Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Ibuku


__ADS_3

Pagi itu ketika selesai sarapan bersama aku langsung berniat untuk berpamitan pulang kepada tuan Bramantyo karena sudah tidak tahan lagi melihat wajah Brain yang sangat menyebalkan dan hanya membuatku terus dipenuhi dengan emosi yang menggebu.


"Tuan saya permisi untuk pulang" ucapku sambil membungkuk memberi hormat,


"Baik tapi biarkan Brain mengantarmu, sekalian dia juga akan pergi ke kantor dan itu searah, jangan menolaknya ini perintah!" Ucap tuan Bramantyo telah mengeluarkan perintah.


Aku hanya mengangguk dan tidak bisa mengatakan apapun lagi kecuali persetujuan, lalu aku dan Brain segera keluar dari sana dan masuk ke dalam mobilnya, saat berada di dalam mobil tidak ada pembicaraan diantara aku dan dia hingga tiba-tiba saja dia menghentikan mobilnya di tengah jalan layang dan mengusirku untuk keluar dari mobilnya.


"Keluar!" Ucapnya mendominasi,


"Hah?, Apa apaan kau ini, kau akan menurunkanku di tengah jalan seperti ini?" Tanyaku dengan heran dan kesal,


"Aku tidak ingin mengantarmu, cepat keluar sana, kau mengotori mobilku saja" ucap Brain sambil mendorongku keluar,


"Aaaahhh...aishh Brain sialan kau dasar b*jingan huuh....awas kau Brain!" Teriakku terus merutuki pria menyebalkan itu sekuat tenagaku.


Dia sama sekali tidak memiliki hati dan perasaan dia terus pergi begitu saja dan benar-benar meninggalkan aku di tengah jalan begitu saja, terlebih itu adalah jalan layang, tidak akan ada yang bisa membawaku ataupun angkutan umum yang akan berhenti di tengah jalan seperti itu, sehingga pilihanku hanya satu yaitu berjalan kaki hingga ke ujung jalan.


"Huftt...aku memakai sepatu hak tinggi seperti ini, dan harus berjalan dengan jarak yang jauh, bagaimana bisa dia tega melakukan ini padaku" gerutuku sambil terus berjalan dengan membuka sepatuku.


Aku sudah tidak perduli lagi meski kaki polosku mengenai jalanan yang panas dan rasanya terbakar, aku tidak bisa membuat diriku sendiri terlindungi dan harus berjalan kaki dengan jarak yang jauh dan diterpa teriknya matahari, keringat juga sudah bercucuran di dahiku sehingga aku memilih untuk beristirahat sejenak sampai tak lama sebuah mobil berhenti tepat di depanku.


Dan ternyata keluarlah Tante Maria dari dalam sana, aku sangat senang dan langsung memeluk Tante Maria saat itu juga.


"Tante?" Ucapku dengan keras dan langsung memeluknya,


"Hey, ada apa denganmu sayang, kenapa kau seperti ini ayo masuk dulu" ucap Tante Maria sambil membukakan pintu bagi Sesilia.


Aku langsung masuk ke dalam dan tanpa sadar air mata ternyata sudah mengalir keluar dari pelupuk mataku, Tante Maria memang sempat bertanya mengenai keadaanku dan alasan mengapa aku menangis di pinggir jalan seperti tadi, namun aku belum bisa mengatakan yang sebenarnya karena aku tahu jika Tante Maria mengetahui semuanya dia pasti akan berbuat sesuatu untuk membatalkan pertunangan ini namun aku tidak bisa melakukannya.


Seandainya ayah sama dengan apa yang aku pikirkan, aku juga akan tetap melakukan hal ini karena membutuhkan uang untuk biaya berobat ibuku, untungnya Tante Maria memahamiku dan dia tidak lagi mendesakku untuk menceritakan apa yang tengah aku rasakan dan apa yang terjadi kepadaku saat itu.

__ADS_1


"Tidak papa Sesilia jika memang kamu tidak ingin berbagi denganku, kamu boleh menyimpan rahasiamu sendiri namun ingat jika kamu sudah tidak sanggup menampungnya sendiri, kamu harus datang padaku dan berbagilan denganku" ucap Tante Maria sambil mengusap punggungku dengan lembut.


