Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Bertekad


__ADS_3

"Tuan ada apa denganmu hari ini, kenapa kau mudah sekali marah, aishhh....kau ini membuatku bingung, aku tidak menyukai Brain dan sama sekali tidak pernah menyukainya aku hanya membenci dia karena mengkhianati pertunangan aku dengan dia sebelumnya, karena bagiku semua itu adalah hal yang sakral sekalipun aku tidak menyukainya" ucapku menjelaskan semuanya kepada dia.


Setelah mengatakan semuanya aku mulai merasa heran dengan diriku sendiri kenapa aku harus menjelaskan masalah itu kepadanya padahal semua itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan tuan Arnold.


"Aishh....sudahlah aku tidak perduli, lagi pula kenapa aku malah menjelaskan semuanya padamu, ini kan tidak ada urusannya dengan dirimu, aaahh lupakan saja mungkin aku terbawa emosi barusan" tambahku kepada tuan Arnold yang menatapku dengan diam.


Sejujurnya saat itu tuan Arnold menahan tawa dan dia sangat senang ketika mendengar penjelasan dari Sesilia bahwa dia tidak pernah menyukai Brain, karena sebelumnya dia mengira Sesilia masih menyukai dia ternyata semua dugaannya itu salah dan kali ini dia pun merasa senang hingga langsung mengajak sekretaris Ken untuk pergi makan di luar malam ini.


"Sekretaris Ken kita makan di restoran hari ini, restoran manapun yang paling bagus aku tidak masalah" ucap tuan Arnold secara tiba-tiba.


Aku yang sebelumnya merasa kesal mendadak langsung menatap ke arahnya dengan terperangah dan refleks langsung menoleh ke arahnya secara langsung.


"Ehhh....apa kau sakit atau kepalamu terbentur sesuatu? Kenapa tiba-tiba saja menyuruh sekretaris Ken pergi ke restoran, aku mau pulang!" Ucapku kepadanya.


Meski sebenarnya aku memang sudah lapar, tapi karena aku sedang kesal kepadanya jadi aku terpaksa harus berpura-pura kesal dan menolak kepadanya saat itu.


Namun untungnya dia tetap memaksa kepadaku sehingga aku pun bisa tetap pergi kesana meski menolaknya sebelum itu.


"Kau tidak salah dengar aku memang sedang ingin makan sekarang, aku Ken kita pergi saja" ucap tuan Arnold tetap pergi,


"Tuan....bisakah kita pergi ke restoran ayam saja, aku ingin makan ayam hehe" ucapku kepadanya,


"Baiklah, Ken pergi ke restoran ayam saja" balas dia begitu saja.

__ADS_1


Aku kaget dan merasa senang karena dia bisa mengijinkan aku dengan begitu mudah padahal biasanya dia tidak pernah bersikap semudah ini kepadaku, aku sungguh merasa senang sekali dan tidak bisa menyembunyikan rasa bahagia di dalam diriku lagi, aku terus tersenyum mengembang sepanjang jalan dan terus saja tidak sabar untuk segera sampai di restoran ayam yang sangat terkenal disana.


Sesampainya disana aku langsung memesannsemua makanan dari jenis yang berbeda-beda dalam menu ayam, aku sangat mencintai ayam melebihi apapun di dunia ini, aku bahkan langsung menikmati menu ayam itu sepuasnya dan tidak memperdulikan sekretaris Ken juga tuan Arnold yang memperhatikan aku karena makan dengan sangat lahap juga begitu cepat.


"Heh... Bukannya tadi kau bilang ingin pulang dan tidak mau pergi ke restoran? Kenapa sekarang kau malah menjadi yang paling antusias dan rakus seperti itu?" Ucap sekretaris Ken kepadaku,


"Tuan Arnold yang memaksaku, jadi aku terpaksa untuk ikut dan jika ada rejeki kenapa juga aku harus menolaknya aku akan menikmati semuanya dengan sepuasku, nyam....nyam...nyaman..." Balasku sambil terus mengunyah makananku dengan lahap.


Rasanya sangat nikmat sekali hingga perutku langsung terasa kenyang dan penuh bahkan aku sampai tidak sanggup untuk banyak bicara lagi karena perutku sudah terisi sekarang.


Menikmati ayam di malam hari memang selalu menjadi kenikmatan yang luar biasa dan itu selalu membuat aku merasakan kenikmatan tiadatara, sekars apapun ujian hidup dan masalah yang menimpaku jika aku bisa menikmati ayam dengan minuman dingin, semuanya bisa langsung aku lupakan dengan mudah.


Maka dari itu ketika aku sedih ataupun merasa sangat senang maka aku akan memakan ayam dan ayam setiap saat, semua itu untuk menikmati hidup ini, selagi aku masih hidup aku akan menikmati hidupku sesuai dengan apa yang aku inginkan dan aku tidak ingin terkekang lagi hanya karena aturan dari ayahku sebelumnya.


