Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Keberanian Sesilia


__ADS_3

Aku hanya bisa menatap dengan cemberut dan merasa sedikit kesal karena semua makanan itu tidak sesuai dengan ekspektasi yang aku miliki, mood sarapanku juga langsung hilang seketika, terlebih tempat dudukku yang sangat jauh untuk bisa menggapai makanan itu.


"Aaahhh....ini membosankan, aku pikir ayah goreng aku sangat ingin makan ayam" ucapku menggerutu kesal.


Mereka berdua tetap menikmati sandwich mereka masing-masing tanpa menghiraukan ucapanku dan aku diabaikan lagi dan lagi.


Aku pun bangkit berdiri dan berjalan mendekati tuan Arnold untuk membujuknya karena mau tidak mau perutku tetap lapar dan aku membutuhkan asupan makanan dengan segera, meski aku merasa sedikit canggung dan tidak enak hati ketika berdiri di sampingnya namun aku menarik nafas dalam lalu duduk di sampingnya dan menatap dia dengan lekat sambil memasang wajah paling imut yang bisa aku lakukan.


"Eumm...tuan, aku lapar bisakah kau memberikan aku sedikit makananmu, aku sangat lemah dan akan sakit jika tidak sarapan" ucapku sambil mengedipkan mata kepadanya.


Dia hanya menatap aku sekilas dengan ujung matanya dan dia kembali mengabaikan aku. Aku sudah sangat jengkel dengannya karena dia sulit sekali untuk di goda, aku tidak memiliki ide lain lagi dan hanya ini yang bisa aku lakukan agar dia mau memberikan makanannya kepadaku.


"Ohh....begitu yah, kalian berdua mengabaikan aku, oke jangan salah aku jika di luar batas" ucapku dengan kesal dan segera pergi dari sana.


Aku segera masuk ke dalam kamarku dan mencari pakaian paling seksi disana lalu aku menemukan sebuah celana pendek dan baju berwarna pink yang memiliki tangan pendek juga, pakaian ini biasanya aku gunakan untuk tidur atau berolahraga, namun saat ini aku akan memakainya di depan sekretaris Ken dan tuan Arnold.


"Hah.... pakaian ini sangat cocok untuk menggoda mereka berdua, dan aku juga menyukai baju ini" ucapku sambil menenteng pakaian itu.


Segera aku berganti pakaian dan keluar dari kamar lalu mengibaskan rambutku ke belakang dan menghampiri kedua pria sialan itu yang masih menikmati sarapannya di depan meja makan. Sekretaris Ken adalah orang pernah yang melihat penampilanku dan aku tersenyum lebar sambil melambaikan tangan padanya hingga dia tersedak makanan itu.


"Hai sekretaris Ken" ucapku sambil tersenyum manis padanya,


"Ohok...ohok...ohok....gadis kecil kau" ucap sekretaris Ken tertahan.


Tuan Arnold langsung menatap ke arahku dan matanya terbelalak sangat lebar, aku tidak perduli dengan tatapan kedua pria itu dan terus berjalan menghampiri mereka lalu duduk tepat di samping tuan Arnold, dia menghentikan makannya dan menatap ke arahku dari atas hingga bawah.


Lalu aku mulai tersenyum dan meminta makanan itu darinya hingga dia langsung memberikannya begitu saja.


"Tuan....apa sekarang kau masih tidak ingin memberikan makanan itu untukku, hmm aku sangat lapar" ucapku bersikap manis,


"Makan...makan saja semuanya" balas dia sedikit kasar.


Aku sangat senang dan langsung mengambil sandwich di atas meja dan memakannya dengan lahap, tapi tuan Arnold langsung berdiri dan dia melepaskan jas yang dia pakai lalu mengikatkan jas itu pada pinggangku sambil terus mengomel tidak jelas.


"Dasar kau gadis nakal, beraninya memakai celana sependek itu di depan orang lain, apa kau mau menggoda sekretaris Ken hah?" Bentaknya mengomeliku,


"Tidak..... Aku mau menggodamu, makanya aku duduk di sampingmu, aku juga bisa duduk di pangkuanmu, apa kau mau coba?" Ucapku dengan santai sambil mengunyah makanan di mulutku.


