Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Berpelukan


__ADS_3

Di sisi lain tanpa Siska ketahui sebenarnya ibunya itu memang sudah menyusun rencana yang sangat bagus bahkan dia sama sekali tidak memperdulikan Siska dia marah hanya karena Johana gagal menjadi orang yang lebih kaya raya sebab ulah Siska yang menggagalkan kerjasama bisnis kedua keluarga itu.


Siska pun kembali ke kamarnya dan dia segera menenangkan dirinya sendiri.


Mereka ibu dan anak memang sama-sama memiliki niat dan hati yang sama jahatnya.


Sedangkan disisi lain aku langsung bersiap untuk pergi karena kelas sudah selesai dan aku lihat sekretaris Ken sudah muncul disana untuk menjemputku aku pun masuk ke dalam mobil dengan cepat dan duduk di sana tanpa banyak tingkah lagi karena aku terus merasa cemas dengan Siska yang pergi begitu saja dengan memasang wajah marah seperti itu.


"Bagaimana jika dia benar-benar akan membalasku di kemudian hari? Aku harus bagaimana.." gerutuku terus merasa cemas sendiri.


Selama di dalam mobil aku sama sekali tidak bisa tenang dan terus saja merasa gelisah sendiri hingga sesampainya di rumah aku juga hanya diam saja dan duduk di meja depan sambil menatap televisi yang mati karena tidak aku nyalakan.


Sedangkan di sisi lain tuan Arnold dan sekretaris Ken yang juga baru tiba di dalam mobil mereka langsung saja melihat ke arah Sesilia yang diam dan termenung seperti banyak pikiran seperti itu, mereka mulai mengkhawatirkan keadaan Sesilia yang terlihat begitu pendiam sama sekali tidak seperti Sesilia yang biasanya.


"Syutttt....Ken kenapa dia, apa dia sakit?" Tanya tuan Arnold kepada sekretaris Ken sambil berbisik yang ada di sampingnya saat itu.


"Aku juga tidak tahu, sejak aku menjemputnya dari kampus dia sudah seperti itu" balas sekretaris Ken yang juga merasa heran,


"Kau dekati dia saja lalu tanyakan apa yang terjadi kepadanya sampai dia diam saja seperti itu, ini sangat mengganggu" ujar tuan Arnold kepada sekretaris Ken,


"Aku tidak mau tuan, bukan apa-apa tapi aku takut dia justru malah marah atau menangis nantinya" balas sekretaris Ken yang tidak berani mendekati Sesilia.


Mereka terus saja saling mendorong satu sama lain untuk mendekati Sesilia dan mencoba bertanya kepadanya alasan mengenai dia yang terus saja diam dengan menatap kosong ke depan televisi seorang diri.


Hingga akhirnya keributan diantara mereka berdua membuat aku terganggu dengan sendirinya dan aku menoleh ke arah tuan Arnold juga sekretaris Ken saat itu juga.


"Tuan Arnold, sekretaris Ken sedang apa kalian hanya berdiri saja disana? Ayo kemari aku ingin bicara" ucapku dengan wajah yang datar sambil menepuk sofa itu dia kali.


Tuan Arnold dan sekretaris Ken yang mendapatkan tatapan itu dari Sesilia mereka semua langsung membuka mata lebar dan menaikkan kedua alisnya bersamaan merasa sangat heran dan takut hingga perlahan mereka mulai berjalan mendekati Sesilia walaupun perasaannya sedikit cemas.


"Ayo Ken kau lebih dulu kesana, aku akan di belakang" ucap tuan Arnold sambil mendorong tubuhnya pelan,


"Aduh....tuan Arnold aku juga takut, aku lebih takut dengan gadis nakal itu di bandingkan dengan orang jahat, ayo cepat kau saja kau kan bos nya" balas sekretaris Ken kepada tuan Arnold.


Mereka pun memutuskan untuk berjalan mendekati Sesilia bersamaan dan langsung duduk di samping Sesilia pelan.


