
Aku merasa sedikit kesal karena sekretaris Ken seperti menjauhi aku bahkan dia dengan cepat tiba-tiba saja berlari pergi di rumah tersebut sehingga membuat aku kehilangan jejaknya dan tidak bisa berlari mengejar dia lagi.
"Saya pulang dulu Albert....eh maksudku Arnold" teriak sekretaris Ken sambil berlari sekencang yang dia bisa,
"Eh...tunggu sekretaris Ken....kau mau kemana heyyy jangan tinggalkan aku" teriakku berusaha menahannya.
Dia tetap saja pergi dan mengabaikan aku dia bahkan tidak berbalik menatap kepadaku sedikitpun, aku kesal sekali dan menggerutu sepuasnya sampai aku tidak sadar bahwa disana masih ada tuan Arnold yang ada di dekatku.
"Eughh...dasar sekretaris Ken sialan, menyebalkan dia pria menyebalkan tega sekali dia meninggalkanku dengan manusia robot ini seorang dir..." Ucapku terhenti karena aku ingat bahwa tuan Arnold ada di sampingku sekarang.
"Ehh...astaga, aku lupa dia ada di sampingku, aduhh bagaimana ini" gerutuku kebingungan dan cemas,
Aku hanya bisa menatapnya dengan tersenyum canggung dan berusaha agar tidak membuatnya marah lagi terhadapku, dia juga menatapku tapi tatapannya itu terlihat begitu tajam dan mencekam untukku, dia menatapku tanpa ekspresi sedikitpun, dan dia mulai mendekatiku semakin dekat dan semakin dekat.
"Tu..tua... Kau mau apa?" Ucapku bertanya dengan perasaan tak karuan dan aku sangat gugup saat itu.
Dia menarik lenganku dan seperti tengah memeriksanya tapi karena dia tidak mengatakan apapun jadi aku merasa takut dan terus berusaha menarik lenganku, aku takut dia akan membalut lukaku sekencang tadi.
"Hey, tuan apa yang mau kau lakukan dengan tanganku, ini masih sakit kau tidak boleh membalutnya sekencang tadi itu menyakitiku" kataku dengan jujur.
Dia menatap sekilas kepadaku lalu meniup lenganku yang sakit itu dan mengusapnya dengan lembut, membuat aku terperangah saat melihatnya dan setelah itu dia menggendongku secara tiba-tiba lalu membawaku ke sebuah kamar tamu yang ada di rumahnya tersebut.
"Ehh...tuan...turunkan aku, kau mau membawaku kemana hey..." Teriakku berontak karena kaget,
Dia masih belum mengeluarkan apapun hingga kami sampai di depan sebuah kamar dan dia memintaku untuk membukakan pintunya sebab dia tengah menggendongku, aku memang takut dan bingung tapi karena dia membentakku aku pun menurutinya.
"Buka pintunya" ucap tuan Arnold dengan nada yang datar,
"Tidak aku tidak mau, kau turunkan aku cepat" ucapku menolaknya,
"Buka pintunya aku aku akan mematahkan tanganmu!" Ancam tuan Arnold membuatku ketat ketir,
Mendengar ancaman darinya bahkan hampir membuatku kesulitan untuk menelan salivaku sendiri perlahan aku raih gagang pintu tersebut dan membukanya hingga dia langsung menendang pintunya cukup keras lalu membawaku masuk ke dalam dan menidurkan aku di ranjang yang sangat besar dan empuk.
Bahkan kamarku sebelumnya tidak seluas dan sebagus ini, aku sempat terperangah karena kamarnya sangat luas, dengan ranjang yang besar meja rias yang lebar dan semuanya tertata begitu rapih.
"Ehh....apa ini kamarmu, bagus sekali" ucapku sembarangan,
"Ini kamar untukmu, kau bisa tinggal disini selama yang kau inginkan" ucap tuan Arnold membuatku seketika membelalakkan mata dengan lebar.
Antara kaget, senang dan tidak percaya aku benar-benar tidak mengenal dia sebelumnya hanya beberapa kali bertemu dan itu sebuah kebetulan saja tapi dia mau membantuku sampai mau menampung aku di rumahnya bahkan memberikan sebuah kamar yang besar dan bagus untukku, tentu saja aku merasa kaget dan kebingungan sendiri.
__ADS_1
"Tuan apa kau tidak bercanda?" Ucapku mematikan sambil memegangi kedua pundaknya dengan erat dan mata yang terbuka lebar,
Tuan Arnold yang mendapatkan reaksi dari Sesilia seperti itu dia merasa sedikit tidak nyaman karena Sesilia menggenggam kedua pundaknya cukup erat dan itu membuat dia sedikit gugup serta jantungnya yang berdetak terlalu cepat dari biasanya.
