
Tuan Arnold menatap dengan mata yang dia sipitkan dan kedua alisnya yang dia naikkan sebelah mereka mulai berjalan melewatiku dan aku segera menahannya karena aku takut mereka mengetahui keadaan ruangan tengah yang berantakkan dan tv yang masih menyala.
"Eeeehh..tunggu, tuan Arnold kau pasti lelah setelah bekerja seharian, sini biar aku bantu bawakan tas kerjamu, aku juga mau tidur ini sudah hampir malam kan hehe" ucapku sambil menarik tas kerja tuan Arnold.
Sayangnya dia memang orang yang tidak mudah dibujuk sehingga dia menarik kembali tas kerjanya dan malah menyudutkan aku ke dinding membuat aku sangat kaget dan tersentak.
"Brakkk....apa yang sedang kau lakukan gadis nakal?" Ucap tuan Arnold mendesakku,
Melihat dia melakukan hal itu kepada aku semakin gugup dan takut sehingga aku langsung berusaha melepaskan diri dari cengkeramannya dan berjongkok ke bawah melewati tangannya.
"Eheh...tidak ada apa-apa aku hanya mengangguk huaaa....sudah ya kalau kau tidak mau aku bantu aku mau kembali ke kamarku saja, byeee" ucapku dan segera berlari secepat kilat.
Aku masuk ke dalam kamar dan segera aku kunci kamar itu dengan kuat lalu aku menempelkan kupingku ke pintu berusaha mendengarkan apa yang akan terjadi ketika dia melihat semua kekacauan yang terjadi di rumahnya olehku.
Tuan Arnold masih belum sadar dengan semuanya sehingga dia terus berjalan masuk ke dalam rumahnya dan saat berdiri di depan ruang tengah dia melihat sofa yang berantakan, tv menyala dan aquarium kesayangannya sudah berantakkan tidak tertolong lagi, bahkan lantai di sana juga habis basah dan kotor karena air dari aquarium.
"Aishhh ....apa yang terjadi disini, BOCAH NAKAL!" teriak tuan Arnold sangat keras.
Dia membentak dan berteriak sangat kencang dengan emosi yang membeludak di dalam dirinya bahkan jika bisa digambarkan api seperti keluar dari telinga tuan Arnold dan dia memegang kuat tas kerjanya hingga urat-urat terlihat sangat jelas di tangannya tersebut.
Sekretaris Ken segera berusaha menenangkannya dan dia dengan perlahan mengambil tas kerja yang digenggam dengan erat oleh tuan Arnold secara perlahan.
"Ekhmm...tuan sabar tuan sabar dia sudah berusaha bersikap baik kepadamu sebelumnya sabar, mari aku bantu kau membawakan tas mu yah, sebelum tas ini terbakar oleh emosi di dalam dirimu" ucap sekretaris Ken sambil tersenyum ketakutan.
Sebenarnya sekretaris Ken juga sangat takut dan dia rasanya ingin kabur dari hadapan tuan Arnold saat itu juga namun jika dia kabur disaat seperti ini yang ada tuan Arnold akan semakin membeludak dan bisa saja mengancam dia dengan pekerjaannya sehingga mau tidak mau sekretaris Ken harus memberanikan diri untuk menenangkannya.
Sekretaris Ken mengajak tuan Arnold untuk pergi keeja makan dan memberinya minuman dingin terlebih dahulu.
"Tuan...sudah tuan nanti kita bisa memberinya pelajaran sekarang sebaiknya kau ke dapur dahulu untuk minum dan menenangkan dirimu" ajak sekretaris Ken dan untungnya tuan Arnold menuruti ucapannya.
Tuan Arnold pergi ke ruang makan dan dia melihateja yang juga berantakan ada tulang ikan dimana mana dan dapur yang seperti kapal pecah dia semakin stres dan kesal saat melihat kekacauan di dapur yang sangat luar biasa.
"Arkhhh.....SESILIA BOCAH TENGIKK!" Teriak tuan Arnold sambil mengeratkan giginya dan dia langsung berjalan dengan penuh emosi menuju kamar Sesilia.
Sedangkan disisi lain aku sudah sangat panik dan ketakutan karena mendengar dia kali teriakan dari tuan Arnold yang begitu menggelegar aku tidak tahu harus berbuat seperti apa selain bersembunyi di balik selimut diatas ranjang besar tersebut, aku sungguh berharap aku bisa menghilang dari tempat itu saat ini.