"Tuan aku ingin bertanya kepadamu terlebih dahulu, tapi sekretaris Ken kau juga harus menjawabnya apa kalian mengerti" ucapku sambil mulai menatap sendu kepada mereka berdua.


Sekretaris Ken dan tuan Arnold hanya langsung mengangguk mengerti dan mereka saling tatap satu sama lain sebab mereka hanya bisa diam dan mendengarkan saja di saat Sesilia bersikap aneh seperti itu.


Aku menarik nafas dalam lalu ku buang perlahan hingga aku langsung mulai menceritakan keresahan di dalam diriku ini.


"Hufttt....begini tuan.. sekretaris Ken tadi di kampus aku berhadapan lagi dengan Siska dan Brain mereka...." Ucapku tidak selesai bicara karena tuan Arnold langsung saja memotong ucapanku dan dia membelalakkan mata dengan keras membuat aku kaget.

__ADS_1


"APA? JADI MEREKA YANG MENGGANGGUMU LAGI SAMPAI KAU SEPERTI INI?" bentak tuan Arnold sangat keras.


Aku menatapnya dengan mata yang terbuka lebar danerasa heran karena tidak pernah melihat dia yang membantak aku seperti itu, dia sangat keras dan begitu mengagetkan aku dan sekretaris Ken padahal aku belum selesai bicara.


"Aishh....tuan bisakah kau diam sejenak aku belum selesai bicara, kenapa kau malah memotong ucapanku seperti itu" balasku cemberut dan melipatkan kedua tanganku di dada.


Hingga akhirnya dia mau berhenti bersikap keras seperti itu dan dia langsung merangkul pundakku lalu membiarkan aku untuk melanjutkan apa yang akan aku bicarakan lagi.


"I..iya kalau begitu sudah cepat kau lanjutkan apa yang mau kau katakan tadi, aku akan mendengarnya" ucap tuan Arnold kepadaku.


Sedangkan sekretaris Ken langsung menahan tangan tuan Arnold dan mengusap punggungnyanya pelan untuk menenangkan tuan Arnold lagi sebab saat itu masih jelas terlihat bahwa tuan Arnold masih sedikit kesal dengan Brain juga Siska ketika mendengar ucapan dari Sesilia barusan.


Setelah aku lihat tuan Arnold sedikit mereda emosinya barulah aku mulai mengatakan kepada dia, lanjutan dari ucapanku yang sempat tertahan sebelumnya.


"Hmm....begini tuan aku sebenarnya tidak masalah jika mereka menggangguku tapi Brain justru malah membuat perhitungan kepada Siska dan mereka sekarang sudah berpisah aku tidak ingin mereka seperti itu, karena mau bagaimana pun aku bisa melihat dengan jelas di mana Brain bahwa dia menyukai Siska hanya saja mungkin dia sedikit kecewa pada kelakuan Siska yang seperti itu padaku, aku merasa menjadi perusak hubungan mereka, aku tidak enak hati tuan" ucapku kepadanya dengan menundukkan kepala merasa lesu.


Setelah mendengar penjelasan dari Sesilia tuan Arnold dan sekretaris Ken langsung menghembuskan nafas yang lega mereka kira Sesilia kenapa ternyata hanya karena hal sepele seperti itu, bisa membuat anak tersebut merasa resah tidak jelas hingga terlihat seperti orang yang habis di campakkan.


"Aishh jadi yang membuatmu lesu juga termenung sangat tidak jelas dan mengkhawatikan hanya karena hal itu saja?" Ucap sekretaris Ken merasa heran dan dia sedikit frustasi di buatnya,


"Iya....aku sangat mencemaskan hal itu, aku hanya takut dia menjadi lebih jahat nantinya, kalau dia menjadi jahat dan mendendam kepadaku, bagaimana jika dia membenciku dan mau membalas dendam padaku lalu aku...." Ucapku mulai membayangkan hal-hal yang buruk dalam pikiranku.


Dengan cepat tuan Arnold langsung menghentikan aku dan dia segera menggenggam tanganku dengan erat, bukan hanya itu dia juga berbicara menenangkan aku tidak seperti biasanya.


