
Mengingat itu aku merasa murung dan langsung terduduk di kursi taman yang ada di dekat sana, aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya kepada tuan Arnold karena aku memang tidak bisa mengendarai sepeda bahkan jangankan mengendarainya menaikinya saja aku tidak pernah, masa kecilku memang tidak sama dengan anak-anak lain pada umumnya bahkan terkadang terlahir dari keluarga kaya raya itu sangat membosankan bagiku dan juga sangat melelahkan.
Aku tidak bisa menikmati masa kecilku, aku tidak bisa bersenang-senang seperti anak-anak lainnya pada usiaku dahulu, aku hanya selalu belajar tatakrama juga pendidikan yang baik di tuntut untuk menjadi cantik dan pandai sekaligus aku juga harus memiliki etika yang baik padahal aku juga ingin bersenang-senang seperti anak lainnya namun ayah selalu melarangku bahkan aku tidak memiliki banyak teman karena hal itu.
Sampai sekarangpun aku tidak memiliki satu teman setia untukku, atau sekedar teman biasa untuk menemaniku bermain maupun bercerita satu sama lain.
Mengingat semua kenangan itu aku menjadi lesu dan sangat tidak nyaman rasanya aku seperti mengasihani diriku sendiri karena tidak pernah bisa menikmati apapun yang aku inginkan, hingga tuan Arnold datang menghampiriku dan dia duduk di sampingku menanyakan keadaanku saat itu.
"Hey, ada apa denganmu apa aku menyinggung mu terlalu keras?" Ucap tuan Arnold,
"Ayo bicara saja aku akan mendengarkanmu?" Tambah tuan Arnold menatapku dengan lekat.
Melihat perlakuannya yang sangat baik kepadaku aku sangat tersentuh dan tidak bisa menahan tangisku lagi, aku langsung menangis dengan sangat keras di hadapannya dan dia menggenggam tanganku dengan erat sambil bertanya terus kepadaku alasan mengapa aku menangis.
"Huaa.... Hiks...hiks... Hiks" suaraku menangis cukup keras,
"Hey ..hey... Kenapa kau malah menangis aduhh ada apa denganmu bocah kecil, jika aku melakukan kesalahan tolong maafkan aku, aku tidak tahu apa yang membuatmu menangis tapi kau jangan seperti ini di tempat umum mungkin orang akan salah paham padaku" ucapnya terlihat panik.
Dan aku pun mulai berhenti menangis sejenak aku meninggalkan isak sisa tangisanku beberapa saat dan aku segera menghapus sisa air mata di pipiku.
"Kenapa kau sangat baik tuan, kenapa kau meminta maaf kepadaku bahkan ketika kau tidak melakukan kesalahan" ucapku kepadanya.
__ADS_1
Bagiku dia sama seperti ibuku aku ingin dia menjadi kakak bagiku aku ingin selalu bersamanya sejak saat itu, aku tidak ingin kehilangannya dan tidak ingin berada jauh darinya.
Tuan Arnold membuka matanya lebar mendengar ucapan dariku dan dia langsung memelukku sesaat sambil mengusap lembut kepalaku beberapa kali dan dia juga menasehati aku dengan baik.
"Aishh... Sudah... Sudah.. berhentilah menangis tidak masalah jika kau tidak mau bercerita kepadaku tapi kau tidak boleh menangis seperti itu aku tidak akan membiarkanmu merasakan sakit sedikitpun jadi berhentilah menangi dan membuatku khawatir" ucapnya padaku.
Aku segera mengangguk dan meminta dia untuk mengajariku bermain sepeda.
"Tuan aku tidak pernah menaiki sepeda, bisakah kau mengajariku untuk belajar naik sepeda, aku sangat ingin melakukannya" ucapku sambil memasang wajah yang manis di hadapan dia.
Aku sengaja melakukan itu karena aku tidak ingin sebuah penolakkan dari tuan Arnold aku ingin dia langsung menurutku hingga akhirnya ideku itu berhasil, tuan Arnold memang tidak tahan dengan wajah menggemaskan yang setiap kali aku perlihatkan kepadanya untuk menggoda dia dan membujuknya agar menuruti keinginanku.
