Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Masalah Pakaian


__ADS_3

Saat mendengar gerutuan Sesilia seperti itu tuan Arnold langsung memiliki ide di dalam pikirannya dan dia langsung masuk ke dalam kamar lalu menghampiri Sesilia.


Aku sempat kaget karena melihat dia yang tiba-tiba muncul dari balik pintu begitu saja, bahkan aku hampir saja terperanjat ke belakang jika saja kakiku tidak sakit.


"Astaga, ya ampun tuan aku pikir kau siapa mengagetkan aku saja" ucapku sambil mengelus dadaku yang kaget.


Dia hanya tersenyum sekilas dan itu begitu singkat aku bahkan hampir tidak bisa melihat senyum di ujung bibirnya tersebut.


"Wah.... Tuan apa kau baru saja tersenyum kepadaku?" Ucapku sangat kaget.


Aku masih tidak percaya karena sempat melihatnya tersenyum kecil walau hanya beberapa detik, maka dari itu aku menanyakannya secara langsung kepada dia untuk memastikan apa yang baru saja aku lihat.


Pasalnya aku tahu sejak pertama kali bertemu dengannya hingga saat ini, dia sama sekali tidak pernah terlihat memasang senyuman di wajahnya bahkan menatap dengan raut wajah yang santai saja tidak bisa, bahkan aku hanya melihat dua ekspresi saja pada wajahnya, pertama adalah ekspresi marah dan ekspresi paniknya tadi malam, setelah itu tidak ada lagi hanya wajah datar dan suasan dingin yang menyelimuti dirinya serta lingkungan di sekitarnya.


Saat aku menanyakan hal itu untuk memastikan dia nampak tenang-tenang saja dan hanya menatapku sambil menaikkan kedua alisnya beberapa kali.


"A..apa?, Kenapa kau menaikkan alismu seperti itu, apa maksudnya tuan?" Tanyaku dengan heran dan sedikit gugup,


"Sudah kau ganti pakaianmu aku akan mengajakmu berkeliling" ucapnya begitu saja.


Aku terperangah dan merasa heran, tidak biasanya dia bersikap seperti itu kepadaku dan pagi ini dia benar-benar terlihat sangat aneh, pertama dia membawakan bubur untukku dan mau menyuapi aku, lalu sekarang dia mau mengajakku untuk berjalan-jalan bersamanya.


Aku masih tetap duduk terdiam dan merasa sangat bingung sentara tuan Arnold sudah pergi dari kamarku sejak beberapa menit yang lalu.


"Aaahh.....sudahlah lebih baik aku bersiap-siap saja dahulu masalah dia benar atau tidaknya mengajakku pergi, itu terserah nanti saja" ucapku mengesampingkan hal yang mengganggu pikiranku.


Segera aku bangkit dan berganti pakaian dengan perlahan, lalu aku berusaha berdiri dengan pelan, aku sengaja menggunakan gaun pendek selutut karena jika aku memakai celana panjang itu akan terasa sakit jika menggores kakiku dan itu membuatku sedikit kesulitan untuk memakainya, dan lagi tidak ada satu pun celana panjang yang ada di dalam lemari, sekretaris Ken hanya membelikan aku gaun-gaun selutut juga pakaian yang lucu-lucu, sehingga aku hanya bisa memakai apa yang ada di dalam lemari tersebut.

__ADS_1


Aku juga tidak lupa menata rambutku sendiri barulah aku benar-benar keluar dari kamar dan berjalan dengan pelan karena kakiku masih terasa sangat sakit, aku baru saja keluar dari kamar dan ternyata ada tuan Arnold di samping pintu kamarku.


"Tuan, sedang apa kamu disini apa kamu menungguku ya?" Tanyaku kepadanya.


Tuan Arnold yang ketahuan bawah sedari tadi dia menunggu Sesilia berdiri di sana, dia pun segera memalingkan wajahnya dan berpura-pura untuk berjalan menuju ke bawah, dia terlihat begitu gugup dan membingungkan.


"A..ahh...tidak, siapa juga yang menunggumu aku hanya berniat untuk menunggumu di bawah, tapi kebetulan kau keluar saat ini" balasnya sangat tidak masuk akal.


"Oh begitu, tapi kebetulan sekali ya?" ucapku merasa heran.


Meski begitu aku juga tidak benar-benar perduli sehingga aku hanya menatapnya acuh tak acuh sampai tiba-tiba saja dia menatap ke arahku dengan lekat, dia memandangiku dari ujung rambut hingga ke kakiku, tatapannya sungguh membuatku sangat risih tapi justru malah dia yang tiba-tiba memarahiku sangat kasar.


