
"Ahahah.... Iya iya...aku akan berhenti sekarang, tenang.... Tenang kau ini sensitif sekali sih" balas sekretaris Ken sambil menghentikan tawanya dengan cepat meski dia tetap terlihat kembali menahan tawa itu.
"CK....kau masih saja ingin tertawa padaku, aarrkhhh sekretaris Ken rasakan ini" ucapku sambil langsung membekap mulut sekretaris Ken dengan tanganku sekuat tenaga hingga dia mau untuk berhenti menertawakan aku lagi.
"Eum....eumm....euuu....heuuy" ucap sekretaris Ken yang berontak menepuk nepuk tanganku yang membekap mulutnya saat itu.
Melihat wajah sekretaris Ken yang sudah memerah barulah aku melepaskan tanganku yang membekap mulutnya itu tapi aku masih merasa kesal dengannya karena dia sudah menertawakan aku dengan puas.
"Aishh....Sesilia kau ini memang sangat kuat dan kau tidak seperti gadis kecil sama sekali sekarang, aaaahhh.... Tanganmu itu membekap mulutku sembarangan saja" ucap sekretaris Ken sambil mengusap bibirnya beberapa kali,
"Haha.... Rasakan saja itu!" Balasku merasa sangat puas kepadanya.
Tuan Arnold langsung menarik tanganku dan dia menyuruh sekretaris Ken untuk segera menyusul.
"Sudah ayo kita pergi nanti kau akan kesiangan ke kampusmu" ucap tuan Arnold sambil menarik tanganku,
Aku hanya pergi dengan cepat sambil menjulurkan lidah sengaja mengejek sekretaris Ken karena aku tahu jika aku sedang dengan tuan Arnold dia tidak akan mau ikut campur lagi denganku dan aku merasa sangat puas melihat wajahnya yang kesal kepadaku saat itu.
"Aishh ternyata aku salah dia memang masih bocah nakal" gerutu sekretaris Ken sambil segera keluar dari rumah tersebut dan dia langsung mengendarai mobil yang aku tumpangi dengan tuan Arnold.
Sesampainya di universitas aku melihat Siska berjalan iring-iringan dengan Brain dan mereka berdua membagikan sebuah undangan kepada semua orang yang berkerumun mengelilingi mereka sedangkan saat itu aku baru saja tiba di kampus dan tidak tahu apapun mengenai hal yang mereka lakukan.
Lagi pula aku juga memang tidak perduli dan tidak tertarik sama sekali untuk melihat apa yang tengah mereka bagikan atau apa yang tengah mereka lakukan saat itu, sehingga aku hanya terus berjalan hendak masuk ke dalam bangunan kampus dan mengabaikan dia begitu saja.
Tapi disaat aku hendak masuk ke dalam gedung tiba-tiba saja Siska menahan tanganku dan dia membuat aku terpaksa untuk berhenti dan membalikkan badan menatap ke arahnya dengan memasang wajah yang masam.
__ADS_1
"CK....lepaskan tangan kotormu dariku!" Bentakku sambil menghempaskan tangannya dengan kuat,
"Hey ... Beraninya kau berlaku kasar kepada Siska" bentak salah satu temannya kepadaku,
"Iya berani sekali kau melakukan itu, pantas saja Brain dan Siska tidak mengundangmu ke acara anniversary mereka sekaligus ulang tahun Sisak, dia memang tidak pantas mendapatkan undangan berharga itu darimu Siska" tambah teman dia yang satunya lagi,
"Iya sudahlah, ayo kita pergi saja dari sini, biarkan dia menjadi satu satunya orang yang tidak mendapatkan undangan, CK...menyedihkan" balas temanya yang lain dan mereka langsung pergi meninggalkan aku.
Aku hanya menatap mereka dengan menaikkan kedua alisku dan aku merasa cukup kesal dengan kedua wanita bermulut tajam itu, padahal aku bahkan sama sekali tidak perduli dengan apapun yang mereka berdua lakukan.
"Haha.... Dasar manusia konyol, aku bahkan tidak perduli, mau di undang atau tidak aku juga tidak akan datang, dasar orang-orang gila!" Ucapku sambil segera pergi dari sana dengan cepat.
Sepanjang aku berjalan menuju kelas bahkan ketika aku sudah duduk di dalam kelas semua orang sibuk membawa undangan mewah yang dikatakan bahwa ada sebuah hadiah misteri yang akan di berikan oleh Siska kepada salah satu tamu undangan di pesta ulah tahun sekaligus anniversary dia bersama tuan Brain tersebut.
