau menahan air matamu, menangislah gadis malang, kau lupa siapa yang memutuskan hubungan kau dengan ayahmu sendiri? Eh tunggu, maksudku mantan ayahmu panggilan itu lebih tepat sekarang, sudahlah Siska ayo kita pergi dari sini mereka tidak bisa menyambut tamu penting seperti kita" ucap Dona dengan sombong dan berjalan pergi meninggalkan toko tersebut.


Para pelayan juga berlari kecil berusaha menahannya bahkan mereka meminta maaf kepada Siska dan Dona, mereka berubah sangat cepat ketika mengetahui siapa mereka sebenarnya, sedangkan aku diabaikan begitu saja, mungkin jika sejak awal para pelayan di toko itu mengetahui siapa mereka berdua saat ini.


Aku juga tidak akan pernah mendapatkan pembelaan apapun dari mereka, sakit ini terlalu menyakitkan untukku, tapi aku tidak mau menangis di tempat umum seperti ini, aku menengadahkan kepalaku ke atas dan berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh.


"Aaahhh ...ayolah Sesilia semua ini sudah takdirmu, kau juga yang memutuskan semuanya lebih awal, aku tidak akan menyesalinya" ucapku menguatkan diriku sendiri.


Hingga tidak lama kemudian tuan Arnold datang menghampiriku dengan membawa beberapa pasang pakaian, ada celana panjang dan atasan berbagai macam model di tangannya, lalu dia menyuruhku untuk memilih dan mencobanya.


"Hey...lihat ini mana yang kau sukai diantara semuanya?" Tanya tuan Arnold begitu saja,

__ADS_1


"Ahh ..tuan untuk apa kau membawa pakaian sebanyak itu?" Ucapku kaget dan merasa heran,


"Sudah cepat pilih saja mana yang kau suka dan cobalah disana aku akan menilainya nanti" ucapnya memerintah dengan seenaknya.


"Ta..tapi tuan aku...." Ucapku tidak sampai karena dia langsung mendorongku masuk ke dalam ruang ganti.


Dan salah satu pelayan toko juga ikut masuk untuk membantuku berganti pakaian, aku kaget dan langsung menyuruh pelayan itu untuk keluar karena aku bisa memakai pakaianku sendiri.


"Aah....mbak tolong keluar saja ya, aku bisa memakainya sendiri, aku malu jika kau ada disini" ucapku dengan jujur.


Untunglah pelayan itu cukup ramah dan memahami sehingga dia segera keluar dari sana dan membiarkan aku untuk mengenai akan pakaian yang di bawa oleh tuan Arnold seorang diri.


Aku berdiri di depan sebuah cermin besar dan melihat ke atas meja dimana ada banyak pasang pakaian yang harus aku coba, aku tidak mengharapkan tuan Arnold akan menyuruhku mencoba semua pakaian ini.


"Tidak mungkin aku harus mencoba semuanya bukan, melihatnya saja sudah membuatku muak dan lelah" gerutuku pelan.


Segera ku buka pakaianku dan memakai salah satu pakaian yang ada paling atas diantara tumpukan pakaian lainnya.


Sebuah gaun berwarna hitam dengan bagian dada berwarna putih dan ada tidak memiliki lengan, gaun setinggi lutut itu terasa nyaman dan bahannya aku sangat suka, apalagi ada sebuah tali pita panjang yang bisa menambah kecantikan gaun itu.


Aku sangat senang ketika mengenakannya dan segera keluar untuk memperlihatkan gaun pertama yang aku pakai kepada tuan Arnold.


Salah satu pelayan disana membantuku berjalan dan ku lihat tuan Arnold sudah memindahkan kursi tunggu menjadi tepat di depan ruang gantiku dan saat aku keluar tentu saja dia langsung menatapku lurus dan matanya terbuka lebar.



"Tu...tuan, bagaimana dengan ini" ucapku sedikit gugup,


"Apa? Gaunnya jelek! lihat bagian dadanya terlalu terbuka dan tanganmu terekspos semua, ganti!" Ucapnya dengan cepat menolak gaun itu.


Padahal aku cukup menyukai gaun ini, dan aku rasa bagian dadanya biasa saja ini tidak terlalu buruk bagiku.

__ADS_1


__ADS_2