
Aku hanya tersenyum menatapnya dan melambaikan tangan kepada dia dengan santai karena aku pikir itu tidak akan masalah lagi pula aku juga tinggal bersama dengannya.
"Hai...." Ucapku sambil melambaikan tangan dan tersenyum ceria.
Tapi tiba-tiba saja sekretaris Ken menarik tanganku dan menyuruhku untuk memberikan hormat seperti yang dia lakukan sebelumnya kepada tuan Arnold sedangkan aku tidak ingin melakukannya.
"Nona Sesilia tolong beri hormat pada tuan Arnold" ucapnya menyuruhku dengan tatapan yang cukup menyeramkan hingga membuatku kesulitan menelan salivaku sendiri,
"Ehh, kak Ken untuk apa lagian aku kan bukan karyawannya, lihat dia saja tersenyum padaku dan aku yakin dia juga tidak keberatan iya kan tuan robot" ucapku sambil menatap ke arah tuan Arnold.
Ku pikir sebelumnya dia memang menatapku dengan tersenyum tapi kini saat aku memeriksanya lagi wajahnya sudah berubah datar bahkan terlihat sangat serius sehingga membuatku merasa heran dan terpaksa aku menuruti perintah dari sekretaris Ken untuk memberinya hormat.
"Aishh....iya iya ini aku menunduk" ucapku sambil membungkuk sejenak lalu kembali berdiri tegak.
Tidak lama setelah aku memberi hormat tuan Arnold mulai memberikan perintah kepada sekretaris Ken, sedangkan di saat aku hendak pergi mengikuti sekretaris Ken dia justru berteriak kepadaku dan tidak mengijinkan aku untuk pergi mengikuti sekretaris Ken.
"Ken siapkan berkas untuk meeting hari ini bersama staf kantor" ucap tuan Arnold melontarkan perintahnya.
Sekretaris Ken membungkuk lagi dan dia segera pergi dari ruangan itu, aku berbalik hendak mengikuti langkah sekretaris Ken tapi tuan Arnold tiba-tiba saja memanggilku sehingga aku langsung menghentikan langkahku dengan refleks.
"Hey kau, bocah kecil siapa yang memperbolehkan mu keluar dari ruanganku!" Ucapnya dengan nada yang dingin,
"Ehhh....lalu aku harus kemana, apa aku harus tetap berdiri di depanku seperti ini?" Tanyaku yang langsung membalikkan badan menghadap lagi ke arahnya.
Dia tersenyum sekejap lalu dia melambaikan tangannya menyuruhku untuk mendekati dirinya, aku sebenarnya sedikit kesal tapi karena penasaran aku tetap menghampiri dia dan berjalan dengan malam menghampirinya hingga aku berdiri tepat di samping mejanya.
"Ada apa kau menyuruhku kemari?" Tanyaku kepadanya dengan wajah yang ditekuk,
__ADS_1
"Ayo duduk" ucapnya sambil menepuk ke pangkuannya sendiri.
Aku membuka mataku dengan lebar dan jelas sekali aku langsung marah karena ulahnya tersebut yang menyuruhku duduk diatas pangkuannya.
"Ehhh...apa maksudmu?" Bentakku sangat kesal.
Dia langsung menarik tanganku dengan cepat hingga aku terbawa olehnya dan jatuh langsung terduduk diatas pangkuannya begitu saja, aku langsung berusaha berontak dan ingin turun dari pangkuannya itu tapi dia terlalu kuat dan memelukku dengan erat hingga aku bahkan sulit untuk bergerak apalagi melarikan diri darinya.
"Ehh, hey....lepaskan apa yang kau lakukan padaku, lepaskan aku...." Teriakku sambil berusaha melepaskan diri darinya.
Bukan melapaskan aku dia justru semakin mempererat pelukannya, sehingga aku sulit sekali untuk melepaskan diri bahkan aku hampir kesulitan bernafas karena dia yang memelukku terlalu erat.
"Eugh...he..heyy lepaskan jangan memelukku terlalu erat, aku sulit bernafas" ucapku sambil memukul punggungnya pelan.
Dia pun akhirnya melepaskan pelukannya dariku dan kembali membuka komputer dihadapannya lalu dia mengetuk sesuatu di komputernya tersebut sedangkan aku hanya bisa menatapnya keheranan dan melihat wajahnya yang begitu dekat dengan wajahku.
