Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Merajuk


__ADS_3

Aku pun menuruti dia dan segera turun dari sepeda itu dengan bantuan darinya, kami kembali duduk di bangku taman yang ada disana dan aku segera merebahkan tubuhku ke belakang begitu juga dengan tuan Arnold.


Terlihat sekali bahwa dia sangat kelelahan pakaiannya bahkan habis basah dengan keringat, aku juga merasa sedikit bersalah dan tidak tega ketika melihat kondisi dirinya yang seperti itu.


Melihatnya kelelahan seperti itu aku segera bangkit berdiri dan meminta uang padanya berniat untuk membelikannya minuman pada sebuah kotak minuman yang ada di sekitar sana.


"Tuan apa kau punya koin, aku ingin mengambil minuman disana" ucapku kepadanya,


"Aishh... Kau mengganggu aku saja, tidak bisakah kau membuat aku tenang sebenarnya saja, inih sana pergi" ucapnya sambil memberikan beberapa uang lembar padaku.


Padahal yang aku minta adalah uang koin tapi dia malah memberikan aku uang kertas, mau tidak mau aku tetap menerimanya sebelum dia berubah pikiran dan malah tidak memberikan apapun nantinya kepadaku.


Aku segera pergi dengan memalingkan wajah darinya, dia sangat menjengkelkan padahal niatku sudah baik untuk mengambilkan dia minuman, aku pergi ke dekat sana dan segera mengambil minuman itu lalu aku kembali ke sana untuk memberikan satu minuman untuknya.


"Ini minumlah" ucapku kepadanya.


Bukannya segera mengambil minuman itu dia malah menatapku dengan kosong dan menaikkan kedua alisnya seperti keheranan melihatku.


"Hey, kau mau ambil minumannya atau tidak?" Ucapku kepadanya,


Setelah aku membentaknya sedikit dia pun segera mengambilnya dengan cepat dan aku pun kembali duduk di sampingnya sambil membuka botol itu dan kesulitan membukanya, tuan Arnold yang melihat itu dia langsung merampas botol itu dari tanganku dan segera membukakannya untukku.


"Dasar bodoh, apa kau ini anak TK sampai tidak bisa membuka tutup botol sekalipun?" Ucapnya sambil memberikan kembali botol itu padaku,


"Hehe.. bukan tidak bisa botolnya saja yang terlalu keras kepala dan tidak menurut denganku" balasku sambil tersenyum kecil padanya.


Aku segera meminum air itu dengan beberapa tegukan dan rasanya sangat melegakan, akhirnya aku bisa meminum air yang segar dan bisa membasahi tenggorokanku yang sudah kering sedari tadi.


Diam-diam tuan Arnold juga tersenyum melihat aku yang tengah meminum air itu dengan beberapa kali saja hingga minuman tersebut lebih cepat habis dan langsung menaruh botol itu ke dalam tong sampah.


"Aaahhh... Ini sangat menyegarkan, tuan aku ingin minum lagi, boleh minumanmu untukku juga?" Ucapku meminta miliknya karena ku lihat dia tidak menghabiskannya.


Dia langsung mengambil minumannya disaat aku baru saja ingin meraihnya.


"Tidak boleh ini milikku, kau ini apa tidak cukup sudah minum sebanyak tadi!" Bentak dia kepadaku,


"Huh, dasar kau pelik" ucapku dengan kesal.


Aku sengaja membuat dia lengah untuk mengambil minuman itu dengan paksa tanpa sepengetahuan dia disaat dia lengah nantinya, karena jika aku mengambil itu dengan paksa sekarang darinya tentu itu cukup sulit untukku karena dia pasti tidak akan membiarkan aku untuk mengambilnya.


Disaat tuan Arnold tengah bersandar ke belakang kursi dan dia kembi menaruh botolnya itu di samping aku menatapnya dengan tersenyum kecil dan langsung dengan cepat merebut botol itu dengan tanganku yang kecil.


Dan langsung aku meminum minuman miliknya hingga tinggal tersisa sedikit lagi di botol itu, terdengar dia yang marah kepadaku dan mencoba menahanku untuk tidak meminumnya namun sudah terlambat karena air itu sudah masuk ke dalam perutku.


"E..eh...kau... Aishhh botol itu bekas bibirku!" Bentak tuan Arnold dengan matanya yang terbelalak lebar,


"Memangnya kenapa jika ini bekas bibirmu, kau kira ini sebuah ciuman tidak langsung yah, haha kau ini dasar tua masih saja menganggap hal seperti itu terlalu serius" balasku kepadanya.


