Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Bertemu Brain dan Siska


__ADS_3

Aku sengaja menghentikan sekretaris Ken agar tidak mengejar dan berbicara kepada tuan Arnold untuk menjelaskan semuanya lagi sebab aku tahu perbuatanku mungkin sudah melewati batas kesabarannya sehingga aku memutuskan untuk tetap pergi dari sana, dan aku juga sudah merasa bersyukur mereka mau memasukkan aku ke universitas.


Aku pun meminta izin kepada sekretaris Ken untuk pergi saat itu juga dan tanpa membawa apapun kecuali pakaian yang tengah aku pakai saat ini.


"Sekretaris Ken terimakasih sudah mau menjagaku dengan baik dan tolong sampaikan ucapan terimakasih ku juga kepada tuan Arnold, dia tidak seburuk yang orang katakan dan aku mempercayainya" ucapku dengan melemparkan senyum terakhir kepada sekretaris Ken.


Meski saat itu sekretaris Ken terus berusaha menahan aku untuk tidak pergi, tetapi aku tidak bisa ditahan olehnya ketika tuan Arnold sang pemilik rumah sudah mengusirku, dan memang tidak ada alasan cukup kuat untuk aku tetap tinggal disana.


Maka dari itu aku tetap pergi meski tidak tahu akan kemana, yang terpenting saat ini aku harus keluar dari rumah itu dan berhenti menjadi beban serta sumber masalah untuk tuan Arnold, aku menghembuskan nafas yang lesu, berjalan tanpa tujuan terus menyusuri jalanan yang tidak tahu arahnya akan kemana, hingga aku sampai di pinggiran jalan raya dan tidak lama sebuah mobil berhenti tepat di sampingku.


"Ehh....mobil siapa ini kenapa berhenti disini?" Gerutuku bertanya-tanya sendiri.


Saat seseorang keluar dari mobil itu ternyata dia adalah kak Brain mantan tunanganku dan dia bersama Siska mantan kakak tiriku yang sangat aku benci.


Mereka keluar dari mobil secara bersamaan dan aku langsung beranjak pergi karena malas menghadapi orang-orang seperti mereka, tetapi Brain memanggil namaku dan memintaku untuk berbalik.


"Sesilia tunggu!" Teriak Brain membuat langkahku langsung terhenti.


"Untuk apa kau menghampiriku?" Tanyaku kepadanya,


"Tentu saja untuk memamerkan hubungan kita, dan ini undangan pesta pertunangan ku bersama Brain, kau harus datang dan memberikan restu padaku juga mantan tunanganmu" ujar Siska dengan wajah yang menghinaku.

__ADS_1


Dengan menahan emosi ku ambil surat undangan itu dan aku meremasnya dengan kuat, pada awalnya aku pikir Brain bukan pria seperti ini, dia begitu populer dan berkarisma seperti malaikat yang baik hati dan tanpa dosa, nyatanya aku salah menilai manusia dari penampilan luarnya saja, dia memakai topeng ketika di hadapan banyak orang tetapi saat melepaskan topengnya dia lebih menjijikan dari pada seekor hewan liar.


Aku benci senyum tipis dari ujung bibirnya yang menyepelekan aku begitu juga dengan tatapan sinis yang dilemparkan oleh Siska kepadaku, mereka pasti puas dan senang melihat kondisiku yang seperti ini dan aku tidak bisa membuat mereka menjadi pemenang tanpa perlawanan dariku.


"Sesilia jangan lupa kau pernah menolak tawaranku untuk bekerja sama, dan sekarang kelihatannya kau menjadi gembel tepat setelah menolak bertunangan denganmu, kasihan ayo Sisak kita pergi dari sini, menjijikan melihat gembel di pinggir jalan yang terbuang" ucap Brain dengan menatapku lewat ujung matanya.


Mereka langsung masuk ke dalam mobil dan meninggalkanku setelah puas menghinaku habis-habisan, aku sungguh kesal dan langsung meluapkan emosiku seketika, aku berteriak sekerasnya untuk meluapkan emosi di dalam diriku dan merutuki mereka habis-habisan.


"Aaarkhhh...sialan, bastrad menjijikan, manusia b*bi, aaahhh.....awas saja kau Brain aku tidak akan melepaskanmu dengan mudah, begitu juga dengan Siska yang menyebabkan kematian ibuku. Artkhhh kenapa tuhan tidak adil padaku....hiks...hiks... hiks" ucapku berteriak kencang merutuki mereka dan menangis pada akhirnya.


Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan kini tidak ada siapapun yang bisa aku pintai pertolongan agar bisa menolongku, setidaknya untuk mempertahankan wajahku membalas kesombongan mereka, bahkan aku tidak memiliki tempat tinggal, pakaian dan semuanya.


"Huaaa apa aku harus tidur di jalanan malam ini, mereka benar aku seorang gembel hiks...hiks...menyedihkan" ucapku merasa sangat sakit.