"Sial, kenapa aku harus gugup hanya karena seorang gadis kecil sepertinya?" Gerutu tuan Arnold di dalam hatinya,
Aku yang melihat tuan Arnold tetap dia menjadi heran dan kembali bertanya untuk menyadarkannya.
"Hey...tuan...tuan...tuan Arnold Albertus!" Teriakku memanggil dia dengan nama panjangnya,
Akhirnya dia pun langsung sadar dan menghembuskan nafas sedikit berat, aku hanya menatapnya dengan heran serta kedua alis yang ku kerutkan hingga hampir menyatu satu sama lain.
"Iya ....kamar ini sungguh milikmu kenapa juga kau tidak percaya dengan ucapanku, aku tidak suka mengulangi perkataan ku dan aku tidak senang jika orang memanggilku dengan nama panjang ku, mengerti!" Ujar tuan Arnold mendominasi dan dia bangkit berdiri keluar dari kamar tersebut.
Aku hanya menatap kepergiannya dengan merasa heran sambil mengedipkan mataku beberapa kali dan aku langsung merebahkan tubuhku ke atas ranjang yang besar dan empuk itu, ku tatap langit langit kamarnya yang begitu besar dan aku kembali teringat dengan perlakuan ayahku terhadapku.
Aku mengangkat tanganku keatas lalu aku melihat luka di tanganku yang sudah dibalut oleh sekretaris Ken sebelumnya, aku tidak pernah mengira aku akan memutuskan hubungan darah antara seorang anak dan ayahnya sendiri seperti tadi, aku meninggalkan semua yang menjadi milikku padahal aku sudah sangat bertekad sebelumnya kepada tante Maria bahwa aku akan memperjuangkan milikku.
"Ibu jika kau masih ada, apa yang sebenarnya kau inginkan, apa aku harus merebut semuanya kembali atau membiarkan mereka bahagia diatas penderitaan kita?" Ucapku pelan sambil terus melihat tanganku yang terluka dan membolak balikan nya.
Berbeda dengan Sesilia yang saat ini sudah berada di kedian tuan Arnold kini Johana justru tengah kelimpungan dan cemas sebab dia sudah berjanji dengan tuan Bramantyo untuk melakukan pertunangan dua hari lagi antara Sesilia dan Brain, mereka juga sudah dipertemukan sebelumnya sehingga tidak mungkin dia akan berbohong kepada tuan Bramantyo, dan jika pertunangannya itu batal maka dia akan mendapatkan kesulitan di perusahaannya.
Dia tidak mengkhawatirkan Sesilia melainkan mencemaskan perusahaannya sendiri, Johana marah besar malam itu dia menghancurkan barang-barang yang ada di kamarnya hingga membuat Dona dan Siska kaget di buatnya, mereka juga sulit untuk menghentikan amarah Johana sebab dia tengah berada di puncak emosinya sendiri, sampai tidak lama ketika Johana sudah mulai tenang, barulah Dona menghampirinya.
Johana pun akhirnya bisa tenang dan dia menjadi lebih positif, dia memeluk Dona dangan erat dan menceritakan semua kesulitan di perusahaan yang tengah dia alami termasuk pertunangan Sesilia dan Brain juga hutang lainnya yang harus dia bayar kepada tuan Bramantyo. Mendengar itu Dona seperti mendapatkan kesempatan emas untuk putrinya dia langsung memanggil Siska dan menawarkan agar Siska yang menggantikan Sesilia untuk bertunangan dengan putra tuan Bramantyo.
"Sayang bagaimana jika Siska saya yang menggantikan Sesilia, dia juga sangat cantik dan cerdas bahkan dia lebih memiliki sopan santun di bandingkan dengan Sesilia yang selalu berontak terhadap keputusanmu" ucap Dona mulai meracuni pikiran Johana.
Entah bagaimana Johana selalu saja terhipnotis oleh perkataan yang keluar dari mulut Dona dan dia menurutinya dengan begitu saja.
"Baiklah Siska jika kau tidak keberatan besok kau ikut dengan ayah untuk menemui tuan Bramantyo dan kamu akan membicarakan mengenai pertunangannya" balas Johana menyetujui keputusan tersebut.
