
"Hey... Lihat ke atas sini, ayo cepat!" Bentak Siska sambil menjambak ku,
Aku tidak terima dengan semua penghinaan yang dia berikan kepadaku dan aku tidak mau menuruti semua yang dia perintahkan kepadaku.
"Tidak.... Aku tidak akan menurutimu, lepaskan aku Siska sebelum aku benar-benar marah padamu!" Bentakku melawannya,
"Hah?..... Apa? Kau mau marah padaku? Ahaha... Jangan terlalu berharap Sesilia, sampai kapanpun kau tidak bisa marah apalagi membalaskan dendam padaku, apa kau lupa kejadian sebelumnya dimana kau aku buang di tengah jalan hahaha... Tapi rupanya kau memiliki keberuntungan karena tidak mati saat itu, sekarang mari kita lihat apa kau masih memiliki keberuntungan yang sama seperti sebelumnya atau tidak? Teman-teman ayo tinggalkan dia sendirian" ucap Siska sambil menendang tubuhku kuat.
Aku meringis kesakitan dan merasakan dingin yang menusuk tulang karena sebelumnya Siska mengguyur kepalaku dengan air es yang sangat dingin, mereka pergi begitu saja meninggalkan aku tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"SISKA... AKU TIDAK AKAN MEMAAFKAN SEMUANYA!" teriakku sangat kencang.
Sebenarnya saat itu suara teriakkan Sesilia yang mengancam pada Siska membuat dia merasa merinding dan sedikit takut, namun karena Siska keras kepala dia tidak memikirkannya lebih lama lagi dan mengabaikan rasa takut di dalam dirinya itu.
Sedangkan aku berusaha melepaskan diri dengan semua sisa-sisa kekuatan yang ada di tubuhku, aku berusaha keras melonggarkan ikatan di tanganku namun tali yang mengikatnya terlalu kuat, aku bahkan merasakan pergelangan tanganku sakit dan lecet karena terus bergesekan dengan tali itu.
Walau begitu aku tidak menyerah dan berusaha keras bergeser terus hingga memotong tali itu dengan ujung keramik yang tajam di tangga yang tidak jauh dari sana.
Aku berusaha payah untuk melepaskan diri hingga akhirnya tanganku berhasil terbuka dari tali yang mengikatnya dan aku segera melepaskan ikatan di kakiku lalu berusaha keras untuk bangkit berdiri dengan sisa-sisa kekuatan di dalam diriku.
Aku berdiri dengan perlahan sambil membersihkan banyak sayuran dan tepung yang menutupi wajahku, aku memegangi dinding gedung itu dan berjalan dengan penuh perjuangan hingga sampai di depan gerbang dan aku lihat sekretaris Ken sudah berdiri di depan mobil menungguku.
"Se... sekretaris Ken... Tolong!" Ucapku berusaha memanggilnya lebih keras namun aku sudah tidak tahan lagi dan langsung terjatuh ke bawah.
Untungnya sekretaris Ken menyadari keberadaanku dengan cepat dan dia segera menolong aku.
"Sesilia?" Ucap sekretaris Ken sangat kaget saat melihat Sesilia sangat berantakan dan berbau busuk.
Sekretaris Ken langsung menggendong Sesilia dan memasukkannya ke dalam mobil, dia segera membawa Sesilia ke rumah sakit terdekat saat itu juga dan pihak rumah sakit segera membersihkan tubuhnya terlebih dahulu, sedangkan sekretaris Ken segera menghubungi tuan Arnold yang saat itu masih berada di perusahaan.
Tuan Arnold sangat panik ketika mendengar kabar tersebut dan dia segera membatalkan meeting pentingnya lalu langsung berangkat ke rumah sakit yang sudah di kirimkan alamatnya oleh sekretaris Ken.
Di perjalanan tuan Arnold bahkan membentak semua orang yang menghalangi jalannya dia terus saja menekan klakson mobilnya terus menerus dan meminta semua orang agar menyingkir dari jalannya, dia melajukan mobil di atas rata-rata hingga dia sampai di rumah sakit dia langsung menemui sekretaris Ken dengan wajah yang panik dan penampilan yang sangat berantakan.
Hingga sekretaris Ken yang melihatnya pun merasa kaget dan membuka matanya lebar.