Aku baru berpikir ternyata dia tidak ingin membagi minumannya denganku bukan karena dia menginginkannya atau karena dia pelik dan kejam tapi ternyata karena dia tidak ingin aku menempelkan bibirku pada botol bekas yang dia pakai.


Dia cukup menggemaskan ketika melihat wajah panik dan aneh yang dia tunjukkan saat berkata botol itu bekas bibirnya, melihat wajah yang panik seperti itu membuat aku ingin tertawa karena ternyata masih ada saja orang yang menganggap.serius dan berlebihan tentang hal semacam itu.


"Ahaha...kau...kau wajahmu itu sangat lucu ketika panik seperti tadi ahaha" ucapku sambil terus tertawa puas.


Hingga akhirnya dia mulai sedikit serius dan mendorong tubuhku ke belakang dia menatapku dengan lekat dalam jarak yang begitu dekat, aku sudah merasa gugup dan jantungku terasa berdebar cukup keras sulit untuk aku kendalikan sendirian.


"A..apa yang mau kau lakukan?" Tanyaku kepadanya dengan gugup dan tegang,


"Aku juga seorang pria, apa kau tidak mengerti itu hah?" Ucapnya kepadaku.


Mendengar itu aku justru tidak tahan untuk tertawa lagi kepadanya karena ku pikir dia akan mengatakan apa ternyata hanya berkata seperti itu.

__ADS_1


"Ahaha....iya tuan tentu saja aku tahu dan mengerti dengan jelas kau memang seorang pria bukan seorang wanita akulah yang seorang wanita kau ini bagaimana sih" balasku sambil tertawa kecil.


Dia pun langsung bangkit menjauh dariku dan mengusap wajahnya kasar dia terlihat agak kesal dan menaruh kedua tangannya di pinggang lalu dia mulai mengajakku untuk pergi dari sana begitu saja.


"Aaahhh.... Sudahlah tidak ada gunanya berbicara dengan orang bodoh seperti dia" gerutu tuan Arnold merasa frustasi.


Karena semua yang dia katakan pada Sesilia tidak pernah bisa masuk dengan benar ke dalam kepala kecilnya itu dia selalu saja menganggap semuanya candaan dan tidak bisa melihat sebuah perasaan lain dari diri seorang tuan Arnold sehingga itu membuat tuan Arnold kesal sendiri dan memilih untuk pergi kembali ke rumah dengan cepat saat itu juga.


"Heh ayo bangun kita akan pergi dari sini" ucapku dia kepadaku dan berjalan meninggalkan aku lebih dulu,


"E...e... Eh, tuan tunggu hey, tunggu aku!" Teriakku sambil berlari kecil mengejarnya.


Dia berjalan dengan langkah yang lebar karena memiliki kaki yang panjang sedangkan aku harus berlari pelan seperti joging untuk menyamakan langkahku dengannya dan dia juga berjalan dengan cepat sehingga setiap kali aku ingin berjalan di sampingnya selalu saja aku tertinggal.


"Tuan kenapa kau berjalan sangat cepat aku kewalahan jika harus terus berlari seperti ini untuk mengimbangi langkahmu" ucapku sambi berlari kecil di sampingnya.


Dia tetap tidak mendengarkan aku dan terus saja menatap ke depan dengan wajahnya yang datar dan kedua tangan yang dia masukkan ke dalam saku celananya aku kembali tertinggal olehnya dan haru berlari lebih cepat lagi untuk mengejar ketertinggalan darinya.


"Aish.... Apa dia tuli yah" gerutuku sambil memegangi lututku yang sudah lelah terus berlari.


Di tambah jarak taman ke parkiran mobil cukup jauh aku membutuhkan ekstra tenaga untuk mengejarnya.


"Tuan tunggu aku!" Teriakku sambil menyusul dia lebih cepat lagi.


"Tuan... Bisakah kau berjalan lebih pelan aduhh aku tidak bisa berlari terus begini perutku sakit jika terus berlari" ucapku sambil memegangi bagian pinggir perutku.


Akhirnya dia berhenti dan menatap kepadaku lalu menggendong aku begitu saja, dia menggendongku dengan cara yang sangat menyebalkan dia seperti mengangkat seorang anak kecil dan menaruhnya di sebelah pundaknya itu.


Kepalaku terbalik dan bagian belakangku dia tepuk cukup keras hingga aku meringis merasakan sakit.