Aku berusaha menutup telingaku dengan memakai headset dan menyetel lagu yang cukup keras sehingga setidaknya itu bisa membuat aku lupa dengan hal tersebut yang sangat menjengkelkan.
"Aishhh...mereka semua itu sangat menjengkelkan sekali, bagaimana bisa semua orang suka dengan undangan sampah seperti itu, aaahhh mengganggu belajarku saja" gerutuku sendiri.
Aku terus saja berusaha memfokuskan diriku agar tidak terus mendengar dan melihat hal hal yang sangat menyebalkan, namun sialnya disaat aku tengah duduk dengan santai dan sudah bisa melupakan semua hal yang mengganggu pikiranku dan merusak moodku mengenai undangan Siska dan Brain.
Eh justru dia orang itu yang langsung datang menghampiri aku dan mereka entah datang darimana tiba-tiba saja sudah berada di samping tempat dudukku dan Siska langsung menaruh sebuah undangan dengan nama orang lain di bagian tamu undangannya tepat di atas mejaku.
"Ini Sesilia maaf aku lupa tidak membuat undangan untukmu tapi ini ada salah satu teman yang tidak hadir hari ini jadi aku pikir mungkin kau membutuhkannya, karena hanya mereka yang memiliki undangan yang bisa masuk ke pestaku nanti" ujar dia dengan memakai topengnya sangat rapih.
Aku sungguh ingin menghajar dia saat itu juga, tapi aku mengabaikannya dan memilih untuk menghempaskan undangan itu dan membuangnya ke bawah dengan sengaja.
__ADS_1
"Aduhhh....siapa sih yang menyimpan sampah di atas mejaku, aaaahhh....sayang sekali kini meja tanpa dosa yang bersih dan suci sudah ternodai, tenang ya mejaku tersayang aku akan mensucikanmu lagi dengan air ini" ucapku sambil membasahi mejaku dengan air yang aku bawa sebelumnya.
Aku dengan sengaja membasuh mejaku di depan dia dan langsung pergi meninggalkan dia manusia itu seakan aku tidak melihat keberadaan mereka disekitar sana.
Hingga Siska dan Brain murka dan aku tetap pergi meninggalkan mereka tanpa rasa bersalah sedikitpun dan justru aku merasa sangat senang karena berhasil membalikkan keadaan dimana aku sudah tahu mereka hanya akan mempermalukan aku di hadapan semua orang, namun untungnya aku tidak bodoh sepertinya sehingga bisa dengan mudah membalikkan keadaan.
"Sesilia.... Kau! Beraninya kau melakukan itu, eughhh berhenti kau Sesilia!" Teriak Siska sangat murka,
"Awas kau aku tidak akan membiarkan kau bisa datang ke pesta kami!" Tambah Brain mengancamku,
"Memangnya kalian pikir aku ingin datang? Apa tidak cukup dengan aku membuang undangan sampah itu hah?" Balasku hanya dengan menengok ke samping sekilas lalu kembali lanjut berjalan.
Aku langsung berjalan meninggalkan mereka sambil melemparkan botol air bekas membersihkan mejaku sebelumnya ke belakang dan ternyata mengenai kepala Brain dan itu membuat semua mahasiswa yang ada disana tertawa menertawakan Brain yang meringis kesakitan memegangi kepalanya terkena lemparan botol air mineral olehku.
"Peletak...." Suara botol itu yang mengenai kepala Brain.
"Aduhhhh....aaawww.." ringis Brain sambil memegangi kepalanya dan Siska langsung membantu dia mengusap kepalanya itu dengan pelan.
"Aaaahhh ...sayang apa kau baik-baik saja, mati sini aku lihat" ucap Siska yang bersikap berlebihan,
"Ahahah....Brain kau terlihat konyol barusan bagaimana bisa kau terkenal botol dari lemparan seorang perempuan apalagi dia melemparnya dengan berbalik badan seperti itu, hahaha mau ini kurang berolahraga yah" ucap salah satu mahasiswa yang menertawakan Brain di sana di ikuti dengan anak-anak yang lainnya.
Aku segera pergi dengan cepat dari sana karena aku takut mereka akan mengejarku dan membalaskan perbuatanku barusan padahal aku sama sekali tidak bermaksud mempermalukan Brain bahkan sampai menumpuk kepalanya dengan botol itu, kejadian tadi sungguh real sebuah kecelakaan.
Bahkan aku sendiri merasa terkejut saat mengetahui botol itu mengenai kepala Brain dengan tepat sasaran seperti itu.
__ADS_1