Tuan Arnold semakin marah dan dia mulai tidak bisa menahan emosinya alhasil dia langsung menggendong tubuhku lalu menaruh aku di pangkuannya dia benar-benar memperlakukan aku seperti anak kecil dan aku sempat sedikit kaget karena ternyata dia sungguh tidak keberatan atau pun merasa malu ketika mendudukkan aku di pangkuannya tepat di hadapan sekretaris Ken.


"Ooo Oh...begitu ya, baik kemari kau! bagaimana apa kau masih mau berulah sekarang?" Tanya tuan Arnold yang dengan sengaja mengikuti permainan yang dibuat olehku.


Jujur saja aku tidak merasakan apapun meski aku duduk di pangkuannya karena aku hanya menganggap dia sebagai kakak dan saudara bagiku sehingga aku santai-santai saja duduk padanya.


"Siapa yang mau berulah? aku hanya mau makan dan aku sungguh tidak keberatan meski kau melakukan ini padaku, bagiku sama saja duduk di kursi atau di pangkuanmu yang terpenting aku merasa kenyang, iya kan sekretaris Ken?" Ucapku sambil terus menikmati makanannya dan menatap pada sekretaris Ken.


Aku tahu saat itu sekretaris Ken tidak ingin ikut campur dan dia memalingkan pandangan ke arah lain, aku hanya berbicara asal padanya, dan sekretaris Ken menatapku dengan wajah yang gugup sedangkan tuan Arnold dia tidak terdengar bicara lagi hingga aku selesai makan aku berniat turun darinya namun tuan Arnold menahanku dan dia memelukku begitu erat.

__ADS_1


"Ehh...ada apa denganmu, aduhh.... Tuan kau ini berat sekali" ucapku mengeluh,


Tuan Arnold merasa sedikit kesal karena tadinya dia berniat membuat Sesilia gugup atau merasakan sesuatu darinya ketika dia memeluknya seperti itu namun hasilnya tetap saja nihil sehingga tuan Arnold pun hanya bisa menghembuskan nafas kasar dan membebaskan Sesilia dengan segera.


"Aishh....dasar bocah tengik apa dia tidak memiliki perasaan sama sekali padaku?" Gerutu tuan Arnold sambil memegangi jidatnya.


Aku kembali masuk ke kamar, mengganti lagi pakaianku dan bersiap pergi ke kampus, aku berlari mengejar tuan Arnold dan sekretaris Ken yang saat itu sudah berada di luar mendahului aku.


"AA...ahh...tuan tunggu aku!" Teriakku sambil segera masuk ke dalam mobilnya dan sekretaris Ken langsung melesat membawa kami ke jalan raya.


Saat di dalam mobil aku memberikan jas milik tuan Arnold yang sebelumnya dia ikatkan di pinggangku.


"Tuan ini jasmu, terimakasih sudah meminjamkannya padaku" ucapku mengembalikannya,


Dia mengambil jas itu dan menaruhnya ke belakang begitu saja, dia memang sudah mengganti jas setelannya, lagi pula aku bodoh karena mengira dia akan memakai kembali jas yang sudah tidak rapih itu, tapi wajah tuan Arnold terlihat lebih dingin dan datar dari sebelumnya.


Dia menggelengkan kepala melihat penampilanku, hingga aku juga melihat diriku sendiri lagi.


"Ada apa dengan penampilanku, apa kau tidak suka?" Tanyaku dengan heran,


"Kau....bisakah sekali saja kau memakai pakaian yang tertutup?" Ucap dia sedikit meninggikan suaranya dan langsung memalingkan pandangan dariku,


"Semua pakaian yang kau belikan begini, apa yang harus aku pakai?" Gerutuku pelan,


"Haish....iya iya aku yang salah, aaarghhh...merepotkan sekali mengurus gadis nakal sepertinya" balas tuan Arnold memijat keningnya.


Aku hanya cemberut dan memeriksa beberapa kali lagi dengan pakaian yang aku kenakan, dan aku rasa pakaianku ini sudah cukup tertutup tidak ada yang salah dengan semua pakaian yang aku kenakan selama ini, lagi pula aku hanya memakai celana lepis pendek dengan atas hitam dan memiliki lengan yang panjang.


Hingga ketika di kampus aku sudah belajar dengan begitu senang dan semuanya bisa aku pelajari dengan mudah, sudah lama sekali tidak menginjakkan kaki di perpustakaan sehingga aku memutuskan pergi ke sana sebelum pulang, namun yang aku dapatkan malah sebuah pasangan jahat yang menghampiri aku dan dia terus mendesak aku untuk datang dalam acara pertunangan mereka besok malam.