"Kau...boleh aku pindah sekarang, aku merasa tidak nyaman jika terus duduk di pangkuanmu lagi pula kau juga kan harus bekerja jika kau bekerja sambil mendudukkan aku di pangkuanmu kau juga akan kesulitan, tolong lepaskan aku" ucapku memohon kepadanya.
Dia tetap tidak mendengarkan permohonan ku dan hanya terus fokus dengan komputer dihadapannya, aku juga tidak mengerti dengan apa yang tengah dia kerjakan hingga terdengar ketukan pintu dari luar dan dia menyatu mempersilahkan untuk masuk, sedangkan aku merasa panik aku tidak ingin orang lain melihat aku dalam pangkuan pria dingin tersebut.
"Hey...kau mempersilahkan orang lain masuk sedangkan akuasih duduk disini, apa yang kau inginkan mereka akan salah paham jika melihatku disini cepat turunkan aku" ucapku berontak.
"Ini hukuman untukmu jadi diam dan jangan banyak bergerak atau kau akan membangunkan diriku" ucapnya membuatku tidak mengerti dengan apa yang dia katakan.
Aku pun hanya bisa terdiam hingga seorang wanita datang dan membungkuk memberi hormat lalu memberikan sebuah berkas yang harus ditandatangani oleh pria tersebut, lalu dia mulai menandatanganinya satu per satu sedangkan wanita itu bertanya mengenai aku kepada tuan Arnold secara langsung.
"Maaf tuan boleh saya tahu siapa gadis kecil di pangkuanmu ini?" Tanya perempuan itu dengan sedikit ketakutan.
__ADS_1
"Dia calon istriku" balasnya yang membuat aku terbelalak kaget begitu juga dengan perempuan yang menanyakan hal tersebut.
"HA?, hey...apa yang kau katakan aku bukan calon istrimu, kak jangan percaya dengan ucapannya dia hanya bercanda aku ini adiknya iya..haha aku adiknya" ucapku segera membuat alasan,
"Maaf nona tapi setahu saya tuan Arnold adalah putra tunggal" balas wanita itu membuatku kembali terperangah dan bingung harus menjawab apa,
"Aishh....yang benar saja dia ini, menyebalkan sekali sekarang apa yang harus aku jawab pada wanita ini, dia pasti akan mempercayai si manusia robot di bandingkan aku" gerutuku di dalam hati memikirkan.
Tuan Arnold selesai menandatangani semua berkasnya dan dia memberikan semua itu kembali kepada wanita tersebut lalu menyuruhnya untuk segera pergi dari ruangan tersebut.
"Ini berkasnya kau bisa kembali sekarang" ucapnya sambil menyerahkan berkas tersebut.
Wanita itu membungkuk dan berpamitan lalu segera berjalan meninggalkan tempat itu dengan cepat sedangkan aku sudah tidak bisa sabar lagi dalam menghadapi pria menyebalkan ini, aku melampiaskan kekesalan ku dengan menggigit pipinya hingga dia akhirnya mau melepaskan aku dan aku langsung bangkit berdiri.
"Eughh...rasakan itu, anggap saja itu balasan karena kau sudah mempermainkan aku!" Ucapku dengan kesal dan menatapnya dengan penuh kebencian,
"Aishhh....dasar gadis nakal, berani sekali kau menggigitku, bagaimana jika aku menggigitmu kembali" ucapnya sambil bangkit berdiri dan mendesakku hingga terpentok ke dinding,
"AA..a...apa yang mau kau lakukan padaku, menjauhlah dariku" ucapku sambil menahan dadanya dengan kedua tanganku.
Dia hanya memperlihatkan senyum menyeramkan dan itu membuatku benar-benar takut hingga tidak berani menatapnya dan aku segera menutup mataku karena takut.
Tapi ternyata dia justru hanya mencium keningku lalu menggosok rambut bagian atasku dengan sedikit kasar lalu melepaskan aku begitu saja.
"Ha...dasar kau gadis nakal" ucapnya sambil kembali duduk di meja kerjanya dan memberikan pipinya yang tadi aku gigit dengan tisyu.
Visual tuan Arnold Albertus
__ADS_1