Aku benar benar merasakan kehangatan seorang ibu darinya dan aku sangat menyayanginya, dia adalah satu-satunya orang yang perduli dan menyayangiku dengan tulus disaat semua orang sudah pergi meninggalkanku dan tidak ada yang mendukungku lagi kecuali ibuku dan dirinya.


Hingga ketika sampai di rumahku nampak pintu rumah sudah terbuka dan tiba-tiba saja sebuah tas terlempar keluar dan hampir mengenai Tante Maria seandainya aku tidak menendang tas itu dengan cepat.


"Tante awas..." Ucapku sambil langsung menendang tas yang melayang itu dengan kakiku,


"Tante apa kau baik-baik saja?" Tanyaku memastikan dengan sedikit panik,


"Aahh...aku baik baik saja Sesilia, tapi apa yang sedang terjadi di dalam, bukankah hanya ada ibu Laura dan ayahmu saja?" Tanya tante Maria mengerutkan kedua alisnya bersamaan.


Aku langsung teringat dengan ibu dan segera masuk ke dalam secepatnya hingga saat aku masuk aku melihat ibuku yang tengah di dorong dari kursi rodanya oleh seorang wanita tua yang tidak tahu diri.


"Brakkk....aaawww..." Suara ibuku yang jatuh dari kursi roda dan dia meringis kesakitan,


"IBU?..." teriakku sambil berlari menghampirinya dan berusaha membangunkan ibuku,


"Ibu ada apa ini?, Kenapa mereka bisa masuk kesini ibu?" Tanyaku dengan heran.


Ya mereka berdua adalah Dona dan Siska, orang yang mendorong ibuku dengan keras hingga jatuh ke lantai adalah Dona sehingga aku berjalan dengan tangan yang aku kepalkan dengan kuat lalu berjalan perlahan menghampirinya.


"Kau...berani sekali kau mencelakai ibuku di rumahnya sendiri, rasakan ini....plakkk" sebuah tamparan yang aku berikan kepada Dona tepat mengenai pipi kanan Dona.


"Aaaahhh....kau dasar j*Lang sialan! Beraninya kau menamparku!" Bentak Dona sambil memegangi pipinya yang mulai memerah karena tamparan dariku.


Aku sedikit merasa puas karena bisa membalaskan rasa sakit yang diterima oleh ibuku karenanya, namun tiba tiba saja Siska datang ke arah ibuku dengan tangannya yang membawa sebuah pas bunga lalu dia melemparkannya ke arah ibuku dan aku sangat kaget sehingga langsung berlari menghampiri ibuku untuk menyelamatkannya, tapi sayang aku ditahan oleh Dona dengan kuat dan Tante Maria tidak berhasil menyelamatkan ibuku sehingga pas itu pecah mengenai kepala ibuku dengan keras hingga membuat ibuku tak sadarkan diri saat itu juga.


"Kau menampar ibuku.... Ini adalah pelajaran untukmu rasakan ini...." Ucap Siska sambil melempar pas itu dan mengenai kepala ibuku.


Darah segar mengalir dari kepala ibuku dan kakiku gemetar sangat lemas melihat ibuku mengeluarkan banyak darah dari kepalanya aku langsung mendorong Dona hingga dia jatuh tersungkur ke lantai dan aku segera berlari menghampiri ibuku.

__ADS_1


"Bu...ibu aku mohon bertahanlah ibu....hiks...hiks..." Ucapku dengan hati yang gemetar dan tangan yang aku gunakan untuk menekan luka di kepala ibuku,


"Sayang ibu baik-baik saja, sekarang ibu sudah benar-benar pulih, kamu harus menjalani hidupmu dengan baik jangan perduli kan ibu nak, pergi...pergilah dari samping Johana, dia orang jahat Sesilia kau tidak boleh tertipu olehnya" ucap ibuku dengan suara pelan dan perlahan matanya tertutup.


"Tidak...tidak....ibu kau tidak boleh meninggalkanku dengan cara seperti ini, ibu bangun! Ibu....ibuku" teriakku dengan menangis histeris.