"Eh.... Sesilia kau ternyata kuliah disini juga? Tapi apa kau sanggup membayar biayanya atau jangan-jangan kau mengencani sugar daddy yah, hahaha...kasihan sekali anak yang malang" ucap Siska yang sudah kelewat batas,


"Diam kau! Tidak ada urusannya denganmu apa aku memiliki sugar daddy atau tidak dan darimana aku mendapatkan biaya untuk kuliah disini, yang pasti aku bukan wanita murahan sepertimu yang merebut tunangan orang lain!" Bentakku sambil menatapnya tajam.


Aku hendak pergi.dan menghindari mereka saat itu juga namun Brain sialan itu menahan tanganku.


"Tunggu, mau kemana kau? Apa kau mengakui aku sebagai tunanganmu? Heh aku tunangan Siska, jadi jangan sok-sokan mengaku aku tunanganmu, apa kau mengerti!" Ucap dia memperingati aku tanpa sebab yang jelas.


"CK.... Kalian sama-sama murahan!" Ucapku segera menghempaskan tanganku yang dia pegang,


"Sesilia ingat kau harus datang di acara pertunangan kita, aku sudah menyiapkan sesuatu yang bagus untukmu" ucapnya sambil menyentuh sebelah bahuku dan dia pergi begitu saja.


Mereka memang terlihat serasi yang satu gila harta dan yang satu buta karena cinta, memang sangat menjengkelkan jika meladeni orang-orang tidak punya malu seperti mereka, aku sangat kesal dan terus saja menghentakkan kakiku beberapa kali ke lantai, niat awalku untuk pergi ke perpustakaan menjadi gagal dan aku segera pergi dari universitas tersebut dengan cepat.


Aku pergi keluar dari universitas dengan perasaan murung dan kesal dan aku tidak tahu harus pergi kemana sekarang, aku lupa tidak meminta uang kepada tuan Arnold dan aku juga tidak mungkin pergi ke rumah atau ke perusahaan dengan berjalan kaki.


"Huaa....aku harus bagaimana sekarang, aku tidak bisa pergi kemanapun hiks....hiks...hiks..." Ucapku sangat kesal.

__ADS_1


Alhasil aku hanya bisa duduk di depan gerbang kampus seorang diri menunggu sekretaris Ken dan berharap dia akan menjemputku kemari, aku tidak memiliki ponsel dan tidak tahu nomor mereka berdua, semuanya sangat buntu dan hanya duduk menunggu dengan sabar yang bisa aku lakukan saat ini, terlihat sedikit menyedihkan namun tidak ada lagi yang bisa aku lakukan.


Hari sudah hampir malam dan tuan Arnold yang baru saja pulang ke rumah dan tidak mendapati Sesilia di rumahnya dia pun mulai merasa khawatir.


"Gadis nakal....hey.....dimana kau....gadis nakal?" Teriak tuan Arnol mencari keberadaan Sesilia di rumahnya.


Dia sudah mencair ke dapur, ke lantai atas bahkan mencari Sesilia ke kamarnya namun tetap tidak menemukan gadis kecil itu, bahkan sekretaris Ken ikut membantu tuan Arnold mencarinya sehingga dia mulai panik ketika tidak kunjung menemukan Sesilia dan dia segera menyuruh sekretaris Ken untuk pergi ke kampusnya.


"Ken...ayo kita cari dia ke kampusnya" ucap tuan Arnold dengan wajah yang panik.


Saat sampai di depan kampus sekretaris Ken melihat Sesilia tertidur di bahu jalanan dengan wajah yang cantik tersorot cahaya bulan malam ini. Tuan Arnold langsung turun dari mobil dan dia bisa melihat dengan jelas bekas air mata di pipiku, dia juga tidak membangunkan aku dan langsung menggendongku masuk ke dalam mobil.


"Dasar gadis bodoh! Kau tetap terlihat cantik saat tertidur dengan air mata seperti ini" ucap tuan Arnold sambil menyentuh hidungku pelan.


Saat sudah berada di dalam mobil aku baru menyadari sesuatu dan rasanya aku tidur di tempat yang sedikit empuk, perlahan aku membuka mata dan hal yang pertama kali aku lihat adalah wajah tuan Arnold yang menatapku dengan dingin, saat itu aku segera berusaha bangkit dan duduk dengan benar di dalam mobil.