"Sesilia tenang, lihat aku....aku ada disini dan aku akan ada di sampingmu selalu, kau tidak perlu mencemaskan hal-hal yang belum tentu akan terjadi, kau harus tenang dan fokus saja dengan hidupmu sendiri, aku akan selalu menemanimu dan melindungimu" ucap tuan Arnold kepadaku.


"Tuan Arnold bolehkah aku memelukmu? Aku ingin memelukmu agar bisa merasa tenang" ujarku kepadanya dengan wajah yang menatap dia sangat lekat.


"Kemarilah kali ini biar aku yang memelukmu" balas tuan Arnold yang membuat senang dan terharu.


Aku langsung mendekatinya dan memeluk dia dengan erat, aku sangat senang dia bisa memelukku untuk pertama kalinya dan entah kenapa saat itu aku sungguh merasa sangat tenang dan aku merasa nyaman dalam pelukannya.


Aku bahkan merasa tidak ingin lepas dari pelukannya itu, aku ingin dia terus memeluk aku sambil mengelus punggungku seperti itu dan mengusap kepalaku dengan lembut, aku merasa seperti berada dalam pelukan ibuku sendiri dan aku sangat nyaman hingga aku tertidur dan terbawa oleh suasana saat itu.


Sedangkan di sisi lain tuan Arnold juga tersenyum kecil dia senang bisa memeluk Sesilia dan menenangkan dia seperti itu namun di sisi lain dia tidak bisa menyembunyikan dekat jantungnya sendiri yang terus-menerus berdetak sangat kencang hingga aku juga bisa mendengarnya namun dekat jantung tuan Arnold itu membuat aku damai.


Sampai lama kelamaan tuan Arnold mulai merasa aneh karena Sesilia tidak bergerak lagi dia pun langsung menepuk Sesilia pelan dan menyuruh dia untuk melepaskan pelukannya karena itu sudah cukup lama bahkan sekretaris Ken juga sudah kaget melihat mereka berpelukan terlalu lama seperti itu.


"Ehkm....tuan....apa kau mau terus memeluknya begitu?" Tanya sekretaris Ken menyadarkan tuan Arnold pada awalnya,


"Aaa...ahh...tidak aku justru tidak merasakan dia bergerak sama sekali" balas tuan Arnold yang membuat mereka berdua sangat panik ketakutan,


"Sesilia...hey...bangun apa kau pingsan?" Ucap sekretaris Ken yang melihat mata Sesilia tertutup.

__ADS_1


Tuan Arnold menjadi cukup panik dan dia segera mendorong tubuh Sesilia lalu berusaha membangunkannya perlahan.


"Hey ..bocah nakal....bangun...hey ..." Ucap tuan Arnold menggoyangkan tubuh Sesilia lalu dia mulai memeriksa hidupnya dan ternyata dia masih bernafas.


"Aahhhh ....dia hidup dia hanya tidur" ujar tuan Arnold yang langsung saja membuat sekretaris Ken bisa bernafas dengan lega.


Mereka berdua sudah kaget dan panik tidak karuan karena Sesilia tidak bergerak namun rupanya dia hanya tidur padahal tuan Arnold dan sekretaris Ken sudah sangat cemas saat itu, untungnya mereka segera memeriksakan dengan benar sebelum membawa Sesilia ke rumah sakit, jika sampai mereka membawa Sesilia langsung ke rumah sakit, mereka sendiri yang akan menanggung malu.


Tapi Sesilia memang tidur sangat lelap bahkan dia tidak terusik sama sekali di saat sekretaris Ken dan tuan Arnold berteriak membangunkan dia bahkan sampai menggoyangkan tubuhnya berkali-kali.


Tuan Arnold bahkan sampai menepuk keningnya sendiri merasa tidak habis pikir karena melihat Sesilia yang bisa-bisanya tertidur saat dia memeluknya seperti itu dan akhirnya tuan Arnold kembali menggendong dia dan menidurkannya di kamar Sesilia lalu menyelimuti dia dengan pelan, tidak lupa tuan Arnold juga selalu mengusap kepala Sesilia dengan lembut setiap kali menidurkan Sesilia di kamarnya.


