Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Phobia Darah


__ADS_3

"Aahhh... Karena ini sudah malam bagaimana jika Sesilia tinggal disini saja, Johana kau bisa pulang untuk merawat istrimu disana" ucap tuan Bramantyo tiba-tiba.


Mendengar itu aku segera memotong ucapan tuan Bramantyo karena selama ini aku yang merawat ibuku ketika malam aku tidak pernah melihat ayah merawat ibu sebab ibu sama sekali tidak memberikan izin untuk itu, aku tidak ingin ibu semakin marah terhadapku karena dia masih belum bisa kembali seperti dulu lagi bersama ayah.


"Tuan, sepertinya itu bukan ide yang bagus karena aku dan putramu belum sah sebagai suami istri sehingga tidak baik jika aku menginap di rumah seorang pria yang bahkan kita belum memiliki hubungan jelas dimata publik, saya hanya tidak ingin merusak citra keluar kita berdua" ucapku menjelaskan,


"Sesilia ayolah kau juga nanti akan menikah dengan Brain tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi pula di rumah ini terdapat banyak sekali orang jadi kau tidak perlu cemas soal itu, menginaplah untuk malam ini disini ayah akan menjemputmu besok" balas ayahku yang malah membela tuan Bramantyo bukannya membantuku untuk menolaknya,


"Tapi ayah, ibu..." Ucapku tertahan karena ayahku bangkit dan menepuk pundakku lalu ia langsung berpamitan pergi dari sana.


"Sudahlah Sesilia, ikuti saja keinginan tuan Bramantyo ayah sudah membicarakan agar kamu bisa lebih dekat dengan Brain dia pria yang sedikit sulit didekati kamu harus bekerja keras" bisik ayah di telingaku.


Tanganku langsung mengepal dengan keras dan aku ingin sekali mendorong ayah dengan kuat lalu pergi dari tempat itu saat itu juga, namun sayangnya aku tidak bisa meninggalkan kesan yang buruk pada tuan Bramantyo karena dia bukan lawan yang sebanding denganku saat ini.


"Ahaha....Johana hati-hatilah saat menyetir" ucap tuan Bramantyo dan mereka saling berpelukan layaknya seorang pria pada umumnya.


Ayahku diantara keluar oleh tuan Bramantyo sedangkan Brain menarikku dan membawaku menjauh dari tempat itu, aku berusaha berontak dan melepaskan diri namun dia mendorongku hingga tersentak ke dinding dan aku tidak bisa kabur kemanapun sebab dia mengunciku dengan tangannya.


"Apa yang kau inginkan?, Kenapa kau menahanku seperti ini?" Bentakku bertanya dengan heran,


"Harusnya aku yang menanyakan hal itu kepadamu" balas Brain dengan tatapan yang menusuk.


Aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang dibicarakan oleh Brain dia menatapku dengan tatapan yang sangat tajam dan seperti tengah mencurigaiku padahal aku tidak melakukan apapun dan seharusnya memang aku yang mengajukan pertanyaan itu terhadapnya namun dia justru menuduhku telah memanfaatkan kebaikan ayahnya.


"Kau menggunakan ayahku agar bisa tinggi di rumah ini kan?" Tuduhnya padaku.


Aku sangat kesal dan langsung mendorongnya dengan sangat kuat hingga dia menjauh dari tubuhku, dan aku langsung menunjuknya sembari memberikan peringatan keras atas tuduhan yang telah dia berikan kepadaku.


"Kau tuan muda Brain yang terhormat, asal kau tahu aku juga korban ayahku sendiri disini aku menerima tawaran ini karena biaya perawatan ibuku bukan untukku, terlebih harus menjalani hubungan dengan pria kasar, dan emosional sepertimu haha aku tidak tertarik sama sekali" ucapku berkata dengan penuh kebencian terhadapnya.


Saat itu juga aku berniat pergi menghindarinya dan meninggalkan rumah tersebut, aku tidak bisa menerima semua penghinaan yang dia berikan kepadaku dan tuduhan demi tuduhan yang selalu dia lontarkan kepadaku rasanya aku sudah sangat tidak tahan untuk menghadapi pria sepertinya.


Tapi disaat aku akan pergi meninggal rumah itu dia justru berlari ke arahku dan memelukku dari belakang secara tiba-tiba, sehingga membuatku semakin kaget dengan kelakuannya yang sulit ditebak.