"Brak....." Suaraku yang menepuk meja saat itu,


"Aishh....ada apa denganmu apa kau tidak tahu malu yah, lihat banyak orang yang memperhatikan kita sekarang, aduhh....dasar anak nakal!" Ucap sekretaris Ken kepadaku.


"Sekretaris Ken, tuan Arnold. Mulai sekarang aku akan melepaskan semua rasa dengki dan dendam di hatiku kepada semua orang yang menyakiti aku, aku tidak perduli lagi dengan semua orang yang selalu melukai hatiku, aku tidak ingin menemui mereka semua lagi, dan aku hanya ingin hidup bahagia sesuai dengan apa yang aku inginkan, dan kalian berdua harus membantu aku mewujudkan itu, bagaimana?" Ucapku kepada mereka semua dengan penuh keberanian dan tekad yang kuat,


Saat itu aku bicara sambil berdiri dan memperagakan tanganku menunjuk kesana kemari hingga membuat sekretaris Ken menggelengkan kepalanya dan dia terlihat menutup wajahnya menahan malu karena semua orang menatap ke arah kami, menjadikan kami sebuah pusat perhatian sampai sekretaris Ken langsung saja menarik tanganku dan menyuruh aku untuk segera duduk kembali dengan cepat.


"Aishh....sudah duduk...duduk...ahh kau ini membuat ku malu saja, ayo kembali duduk, sungguh ini sangat memalukan" gerutu sekretaris Ken sambil menarik tanganku dan segera menyuruhku untuk duduk kembali,

__ADS_1


"E..eh...eh...kau ini kenapa sih, iya....iya... Aku akan duduk kok, memang aku sudah selesai bicara" balasku kepadanya sambil menghempaskan tangannya itu.


"Aduhh.... tuan Arnold kau juga kenapa malah diam saja, apa kau tidak merasa malu dengan tingkah bocah ini?" Ucap sekretaris Ken yang terlihat sedikit geram kepada tuan Arnold saat itu,


"Tidak untuk apa juga aku memarahinya, biarkan saja dia melakukan apapun yang dia inginkan, jika ada yang berani menertawakannya aku akan menghancurkan orang itu dengan mudah" balas tuan Arnold membuat aku langsung terperangah dan membelalakkan mata menatapnya dengan hera.


Jujur saja saat itu aku sangat kaget dan tidak menduga sedikitpun tuan Arnold akan berbicara membelaku seperti itu bahkan dia sungguh tidak marah kepadaku disaat aku memang sudah sengaja mempermalukan dia dengan bicara lantang sambil berdiri dan banyak memperagakan sesuatu secara acak, namun dia tidak marah dan itu adalah sebuah keberuntungan untukku saat itu.


"Ahh....tuan apa kau sungguh akan membelaku jika seandainya itu terjadi? Kau tidak berbohong bukan?" Tanyaku kepadanya memastikan karena aku masih belum bisa mempercayai apa yang dia katakan sepenuhnya,


"Memangnya kau pikir wajahku ini terlihat seperti berbohong apa?" Balas dia yang langsung membuatku merasa yakin,


"Ahahaha....tidak tidak tentu saja orang sepertimu tidak mungkin membohongiku bukan, hehe... Tapi terimakasih kalian sudah sangat baik kepadaku aku senang sekali bisa memiliki keluarga baru dan dia orang kakak yang sangat perduli kepadaku, bisa aku memanggilmu kak Arnold sekarang, aku juga memanggil itu pada sekretariat Ken sesekali jika dia tidak membuatku kesal" ucapku mengatakannya.


Dia langsung menghentikan makannya dan menatap ke arahku dengan lurus sekaligus lalu membentak aku dengan cukup keras membuat aku kembali kaget di buatnya.


"TIDAK! kau tidak boleh berbicara santai seperti itu kepadaku dan kau tidak boleh menganggap ku sebagai kakakmu, aishh....aku tidak ingin memiliki adik nakal dan pecicilan sepertimu, amit...amit" ucap tuan Arnold membuat aku sangat tersinggung dengan ucapannya itu,


"Huh ...biasa saja dong, kenapa kau sangat menyinggung perasaanku" balasku sambil mengerutkan kedua alisku dan memonyongkan bibirku kesal cemberut.


Aku langsung melipatkan kedua tanganku di dada bahkan hingga kami pulang dari restoran aku tidak ingin berbicara lagi dengannya karena dia sudah menyinggungku seperti tadi, padahal aku berbicara dengan sangat baik-baik kepadanya tetap dia justru malah membentak aku dan mengatai aku sebagai anak yang nakal dan pecicilan, meskipun aku juga tidak mengelak sebab apa yang di katakannya memang ada padaku.


Tapi tetap saja aku merasa kesal karena aku pikir dia tidak seharusnya mengatakan semua itu secara gamblang dan langsung kepadaku bahkan di depan wajahku secara langsung seperti sebelumnya, itu membuat aku sangat sakit hati karenanya.

__ADS_1


__ADS_2