
Sesilia jatuh tergeletak di lantai dengan darah yang keluar dari belakang kepalanya, Johana sangat panik melihat itu dia langsung menghampiri Sesilia dengan lemas dan merasa sangat bersalah atas perbuatan yang dia lakukan kepada putrinya sendiri.
"Sesilia....sayang, bangun nak....Sesilia kau tidak boleh meninggalkan ayah" ucap Johana begitu histeris.
Dona menghampiri suaminya dan dia memeluk Johana dari samping sambil berputar-putar ikut merasa sedih atas kejadian ini, lalu kini mereka bingung harus membawa Sesilia kemana karena tidak mungkin jika mereka membawanya ke rumah sakit di sana ada suster Maria yang mungkin akan mencurigainya sampai akhirnya Dona memberikan usulan.
"Sayang sekarang kemana kita harus membawanya?" Ucap Johana begitu panik dan ketakutan.
"Kita harus membuangnya, bawa saja dia ke jalan raya lalu biarkan dia tergeletak di jalanan agar orang-orang berpikir bahwa itu sebuah kecelakaan" ucap Johana dengan pemikiran jahatnya.
Johana terdiam sejenak karena dia tidak tega melakukan itu kepada putrinya kandungnya sendiri meskipun dia yang telah menyebabkan putrinya seperti ini namun setidaknya Johanan masih memiliki setitik rasa kasihan di dalam hatinya, namun karena Siska dan Dona terus mendesak sehingga Johana tidak dapat berpikir jernih dan dia akhirnya menuruti ide dari mereka berdua.
Johana membawa Sesilia pergi menggunakan mobilnya bersama Dona dan Siska, lalu mereka pergi ke tempat yang sangat jauh dari lingkungan rumah mereka dan ketika sudah berada di jalanan yang sepi mereka mulai menurunkan Sesilia di tengah jalan begitu saja dan segera pergi meninggalkannya.
"Sayang ayo cepat kita harus pergi sebelum ada orang lain yang melihatnya" ucap Dona sambil menarik Johana dengan paksa,
Johana pun pergi kembali ke kediamannya dengan perasaan tidak karuan dan dia terus merasa panik serta tidak tenang karena telah menelantarkan Sesilia di jalanan dalam kondisi seperti itu.
Sedangkan disisi lain tuan Albert tengah melakukan perjalan ke luar kota dan saat itu dia baru saja selesai dengan pertemuan bisnisnya hingga tiba-tiba mobil berhenti secara mendadak membuatnya sangat kaget dan langsung memarahi sekretaris Ken.
"Hey.... Ken apa kau gila, kau ingin membuatku mati konyol yah!" Bentak tuan Albert,
"Mohon maaf tuan tetap di depan sepertinya ada seorang gadis yang tergeletak di tengah jalan sehingga menghalangi jalan kita, saya akan memeriksanya dahulu" ucap Sekretaris Ken lalu segera turun dari mobil.
Saat sekretaris Ken berjalan mendekati gadis itu dia sangat ketakutan karena jalanan disana sangat sepi dia takut jika yang dia temukan adalah bukan manusia sehingga dia membalikkan gadis itu dengan menjaga jarak aman sampai saat dia berhasil membalikan tubuhnya betapa kagetnya sekretaris Ken hingga berteriak sangat keras membuat tuan Albert kaget hingga dia juga ikut turun dari mobil.
"Aaaarhkhhh...." Teriak sekretaris Ken kencang,
"Aishh...Ken kenapa kau berteriak siapa dia?" Ucap tuan Albert sambil melihat ke arah gadis yang tergeletak di jalanan tersebut.
Betapa kagetnya tuan Albert saat melihat gadis itu adalah gadis yang sama seperti dan pernah dia temui beberapa hari belakangan ini bahkan dia juga sudah memerintahkan sekretaris Ken untuk mencari identitasnya namun dia belum sempat memeriksa hal tersebut karena terlalu sibuk dengan pekerjaannya yang lain.
"Gadis itu, kenapa dia bisa ada disini?" Gerutu tuan Albert dengan heran.
Dia langsung memeriksa nafas dan denyut nadi Sesilia lalu mendapati dia masih bernafas hanya saja darah keluar dari belakang kepalanya dan tuan Albert langsung menggendongnya membawa masuk ke dalam mobil serta menyuruh sekretaris Ken agar mengemudi dengan cepat menuju rumah sakit terdekat.