"Huaa....dia sangat marah besar dia pasti akan menghukumku atau bahkan membunuhku huaaa aku harus bagaimana sekarang Tuhan tolong bantu aku" ucapku memohon sambil terus bersembunyi di balik selimut.
Aku membukakan kepalaku keluar sedikit lalu tiba-tiba saja pintu itu bergetar di ketuk dengan keras oleh tuan Arnold.
"Tok...tok....tok....Hey bocah tengik keluar kau!" Bentak tuan Arnold dengan kesal dan berkacak pinggang,
Aku gemetar ketakutan saat mendengar suaranya, jangankan untuk membuka pintu kakiku terasa begitu lemas setelah mendengar teriakkan darinya yang begitu menakutkan.
"Hey...bocah kau akan buka pintunya atau aku yang akan mendobraknya!" Ancam tuan Arnold membuatku semakin panik dan ketakutan.
"Tuan tolong jangan marah aku bisa menjelaskannya, tolong jangan memukulku" balasku berteriak kepadanya,
Tuan Arnold sangat emosi dan dia tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri sehingga dia berniat untuk langsung menendang pintu kamar tersebut namun untungnya sekretaris Ken segera menenangkan dia dan menahannya dengan kuat.
__ADS_1
"Eughh dasar bocah sialan..." Ucap tuan Arnold hendak mengambil ancang-ancang untuk menendang pintu tersebut,
"Ehh...tunggu, tunggu Arnold kau gila yah kau membuatnya takut jika kau bersikap sekasar itu kepada seorang anak yang masih kecil, ingat dia baru 18 tahun sedangkan kau sudah 28 tahun jelas sekali dia anak kecil untukmu, kau mau melawannya dengan cara sekasar ini?" Bentak sekretaris Ken menyadarkan tuan Arnold.
Tuan Arnold pun berusaha tenang dan dia membuang nafasnya kasar sambil membenarkan jas yang dia kenakan.
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi bocah nakal ini Ken? Dia sangat menjengkelkan!" Tanya tuan Arnold kepada sekretaris Ken yang juga sahabatnya,
Sekretaris Ken tersenyum kecil karena dia memiliki sebuah ide yang cukup bagus untuk menghadapi anak gadis seperti Sesilia.
Sekretaris Ken melambaikan tangannya dan dia memberikan isyarat kepada tuan Arnold agar mendekati dirinya dan sekretaris Ken pun membisikan sesuatu kepada tuan Arnold.
"Syuutt ..kemarilah. Kau harus bersikap lembut dan baik kepadanya katakan bahwa kau tidak akan menyakitinya cepat dengan begitu dia akan keluar tanpa harus kau menggunakan energimu apalagi merusak pintunya" bisi sekretaris Ken memberikan idenya,
"APA?, Aku harus bersikap lembut dan baik kepada gadis kecil yang nakal dan menjengkelkan seperti dia, apa kau gila yah?" Bentak tuan Arnold yang tidak terima,
"Arnold ayolah kau sahabatku atau bukan, kau harus melakukan itu untuk menghadapi gadis kecil sepertinya, cepat lakukan saja ucapanku" ucap sekretaris Ken sambil merangkul tuan Arnold,
"Ckk...singkirkan tanganmu dariku, sialan kau Ken" gerutu tuan Arnold sambil menghempaskan lengan sekretaris Ken dengan kasar.
"Aduduh....kau sialan Arnold, sudah kuberi cara malah seperti ini padaku untung tanganku kuat" gerutu sekretaris Ken memegangi lengannya.
Tua Arnold mulai berusaha menenangkan dirinya dia menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan beberapa kali sampai ketika dia merasa sudah jauh lebih tenang dia pun mulai kembali mengetuk pintu kamar Sesilia lebih lembut dari sebelumnya.
"Tok...tok ..tok...Hey bocah keluarlah aku tidak akan memarahiku, cepat keluar dan jelaskan!" Ucap tuan Arnold yang masih terdengar dingin.
Sekretaris Ken membelalakkan matanya dia dia menggerutu kesal karena tuan Arnold masih tidak mengerti dengan apa yang dia katakan sebelumnya.
"Heh, aku harus bagaimana lagi karakterku sudah begini kau mau mencoba mengubahnya tidak akan bisa, sudah kau diam saja dia juga akan keluar sebentar lagi" ucap tuan Arnold yang sangat percaya diri dengan dirinya.
"Bocah cepat keluar aku sudah berusaha bersikap baik kepadamu, kenapa kau tidak keluar juga?" Tanya tuan Arnold sudah mulai geram karena Sesilia tetap tidak membuka pintunya bahkan tidak menjawabnya juga,
"Tuan kau janji tidak akan membentakku atau memukulku?" Balasku dari dalam.