"Tuan .. apa kau mendaki gunung dan menyelami lautan untuk sampai ke sini, kenapa kau berantakan sekali?" Tanya sekretaris Ken merasa heran.
Dan lebih herannya lagi jarak antara rumah sakit itu dan perusahaan cukuplah jauh, namun tuan Arnold bisa menempuhnya hanya dengan beberapa menit saja.
"Dimana dia... Bagaimana keadaannya sekarang?" Tanya tuan Arnold sambil mengguncang kedua pundak sekretaris Ken hingga membuat kepala sekretariat Ken sedikit pusing di buatnya.
"Aduh ...duh .. tuan bisakah kau berhenti mengguncang tubuhku, aku akan muntah jika kau terus mengguncangnya begitu" ujar sekretaris Ken sambil memegangi kepalanya sedikit pusing.
__ADS_1
"Cepat jawab Ken, dimana dia sekarang?" Bentak tuan Arnold membuat sekretaris Ken takut dan dia langsung menunjuk ke arah ruang rawat tempat dimana Sesilia beras.
Sebab saat itu Sesilia baru saja di pindahkan ke ruang rawat VIP dan dokter baru saja selesai memeriksa dia tepat ketika tuan Arnold tiba.
Melihat itu tuan Arnold langsung masuk ke dalam ruangan itu dan dia melihat aku yang sudah siuman dan saat itu aku tengah berusaha bangkit untuk duduk di ranjang rumah sakit namun tiba-tiba saja tuan Arnold masuk ke dalam ruangan itu, dia memanggil namaku dengan sangat keras.
"Sesilia...." Teriak tuan Arnold dengan nafasnya yang ngos-ngosan dan dia langsung berlari ke arahku lalu memelukku begitu saja.
Dia memelukku dengan sangat erat hingga aku menepuk punggungnya beberapa kali untuk membuat dia segera melepaskan pelukannya dari tubuhku, sebab aku hampir kehabisan nafas dan sesak karena dia memelukku sangat erat.
"E..ehh ...tuan.. lepaskan .. hey aku... Tidak bisa bernafas" ucapku berusaha berontak.
Akhirnya dia pun melepaskan pelukannya dariku dan aku bisa langsung menghembuskan nafas lega, dengan menatapnya sedikit kesal sebab dia langsung memegangi kedua pundakku dan terus memeriksa tubuhku dengan menangkup wajahku menggunakan kedua tangannya dan terus membulak balikkan badanku membuat aku pusing dan tidak nyaman karenanya.
"Sesilia.. apa yang terjadi denganmu? Apa kau baik-baik saja? Mana saja yang terluka, coba aku periksa, dimana yang sakit?" Ucapnya terus bertanya bertubi-tubi kepadaku,
"Aduhhh ... Tuan berhenti!" Bentakku sedikit keras hingga akhirnya dia menghentikan perbuatannya itu karena aku menghempaskan tangannya dengan kuat.
Tuan Arnold terlihat bingung dan dia menatapku dengan menaikkan kedua alisnya ke atas, meminta penjelasan kepadaku karena aku Barus saja menghempaskan tangannya dan sedikit mendorong dia ke belakang.
"A...a..ahh... Maaf tuan tadi aku hanya refleks saja, aku tidak bermaksud berbuat kasar padamu" ucapku merasa bersalah,
"CK... Ternyata kau baik-baik saja, bahkan masih kuat untuk mendorongku, aishh sia-sia saja aku mencemaskanmu sampai meninggalkan meeting penting di perusahaan" ucap tuan Arnold sambil menatapku dengan tajam.
Aku hanya bisa tersenyum kepadanya, dan ku pikir dia tidak seperduli itu padaku sampai mengorbankan meetingnya demi menemuiku, mengetahui itu aku semakin merasa bersalah karena sudah mendorongnya dia juga memalingkan pandangan padaku bahkan ketika sekretaris Ken masuk ke dalam ruangan tuan Arnold masih memalingkan pandangannya dariku dan wajahnya kembali menjadi datar dan dingin.
Dia tetap terlihat kecewa dan tidak memaafkan aku bahkan dia langsung keluar dari ruangan itu dan segera kembali ke kantornya dan meninggalkan aku begitu saja dia hanya menyuruh sekretaris Ken untuk mengantarkan aku kembali ke rumah dan aku hanya bisa menurutinya.