"Tenang saja ayah aku tidak akan mengecewakanmu seperti Sesilia, dan aku akan mengikuti apapun yang kau minta apalagi ini untuk menyelamatkan perusahaan kita" balas Siska dengan wajahnya yang sok baik.
Johana terlihat begitu senang dan dia memeluk Siska dengan penuh kasih sayang dan penuh dengan harapan agar Siska bisa membantu perusahaannya tersebut, dan tanpa Johana ketahui semua itu memang sudah masuk ke dalam rencana yang mereka tengah jalankan, sejak awal Siska memang iri dengan Sesilia dan dia selalu ingin merebut apapun yang dimiliki oleh Sesilia.
Terlebih lagi disaat dia mengetahui Sesilia akan bertunangan dengan putra tunggal keluarga Bramantyo yang terkenal di sekolah dengan kepandaiannya dan juga ketampanannya tentu saja dia sangat iri dan sudah sejak lama dia ingin mengambil banyak perhatian dari tuan Bramantyo melihat situasi saat ini dia pikir dia bisa masuk ke dalam kediaman tuan Bramantyo dan bisa mengambil alih keluarga itu juga.
Setelah Johana memilih untuk beristirahat kedua anak dan ibu itu menyusun rencana untuk ke esokan paginya dan mereka sudah menyiapkan trik yang biasa mereka gunakan untuk mengelabui banyak orang selama ini.
"Siska ingat kau harus bisa mengambil hati tuan Bramantyo yang paling penting ada dia masalah Brain ibu yakin dia akan mengikuti apapun yang ayahnya perintahkan, sebab ibu dengan Brain dan Sesilia juga tidak dekat bahkan mereka itu sering bertengkar jika bertemu, kau jika menyukainya ibu yakin bisa mendapatkan hatinya juga" ucap Siska mewanti-wanti putrinya itu.
__ADS_1
"Tentu saja ibu, kau tidak perlu merasa cemas jika hanya menaklukan hati seorang pria tua seperti tuan Bramantyo itu sangat mudah untukku begitu pula menaklukan hati Brain hahaha" balas Siska dengan penuh percaya diri.
Mereka berdua tertawa bersama merayakan perubahan besar yang sudah mereka lakukan karena nyonya Laura sudah meninggal dan Sesilia telah memutuskan hubungan dengan ayahnya sendiri sehingga semua harta akan menjadi miliknya dan mulai sekarang mereka akan mendapatkan apapun yang mereka inginkan hanya dengan menjentikkan jarinya.
Siska terlihat begitu percaya diri karena memang selama ini dia tidak pernah gagal untuk merayu seorang pria dimanapun dia berada, entah itu menurun dari ibunya atau dia memang pada dasarnya bukanlah wanita yang baik seperti yang dilihat kebanyakan orang selama ini termasuk Johana yang sudah tertipu sejak lama.
Hingga ke esokan harinya waktu dimana Siska dan Johana akan pergi menemui tuan Bramantyo sudah tiba, mereka bukan hanya pergi berdua saja tetapi Dona juga ikut pergi bersama mereka ke kediaman tuan Bramantyo.
Mereka sudah menyiapkan strategi untuk mengelabui tuan Bramantyo dan Brain hingga sesampainya disana dan mereka menghadap tuan Bramantyo mereka sama sekali tidak mendapatkan penyambutan yang pantas, bahkan tuan Bramantyo mengabaikannya termasuk dengan Brain yang bahkan seperti enggan untuk melihat wajah mereka.
Sampai akhirnya Johana membuka pembicaraan karena tuan Bramantyo menanyakan mengenai kedua orang wanita asing yang datang bersamanya.
"Johana siapa yang kau bawa ke rumahku kali ini dan dimana putrimu Sesilia?" Tanya tuan Bramantyo mulai mengajukan pertanyaan yang sedari tadi ingin dia tanyakan kepada Johana,
"Aahh... perkenalkan tuan, ini adalah istri baru saya Dona, kami menikah tepat ketika Laura meninggal dunia Dona adalah sahabat dekatnya Laura dan Laura sendiri yang meminta saya agar menikahinya sedangkan ini adalah Siska dia putri pertama saya tuan, dia juga akan menggantikan Sesilia untuk melanjutkan pertunangan dengan putra anda, mohon maaf tuan karena Sesilia sebenarnya bukan putri kandung saya dia hanyalah anak asuh dan putri kandung saya adalah Siska" ucap Johana membuat sebuah cerita kebohongan dihadapan tuan Bramantyo dan Brain.