"Tuan... Turunkan aku, hey apa yang kau lakukan cepat lepaskan aku tuan sialan!" Ucapku berontak dan meminta dia untuk segera menurunkanku karena aku sudah merasa mual sebab dia menggendongku dengan cara seperti itu.


"Puk.... Diam kau atau aku akan terus me*ukuli mu seperti itu" ucap tuan Arnold mengancamku,


"Aduhhh....tuan apa yang baru saja kau lakukan kau menyentuhnya? Aishhh dasar cabul kau! Bentakku merasa sangat kesal,


"Apa aku harus menepuknya lagi?" Balas dia membuat pipiku langsung merona.


Aku tidak bisa membuat dia kembali menepuknya lagi itu sangat menyebalkan dan tidak sopan aku langsung berhenti dan diam seketika sambil memegangi mulutku sendiri.


Hingga akhirnya kami sampai di depan mobil miliknya dan barulah dia mau menurunkan aku lalu menyuruh aku untuk segera masuk ke dalam mobilnya.


"Ayo masuk" ucapnya mendominasi.


Aku tidak bisa melawan dia lagi dan segera masuk ke dalam agar kamu bisa segera kembali ke rumah dan aku juga ingin segera terbebas dari orang yang sangat menyebalkan sepertinya, aku masih cukup kesal dan merajuk padanya aku tidak berbicara dengan dia selama di perjalanan bahkan ketika sampai di rumah disaat dia hendak berbicara memanggilku aku langsung berjalan cepat meninggalkan dia dan langsung masuk ke dalam rumah lebih dulu.


"Heh bocah kau...." Ucap tuan Arnold tidak selesai,


Karena aku meninggalkan dia dan masuk ke dalam rumah lebih dulu aku melipat kedua tanganku di dada dan hanya menatapnya dengan sinis sekilas lalu pergi dengan cepat dan segera mengunci kamarku.


"Eh....ada apa dengan bocah itu, aishh apa aku menampung anak TK kenapa dia harus merajuk hanya karena hal sepele seperti itu?" Gerutu tuan Arnold merasa kebingungan sendiri.


Melihat Sesilia yang marah dengannya tuan Arnold pun pergi untuk membeli makanan sendiri karena tadinya dia ingin bertanya makanan apa yang Sesilia inginkan dan mau mengajak dia untuk makan siang di luar bersamanya setelah mandi dan mengganti pakaian.


Namun karena melihat Sesilia yang masih marah seperti itu dia pun mengurungkan niatnya dan pergi sendiri untuk membeli makanan lalu segera membawanya pulang untuk Sesilia.


Dan demi membujung Sesilia tuan Arnold membeli sebuah pizza yang berukuran besar juga ayam goreng kesukaan Sesilia yang di taburi dengan tepung krispi dia membeli sofa kesukaan Sesilia juga dan membawa masuk semua belanjaan itu lalu menaruhnya di meja.


Tuan Arnold segera menghampiri kamar Sesilia dan mengetuk pintunya beberapa kali.


"Tok....tok....tok...." Suara ketukan pintu yang tuan Arnold lakukan,

__ADS_1


"Bocah kecil keluar kau aku sudah membelikan makanan untukmu, cepat keluar dan mari makan bersama" teriak tuan Arnold mengajaknya keluar.


Sayangnya tidak ada jawaban dari dalam dan tuan Arnol mengira Sesilia masih merajuk dengannya sehingga dia pun berusaha untuk tetap tenang dan bersabar dalam menghadapinya dan mencoba berbicara dengan lebih lbut kepada Sesilia agar dia mau menjawab panggilan darinya.


"Sesilia... Aku sudah membelikan makanan kesukaanmu, ayah yang krispi dan renyah juga pizza dengan taburan keju yang banyak di atasnya, apa kau yakin tidak ingin keluar untuk menikmatinya?" Tambah tuan Arnold sengaja membujuk Sesilia dengan makanan.


Aku yang mendengar itu langsung merasa sangat lapar dan ngiler mendengarnya aku sangat itu berlari keluar dan mengambil semua makanan itu dan menyantapnya dengan lahap seorang diri namun aku tidak ingin menemui pria menyebalkan itu.


Aku masih marah dengannya dan sangat gengsi jika harus keluar untuk makan, tidak mungkin juga aku lanjut marah dengannya setelah memakan makanan darinya


Terlebih aku juga tahu ini adalah sebuah sogokan namun mengapa begitu sulit untuk aku menahan diriku sendiri agar tidak termakan dan masuk dalam perangkapnya itu.