Saat itu aku tidak bisa berjalan dengan benar karena pergelangan kakiku lecet dan perih begitu juga dengan kedua pergelangan tanganku yang sama lecet dan terlukanya akibat gesekan yang di sebabkan oleh tali yang mengikat aku sebelumnya.
Sekretaris Ken bukannya membantuku dia malah langsung berlari menyusul tuan Arnold.
"Aahh.... Kau tidak bisa berjalan yah, tunggu disini aku akan mencari tuan Arnold dulu" ucap sekretaris Ken sambil langsung berlari meninggalkan aku begitu saja,
"Aishh... Apa apa sih dengan manusia itu, kenapa malah meninggalkan aku semuanya, sekarang aku harus berjalan sendiri dengan kaki dan tangan yang cedera seperti ini, sial!" Gerutuku bicara sendiri.
Aku berusaha turun dari ranjang rumah sakit yang cukup tinggi untukku lalu aku segera berjalan keluar dengan pelan dan merayap di pinggir dengan tangan yang menyentuh dinding untuk tumpuan dan pegangan agar aku tidak jatuh jika kehilangan keseimbanganku secara tiba-tiba.
Sampai tidak lama terlihat tuan Arnold berjalan dengan cepat ke arahku hingga mbuat jas panjang yang dia kenakan bergoyang karena menerpa angin saking cepatnya dia berjalan.
Di sampingnya juga ada sekretaris Ken yang menatapku dengan tatapan cemas sedangkan setelah dekat tuan Arnold langsung menggendong tubuhku tanpa aba-aba terlebih dahulu, bahkan aku belum sempat bertanya kepadanya namun dia sudah menggendong aku dan dengan cepat membawa aku hingga masuk ke dalam mobil bersamanya.
"Eh ...eh... Tuan bukannya tadi kau sudah pergi dan harus kembali ke kantor yah, kenapa kembali lagi dan malah menggendongku?" Ucapku bertanya kepadanya dengan heran,
__ADS_1
"Sudah diam, kau ini dasar menjengkelkan, kenapa kau sangat lemah dan malah terluka seperti ini? Aishh.... Tanganmu lecet begini kau masih bilang bahwa kau baik-baik saja" ucap tuan Arnold sambil memeriksa kedua tanganku dan membolak-balik terus menerus,
"Tuan aku memang baik-baik saja, ini tidak masalah kok, ini hanya luka kecil saja aku tidak papa" balasku kepadanya.
Dia tidak mendengarkan aku dan terus saja menarik tanganku dan memeriksanya dia juga bahkan memeriksa kakiku yang lecet dan malah memarahiku karena terdapat luka di kaki dan tanganku.
"Aishh.... Apa kau ini bodoh? Bagaimana bisa kau membuat luka di kaki dan tanganmu seperti ini, apa kau di rundung oleh teman-temanmu? Apa kau tidak bisa melawan hah?" Bentak dia sambil terus memeriksa kaki dan tanganku.
Aku segera menariknya dengan segera dan langsung menggeser tempat duduk darinya karena dia terus saja memeriksa tangan dan kakiku, aku sungguh merasa tidak nyaman dengannya karena dia terlalu memperhatikan aku dan selalu melindungi aku dengan sangat baik.
Aku bahkan terharu dengan sikap yang dia perlihatkan kepadaku dan ketika dia bertanya seperti itu hatiku sungguh bergetar di buatnya, rasanya sangat sakit apalagi ketika mengingat semua yang aku terima dari keluargaku sendiri, terutama ayahku sendiri yang tega membuang aku dan memperlakukan aku dengan buruk hanya demi membela dan memasukkan wanita dan anak simpanannya ke dalam rumah milikku dan ibu.
Saat itu seketika duniaku runtuh namun tidak pernah aku sangka, rupanya tuhan masih berkehendak kepadaku dan tuhan masih memberikan aku kepercayaan juga kebahagiaan di dunia ini, tuhan datangkan seorang tuan Arnold yang luar biasa melindungi aku dan mau menampung aku di rumahnya padahal dia sama sekali tidak mengenali aku sebelumnya, namun dia justru menjadi orang pertama yang menolong aku dan melindungi aku.
Aku menangis saat itu juga di hadapannya dan aku tidak bisa mengungkapkan apa alasan aku menangis kepadanya.