"Aaaaahhh lepaskan aku apa yang kau lakukan?" Ucapku kaget dan segera berontak,


"Aku akan melepaskanmu jika kau berjanji tidak akan mencoba kabur dari sini" balasnya memintaku berjanji,


"Hey, kenapa juga aku harus berjanji seperti itu kepadamu?, Aku pergi bukankah kau seharusnya merasa senang?" Bentakku membalasnya,


"Ini keinginan ayahku, aku hanya mencurigaimu sesaat, tolong maafkan aku jika kau pergi aku yakin ayah akan memberikan hukuman yang membuatku mungkin tidak bisa menahannya dan kau juga bisa saja kehilangan pendanaan darinya" ucap Brain membuatku seketika terdiam.


Aku tertunduk lesu dan setelah memikirkan lagi semua yang dikatakan oleh Brain memang benar, jika aku membantah sedikit saja atau berulah pada tuan Baramantyo maka dia akan dengan mudah mengambil kembali dana yang bahkan belum sempat diberikan kepada ayahku maka semua ini akan sia-sia jika itu terjadi.


"Baiklah aku memaafkanmu, tolong lepaskan aku!" Ucapku dengan tegas.


Brain melepaskan pelukannya padaku dan dia segera mengajakku untuk pergi ke kamar tamu namun tuan Bramantyo tiba-tiba saja muncul dan menahan kami.

__ADS_1


"Ayo aku antarkan kau ke ruang tamu" ucap Brain dengan bersikap lebih sopan dari sebelumnya.


Baru saja aku hendak melangkahkan kaki, suara tuan Bramantyo yang menggelegar membuatku kembali terdiam dan membalikkan badan menghadapnya dan memberi hormat.


"Sesilia..." Ucap tuan Bramantyo sambil berjalan menghampiriku,


"Tuan..." Ucapku sambil memberi hormat kepadanya begitu juga dengan Brain,


"Ayah, kenapa ayah kemari?" Tanya Brain dengan heran,


"Kenapa?, Apa kau merasa terganggu dengan kedatangan ayah kemari?" Balas tuan Bramantyo,


"AHA... Tentu saja tidak ayah bisa mendatangiku dan Sesilia kapanpun ayah ingin kecuali saat kita tidak ada di rumah" balas Brain sambil tersenyum garing,


"Ekhmm...ayah kemari hanya ingin memberitahu kalian bahwa Sesilia tidak perlu tinggal di kamar tamu dia akan tinggal di kamar utama yang ada di samping kamarmu, jadi bawalah dia kesana" ujar tuan Bramantyo yang membuat Brain membelalakkan mata kaget dan dia langsung protes pada ayahnya itu.


"Apa?, Ayah apa kau tidak tahu kamar siapa itu?, Kau mau membiarkan orang asing sepertinya menempati kamar almarhum ibuku apa kau tidak takut dia akan merusak sesuatu di dalamnya?" Teriak Brain yang protes terhadap ayahnya dihadapanku.


Ini adalah pertama kalinya aku melihat kak Brain berani menyangkal ayahnya bahkan protes dengan keputusan ayahnya dihadapanku, tapi tuan Bramantyo tetap tidak bisa disangkal semua ucapan dan keputusan yang sudah dia tetapkan tidak akan ada yang bisa mengubahnya kecuali satu orang, yakni orang nomor satu di negeri ini yang tak lain adalah tuan Albert.


Namun dia sama sekali tidak ada hubungannya dengan urusan keluarga Bramantyo saat ini sehingga dapat dikatakan bahwa semuanya tidak bisa diganggu gugat lagi, tuan Bramantyo tetap memintaku untuk tinggal di kamar tersebut.


"Brain antarkan dia keatas atau kau tidak akan menerima sedikit warisanpun dariku!" Ucap tuan Bramantyo dengan tatapan sinis dari ujung matanya.


Setelah berkata seperti itu tuan Bramantyo langsung saja berjalan meninggalkan kami dan dia tidak mengatakan apapun lagi, sedangkan Brain mulai berbalik menatapku dengan tatapan sinis dan kedua tangan yang dikepalkan dengan kuat, aku tahu saat itu dia mungkin kesal dengan keputusan ayahnya namun mengapa juga dia harus menatapku dengan tatapan semenyeramkan itu.


"A..ada apa?" Ucapku gugup karena dia terlalu menakutkan,


"Hey tunggu aku, kau berjalan terlalu cepat aku tidak bisa mengikutimu dengan lebih dekat" teriakku meninggikan suara.