"Ken...jalan lebih cepat lagi dia tidak akan bisa menunggu lebih lama!" Perintah tuan Albert sangat serius.
Dia begitu panik dan sangat mencemaskan seorang gadis kecil yang saat ini tengah berada diatas pangkuannya dalam keadaan tak sadarkan diri.
Sekretaris Ken juga merasa heran dan ini adalah pertama kalinya dia melihat seorang tuan Albert memiliki perhatian dan mencemaskan seorang perempuan terlebih itu kepada seorang gadis muda yang sempat membuat dia jengkel belakangan ini.
"Gadis itu memang berbeda" gumam sekretaris Ken di dalam hatinya.
Hingga sesampainya di rumah sakit tuan Albert langsung membawa gadis itu ke ruang ICU sehingga dia langsung mendapatkan penanganan yang cepat, selama menunggu gadis itu ditangai oleh dokter tuan Albert terus saja berjalan mondar mandir dengan memegangi keningnya.
Bahkan sekretaris Ken yang melihat tingkahnya tersebut ikut merasa pusing sebab dia tidak bisa berhenti dan lebih tenang sedikit saat menunggu dokter selesai menanganinya.
"Albert aku tahu kau bos ku tapi kita sudah bersahabat cukup lama jelas aku sangat mengetahui sikap kau lebih dari pada orang lain, tapi aku heran denganmu kali ini kenapa kau tidak bisa diam dan tenang hanya karena seorang gadis kecil yang tidak kau kenal berada di dalam rumah sakit?" Ucap sekretaris Ken merasa sangat heran sendiri.
__ADS_1
"Aishh .... Aku sendiri juga tidak tahu mengapa aku mencemaskannya, dia...aaahhh sudahlah" ucap tuan Albert tidak perduli dan dia duduk di samping sekretaris Ken menunggu dokter selesai menangani gadis itu.
Lalu tidak lama dokter keluar dengan wajah yang panik dan dia mengatakan bahwa gadis itu telah kehilangan banyak darah sehingga dia membutuhkan transfusi darah saat itu juga hanya saja golongan darah yang cocok untuk gadis itu sedang tidak ada di rumah sakit tersebut sehingga mereka meminta maaf kepada tuan Albert karena harus mencari pendonor terlebih dahulu agar gadis itu bisa di selamatkan.
"Maaf tuan Albert tapi dia kehilangan banyak darah sehingga kami membutuhkan transfusi darah saat ini juga, bisakah anda mencari orang yang mau memberikan darahnya kepada gadis itu?" Ucap dokter mengatakannya,
"Apa golongan darahnya?" Tanya tuan Albert,
"Golongan darahnya O tuan" balas sang dokter,
"Saya memiliki golongan darah yang sama dengannya, biarkan saya yang melakukannya dokter" ucap tuan Albert tanpa berpikir panjang lagi.
Dokter pun mengajak tuan Albert untuk melakukan pemeriksaan terlebih dulu apakah benar darahnya memenuhi syarat untuk melakukan transfusi darah atau tidak, namun di saat tuan Albert hendak pergi melakukan pemeriksaan sekretaris Ken menahannya.
"Tuan apa kau yakin akan melakukan ini, kau tidak mengenalnya sama sekali kenapa kau mau membantunya sampai seperti ini?" Ucap sekretaris Ken menahannya,
"Aku harus menyelamatkannya Ken, dia terlalu muda untuk mati sia-sia" ucap tuan Albert yang masih teguh dengan keputusannya,
"Tuan kau harus menghadiri acara penting besok, bagaimana dengan kesehatanmu, biarkan aku yang mencarikan orang untuk transfusi darah baginya kau tidak harus melakukannya sendiri" ucap sekretaris Ken tetap menahan tuan Albert,
"Lepaskan tanganku Ken kau sahabatku atau bukan?, Gadis itu membutuhkannya saat ini juga, bahkan jika kau memiliki banyak anak buah mereka tidak bisa mendapatkan orang yang tepat dalam waktu sesingkat ini, jangan mengkhawatirkanku aku akan baik baik saja" ucap tuan Albert melepaskan lengan sekretaris Ken yang menahannya.
Sekretaris Ken tidak bisa melakukan apapun lagi ketika itu sudah menjadi keputusan dari tuan Albert sendiri, bahkan ketika dia adalah sahabat terbaiknya, itu tetap tidak bisa menahan seorang tuan Albert yang selalu memutuskan semua sesuai kehendaknya sendiri serta tidak ada yang bisa membantah keputusan dan ucapannya.