"Aahhh... Baiklah aku akan mengajarimu tapi berhenti menangis dan jangan menatapku dengan tatapan menyebalkan itu!" Ucap tuan Arnold dengan tegas.
Aku merasa sedikit kesal karena saat aku menaiki sepeda itu, kakiku sama sekali tidak bisa mencapai tanah dengan benar dan hanya bisa berjinjit menggunakan jari-jari kakiku untuk menahannya, ini cukup merepotkan dan aku merasa tidak nyaman.
"Tuan apa apaan ini sepedanya terlalu tinggi bagaimana aku bisa berhenti nanti jika sepedanya setinggi ini?" Ucapku protes kepadanya,
"Aishh... Ini sudah sepeda paling kecil yang ada di tempat sewanya, tubuhmu saja yang terlalu pendek!" Ucap tuan Arnold yang malah menghina fisikku.
Aku cemberut menatapnya dan merasa sedikit kesal karena bisa-bisanya dia malah menghinaku secara terang terangan seperti itu dan perkataannya tadi sungguh membuat aku tersinggung dan tidak suka dengan cara bicaranya yang selalu mendesak dan memojokkan aku dia juga selalu membuat semuanya sesuai dengan kehendak dan keinginannya sedangkan aku hanya harus menurutinya.
__ADS_1
Meski aku akui dia agak baik tapi tetap saja sikapnya itu menyebalkan dan dia selalu membuat aku kesal dengan ucapannya yang tidak pernah dia saring.
"Huh, kenapa kau malah menghinaku bukan aku yang pendek kau saja yang tumbuh terlalu tinggi dan sepeda ini yang jelek karena tidak bisa di pendekkan!" Bentakku melawannya.
Tuan Arnold menghampiriku dan dia menatapku dengan tajam aku juga tidak ingin kalah dengannya sehingga aku melawan tatapan tajamnya itu dengan tatapan yang melekat juga kepadanya.
Aku bahkan membuka mataku dengan sangat lebar dan mengerutkan bibirku kepadanya ku pikir dia akan takut atau sedikit mundur jika aku memelototinya seperti itu tapi ternyata aku salah dia tetap tidak bereaksi apapun dan justru malah aku yang merasa takut dan tidak tahan dengan tatapan yang tajam dan cukup menyeramkan dari dia kepadaku.
"A..apa ini, tuan berhenti melihat aku seperti itu, kau membuat aku takut" ucapanku sambil menjauh darinya,
"CK.... Ternyata kau masih bisa takut juga denganku yah?" Balas dia sambil kembali berdiri dengan tegak.
Dia pun membantu aku untuk kembali naik ke atas sepeda itu dan membantu aku untuk mulai belajar mengayuh sepeda tersebut secara perlahan-lahan, aku sudah berusaha untuk mengatur keseimbanganku namun ini terlalu sulit untuk seseorang pemula sepertiku, dan tuan Arnold malah terus membentak aku karena beberapa kali aku terus hampir terjatuh bahkan aku hanya bisa mengayuh sepeda itu sekali dua kali.
Aku sama sekali tidak bisa mengayuhnya lebih cepat lagi, aku takut jatuh dan takut sekali menaiki sepeda dengan cara yang seperti ini di tambah sulit sekali untuk membelokkan stangnya.
"Hey... Apa kau tidak akan mengayuh pedal nya, cepat indah dengan benar!" Bentak tuan Arnold mengajari aku lagi,
"Aishh.. aku tidak bisa ini terlalu sulit untukku kakiku ini pendek aku sulit mencapainya" balasku dengan tidak kalah kerasnya,
"Memang kau pendek sudahlah kita istirahat dulu aishhh... Aku sudah sangat lelah sekali mendorongmu sedari tadi" ucap tuan Arnold sambil mengusap keringat di dahinya.
__ADS_1
Aku pun menuruti dia dan segera turun dari sepeda itu dengan bantuan darinya, kami kembali duduk di bangku taman yang ada disana dan aku segera merebahkan tubuhku ke belakang begitu juga dengan tuan Arnold.
Terlihat sekali bahwa dia sangat kelelahan pakaiannya bahkan habis basah dengan keringat, aku juga merasa sedikit bersalah dan tidak tega ketika melihat kondisi dirinya yang seperti itu.