Dia tetap tidak berhenti dan terus berjalan lebih dulu hingga sampai di depan kamar yang tuan Bramantyo maksudkan, sebelumnya aku memang sudah mendengar jika itu adalah kamar almarhum ibunya, sehingga aku dapat memahami apa yang membuat Brain sangat marah ketika ayahnya menyuruhku tidur disana malam ini, aku melihat Brain yang masih marah terhadapku mungkin dia tetap akan menyalahkanku karena hal ini.


Meskipun sebenarnya ini tidak ada urusannya denganku karena aku juga hanya mengikuti perintah dari tuan Bramantyo sama seperti apa yang dia katakan sebelumnya.


"Kak Brain aku menghormatimu dan almarhum ibumu, jika kau tidak suka orang asing masuk apalagi menempati kamar ibumu aku tidak akan masuk ke dalam biarkan aku tidur di ruang tamu saja, tunjukkan padaku dimana ruang tamunya" ucapku karena merasa tidak enak terhadapnya.


Bagaimanapun aku memiliki sopan santu dan aku juga memiliki seorang ibu, aku mengerti apa yang dia rasakan jika itu terjadi padaku mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama seandainya ada orang yang tidak kusukai harus menempati kamar ibuku sendiri maka dari itu aku sudah memutuskan untuk menolak tidur disana dengan inisiatif ku sendiri.


"Tidak, kau tidur saja disini ayahku akan marah besar jika kau tidak menurutinya, cepat sana masuk tapi kau harus memastikan jangan menyentuh apapun di dalam sana, apa kau mengerti!" Ucapnya masih tidak mempercayaiku.


Aku tidak ingin berdebat lagi dengannya dan aku sudah sangat lelah malam ini sehingga aku tidak menanggapi ucapannya dan hanya mengangguk mengerti lalu segera masuk ke dalam kamar tersebut dan menutup pintunya, baru saja aku hendak berjalan kak Brain sudah membuka lagi pintu kamar itu dan mengancamku lagi seperti sebelumnya.


"Hey, awas ingat kaya kataku jangan menyentuh apapun!" Ucapnya dengan tatapan tajam,


"Iya aku tahu, kenapa kau bawel sekali sih?" Bentakku sangat kesal.


Aku kembali menutup pintunya dan berniat mengunci pintu itu namun dia tiba-tiba membua lagi pintu itu dengan cukup keras hingga mengenai wajahku dan membuat hidungku mengeluarkan darah karena terpentok pintu cukup kuat.

__ADS_1


"Brukk...aduhhh" ucapku memegangi hidungku yang terasa sangat sakit.


"Hey...kau jangan coba-coba untuk mengotori....ehh itu hidungmu" ucapnya hendak memperingati aku lagi namun tak sampai dan menunjuk ke arah hidungku yang berdarah.


Aku kebingungan sendiri dan segera berlari ke cermin lalu melihat hidungku mengeluarkan darah, aku takut dengan darah karena sejak kecil memiliki phobia dengan darah sehingga saat melihat darah segar mengalir keluar dari hidungku aku sungguh tidak tahan lagi melihatnya, kepalaku terasa pusing dan aku mulai merasakan kakiku lemas serta tidak mampu menopang tubuhku sendiri.


"Da..da...darah...itu...a..aku..." Ucapku gemetar lalu ambruk begitu saja.


Brain yang melihat Sesilia hampir ambruk dia langsung menangkap Sesilia dan menidurkannya di ranjang ibunya lalu dia memasukkan kapas pada hidup Sesilia untuk menghentikan darah yang keluar dari hidungnya dan Brain juga sangat panik dia takut sekali kejadian itu akan diketahui oleh ayahnya sehingga untuk menghindari hal itu dia segera mengunci pintu dari dalam secara sengaja.


Lalu dia kembali merawat Sesilia dan mengobati hidungnya hingga Brain tidak sadar dia tertidur dengan posisi duduk sambil memegangi lengan Sesilia dengan erat.


Sepanjang malam Brain menunggu Sesilia sampai sadar karena dia terus merasa cemas dan takut terjadi sesuatu yang buruk pada Sesilia, dia juga takut pada ayahnya karena jika sampai tuan Bramantyo mengetahui hal itu dirinya juga yang terkena imbasnya dan mungkin dia akan menerima hukuman yang sangat berat dari sang ayah.


Sampai pagi harinya aku bangun lebih dulu dan mulai mengerjakan mataku secara perlahan aku mulai merasakan kepalaku sedikit pusing dan mulai meraba hidungku yang ditutupi dengan kapas lalu aku mulai melepaskannya dan melihat sisa-sisa dasar di kamar itu sehingga membuatku kaget dan langsung terperanjat apalagi di saat aku melihat kak Brain ada di sampingku sambil memegangi tanganku yang satunya.