Aku dan Tante Maria segera menggendong ibu dan membawanya ke rumah sakit, sepanjang perjalanan aku sangat panik dan terus menangis keras sambil berusaha membangunkan ibuku dengan segala cara yang bisa aku lakukan.


Sedangkan disisi lain Dona dan Siska mereka juga ketakutan karena secara tidak langsung Siska bisa saja diduga sebagai seorang pembunuh dan bisa dipenjarakan oleh Sesilia namun disisi lain mereka juga berharap Laura agar mati supaya mereka bisa menempati rumah mewah tersebut. Karena ketakutan dan panik mereka pun segera menghubungi Johana yang saat itu masih berada di perjalanan menuju kantornya, setelah mendengar berita dari Dona, Johana segera kembali ke rumah dan melihat darah di lantai yang diduga darah dari Laura.


Johana marah besar dan dia menampar Siska dengan keras karena telah menyebabkan keributan ini namun Dona segera menghentikan Johana.


"Kau beraninya mencelakai istriku di rumahnya sendiri, plakkk...." Sebuah tamparan yang dilayangkan oleh Johana pada Siska,


"Ayah berani kau menamparku, dia pantas untuk mati!" Bentak Siska dengan lantang.


Dia tidak terima karena mendapatkan tamparan seperti itu dari ayahnya dan dia selalu merasa iri juga cemburu terhadap Sesilia yang bisa mendapatkan kasih sayang dari ayahnya padahal selama ini dia merasa dia juga putri ayahnya namun tidak bisa menikmati kekayaan yang dimiliki oleh ayahnya itu sehingga dia terus menyimpan dendam dan iri hati terhadap Sesilia.


Apalagi setelah mendengar Sesilia yang akan dijodohkan dengan Brain, dia pernah melihat sekali sosok Brain di dalam televisi sehingga dia langsung merasa iri dan semakin membenci Sesilia karena bisa mendapatkan pria setampan dan sekaya Brain. Dia selalu ingin merebut apa yang dimiliki oleh Sesilia termasuk rumah mewah, ayahnya dan Brain.


Johana semakin emosi ketika mendengar jawaban dari Siska yang masih tidak merasa bersalah setelah dia mencelakai Laura, Johana pun berniat memberikannya tamparan lagi untuk kedua kalinya, namun Dona berhasil menahan tangan Johana dengan memeluknya.


"Berhenti sayang, tolong jangan lukai lagi Siska, dia hanya seorang anak yang belum dewasa, dia tidak tahu apapun mengenai yang salah dan yang benar dia hanya terbawa emosi, aku mohon padamu dia juga putrimu juga" ucap Dona sambil kembali memasang wajah menyedihkan dan mulai mengeluarkan aktingnya.


Alhasil Johana pun menurunkan lagi tangannya dan dia kembali bersikap tenang dengan mengusap wajahnya beberapa kali dan tangan yang memegangi pinggangnya.


"Kalian... sebaiknya kalian tunggu disini aku akan memeriksa keadaan Laura" ucap Johana sambil segera bergegas pergi meninggalkan rumah itu.


Johana segera menghubungi Sesilia untuk menanyakan dimana lokasi rumah sakit tempat dia membawa ibunya sampai dia tiba disana dan Johana berlari menghampiri Sesilia lalu memeluknya dengan erat.


"Ayah....ibu yah ..dia dia harus dioperasi dia mengalami pendarahan di otaknya ayah....dia dalam bahaya sekarang...hiks...hiks..hiks...bagaimana dia ayah?" Ucapku dengan menangis histeris,

__ADS_1


Ayah mengusap lembut kepalaku dan dia terus menenangkan aku lalu membawaku duduk di depan ruang operasi, aku sangat berharap ibu bisa segera menyelesaikan masa masa kritisnya ini, aku tahu ibu orang yang kuat namun aku sangat mencemaskannya kali ini.


Dan aku tidak bisa berpikir apapun selain menangis dan mengkhawatirkannya bersama Tante Maria juga ayahku, untunglah saat itu ada Tante Maria sehingga aku merasa tidak benar-benar seorang diri disaat kondisi seperti ini.


__ADS_2