
"Apa yang kau katakan, ayo katakan lebih keras!" Ucapnya mendominasi.
Aku terperangah tidak menduga bahwa dia bisa mendengarnya, aku pun langsung mencari alasan lain dan terpaksa harus kembali masuk ke dalam untuk mengganti pakaian lagi.
"A..ahh...tidak, aku tidak bicara apapun pakaian ini memang tidak cocok untukku, aku akan masuk lagi dan mencari yang lebih baik oke" ucapku sambil tersenyum kepadanya.
Aku segera berbalik dan hendak masuk lagi ke dalam kamar, namun kakiku terasa sangat sakit dan aku tidak sengaja tersandung pada kakiku sendiri sehingga hampir saja jatuh.
"Aaahhh ...." Teriakku hampir jatuh.
Untunglah tuan Arnold dengan sigap langsung menahan tanganku sehingga aku tidak sampai jatuh ke lantai, tapi dia lagi-lagi memarahiku dan langsung menggendong aku masuk ke dalam kamar.
"Heeeh .... Dasar bodoh!" Ucap tuan Arnold sambil menggendongku segera.
Aku tidak dapat bicara apapun karena kaget sebab dia menggendongku sangat mudah seperti tadi dan kembali menurunkan aku di depan lemari pakaianku, aku menghembuskan nafas lesu karena bingung harus memakai pakaian yang mana lagi, semua pakaiannya celana pendek dan gaun selutut, tidak ada yang sampai ke mata kaki.
"Heh, kenapa kau malah diam saja, cepat ambil pakaian mana yang akan kau kenakan" ucap tuan Arnold,
"Tuan lihat ini, apa menurutmu ada yang cocok untukku, sebab sedari tadi aku selalu salah dalam memilih, sekarang coba kau pilih saja sendiri agar aku tidak perlu bolak balik mencobanya" ucapku sambil membuka lemarinya.
Tuan Arnold langsung mencari pakaian yang cocok untukku tapi dia juga semakin marah sebab tidak ada pakaian tertutup di dalam sana, semuanya hanyalah celana pendek dan gaun pendek, dan hanya ada satu setelah milikku yang aku pakai saat pertama kali datang ke rumah itu.
"Aishh....dasar sekretaris Ken sialan, bagaimana bisa dia malah membelikan pakaian kurang bahan seperti ini untukmu" ucapnya menggerutu sendiri,
"Aahh ... ini kau pakai yang ini saja" tambahnya sambil memberikan pakaian jelek itu kepadaku.
Aku menatapnya dengan heran, bagaimana bisa dia malah memberikan aku pakaian kaos tangan pendek dan celana tidur yang panjang, di tambah warnanya itu sangat tidak kontras aku bahkan tidak pernah mau memakainya, aku ingin membuangnya.
__ADS_1
"HAH?, A..aku harus memakai yang ini?" Tanyaku lagi,
"Iya. Tunggu apa lagi? Ayo sana ganti" perintahnya.
Aku cemberut dengan kesal karena dia hanya bisa memerintah dan mendesak untuk melakukan semua yang dia inginkan kepadaku, sedangkan aku bahkan tidak bisa melawannya, seandainya saja aku tidak membutuhkan dia dan tidak menumpang di rumahnya, aku juga tidak sudi harus menuruti semua kemauannya itu, karena ini sangat menjengkelkan.
Dengan perasaan kesal aku segera pergi dan terpaksa mengganti pakaianku dengan pakaian yang dia berikan, lalu kami pun segera pergi menuju mobil dan tuan Arnold membawaku berkeliling dengan mobilnya, harusnya saat ini aku merasa senang karena bisa berjalan-jalan keluar dan tidak duduk suntuk di dalam kamar tanpa melakukan apapun.
Tapi ketika melihat lagi pakaian yang aku kenakan rasanya sangat menyebalkan dan aku merasa sangat kesal.
"Kenapa kau terus memasang wajah menyebalkan itu?" Tanya tuan Arnold padaku,
"Tuan kau tahu aku tidak suka dengan pakaian ini, aku benci pakaian ini, ini jelek, kusam, dan warnanya tidak kontras, ini memalukan jika dilihat orang lain" balasku dengan jujur.