"Arkhh.... apa-apaan ini?" Teriakku sangat kaget tak karuan.


Aku benar benar berpikiran keruh dan segera melihat ke bawah selimutku yang ternyata aku masih mengenakan baju yang sama dan dalam keadaan yang masih utuh, lagi pula seharusnya aku tidak memiliki perasaan sampai kesana karena saat itu aku melihat kak Brain juga tidur di sofa bukan di ranjang yang sama denganku.


Aku merasa lega setelah memastikannya dan kak Brain mulai bangun lalu dia mengucek matanya dan langsung berteriak saat menatapku.


"Aaaa....kenapa kau ada di kamarku?" Teriak kak Brain yang seperti dia linglung karena bangun tidur,


"Hey...lihat dulu dengan baik di mana kau berada sebenarnya harusnya aku yang mengajukan pertanyaan seperti itu padamu!" Ucapku dengan tatapan serius.


Kak Brain mulai menatap ke sekitar dan dia melihat dengan baik-baik bahwa itu memang bukan kamarnya melainkan kamar milik almarhum ibundanya, dia pun mulai mengingat apa yang telah terjadi semalam sampai akhirnya dia harus berakhir seperti tidur di sana dengan posisi duduk.


"Ahhh...iya aku lupa semalam kau terpentok pintu dan hidungmu berdarah tapi kau tiba-tiba saja pingsan saat melihat cermin makanya aku mengobati luka dihidungmu dahulu lalu menunggumu tersadar sepanjang malam sampai saat ini" balasnya menceritakan semua kejadian sebenarnya.


Aku juga mulai mengingat semua itu dan aku langsung merasa sangat kesal kepada kak Brain karena dia sudah membuatku dalam bahaya karena membuka pintu seenaknya.


"Huh...kau sudah membuatku seperti ini, benar-benar menjengkelkan, sudahlah aku akan segera pulang, dan kau keluar dari kamar ini. Cepat!" Bentakku yang sudah tidak bisa memberinya toleransi lagi.


Dia segera pergi dengan perasaan yang tidak kalah kesal dan dia bahkan membantu g pintu kamar almarhum ibunya sendiri yang selalu dia jaga dan memperingati aku agar tidak merusak apapun di kamar tersebut.


"CK...sudahlah aku juga bisa pergi sendiri tidak perlu membuatmu harus mengusirku seperti itu" ucapnya dengan kasar,


"Braakkkk...." Suara pintu yang dia banting dengan kuat,


Aku tidak perduli dengannya mau dia marah dan emosi sebesar apapun terhadapku aku benar-benar tidak perduli dan segera membersihkan diriku ke kamar mandi lalu segera bersiap-siap turun ke bawah dan sarapan bersama tuan Bramantyo juga Brain diatas meja makan besar yang sama.


Saat kami menikmati sarapan tidak ada siapapun yang mengeluarkan suara dan hanya dentingan sendok serta garfu yang beradu satu sama lain saja yang terdengar nyaring saat itu.


Aku tidak mau banyak bicara dan hanya fokus dengan makananku saja sedangkan Brain diam-diam mencuri curi pandang pada Sesilia tanpa diketahui oleh Sesilia, di sisi lain tuan Bramantyo juga sebenarnya mengamati kedua anak muda itu dan bibirnya mulai menggambarkan senyuman kecil ketika melihat putranya diam-diam melirik Sesilia yang tengah fokus sarapan dengan anggun.


"Aku tidak salah memilih gadis kecil ini, meski mereka sering bertengkar aku tahu bahwa Brain sebenarnya perduli pada gadis ini" gumam tuan Bramantyo di dalam hati kecilnya.

__ADS_1


Tanpa Brain dan Sesilia ketahui sebenarnya rumah itu dilengkapi dengan beberapa cctv dan tuan Bramantyo sudah mengawasi mereka dalam beberapa saat sehingga dia mengetahui semua yang dilakukan oleh kedua remaja itu, namun dia sama sekali tidak keberatan sebab menurut dia putranya Brain terlihat tertarik pada Sesilia sejak pertama kali dia memberikan foto Sesilia lewat ponsel Johana.


Sehingga dia membiarkan cinta diantara kedua orang itu tumbuh dengan sendirinya namun tetap dia akan ikut campur dalam urusan mereka sebab dia rasa Brain tidak cukup pandai untuk memikat seorang gadis terlebih gadis seperti Sesilia yang memiliki prinsip kuat dalam hidupnya.


__ADS_2