Sekretaris Ken sudah pasrah dan dia hanya bisa menunggu diluar seorang diri dalam beberapa waktu yang tidak sebentar sampai satu jam kemudian akhirnya semua selesai dan dokter sudah menyatakan bahwa gadis itu akan baik-baik saja hanya tinggal beristirahat lebih banyak begitu pula dengan tuan Albert dia juga akan baik-baik saja sebab imunitas tubuhnya sangatlah kuat.
Sekretaris Ken yang mendengar kabar tersebut dia sangat lega dan langsung masuk ke marah pasien menemui tua Albert yang saat itu sudah di pindahkan ke kamar yang sama dengan gadis tersebut bahkan mereka berbaring bersampingan.
"CK.... sia-sia saja aku mengkhawatirkanmu sedari tadi, kau malah tersenyum senang seperti itu menatap gadis asing, dasar kau!" Ucap sekretaris Ken sedikit kesal.
Tuan Albert hanya menanggapinya dengan senyum sekilas lalu dia memperbaiki kemejanya dan dia sudah bisa duduk seperti biasa, tangannya juga sudah dilepaskan dari jarum karena proses transfusi darah sudah selesai.
"Aku kan sudah bilang kau tidak perlu mencemaskanku, aku baik baik saja bahkan setelah gadis kecil ini mengambil satu kantong darah dalam diriku" balas tuan Albert dengan bangga.
"Aishh, ternyata kau masih bisa sombong juga yah, sudahlah aku akan mengurus administrasinya dahulu" ujar sekretaris Ken dan segera pergi kembali dari ruangan tersebut.
Tuan Albert turun dari bangsalnya dan dia berjalan mendekati tempat tidur Sesilia dia mengelus kepala Sesilia yang sudah di perban dan dia mulai bertanya-tanya apa yang sebenarnya terjadi pada gadis kecil itu sehingga membuatnya seperti ini.
"Hey ...gadis kecil kapan kau akan bangun, aku sudah memberikan darahku padamu dan kini kita memiliki darah yang sama, darahku mengalir di dalam dirimu, tidakkah kau akan mengucapkan terimakasih kepadaku saat bangun nanti?" Ucap tuan Albert bicara sendiri,
"Mengapa kau bisa seperti ini?, Apa ada orang br*ngsek yang menabrakmu lalu meninggalkan kau begitu saja atau memang kau dibuang oleh seseorang?, Haa...tapi aku tidak perduli aku akan menjagamu gadis kecil, kau sudah terikat denganku karena mengambil darahku" ucap tuan Albert menambahkan.
Tuan Albert terus menjaga dan merawat Sesilia sepanjang malam bersama sekretaris Ken sedangkan di rumah sakit lain Tante Maria merasa cemas dan terus berusaha menghubungi Sesilia berkali-kali tapi tidak mendapatkan hasil apapun karena ponselnya tiba-tiba saja menjadi tidak aktif, saat itu memang ponsel Sesilia jatuh di kediamannya sehingga Dona mengambil ponsel itu lalu membuangnya sembarangan.
Sehingga pantas saja jika Tante Maria tidak bisa menghubungi Sesilia.
"Ya Tuhan tolong lindungi putri kecilku, lindungilah dia dimanapun dia berada" ucap tante Maria yang selalu mendoakan Sesilia dan sangat menyayanginya sepenuh hati.
Tante Maria bukannya tidak ingin pergi mencari Sesilia namun dia juga harus menjaga ibu Laura di rumah sakit dia takut terjadi sesuatu pada ibu Laura jika saja dia meninggalkannya terlebih Sesilia tidak ada disana termasuk Johana, maka dari itu sepanjang malam tante Maria terus menjaga ibu Laura mulai dari membantunya membersihkan diri dan melakukan segala hal lainnya disaat ibu Laura tidak sadarkan diri.
__ADS_1
*****
Aku merasa bahwa aku sudah tidur cukup lama dan saat aku membuka mataku aku sudah berada di sebuah ruangan hampa dan kosong, semuanya hitam dan gelap aku tidak bisa melihat apapun disekitarku.
Aku hanya berusaha meraba raba untuk mencari pegangan dan bisa memastikan dimana aku sebenarnya berada.
