Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Berangsur Membaik


__ADS_3

Mendengar ucapan dari sekretaris Ken yang tidak di filter sedikit pun, tuan Arnold langsung menatapnya dengan sangat tajam dan penuh kekesalan hingga membuat sekretaris Ken seketika menutup mulutnya dan diam membisu dengan wajah yang seketika berhenti memperlihatkan ekspresi.


"Hah, matilah aku karena keceplosan" gumam sekretaris Ken di dalam hatinya.


Karena sudah terlanjur kesal tuan Arnold pun meminta untuk segera pergi dari sana dan berhenti memperhatikan Sesilia dengan suster Maria yang masih menikmati menu di dalam restoran tersebut.


"Sudahlah, ayo pergi" perintah tuan Arnold yang langsung di turuti oleh sekretaris Ken.


Sekretaris Ken setidaknya kini merasa sedikit tenang karena ternyata dia tidak mendapatkan semprotan amarah dari tuan Arnold saat itu dan dia segera menuruti perintah tuan Arnold untuk segera pergi dari sana.


Sedangkan Sesilia dan tante Maria yang akhirnya selesai menikmati makanan lezat di sana, merekapun segera kembali ke kediaman Sesilia. Saat sampai di kediamannya dan tante Maria juga telah pergi, Sesilia segera masuk ke dalam rumah namun di sana begitu sepi dan dia berusaha mencari keberadaan ayahnya.


"Ayah...apa kau ada di rumah?" Teriak Sesilia sambil berjalan menuju kamar ayahnya.


Namun saat membuka pintu rupanya pintu tersebut juga tidak di kunci dan memang tidak ada siapapun di dalam kamar tersebut, mengetahui itu Sesilia segera memeriksa GPS di ponselnya untuk mencari tahu keberadaan sang ayah dan saat memeriksanya betapa kagetnya Sesilia ketika melihat sang ayah pergi cukup jauh dari kota.


Bahkan Sesilia sendiri tidak mengenal wilayah dan tempat tersebut.


"Tempat apa ini, kenapa ayah pergi ke sana selarut ini?" Gerutu Sesilia memikirkan.


Untuk saat ini dia tidak bisa mengikuti sang ayah ke tempat tersebut karena tidak ada kendaraan yang bisa dia gunakan dan ibunya juga pasti membutuhkan dia malam ini, Sesilia pun hanya mengingat tempat tersebut dan berniat memastikan pergi ke sana ketika dia memiliki waktu nanti.

__ADS_1


Sesilia pergi ke kamar ibunya karena ketika ibunya jatuh lumpuh kini Johana dan Laura tidur di kamar yang berbeda dan Sesilia tak lupa membawa bubur hangat buatannya sendiri untuk sang ibu, saat masuk ke kamar Sesilia langsung membangunkan ibu Laura dengan perlahan dan membantunya untuk makan dahulu.


"Ibu mari kita makan dulu, pasti ibu sudah lapar kan, maaf yah aku datang terlambat kali ini" ucap Sesilia sambil mengasuh buburnya,


Ibu Laura hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan dari putri kecilnya tersebut, Sesilia juga sangat senang setidaknya sekarang ibunya bisa membalas ucapan darinya meskipun hanya dengan sebuah senyuman dan anggukan kecil, melihat ibunya bisa merespon saja sudah membuat Sesilia begitu senang hingga dia menitikan air mata ketika menyuapi sang ibunda dengan penuh kesabaran hingga bubur di dalam mangkuk habis tak tersisa sedikitpun.


Sesilia tidak tahan untuk menahan air matanya dia segera pergi dari hadapan ibunya dan beralasan untuk menyimpan mangkuk bekas makanannya ke dapur, namun saat di dapur Sesilia justru menangis tersedu sedu sambil berusaha menutup mulutnya dengan kedua lengan yang dia rapatkan.


Bukan tanpa alasan mengapa Sesilia menutup mulutnya ketika dia menangis, Sesilia hanya tidak ingin sang ibu mendengar sedikitpun tangisannya, Sesilia tidak mau membuat Ibunya ikut merasa sedih jika mengetahui dirinya menangis seperti ini di belakang.


"Hiks...hiks...hiks maafkan aku ibu, semua ini salahku juga aku tidak bisa menjadi pelindungmu, maafkan aku ibu hiks hiks" gerutu Sesilia di sela sela tangisannya,


Sakit dan hancur ketika melihat ibunya yang tadinya sehat dan nampak selalu tersenyum cerah padanya namun kini justru malah terbaring tak berdaya dengan lemah dan lesu bahkan kini kondisi ibunya hanya memperlihatkan sedikit kemajuan saja, bagaimana Sesilia tidak terpuruk jika melihat ibunya dalam kondisi seperti itu.


Waktu berlalu dengan begitu cepat hari demi hari dan minggu demi minggu sudah Sesilia lewati dan selama liburannya dia hanya menghabiskan seluruh waktunya untuk mengurus sang ibu bersama suster Maria dan terus mengamati perkembangan ayahnya, hingga setelah kejadian malam itu, Sesilia merasa ayahnya kembali perhatian terhadap dia dan ibunya bahkan ketika mengecek GPS di ponselnya Sesilia tidak pernah lagi menemukan kejanggalan pada ayahnya, sehingga dia pikir sang ayah telah berubah dan telah kembali seperti ayahnya yang dulu.


