
Suster Maria terus memarkirkan mobilnya namun karena ada mobil lain yang juga masuk ke tempat parkir bersamaan dengannya sehingga membuat suster Maria harus berebut tempat parkir itu bersama orang asing yang mencuri tempat parkirnya lebih dulu.
Sedangkan Sesilia sudah pergi ke depan restoran mewah itu dengan senyum lebar dan mata yang terus terpukau melihat restoran tersebut, dari awal melihatnya Sesilia sudah sangat menyukai restoran mewah itu karena dekorasi di sana sangat sesuai dengan seleranya.
"Aaahhh....ini bagus sekali benar benar hebat, wahhh keren aku ingin terus makan di sini. Pemandangannya juga bagus sekali" ucap Sesilia sambil terus tersenyum gembira.
Karena sangat senang dan tidak sabar untuk segera melihat bagian dalam restoran tersebut, Sesilia tidak mau menunggu suster Maria yang tak kunjung datang juga sehingga dia memutuskan untuk pergi lebih dulu masuk ke dalam sana, namun sayangnya saat baru saja hendak masuk ke restoran itu, dia tidak sengaja menabrak seorang pria cukup keras.
"Brukk.....aduhh...maaf maaf aku tidak sengaja" ucap Sesilia segera meminta maaf pada pria yang baru saja dia tabrak.
Pria itu sepertinya tengah berada pada mood yang buruk sehingga dia langsung membentak Sesilia dengan sangat keras di depan banyak orang hingga membuat Sesilia terus menunduk merasa malu dan bingung harus melakukan apa.
"Heh, apa kau tidak punya mata?, Jalan seluas ini kenapa kau menabrakku kau pasti sengaja kan ha!" Bentak pria itu sangat keras dengan mata melotot,
"A..aku...aku sungguh tidak sengaja kok, maafkan aku" tambah Sesilia kembali meminta maaf untuk yang ke dua kalinya.
Bukannya memaafkan Sesilia pria asing itu justru malah mempersulit Sesilia dan seakan dia dengan sengaja mempermainkan Sesilia di hadapan banyak orang.
"Hah, apa kau pantas meminta maaf seperti itu pada orang yang lebih tua darimu?, Dasar gadis tidak tahu sopan santun cepat minta maaf dengan benar, bersujud di hadapanku sekarang juga, baru aku akan melepaskanmu" bentak pria itu mengancam.
Sesilia sangat kaget dan bingung bagaimana mungkin dia harus meminta maaf dengan bersujud di hadapan banyak orang pada seorang pria asing yang dia tidak ketahui, Sesilia tidak terima sehingga dia membalas ucapan pria itu dengan penolakkan yang keras.
"Tidak, memangnya kau siapa?, Aku sudah meminta maaf denganmu secara baik baik untuk apa aku bersujud di kakimu, memangnya kau ini orang penting?" Bentak Sesilia tak mau kalah,
Pria asing itu semakin kesal dan dia berdecak kesal lalu hampir melayangkan tangannya untuk menampar Sesilia tapi untunglah seorang pria berhasil menahan tangan pria itu dengan cepat.
"Aishh....kau..." Ucap pria itu sambil melayangkan lengannya,
__ADS_1
"Heh...apa apaan kau lepaskan tanganku jangan coba coba untuk ikut campur dengan urusanku!" Bentak pria itu yang kesal karena tuan Arnold menahan lengannya.
Sesilia kaget sampai jantungnya terasa berhenti berdetak saat dia melihat pria yang pernah menculiknya membantu dia untuk ke dua kalinya, Sesilia menutup mulutnya yang terbuka dengan kedua lengannya karena merasa tidak menyangka dia bisa bertemu lagi dengan pria itu.
Tuan Arnold menghempaskan lengan pria yang hampir menampar Sesilia dengan keras, lalu pria itu tidak terima atas perlakuan tuan Arnold padanya sehingga dia mulai memperingati tuan Arnold dengan ancaman dan kekuasaan yang dia miliki.
"Hey, beraninya kau menghempaskan tanganku!, Apa kalian ini tidak tahu kalau aku adalah pemilik restoran ini?, Mulai sekarang kalian berdua saya usir dan tidak bisa masuk ke restoran ini lagi" Bentak pria itu dengan penuh emosi.
Tuan Arnold bersikap sangat santai dengan wajahnya yang selalu terlihat datar tanpa ekspresi, dia tidak memperdulikan ancaman dan semua bentakkan dari pria pemilik restoran mewah itu, tuan Arnold langsung menarik lengan Sesilia dan membawanya pergi dari sana secepat mungkin.
Sedangkan Sesilia yang merasa kaget dia tidak bisa berkutik sedikitpun saat tuan Arnold menarik lengannya hingga ketika mereka sudah agak jauh dari tempat kejadian sebelumnya, barulah tuan Arnold melepaskan lengan Sesilia dan dia mulai berbicara padanya.