"Aishh...heh, apa kau gila, lihat apa yang kau pakai kenapa kau memakai gaun putih seperti ini, dan itu apa apaan kau memakai gaun yang hanya setinggi lutut, apa kau mau memamerkan kaki putihmu itu hah?" Bentaknya memarahiku persis seperti yang sering ibuku lakukan.


Gaun yang dipakai Sesilia.



"Kenapa dengan pakaianku? Gaun ini bagus dan cocok untuk tubuhku, dengan memakai gaun ini aku merasa nyaman dan tidak akan mengenai kakiku yang sakit, aku juga bisa berjalan dengan leluasa, apa masalahnya?" Balasku dengan mengerutkan kedua alisku,


"Aahh...sudahlah cepat kau kembali ke dalam dan ganti lagi pakaianku ini, itu tidak cocok untukmu kau terlihat seperti tikus putih ketika memakainya cepat ganti pakaianmu!" Bentaknya sangat keras,


Aku tidak mengerti dengan apa yang dia pikirkan terhadapku sampai tega sekali malah menghinaku dan mengatai aku seperti tikus putih hanya karena aku memakai gaun tersebut, padahal gaun itu begitu cantik dan sederhana bagiku, aku sangat menyukai gaun putih polos tersebut, sayangnya aku tidak bisa mengenakannya saat ini karena orang gila yang mengamuk memintaku untuk menggantinya.


Aku kembali masuk ke dalam meski kakiku sakit dan terus menggerutu kesal merutuki dia selagi mengganti pakaianku.


"Dasar manusia robot, tidak memiliki hati, sialan aaarkhhh ada apa sih dengannya, kenapa dia mengaturku dan kenapa aku harus menuruti ucapannya, CK menyebalkan!" Gerutuku tiada habisnya.

__ADS_1


Aku terpaksa harus mencari pakaian lain lagi yang lebih cocok untuk aku gunakan, tapi melihat semua pakaian di dalam lemari hanya gaun dengan model yang sama dan semua tingginya selutut aku tidak bisa memilih dari salah satu gaun itu sehingga aku pun memakai celana pendek dan sebuah kemeja bertangan panjang, aku pikir dia tidak akan mengomeliku jika aku menggunakan celana.


Karena harus berganti pakaian aku juga merubah hiasan rambutku dan segera mengambil tas kecil di ranjang lalu kembali keluar menghampiri tuan Arnold lagi.


"Tuan aku sudah selesai, ayo kita pergi" ucapku kepadanya.


Setelah ganti baju.



Dia langsung berbalik dan kembali memarahiku bahkan kali ini dia marah kepadaku lebih parah daripada sebelumnya, dia membentakku sangat keras bahkan sampai menendang pintu kamarku cukup keras dan mengacak rambutnya terlihat begitu kesal kepadaku.


"AA..apa?, Heh apa kau tidak mengerti apa yang aku katakan padamu sebelumnya?, Aishhh....itu, aaduhh....kenapa kau memakai celana pendek lagi?" Bentaknya sangat keras,


"Tuan ada apa sih denganmu, kenapa kau sangat marah hanya karena sebuah pakaian?" Tanyaku merasa sangat heran,


"Pakaian?, Kau bilang hanya sebuah pakaian?, Apa kau selalu berpakaian seperti ini sebelumnya hah?" Bentaknya bertanya lagi,


Aku hanya membalasnya dengan anggukan pelan, memang sejak dulu aku sering memakai pakaian seperti ini, celana pendek yang dipadukan dengan kaos polos atau sebuah kemeja bertangan panjang, jika tidak aku sering menggunakan atasan sweater jika di musim dingin, jadi aku pikir tidak ada yang salah dengan pakaianku karena ini tidak melewati batas.


Tapi disaat aku menganggukkan kepala kepadanya, tuan Arnold itu terlihat sangat frustasi dan dia terus saja semakin terbakar dengan emosi di dalam dirinya sendiri.


"Duk....duk...." suara kaki tuan Arnold yang menendang pintu beberapa kali cukup keras.


"Aaargghhh...bagaimana lagi caraku membicarakan semuanya padamu, bahwa kakimu itu aishhh...kau harus menutupinya! Pakailah celana panjang dan jangan sampai melewati lututmu, dan itu jangan sampai kau memperlihatkan dadamu walau hanya sedikit saja, apa kau mengerti!" Ucapnya begitu mendominasi.


"CK...kenapa kau memerintah ku lagi" gerutuku pelan karena merasa sangat kesal.

__ADS_1


Aku kira dia tidak akan mendengar gerutuanku itu karena aku merasa mengatakannya sangat pelan, namun ternyata aku salah telinganya itu sungguh luar biasa, dia tetap bisa mendengarnya meski mungkin itu tidak akan terdengar terlalu jelas di telinganya, tapi dia tetap mencurigai aku.


__ADS_2