"Ahhh....ayam dan pizza maafkan aku aku tidak bisa menghampiri kalian saat ini meski aku sangat ingin bertemu kalian" ucapku sambil membayangkan ayam yang enak itu diatas kepalaku dan pizza yang sangat menggiurkan.


"Tidak...aku tidak ingin keluar, aku juga tidak ingin makan jika ada kau disana!" Teriakku membalasnya,


"Baiklah aku akan pergi ke atas untuk membersihkan diri kau keluarlah dan makan makanan itu, aku tidak akan makan denganmu" balas tuan Arnold dari luar.


Aku merasa senang karena dia mau melakukan hal itu, padahal aku pikir dia akan marah padaku namun rupanya dia malah tidak marah sama sekali dan ketika aku mendekati pintu lalu menempelkan telingaku ku dengar suara langkah kakinya yang menaiki tangga lalu perlahan menghilang hingga aku segera membuka pintu dan memeriksanya sedikit dahulu.


"Ehh... Dia benar-benar pergi, haha ini kesempatan yang bagus" ucapku sambil segera keluar dari kamar dan berlari cepat ke dapur.


Aku sudah mandi dan membersihkan diri saat itu bahkan rambutku masih sedikit basah karena aku belum sempat mengeringkannya dengan baik, aku pergi ke dapur dan melihat pizza dengan ukuran jumbo juga ayam yang banyak.


Aku tidak bisa menahan diri ketika melihat semua kenikmatan yang luar biasa ini, sehingga aku langsung memakan semuanya dengan lahap dan menikmatinya sendiri hingga aku tidak sadar jika ternyata tuan Arnold sudah kembali dia berdiri di samping meja dengan memakai pakaian yang santai menatap ke arahku dengan tatapan datarnya dan kedua tangan yang dia lipatkan di dadanya.


"Nyam...nyam.... Nyam...kriuk...kriukk...ahhh ini lezat sekali" ucap ku berbicara sendiri sambil terus mengunyah dengan kuat.


Mulutku sudah penuh dengan makanan dan aku sangat menikmati semuanya hingga ketika aku menoleh kesamping aku sangat kaget melihat tuan Arnold berdiri di sana dengan tatapan tajam seperti itu kepadaku sehingga aku langsung tersentak ke belakang dan refleks langsung menelan semua makanan yang ada di dalam mulutku dengan cepat hingga tenggorokanku terasa sedikit sakit.


"Astaga....ya ampun tuan kenapa kau muncul secara tiba-tiba seperti itu, aihhh mengagetkanku saja" ucapku sambil mengatur nafasku yang masih merasa kaget,


"Aahh... Tenggorokanku sakit sekali karena menelan banyak makanan sekaligus" ucapku sambil memegangi tenggorokanku.


Dia langsung menuangkan air untukku dan menyuruhku untuk segera meminumnya.


"Cepat minum atau tenggorokanmu akan terus merasa sakit" ucapnya lebih mirip memerintah dengan tegas.


Aku segera mengambilnya dan meminum air itu dengan cepat hingga habis sekaligus, rasanya tenggorokan aku jauh lebih baik setelah minum air tersebut dan perutku juga sudah sangat penuh sehingga aku malas sekali untuk beranjak dari kursi yang aku duduki saat itu.


Bahkan aku sendiri sudah lupa kalau aku sebelumnya tengah merajuk pada tuan Arnold tersebut, dan aku baru ingat ketika tuan Arnold menanyakannya kepadaku.


"Apa kau sudah tidak kesal lagi denganku sekarang?" Tanya dia mengingatkanku,


"Eh... Apa memangnya aku...." Ucapku tertahan dan langsung mengingatnya,


"Aishhh.... Bagaimana aku bisa lupa kalau sebenarnya aku masih merajuk padanya, aahhhh apa yang harus aku lakukan ini sudah terlanjur" gumamku memikirkan,


"CK... Bocah bodoh ini bahkan lupa kalau dia sedang marah padaku, aishhh untuk apa juga aku sudah payah membujuknya jika tahu dia akan melupakan hal itu dengan sendirinya" gumam tuan Arnold di dalam hatinya.


Sesilia.



Tuan Arnold.



Sekretaris Ken (sahabat tuan Arnold sekaligus sekretaris kepercayaannya)


__ADS_1


__ADS_2