
Sesilia paham betul bahwa ayahnya cepat atau lambat akan membuang dia dan ibunya dia merasa sangat sedih dan terpukul ketika mengingat semua itu, namun dia harus tetap fokus pada niat awalnya untuk menempelkan GPS pada ponsel sang ayah.
Sesilia mulai melancarkan aksinya dan dia memperhatikan Johana yang mulai menaruh ponselnya di atas meja, sebuah ide pun muncul di kepala Sesilia dia berpura pura menyenggol ponsel ayahnya itu hingga jatuh ke bawah namun dan dia segera mengambil ponsel itu lalu berpura pura memeriksanya sambil menempelkan GPS kecil itu tanpa sepengetahuan Johana.
"Brakk....aahhh ayah maafkan aku" ucap Sesilia berbohong,
"Biar aku periksa ponselmu ayah, aku sungguh minta maaf tadi aku tidak sengaja" tambah Sesilia sambil mengusap ponsel ayahnya dan berhasil menempelkan GPS itu di ponsel ayahnya yang tertutup dengan case hp nya.
Johana sama sekali tidak menaruh sedikitpun kecurigaan pada Sesilia dan dia langsung mengambil ponselnya yang baru saja di kembalikan oleh Sesilia padanya.
"Ini ayah, untungnya ponselmu baik baik saja, maafkan aku yah ayah" ucap Sesilia yang kembali meminta maaf sambil memasang wajah penuh rasa bersalah,
"Tidak papa sayang ini hanya ponsel, sekalipun rusak ayah bisa menggantinya dengan yang baru, kamu tidak perlu meminta maaf terus menerus seperti itu" ucap Johana sambil mengusap lembut kepala Sesilia.
Sesakit dan sebenci apapun Sesilia kepada ayahnya tetap saja ketika mendapatkan perlakuan manis seperti itu Sesilia tidak bisa berkutik dan dia memang sangat mendambakan semua itu dari ayahnya, namun seakan akan dia terus di tampar oleh kenyataan pahit bahwa ayahnya telah berubah dan semua sifat manisnya kepada dia hanyalah tipuan semata.
"Sadar Sesilia dia tidak sebaik ini, aku tidak boleh tertipu olehnya" gumam Sesilia menyadarkan dirinya lagi dan lagi.
Karena tidak ingin terus terbelenggu dengan perasaan yang hanya menyakiti dirinya sendiri, Sesilia pun memutuskan untuk pergi menjauh dari ayahnya.
"Ahh...ayah ini sudah hampir malam aku ingin mencoba semua hadiah darimu, kalau begitu aku ke atas dulu yah, terimakasih atas semua hadiah ini" ucap Sesilia beralasan sambil segera membawa hadiah itu ke kamarnya.
Saat di lantai atas Sesilia masih sempat melihat ayahnya yang tertunduk lesu di sofa sambil memegangi jidatnya, nampak sang ayah begitu murung dan tertekan namun Sesilia juga tidak bisa mengetahui sebab dari apa yang ayahnya rasakan saat itu.
__ADS_1
"Aneh bukankah seharusnya ayah bahagia karena aku hilang ingatan dan bukankah ini kesempatan emas untuknya mengambil seluruh harta kekayaan keluarga ibu, tapi kenapa ayah nampak lesu dan seperti frustasi begitu?" Gerutu Sesilia sambil memperhatikan ayahnya secara diam diam di lantai atas.
Sesilia bingung melihat ayahnya yang sulit di tebak dan dia lebih memilih untuk lebih berhati hati, karena dia takut sesuatu akan terjadi lebih cepat dan luar dari dugaannya, Sesilia pun segera masuk ke kamarnya dan dia menaruh semua hadiah dari ayahnya tadi.
Jangankan untuk mencoba semua barang yang diberikan oleh Johana, Sesilia bahkan kini enggan menggunakan barang dari ayahnya itu meskipun dia sangat menyukai salah satu gaun yang diberikan oleh ayahnya namun dia sadar bahwa ayahnya kembali membohongi dia.
"Huuh ayah bilang gaun yang dia belikan untukku adalah yang asli nyatanya aku tahu betul mana kain yang asli dan palsu, sudah jelas itu berbeda sekali dari yang asli, kenapa ayah membuatku kecewa lagi setelah membuatku sangat senang sampai terbang ke awan, kini justru aku terasa di jatuhkan sampai ke dasar lautan" gerutu Sesilia dengan wajah yang tertunduk lesu dan kehilangan semua mood di dalam dirinya.