Setelah menidurkan Sesilia barulah dia segera pergi dari sana dan kembali menemui sekretaris Ken yang menunggu di luar.


Akhirnya mereka pun makan malam bersama karena Sesilia yang sudah tidur.


Sedangkan di sisi lain Dona sudah menyusun rencana baru dia dengan Johana sudah bekerjasama dengan pria lain untuk mengambil alih harta kekayaan yang di miliki Johana padahal saat itu Johana juga tengah kesulitan dengan bisnis yang dia hadapi sebab dia juga baru saja kehilangan dana yang sangat besar dari tuan Bramantyo sebab pertunangan Siska dengan Brain di batalkan dan mereka tidak jadi menikah.


Johana pulang dari kantor dengan perasaan kesal dan murka dia langsung masuk ke rumah dan melampiaskan emosinya itu ke pada barang-barang yang ada disama sebagai hiasan.


"Aaarrkkhhh.... Siska....dimana kau Siska!" Teriak Johana sangat keras memanggil Siska dengan menggelegar.


Dia sangat kesal dan menyalahkan semuanya kepada Siska karena dia masih berpikir semua ini terjadi karena Siska yang tidak becus dalam menjalani hubungan dengan Brain.


Dona yang mendengar suara Johana berteriak memanggil Siska dia segera keluar dari kamar begitu pula dengan Siska dan mereka berdua menuruni tangga menemui Johana yang tengah marah dan sudah memecahkan banyak barang berharga disana.


"Sayang ada apa denganmu, ooohh astaga kenapa kau memecahkan guci mahal itu" ucap Dona yang kaget saat melihat banyak guci yang pecah dan barang lainnya yang berserakan di lantai,


Johana yang melihat Dona dan Siska turun dari tangga lalu berjalan mendekatinya dia langsung saja menghampiri Siska dan menamparnya sekali dengan keras.


"Plakk.....dasar anak tidak berguna!" Bentak Johana dengan melemparkan satuntamparan pada pipi Siska hingga meninggalkan sebuah bekas merah,


Dona kaget hingga menutupi mulut yang terbuka dengan tangannya begitu pula dengan Siska yang kaget karena ini adalah pertama kalinya dia mendapatkan perlakuan kasar dari ayahnya.


"Sayang apa yang kau lakukan, kenapa kau menampar Siska apa salah dia sampai kau menamparnya seperti itu?" Bentak Dona sambil mendorong Johana ke belakang dengan kuat.


Dia langsung melihat pipi Siska yang terlihat merah seperti itu dia langsung memeriksanya.


"Sayang apa kamu baik-baik saja, coba ibu lihat dahulu apalah pipimu terluka parah atau tidak" ucap Dona sambil memeriksa pipi Siska saat itu.


Siska merasa sakit hati dengan perbuatan ayahnya itu dan dia langsung saja membentak Johana di hadapan ibunya sendiri.


"Kenapa ayah? Kenapa kau menamparku apa salahku padamu?" Bentak Siska dengan keras,

__ADS_1


"Kau masih berani bertanya apa kesalahanmu hah? Kau sudah tahu bahwa Brain adalah satu-satunya yang bisa menyelesaikan permasalahan perusahaan kenapa kau malah putus dengannya? Kau sama tidak bergunanya dengan Sesilia kalian berdua sama saja, hanya bisa menghabiskan hartaku saja" balas Johana yang di kuasa oleh api kemarahan.


"Jadi hanya karena itu kau menamparku? Kau melampiaskan emosimu padaku dan menyalahkan aku atas semua kesalahan ini, seandainya kau tahu ayah bahwa Sesilia lah yang menyebabkan aku putus dengan Brain dia yang merusak rencanamu bukan aku!" Bentak Siska dengan keras dan dia langsung berlari menaiki tangga kembali ke kamarnya dengan cepat.


__ADS_2