Saat itu juga ketika mendengarkan penjelasan dari Johana, tuan Bramantyo sedikit tidak mempercayainya namun yang dia pentingkan saat ini hanyalah pelunasan hutang keluarga Johana kepadanya sehingga dia tidak terlalu memperdulikan wanita mana yang akan bertunangan dengan putranya sebab dia juga sebenarnya hanya ingin mengelabui Johana.
"Baiklah saya tidak perduli apapun yang akan bertunangan dengan putraku, yang terpenting acara ini tidak boleh sampai dibatalkan dan hutangmu harus di lunasi dengan pertunangan ini, Brain apa kau keberatan jika bukan Sesilia yang bersamamu?" Ucap tuan Bramantyo menanyakan pendapat putranya,
"Tidak ayah, tentu saja siapapun tidak masalah untukku yang terpenting mereka sama-sama putri dari tuan Johana, aku tidak mempermasalahkannya" balas Brain dengan tersenyum ramah.
Mungkin dihadapan mereka Brain memasang wajah yang tersenyum ramah dan bersahaja bahkan mereka tidak mempermasalahkan apapun tetapi di dalam hatinya Brain sangat menolak, jangankan bertunangan dengan Siska di sandingkan dengan Sesilia yang cantik dan hampir membuatnya jatuh hati pin Brain tetap bersikap kasar dan menolaknya.
Dari sejak awal Brain melihat wajah Siska dia sudah bisa melihat bahwa Siska bukanlah orang baik dan polos seperti Sesilia yang bisa dia kelabui atau bisa dia permainkan seperti sebelumnya.
"Ckk....aku tahu dia bukan orang baik, jika boleh memilih aku akan tetap memilih Sesilia yang polos dan cantik daripada gadis buruk sepertinya" gumam Brain di dalam hatinya.
Mereka terus saja sibuk mengobrol satu sama lain dengan terlihat begitu akrab hingga mereka sudah menentukan waktu pertunangan diantara Brain dan Siska, namun sayangnya waktu pertunangan akan ditunda sebab Brain harus melakukan perjalanan bisnis terlebih dahulu selama beberapa hari dan harus menyelesaikan tugasnya di kampus sebagai dosen pembimbing dalam beberapa Minggu.
Karena pihak Johana tidak bisa melakukan apapun sehingga mereka hanya bisa menyetujui semua yang direncanakan dan disebutkan oleh tuan Bramantyo meskipun Sesilia nampak begitu kesal sebab dia sudah sangat tidak sabar untuk bertunangan dengan Brain agar dia bisa memamerkan tuanangannyanyang tampan itu kepada semua orang temannya di kampus nanti.
Bahkan setelah pulang dari kediaman Brain Siska merengek kepada Dona dan meminta agar dia bisa berkuliah di universitas yang diajar oleh Brain sebagai dosennya.
"Ibu aku tidak mau tahu pokoknya aku ingin kuliah di universitas ternama dimana Brain mengajar, dengan begitu aku bisa menjadi lebih dekat dengannya ibu, aku mohon Bu pokoknya kau harus memasukkan aku ke universitas itu!" Bentak Siska memaksa.
Johana yang melihat putrinya begitu menginginkan hal tersebut dia pun berjalan menghampirinya dan meyakinkan Siska bahwa dia akan mengijinkan putrinya tersebut melanjutkan kuliah di tempat tersebut.
"Siska tenang saja, ayah akan bicara dengan Brain dan dia akan membawamu masuk ke universitas tersebut sama dengan apa yang kau inginkan bahkan jika Brain tidak mau membawamu kesana kau akan tetap masuk ke universitas tersebut, tenanglah" ucap Johana menenangkan Siska.
Siska begitu senang ketika mendengarnya dan dia langsung memeluk Johana dengan erat, mereka sama seperti keluarga bahagia yang harmonis sedangkan mereka menendang pemilik asli dari rumah tersebut yakni Sesilia Kiehl.
__ADS_1
Di saat mereka bahagia dan bersenang senang seperti itu justru Sesilia tengah kesulitan dalam menjalani hidupnya karena harus tinggal bersama seorang pria yang tidak dia kenal sebelumnya, bahkan hari ini saja dia masih belum makan karena terlalu malu untuk keluar dari kamar, dia juga tidak melihat tuan Arnold di rumah tersebut dan tidak tahu harus melakukan apa.
Sesilia sudah pergi ke dapur dan mencari makanan sayangnya tidak ada apapun yang bisa dia dapatkan, dia juga tidak tahu bagaimana cara untuk menghubungi tuan Arnold sebab dia tidak memiliki ponsel dan tidak mengetahui nomor ponselnya.