Aku juga sedikit gugup sambil mengumpulkan kesadaran di dalam diriku sendiri.


"Tu...tuan maaf aku..." Ucapku tertahan karena dia langsung memotongnya dengan cepat,


"Diam! Lain kali aku tidak ingin melihatmu tidur di tempat sembarangan seperti itu" ucapnya dengan tegas.


Aku merasa ingin menangis karena dia terus melindungi aku dan mengkhawatirkan aku, bahkan dia langsung datang mencariku di saat dia tahu aku tidak ada di rumahnya, padahal aku orang asing untuknya tapi dia terlampau baik padaku dan kali ini aku tidak bisa menahan rasa terharuku atas semua kebaikan dia padaku selama ini.


Aku langsung memeluk dia dan menangis dalam pelukannya.


"Tuan, aku ingin memelukmu" ucapku sambil langsung memeluknya dengan cepat.


Tuan Arnold langsung kaget dan dia tidak bisa berkata kata disaat Sesilia memeluknya dengan erat, dia hanya tersenyum kecil sekilas lalu membalas pelukan itu dan mengusap lembut kepala Sesilia, dia tahu Sesilia menangis dalam pelukannya dan dia segera berusaha untuk menenangkan gadis kecil itu.


"Hey....sudah....kenapa kau menangis seperti ini, siapa yang menyakitimu?" Ucap tuan Arnold sambil mengusap rambutku beberapa kali.


Aku segera melepaskan pelukanku karena aku rasa sekarang sudah jauh lebih baik dan aku menghapus sisa-sisa air mata di pipiku, aku berusaha menatapnya dan kembali memberikan senyum cerah seperti biasanya kepada dia.


"Tidak papa tuan, aku baik-baik saja" balasku sambil tersenyum,


"Bodoh! Jangan pernah tersenyum seperti itu disaat kau ingin menangis, teruslah menangis jika kau merasa sedih dan tertawalah disaat kau merasa bahagia, jangan memaksakan dirimu sendiri itu menyedihkan, apa kau mengerti!" Ucapnya sambil menjentikkan jarinya di dahiku.


"Aaaww..i...iya tuan, tapi kau tidak harus menjentik jidatku, ini sakit tahu, lihat sekarang pasti merah, kau lihat ini" ucapku sedikit kesal dan mengesampingkan poniku agar dia bisa melihat sebab dari perbuatannya barusan.


Tiba-tiba saja dia mendorong kepalaku dan mencium keningku dengan lembut begitu saja hingga aku terperangah dan membuka mataku sangat lebar, entah kenapa saat itu jantungku mulai berdetak tidak teratur dan aku refleks mendorongnya menjauh dariku aku juga langsung memalingkan pandangan dan merapihkan poniku lagi.


"Tuan kau ini apa-apaan sih, jangan lakukan itu lagi padaku" ucapku memperingatinya.


Disisi lain tuan Arnold hanya menahan tawa saat melihat wajah merona milik Sesilia dan dia tahu bahwa saat itu bukan hanya Sesilia yang merona tetapi dia juga merasakan hal yang sama, ini adalah pertama kalinya bagi seorang tuan Arnold mencium kening seseorang selama hidupnya.


Bahkan sebelum bertemu dengan Sesilia dia sama sekali tidak pernah dekat dengan wanita manapun dan selalu menjaga jarak juga tidak pernah tersenyum karena seorang wanita, namun sejak ada Sesilia di sampingnya dia justru menjadi seperti bukan dirinya yang dulu lagi.

__ADS_1


Dia menjadi lebih banya tersenyum secara diam-diam dan merasakan rasa bahagia, kesal juga terkadang jengkel dengan tingkah gadis kecil itu yang selalu menguji kesabarannya namun sekuat apapun Sesilia membuat dia marah dan kesal tidak pernah sedikitpun tercipta rasa benci atau marah yang berkelanjutan untuk gadis itu.


Dia selalu bisa memaafkan kesalahan Sesilia dan selalu merasa damai ketika berada di dekat gadis itu. Seperti saat ini ketika dia baru saja mencium kening Sesilia dan merasa senang terus menerus bahkan hingga ke esokan paginya, dia terus merasa senang yang tidak terhingga.


__ADS_2