Aku masih takut karena aku tahu dia tidak mungkin tiba-tiba menjadi bersikap baik dan memaafkan semua yang aku lakukan dengan begitu cepatnya sehingga aku harus membuat dia berjanji dahulu terhadapku baru aku bisa mempercayai dirinya.
Saat itu sebenarnya tuan Arnold sudah hampir kehabisan kesabarannya yang setipis tisyu namun karena mendengar Sesilia akhirnya menjawab ucapan darinya dia pun membalasnya dengan menahan kembali emosinya dengan sekuat tenaga.
"Huuuh...iya aku berjanji padamu tidak akan membentakku atau memukulmu ayo cepat keluar, sebelum kesabaranku benar-benar habis" ucap tuan Arnold yang akhirnya membuahkan hasil.
Aku membuka pintu itu perlahan dan menundukkan kepala karena takut, sampai tiba-tiba saja tuan Arnold langsung menarik lenganku keluar dan dia menutup pintu kamarnya dengan keras sehingga aku tidak bisa kabur dan kembali lagi ke dalam.
"Ehhh...tuan lepaskan aku, kau bilang kau tidak akan marah padaku?" Ucapku dengan wajah yang masih ketakutan,
"Aku harus memegangi tanganku dengan kuat agar kau tidak kabur lagi dari tanggung jawabku, sekarang jelaskan kepadaku apa yang sudah kau lakukan dan kemana ikan-ikan kesayanganku!" Ucap tuan Arnold menanyakan mengenai ikan hiasnya.
Aku baru ingat aku sudah memakan empat ekor ikan hiasnya itu dan aku membuka mataku lebar karena takut untuk mengakui semuanya kepada dia secara langsung, aku merasa sangat gugup dan takut tapi dia memegangi kedua pundakku dengan erat dan dia membuatku semakin gugup tidak berdaya.
"Hey cepat jawab aku kenapa kau malah diam saja?" Tanya tuan Arnold lagi dengan keras,
__ADS_1
"A..anu itu tuan....aku minta maaf karena aku sudah memakan empat ekor ikan hiasmu, mereka sekarang mungkin sudah berenang di dalam perutku" ucapku dengan pelan dan menunjuk ke arah perutku sendiri,
Tuan Arnold membelalakkan matanya dan dia mengusap kasar kepalanya sendiri sambil berdecak kesal Manahan emosinya agar dia tidak membentak Sesilia karena telah berjanji kepada dia sebelumnya.
"Aduhhh....kau....aarghhh...Duk..Duk..." Ucap tuan Arnold menahan emosi dan melampiaskan emosinya itu dengan menendang sofa ruang tengah beberapa kali.
Aku sungguh takut karena dia tapi sekretaris Ken justru malah terilah tersenyum menahan tawa di samping tuan Arnold.
Aku sungguh merasa takut dan merasa bersalah aku tidak enak karena melihat tuan Arnold melampiaskan emosinya dengan barang-barang disekitarnya dan aku tau kakinya pasti akan sakit jika dia terus menendang sofa dengan keras seperti itu aku pun memeluknya untuk meminta maaf dan menenangkan dia.
"Tuan aku minta maaf aku tahu aku salah tolong jangan marah dan jangan melampiaskan emosimu dengan melukai dirimu sendiri, aku tidak papa jika sekarang kau mau memarahiku dan melanggar janjimu" ucapku menatapnya sambil memeluk dia dengan erat.
Saat aku memeluknya seketika tuan Arnold berhenti menendang dan dia menatapku dengan membuka matanya lebar dia tidak terlihat marah lagi sehingga aku melepaskan senyumku padanya, aku tahu dia orang baik makanya aku berani memeluk dia untuk menenangkannya.
Itu juga cara yang sering aku lakukan ketika ibu marah kepadaku semua orang yang marah akan menjadi luluh ketika kita memeluknya itulah yang ibu beritahu kepadaku dahulu.
"Tuan...kau tidak marah lagi kan, aku minta maaf aku kelaparan karena tidak ada makanan yang bisa aku makan makanya aku menangkap ikan hias itu dan memasaknya sendiri walaupun aku tidak bisa memasak" ucapku mengatakannya dengan jujur.