Tak lama saat dia tengah mengeluh dan merasa sedih, ponselnya berbunyi dan itu panggilan dari suster Maria, melihat itu Sesilia langsung mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo suster ada apa menelponku?" Tanya Sesilia,
"Sesilia apa kamu masih ingin memanggilku seperti itu, bisakah panggil aku ibu lagi atau setidaknya panggil aku Tante juga boleh" ucap suster Maria,
Untunglah Suster Maria memahaminya dan dia tidak keberatan lagi dengan apapun panggilan yang di pakai oleh Sesilia kepadanya.
"Ya sudah tidak masalah asalkan kamu nyaman aku tidak papa" balas suster Maria yang sangat pengertian,
"Hehe, terimakasih banyak suster kamu memang yang terbaik, ehh...tapi ada apa dulu kau menelponku, kau belum menjawabnya sedari tadi" tambah Sesilia kembali bertanya,
"Begini Sesilia aku mau mengajakmu makan malam di luar, hari ini aku sangat kesal pada suamiku makanya aku ingin menenangkan hati dan pikiranku untuk makan di restoran mewah memuaskan perutku, tapi aku pikir tidak akan seru jika pergi sendirian makanya aku mau mengajakmu, bagaimana apa kau mau?" Kata suster Maria menjelaskan niat awalnya.
Sesilia lama terdiam karena dia bingung bagaimana harus menjawab ajakan dari suster Maria tersebut, dia sangat ingin makan enak karena rasanya sudah cukup lama dia tidak merasakan makanan restoran mewah, tapi dia tidak tahu bagaimana caranya meminta izin kepada Johana sehingga Sesilia merasa ragu.
__ADS_1
Suster Maria yang tidak mendengar jawaban juga dari Sesilia dia seakan memahami kebingungan Sesilia dan mendahuluinya.
"Sesilia sayang, kenapa kamu tidak menjawabku, apa kamu khawatir dengan ayahmu?, Tenang saja aku akan meminta izin kepadanya secara langsung dan sudah pasti dia akan mengijinkannya kita bisa beralasan bahwa ini termasuk terapi untuk memulihkan ingatanmu, bagaimana apa kau bisa menyetujui ajakanku sekarang?" Ungkap suster Maria yang membuat Sesilia sangat senang,
"Ehhh...apa itu benar?, Bagaimana kau tahu apa yang menjadi ke khawatiran ku selama ini, wahh jangan jangan kau peramal yah hehe" ucap Sesilia yang tiba tiba langsung berubah ceria,
"Eishhh....kamu ini bicara sembarangan saja, sudah cepat bersiap siap aku akan segera menjemputmu ke sana, jangan lupa berdandan lah yang cantik agar kau terlihat mirip seperti putriku" goda suster Maria berniat menghibur Sesilia,
"Ahaha....Tante bisa saja, tenang aku ini jago dalam berdandan lagi pula tanpa make up sekalipun aku rasa kita memiliki kemiripan deh" balas Sesilia yang mengundang tawa bahagia dari suster Maria.
"Sudah sudah ah, kamu ini bikin aku senang saja, sampai ketemu nanti yah sayangku Sesilia" ucap suster Maria lalu mematikan panggilan telponnya.
Sesilia pun segera bersiap siap dengan hati yang riang gembira dia segera mengganti pakaiannya lalu pergi menemui sang ibu untuk meminta izin kepadanya karena Sesilia tidak mau membuat ibunya khawatir.
Sesilia masuk ke dalam kamar sang ibu dan dia segera menghampiri ibunya yang saat itu tengah tertidur lelap.
Karena tidak mau mengganggu tidur sang ibu, akhirnya Sesilia hanya meminta izin lewat sebuah surat yang dia tulis lalu dia taruh tepat di samping bantal ibunya.
"Ibu aku izin pergi keluar dulu bersama suster Maria, aku akan membuat kita bahagia di masa depan jangan khawatirkan aku dan tetap lah bertahan demi aku. Aku mencintaimu" isi surat yang di tulis oleh Sesilia.
Setelah menaruh surat itu Sesilia mencium jidat sang ibu dengan penuh kasih sayang kamu dia menarik selimut untuk menutupi tubuh sang ibu agar dia tidak kedinginan, lalu Sesilia segera keluar dari kamar ibunya dan menunggu kedatangan suster Maria di sofa ruang tengah.
Sesilia juga sempat mencari cari keberadaan ayahnya karena terakhir dia melihat Johana ketika dia naik ke kamarnya untuk menaruh semua hadiah yang dia dapatkan namun saat kembali ke ruang tengah sudah tidak ada siapapun di sana bahkan para pelayan di rumah sudah pulang karena memang pelayan yang ayahnya sewa hanya bekerja dari pagi hingga sore, sehingga mereka akan kembali ke rumah mereka masing masing saat sore menjelang malam.
__ADS_1