Sesilia pun menceritakan semua kabar tersebut pada suster Maria dengan perasaan yang senang, karena sang ayah kini sudah mulai memberikan perhatian perhatian kecil kepada ibunya bahkan sang ayah membawa ibunya untuk berobat hingga kini kondisi ibu Laura berangsur semakin membaik dari waktu ke waktu.


Siang itu di kediaman Johana tepat di taman samping rumahnya Sesilia dan tante Maria membawa ibu Laura untuk berjalan jalan ke taman dan mencari udara segar bersama.


Sesilia pergi mendorong ibu Laura dengan kursi rodanya dan perlahan membawanya hingga ke taman lalu mereka berhenti di depan kursi taman yang nampak dari sana terlihat banyak sekali bunga bunga yang bermekaran nan indah di depannya.

__ADS_1


Sesilia pun mengajak ibunya untuk berbicara karena setelah mendapatkan banyak perawatan dan pengobatan lainnya kini sang ibu sudah bisa bicara lagi meskipun tubuhnya masih lumpuh belum bisa digerakkan lagi.


"Ibu bagaimana dengan di sini apa kamu menyukainya?" Tanya Sesilia pada sang ibu sambil berjongkok di bawah dan memegangi lutut ibu Laura,


"Iya sayang ibu menyukainya, terimakasih banyak sayang kamu sudah merawat ibu dengan sangat baik, dan suster Maria terimakasih juga kamu sudah merawatku juga putriku selama ini, kamu sangat berjasa untukku selama ini" ungkap ibu Laura dengan mata yang berkaca-kaca,


"Tidak masalah nyonya Laura saya sangat senang melihat pertumbuhan dirimu yang begitu pesat, dan putrimu pasti sangat senang melihat semua ini, ingat jangan terlalu memikirkan hal hal yang berat, saya yakin anda akan segera pulih sepenuhnya jika terus melakukan terapi dan pengobatan lainnya dengan teratur seperti biasanya" balas suster Maria yang turun senang dengan perkembangan kesehatan ibu Laura.


Kini hubungan mereka sudah seperti keluarga dekat dan saat ibu karena Johana tidak ada di rumah dan ibu Laura juga ingin beristirahat Sesilia pun segera mengantarkan ibunya kembali ke kamar dan dia sendiri menggunakan kesempatan tersebut untuk membicarakan perihal perkembangan ayahnya kepada suster Maria di belakang ibunya secara diam diam.


"Suster karena ibu sudah kembali ke kamarnya bisakah kita berbicara serius sekarang" ucap Sesilia memulai pembicaraan,


"Bicaralah Sesilia aku akan mendengarkan mu" balas tante Maria dengan lembut,


"Tante aku pikir mungkin ayahku sudah berubah dan dia menyesali semuanya, soalnya setelah aku perhatikan selama beberapa minggu ini, dia tidak pergi ke manapun selain cafe, rumah dan kantor. Aku rasa dia benar benar sudah meninggalkan wanita simpanannya itu" ucap Sesilia menjelaskan,


"Jika itu benar, aku turut senang mendengarnya dan semoga saja ayahmu benar benar sudah berubah sehingga kamu tidak perlu melanjutkan misimu lagi, mungkin jika ayahmu telah berubah dia juga tidak akan meninggalkan kalian berdua bukan?, dan meski kamu tidak tahu di mana surat surat penting itu sekarang setidaknya ayahmu tetap bersikap baik terhadapmu dan ibumu, itu artinya dia bisa saja tidak seburuk yang kamu pikirkan selama ini" balas suster Maria menasehati Sesilia.


Kini Sesilia pun merasa tenang karena hampir satu bulan sudah berlalu dan ibunya sudah memperlihatkan perkembangan yang sangat pesat namun diantara Sesilia dan ibunya mereka belum membahas mengenai masalah ayahnya, meski di sisi lain ibu Laura sangat ingin mengatakan masalah suaminya ke pada Sesilia tetapi dia tidak ingin membuat putrinya terlibat lebih jauh, dan Sesilia menahan diri untuk tidak membahas hal itu karena dia takut akan mempengaruhi kesehatan ibunya.


Sehingga ibu dan anak itu saling menahan diri untuk mengubur semua kenangan buruk mereka dengan ayah dan suaminya di beberapa bulan lalu, Sesilia pikir karena ayahnya kini sudah berubah mereka bisa memulai kehidupannya seperti dulu lagi, namun ibu Laura yang masih merasa sakit hati sebab perselingkuhan suaminya dia tetap tidak bisa melupakan semua kenangan buruk itu apalagi untuk memaafkan suaminya.

__ADS_1


Buktinya meski kini ibu Laura sudah berlangsung membaik dengan cepat, mereka tetap saja tidur di kamar yang berbeda dan jarang sekali saling bicara satu sama lain, hanya Johana saja yang terkadang berbicara ketika hendak membawa ibu Laura untuk terapi dan pengobatan saja.


__ADS_2