"Hiks....hiks...hiks...heuu....heuuu....heuu...." Suara tangisanku yang pecah begitu saja.
"Eh...eh...ada apa denganmu? Apa aku membentakmu terlalu keras? Kenapa kau malah menangis atau apa ada yang sakit di badanmu, katakan kenapa kau malah menangis?" Tanya nya padaku dengan heran.
Aku tidak bisa menjawabnya dan aku terus menangis lebih keras lagi hingga dia akhirnya memelukku dengan erat dan memberikan ketenangan juga kehangatan dalam dirinya untukku.
"Aaah ...sudah....sudah kau tidak perlu menjawabnya, tenangkan dirimu, ada aku disini" ucapnya sambil memelukku dengan erat.
Aku terus menangis hingga aku tertidur dalam pelukannya, dan entah kenapa ketika berada di dalam pelukannya aku merasa sangat tenang dan dia begitu hangat untukku, dia adalah satu-satunya orang yang tersisa di sampingku di saat aku begitu berat dalam menjalani hari.
Bahkan di titik terpurukku dia yang membantu aku membawaku dengan bangga ke pesta itu dan sekan membalaskan rasa sakitku kepada Siska dan Brain, meski pada akhirnya itu justru menimbulkan hal berbahaya untukku juga.
Tapi aku tetap senang karena memiliki orang yang bisa membelaku, memihakku dan selalu ada di sampingku dikala aku membutuhkan pelukan dan tempat sandaran, oleh karena itu aku selalu merasa nyaman dalam pelukannya.
Disisi lain tuan Arnold yang sudah tidak mendengar Isak tangis dari Sesilia lagi dia pun merasa lebih tenang tetapi dia tetap menyimpan dendam dan kekesalan karena melihat Sesilia yang seperti ini hingga harus masuk ke dalam rumah sakit, dan ketika tuan Arnold melihat lagi tangan Sesilia yang terdapat bekas lecet dari sebuah tali yang seperti mengikatnya dia mulai merasa curiga meski Sesilia tidak mengatakan apapun kepada dia sebelumnya.
"Bekas lecet ini.... Aku yakin ini pasti bekas ikatan yang sangat kuat, tapi siapa yang berani melakukan ini padanya?" Gerutu tuan Arnold pelan.
Sepanjang perjalanan dia harus menahan tubuh Sesilia yang memeluknya hingga membuat tangannya mati rasa tapi dia tetap mengesampingkan kesehatan tangannya sendiri karena dia tidak ingin membangunkan Sesilia.
Hingga sampai di kediamannya tuan Arnold segera menggendong Sesilia dan menurunkannya di tempat tidur dengan perlahan lalu menyelimutinya dengan lembut, bahkan tuan Arnold terus merasa sedih ketika melihat kaki dan tangan Sesilia yang lecet seperti itu.
Dia langsung mendatangi sekretaris Ken dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi pada Sesilia hingga dia bisa di bawah ke rumah sakit disaat dia menjemputnya, hingga sekretaris Ken pun mulai menjelaskan secara perlahan.
"Ken apa yang sebenarnya terjadi, kenapa dia bisa seperti itu?" Tanya tuan Arnold secara langsung,
"Maaf tuan tapi saya juga tidak terlalu mengetahui detail kejadiannya namun saat saya menunggu Sesilia dia tiba-tiba saja memanggilku dan langsung jatuh pingsan, tapi yang aneh adalah keadaan tubuhnya yang sangat mengkhawatirkan, tubuhnya penuh dengan sayuran busuk, tepung dan telur aneh hingga di rumah sakit dia harus membersihkan dirinya dengan sabun dan wewangian lainnya, di beberap bagian tangan dan punggungnya juga ada lebam, aku rasa dia mendapatkan bullyan dari temannya di kampus" ucap sekretaris Ken menjelaskan dan memberikan dugaannya,
__ADS_1
"Cari tahu semuanya dengan detail, aku berjanji tidak akan melepaskan pelakunya, siapapun dia!" Ucap tuan Arnold dengan sorot mata yang di penuhi dengan emosi.
Sekretaris Ken segera mengangguk patuh dan dia segera pergi kembali ke kantor untuk menyelesaikan tugas dan mencari tahu semuanya dengan lebih jelas lagi.