Sekretaris Ken menatap dengan kaget dan dia menutup mulutnya yang terperangah melihat Sesilia berani memeluk tuan Arnold begitu saja sedangkan sebelumnya tidak ada seorang wanita pun yang berani melakukan itu kepada tuan Arnold sebab setiap kali ada wanita yang mendekatinya tuan Arnold akan langsung menendang wanita itu bagaimana pun caranya dan tentu saja dengan cara-cara yang kasar tidak pernah melihat siapa wanita itu.
Tapi saat ini disaat Sesilia memeluknya dalam keadaan dirinya yang dipenuhi emosi dia justru hanya diam saja dan menatap ke arah Sesilia dengan kedua tangannya yang sama sekali tidak bergerak.
"Waahhh....ini adalah sebuah anugrah dan keajaiban, aku harus memberitahu nyonya tentang ini" ucap sekretaris Ken sambil menatap takjub,
Tuan Arnold yang sadar ada Ken di sana dia pun segera mendorong Sesilia agar melepaskan pelukan darinya dengan perlahan, ini adalah pertama kalinya tuan Arnold meminta seorang wanita agar melepaskannya dengan lembut.
"Gadis nakal dengarkan aku baik baik, ikan yang kau makan itu adalah ikan seharga dua puluh juta saat aku pertama kali membelinya dan itu ketika ikannya masih kecil, mungkin harganya sekarang sudah menjadi jauh lebih tinggi, sedangkan kau memakannya begitu saja terlebih kau memakan ke empat ikan dollarku itu, kau kenapa aku marah kan?" Ucap tuan Arnold dengan menahan emosinya sambil melepaskan Sesilia dari pelukannya.
Aku sungguh merasa bersalah dan kaget setelah mendengar harga ikan itu dari tuan Arnold, pantas saja dia marah besar harga ikan tersebut benar-benar fantastis aku juga tidak mungkin bisa membayarnya.
"Maafkan aku tuan aku tidak tahu, aku janji aku akan membayarnya kepadamu kau bisa melakukan apapun padaku sekarang aku tahu aku salah hiks...hiks..hiks..." Ucapku merasa sangat bersalah dan aku tidak bisa menahan air mataku,
Tuan Arnold menghembuskan nafasnya dan dia langsung memeluk Sesilia untuk menghentikan tangisannya, kini dia tidak bisa marah lagi dan semua emosi yang tadi membeludak di dalam dirinya sudah benar-benar padam ketika melihat Sesilia sudah mengakui kesalahannya apalagi saat melihat Sesilia menangis.
"Sudah...sudah aku sudah memaafkanmu tapi kau harus bertanggung jawab atas kekacauan yang sudah kau perbuat, ingat kau tidak boleh melakukan hal seperti ini tanpa izinku, dimanapun kau berada kau harus meminta izin dahulu kepada pemiliknya sebelum kau mengambil milik orang lain, kau mengerti?" Ucap tuan Arnold memberikan nasehat.
Aku mengangguk mengerti dan aku segera berhenti menangis karena aku senang dia sudah memaafkanku dan tidak marah lagi denganku.
"Terimakasih tuan aku akan membersihkan semua kekacauan ini, kau tenang saja kau bisa pergi ke ruang kerjamu bersama sekretaris Ken biarkan aku yang membereskan rumahnya" ucapku sambil tersenyum kepadanya,
"Bagus...jadilah menurut oke, aku akan keatas" ucap tuan Arnold sambil mengusap atas kepalaku dengan sedikit kasar.
Tuan Arnold pun segera mengajak sekretaris Ken untuk naik ke lantai atas dan melanjutkan pekerjaan mereka yang sempat tertunda karena Sesilia sebelumnya.
"Ken ayo kita ke atas" ucap tuan Arnold dan segera diikuti oleh sekretaris Ken dengan berjalan linglung.
Sekretaris Ken masih belum bisa mempercayai semua yang baru saja dia lihat Anatar Sesilia juga sahabatnya Arnold, dia terus menatap pada Sesilia yang sudah mulai membereskan ruangan di lantai bawah, dengan jari jari kecilnya, sedangkan dia terus berjalan hingga masuk ke dalam ruang kerja milik Arnold.
Hingga ketika mereka sudah berada berdua di dalam ruangan itu wajah tuan Arnold langsung berubah kesal dan dia uring uringan sendiri merasa kesal di hadapan sekretaris Ken yang membuat sekretaris Ken kaget serta merasa bingung sendiri.
__ADS_1
"Aaarkhhh...sial kenapa aku tidak bisa marah dihadapannya dasar gadis nakal itu awas saja jika dia tidak membereskan semuanya aarkhh" gerutu tuan Arnold marah-marah tidak jelas.