"Bocil, kenapa kau bisa berurusan dengan pemilik restoran itu?, Apa kau mau cari mati yah?" Kata tuan Arnold membuat Sesilia mengerutkan kedua alisnya menahan kekesalan,
"Apa?, aku hanya tidak sengaja menabraknya karena tidak sabar ingin masuk ke dalam restoran luar biasa itu, tapi justru malah menabrak pemiliknya dan sekarang aku tidak bisa masuk ke restoran itu lagi, hiks....hiks...huaaa aku sangat tidak beruntung" balas Sesilia sambil merengek dan menampakkan wajah menyedihkan.
"Aishhh....kenapa kau malah merengek dan menangis dihadapanku?, Berhenti menangis jangan membuatku malu untuk yang kedua kalinya!" Ujar tuan Arnold memperingati Sesilia.
Sesilia langsung melipat kedua bibirnya untuk menahan diri agar tidak menangis dan dia hanya mengangguk membalas ucapan tuan Arnold namun dia tetap tertunduk lesu karena masih ingin masuk ke dalam restoran tersebut.
Tuan Arnold yang paham dengan keadaan Sesilia akhirnya dia pun menyuruh sekretaris Ken untuk membeli restoran tersebut saat itu juga.
"Aishh....berhenti terlihat menyedihkan seperti itu, Ken pergi ambil alih restoran ini" ucap tuan Arnold memberi perintah,
"Baik tuan" balas sekretaris Ken segera pergi melaksanakan perintah dari tuan Arnold.
Sesilia sama sekali belum mengerti dengan apa yang diperintahkan oleh tuan Arnold dia hanya berusaha tidak terlihat menyedihkan lagi di hadapan pria itu karena dia sudah mendapatkan banyak peringatan darinya.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama sekretaris Ken sudah berhasil mengambil alih restoran tersebut menjadi milik perusahaan mereka lalu dia pun membisikkan kabar tersebut pada tuan Arnold sehingga saat itu juga tuan Arnold membawa Sesilia untuk masuk ke dalam restoran tersebut.
"Bocil ayo ikut aku" ucap tuan Arnold sambil menarik lengan Sesilia untuk masuk ke restoran itu segera,
Saat berada di depan pintu masuk Sesilia menghentikan langkahnya karena dia masih ingat jika pemilik toko sudah tidak mengijinkan dia untuk masuk ke restoran mewah itu lagi.
Melihat Sesilia yang tiba tiba saja berhenti tuan Arnold menghembuskan nafas berat dan dia kembali bertanya pada Sesilia.
"Hey, apa lagi yang kau lakukan kenapa malah berdiam diri, ayo cepat masuk" ucap tuan Arnold,
"Tidak bukannya kita tidak boleh masuk ke restoran ini lagi yah, bagaimana jika nanti malah di usir, itu akan sangat memalukan" ucap Sesilia yang membuat tuan Arnold lagi lagi merasa gemas,
"Cepat masuk aku sudah membeli restoran ini dan mulai sekarang kau bebas ke sini kapanpun kau mau tanpa harus membayar apapun, mengerti?" Ucap tuan Arnold menjelaskan.
Sesilia membelalakkan matanya sangat jelas, dia kaget dan masih tidak menyangka bahwa pria itu sudah membeli restoran mewah tersebut dengan cepat padahal sebelumnya dia sudah bertengkar dengan pemilik restoran ini, Sesilia yang tidak percaya sehingga dia malah tertawa menanggapi ucapan tuan Arnold tersebut.
"Ahaha....kau bercanda yah, lucu sekali haha ada ada saja, sudahlah aku mau pergi mencari Tanteku saja" ucap Sesilia yang malah hendak berbalik pergi dari sana.
Tuan Arnold sudah sangat gemas dan geram alhasil tidak banyak bicara lagi dia langsung menggendong Sesilia dengan tiba tiba dan membawanya langsung masuk ke dalam restoran tersebut sampai membuat sekretaris Ken kaget begitu juga para pengunjung lain yang menatap ke arah mereka.
"Astaga....apa itu sungguh seorang Arnold yang aku kenal?" Gerutu sekretaris Ken sambil menggelengkan kepala merasa heran.
"Eh..hey...turunkan aku...apa yang kau lakukan cepat turunkan aku" teriak Sesilia dengan keras sampai akhirnya dia di turunkan oleh tuan Arnold tepat di dekat salah satu meja yang kosong di sana.
Saat sudah diturunkan oleh tuan Arnold Sesilia terus clingukan memperhatikan situasi ke sana kemari, dia takut sang pemilik toko akan datang menghampirinya lalu mengusir dia sama seperti sebelumnya, sedangkan tuan Arnold dan sekretaris Ken hanya bisa menghembuskan nafas berat melihat kelakuan Sesilia yang sulit diatur.
"Heh, apa yang sedang kau lakukan cepat duduk!" Ucap tuan Arnold mendominasi.
__ADS_1
Sesilia pun segera duduk berhadapan dengan tuan Arnold sedangkan sekretaris Ken berdiri di samping tuan Arnold sambil menahan senyum melihat tingkah Sesilia yang masih belum berubah.