"Dimana aku kenapa disini gelap sekali?" Ucapku kebingungan,
"Ibu ...ayah....kalian dimana, Tante Maria kalian dimana?" Teriakku mencari keberadaan orang-orang yang aku kenal.
Aku terus memanggilnya beberapa kali hingga sebuah cahaya muncul di depanku dan aku terus berjalan ke arah cahaya itu aku berusaha meraih cahaya itu dengan tanganku hingga aku berhasil memasukinya, semuanya silau dan kini terlalu terang untuk mataku, hingga suara seseorang yang lembut dan aku kenal mulai menyapaku.
"Sesilia...kenapa kau ada disini?" Ucap seseorang.
Aku berusaha melihatnya dan menurunkan tanganku dan ternyata itu adalah ibu dan kakek nenekku mereka berdiri di hadapanku memakai pakaian serba putih dan terlihat bahagia, aku sangat senang bisa melihatnya dan aku langsung berlari kepada mereka tapi kakiku tertahan aku tidak bisa bergerak dari tempatku berdiri saat itu.
"Ibu...kakek...nenek....kalian disini....aku...eh, kenapa aku tidak bisa bergerak Bu, aku merindukan kalian aku ingin memeluk kalian....kenapa aku tidak bisa bergerak" ucapku mulai panik dan merasakan kesedihan yang mendalam.
"Sayang ini bukan tempatmu, kau harus pergi dan jangan memperpanjang masalah dengan ayahmu, jika kau kembali ke sini kau tidak akan membawa apapun tolong jangan beratkan kakek, nenek dan ibu hanya harta yang tidak seberapa, pergilah nak ini bukan tempatmu...." Ucap ibuku lalu perlahan cahaya itu memudah seiring dengan perginya mereka bertiga.
"Tidak ..tidak....ibu...ibu...tidak jangan pergi ..jangan tinggalkan aku...ibu...." Teriakku lalu terperanjat bangkit dari ranjang rumah sakit.
Nafasku terus menderu dan aku sangat panik, aku langsung teringat dengan ibuku dan tidak sadar dengan seorang pria yang ada di sampingku saat itu.
"Ibu...hah..hah...iya aku harus menemuinya" ucapku sambil beranjak hendak turun dari ranjang tapi kepalaku terasa sangat sakit dan aku begitu lemas hingga akhirnya hampir terjatuh.
Namun seorang pria yang tidak aku kenal dia menolongku dan membantuku kembali merebahkan diri di ranjang.
"Ehh ...mau kemana kau?, tetap lah sini kau baru saja sadar, apa yang terjadi denganmu, cobalah untuk tenang sejenak" ucap tuan Albert menahan Sesilia.
"Kau....siapa kau pak?" Tanyaku padanya dengan kebingungan.
Tuan Albert kaget bercampur kesal karena Sesilia memanggilnya dengan sebutan bapaknpadahal dia merasa dirinya tidak setia itu terlebih Sesilia telah melupakan wajahnya padahal dia masih mengenali Sesilia meskipun tidak mengetahui namanya.
"Kau!, Beraninya kau memanggilku pak!" Bentak tuan Albert tidak bisa menahan emosinya.
Aku bingung karena pria asing itu tiba-tiba saja marah dan membentakku hanya karena aku memanggilnya dengan sebutan pak, padahal aku rasa wajahnya memang cocok dengan sebutan itu.
"Ehh ..kenapa anda marah pak?" Tanyaku dengan polosnya.
Tuan Albert sudah menahan emosi dengan mengeratkan dmgiginya dengan kuat sampai tidak lama sekretaris Ken datang ke ruangan tersebut dan dia juga menatap heran karena suasana disana menjadi tegang sesaat setalah dia meninggalkan mereka berdua beberapa menit saja.
"Kau sudah bangun yah gadis kecil?" Ucap sekretaris Ken bertanya,
"Kau juga siapa, kenapa aku di rumah sakit?" Tanyaku balik dengan heran,
"Hah? Kau tidak tahu aku dan tuan Albert kau hilang ingatan yah, siapa namamu dimana kau tinggal?" Ucap sekretaris Ken yang terlalu berpikir jauh,
"Apa apaan sih aku Sesilia dan aku tinggal di kota XX, tentu saja aku tidak hilang ingatan tapi aku tidak kenal dengan kalian berdua" balasku dengan jujur,
__ADS_1
Seketika sekretaris Ken membeku dan dia sekarang tahu mengapa tuan Albert memasang wajah murung dan kejam seperti itu.