Pakaian yang dipilihkan tuan Arnold.
Tapi tuan Arnold tidak mengetahui itu dan aku juga tidak ingin mengatakan alasan yang sebenarnya kepada dia, aku tidak ingin dia terlibat dalam masalah keluargaku jadi aku memilih untuk menyembunyikannya saja.
"Aishh...apa kau mau memakai pakaian yang pendek dan mengekspos paha mulus mu itu, iya!" Bentak tuan Arnold marah lagi.
Aku tidak mengerti dengan dirinya hari ini, dia terlihat baik dan perhatian pagi tadi, tapi berubah menjadi sangat sensitif dan pemarah ketika aku memakai pakaian yang sekretaris Ken belikan, padahal semua wanita juga memakai pakaian yang seperti itu.
"Tuan apa kau belum sarapan? Kenapa terus marah padaku hanya karena sebuah pakaian, kau aneh" ucapku merasa heran.
Dia pun menghembuskan nafas kasar dan langsung saja menghentikan mobil tepat di depan sebuah mal pusat perbelanjaan, aku baru sadar kalau dia membawaku ke mall, karena aku pikir dia hanya akan melewatinya saja.
__ADS_1
"Ehh...kenapa kita berhenti disini?" Tanyaku dengan menaikkan kedua alisku bingung.
Tiba-tiba tuan Arnold turun dari mobil dan dia membukakan pintu untukku lalu berjongkok di hadapanku, dan dia menepuk pundaknya menyuruhku untuk naik.
"Ayo naik, aku akan menggendongku" ucapnya begitu saja.
Aku kaget tidak karuan dan segera menyuruh dia untuk bangkit berdiri sebab banyak sekali orang di sekitar sana dan mereka mulai memperhatikan ke arah kami.
"Astaga...tuan apa yang kamu lakukan, ayo cepat bangun aku bisa berjalan sendiri kakiku sudah jauh lebih baik" balasku menyuruhnya,
"Sudah naik saja atau aku akan meninggalkanmu disini" balasnya kembali mendesakku.
Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan dia memang selalu mendominasi dan tidak bisa dibantah aku pun menurutinya dan perlahan melingkarkan tanganku di lehernya lalu dia pun mulai bangkit dan menggendongku di belakang bahunya, malu hanya itu satu kata yang bisa aku rasakan saat ini, semua orang menatap ke arahnya dan mereka seperti mengenali tuan Arnold layaknya seorang aktris terkenal.
"Wahhh....tuan Arnold, lihat ke sana bukankah itu tuan Arnold" ucap salah satu pengunjung disana,
"Iya itu tuan Arnold CEO perusahaan nomor satu di negeri ini, dia juga orang paling berpengaruh, waahh siapa wanita yang di punggungnya apa dia sudah menikah ya?" Tambah yang satunya lagi.
Mendengar semua ucapan orang-orang yang mengira aku saudaranya, pacarnya bahkan ada yang mengira aku istri tuan Arnold. Semua itu sungguh mengganggu bagiku dan aku hanya bisa menyembunyikan kepalaku untuk menahan rasa malu.
"Huaa....ini sangat memalukan, aku hanya orang asing, dan aku masih muda bagaimana bisa mereka mengira aku istrinya, sangat tidak cocok" gerutuku pelan merasa sedikit kesal.
Sedangkan tuan Arnold sendiri justru malah tersenyum kecil dan dia merasa senang di dalam hatinya ketika ada orang yang mengira Sesilia adalah pacar juga istrinya, dia sama sekali tidak keberatan dan semakin bersemangat untuk menggendong Sesilia, lagi pula baginya Sesilia sangat ringan dengan tubuh langsung dan mungil yang dia miliki.
Karena merasa sangat malu, aku terus berusaha untuk meminta tuan Arnold agar menurunkan aku dari gendongannya itu.
"Tu...tuan...bisakah kamu turunkan aku, aku malu dilihat banyak orang seperti itu" ucapku berbisik di samping telinganya.
__ADS_1
Tanpa Sesilia sadari tingkahnya itu justru membuat tuan Arnold merasa tidak nyaman dan bisikan yang di berikan oleh Sesilia pada tuan Arnold itu sungguh membuat dirinya merasa tidak nyaman dan geli sendiri.