"Brakkk..... Arnold kemari kau!" Bentak sekretaris Ken setelah mendobrak pintu ruang kerja tuan Arnold.


Tuan Arnold tetap terlihat santai dia duduk di depan meja kerjanya dan menatap tanpa ekspresi namun menyepelekan kepada sekretaris Ken, sekretaris Ken tidak perduli lagi dengan siapa dia dan siapa bos nya disini, karena emosinya sudah terlanjur memuncak sehingga dia gelap mata dan langsung mencengkram kerah kemaja yang dikenakan oleh tuan Arnold.


Dia menyeret tuan Arnold dari kursinya dan mulai memberikan ancaman kepadanya.


"Arnold apa kau akan tetap diam dan santai seperti ini disaat gadis kecil yang baru siuman sepertinya pergi di tengah malam tanpa tujuan, hah?" Bentak sekretaris Ken dengan gigi yang dia kerutkan untuk menahan emosi di dalam dirinya,

__ADS_1


"CK....apa sebesar ini cintamu kepada dia, kalau begitu kau urus saja dia sendiri kenapa kau menyuruhku bukankah kau mencintainya, ambil saja dia aku tidak butuh" balas tuan Arnold berdecak menyepelekan,


"Arnold kau benar-benar sialan, bughh" sebuah tinjuan mengenai perut tuan Arnold dengan sangat tepat, hingga tubuhnya melengkung ke belakang.


Meski dia sedikit meringis kesakitan merasakan tinjuan dari sekretaris Ken yang sangat kuat tetapi dia masih belum menyadari kesalahannya dan tetap bertindak santai seakan tidak ada yang terjadi dan seakan dia tidak perduli kepada nasib Sesilia.


Sekretaris Ken yang sudah geram dia langsung menjelaskan semuanya meski tuan Arnold terlihat tidak mendengarkan ucapannya, dia tetap membicarakan semua yang terjadi.


"Arnold kau tahu aku menganggapnya sebagai adikku dan begitu pula sebaliknya, kejadian di kamar itu adalah sebuah kesalahan dia jatuh karena kakinya tersangkut pakaian yang berserakan di lantai dan tidak sengaja menabrak tubuhku karena dia kaget sebab kau muncul tiba-tiba, dan aku bodoh karena tidak bisa menahan tubuhnya sampai kami jatuh ke atas ranjang bersamaan, apa kau mendengarkan itu Arnold?, Apa kau masih tidak memperdulikannya disaat aku sudah mengatakan kebenaran yang terjadi?" Ucap sekretaris Ken dengan nafas menderu karena dia terus saja berusaha mengendalikan dirinya.


Tuan Arnold seketika tertegun dan dia mulai menatap ke arah sekretaris Ken dengan pelan, wajahnya mulai memperlihatkan bahwa dia sedikit merasa bersalah sekarang, hingga sekretaris Ken pikir semuanya sudah membaik tetapi dia salah mengira karena tuan Arnold tetap belum mempercayai ucapan dia sepenuhnya.


"Lalu bagaimana denganmu yang bisa tiba-tiba ada di dalam kamarnya?" Tanya tuan Arnold membuat sekretaris Ken hampir frustasi,


"Aaarkhhh....kenapa kau keras kepala sekali Arnold, asal kau tahu dia hanya ingin memperlihatkan apakah pakaian yang dia kenakan cocok di tubuhnya atau tidak, dan dia menarikku ke kamarnya agar aku bisa melihatnya berkaca di cermin dengan pakaian yang aku belikan, dia mengira aku yang membelikan semua itu makanya dia mengajakku!" Bentak sekretaris Ken lagi.


Setelah mendengar semuanitu barulah tuan Arnold mulai menyadari kesalah pahaman yang dia pikirkan sebelumnya dan dia langsung terperangah kaget serat mulai merasa cemas dengan keadaan Sesilia.


"Bagaimana apa kau sudah berubah pikiran sekarang?, Ayolah Arnold kejar dia dan cari dia sebelum terlambat" ucap sekretaris Ken mendesaknya.


"Terimakasih sudah menyadarkanku" ucap tuan Arnold sambil memegangi kedua pundak sekretaris Ken.

__ADS_1


Tuan Arnold mengangguk dan dia segera mengambil kunci mobil diatas mejanya, dia berlari sekencang yang dia bisa dan langsung melajukan mobilnya dengan cepat keluar dari halaman rumahnya untuk mencari keberadaan Sesilia.


Dia benar-benar merasa menyesal dan merasa bersalah kepada Sesilia karena sudah berpikiran macam-macam dan menuduh dia dengan sekretaris Ken cukup keterlaluan bahkan sampai mengusir dia dari rumahnya tanpa mau mendengarkan penjelasan dari mereka terlebih dahulu.


__ADS_2