Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Menjaganya sepanjang malam


__ADS_3

Melihat Sesilia yang sudah tidak sadarkan diri sekretaris Ken sangat panik dia langsung berlari menghampiri Sesilia dan menepuk-nepuk wajah Sesilia pelan berusaha untuk membangunkan Sesilia dan mempertahankan kesadarannya.


"Tidak...tidak....Sesilia...bangun....hey...gadis...kecil bangunlah jangan membuatku cemas seperti ini" ucap sekretaris Ken sangat panik.


Hingga tidak lama dokter tiba lebih dulu dibandingkan tuan Arnold dan dia segera memeriksa keadaan Sesilia, sedangkan sekretaris Ken keluar dari kamar sambil terus berdiri sambil melipatkan kedua tangannya di depan dadanya dan merasa sangat cemas.


Tuan Arnold juga baru saja tiba di kediamannya dan dia langsung berlari menghampiri sekretaris Ken dengan tidak kalah panik.


"Hah....hah....hah...Ken diamana dia sekarang?, Ken jawab aku Ken!" Bentak tuan Arnold sambil mengguncang tubuh sekretaris Ken dengan kuat,


Sekretaris Ken merasa kecewa dan sangat kesal dengan kelakuan tuan Arnold dia masih berpikir semua ini terjadi karena ulah tuan Arnold yang mengusir Sesilia tanpa berpikir panjang dan keras kepala, maka dari itu ketika melihat wajah tuan Arnold hanya emosi dan kekesalan yang tersisa untuknya.


Sekretaris Ken tidak bisa menahan emosinya lagi dan dia langsung meluncurkan tinjuan pada wajah tuan Arnold hingga meninggalkan bekas di bagian dekat matanya.


"Bug...itu untuk balasan karena kau sudah mengusirnya, dan membuat dia menjadi seperti ini!" Ucap sekretaris Ken dengan tatapan tajam dan gigi yang dia kerutkan.


Tuan Arnold memegangi bagian wajahnya yang lembab dan dia meringis kesakitan mendapatkan tonjokan dari sekretaris sekaligus sahabatnya sendiri, tetapi tuan Arnold tidak marah dan tidak membela dirinya sendiri apalagi membalas pukulan yang diberikan oleh sekretaris Ken kepadanya.


Dia langsung tertunduk dan menjatuhkan dirinya sendiri di lantai, tuan Arnold sadar akan kesalahannya dan dia tahu Sesilia tidak akan seperti ini seandainya dia tidak mendahulukan emosi dan amarah di dalam dirinya, karena pada kenyataannya memang dia yang menyebabkan semua ini kepada Sesilia.


Sedangkan sekretaris Ken yang masih belum puas untuk menyalurkan emosi dan kekecewaannya terhadap tuan Arnold dia masih saja membentak tuan Arnold dan memarahinya dengan keras di depan kamar Sesilia yang saat itu tengah di periksa oleh dokter pribadi tuan Arnold.

__ADS_1


"Arnold aku disini bicara sebagai seorang sahabat bukan sekretarismu, dan aku sangat kecewa terhadapmu karena kau sudah menyebabkan Sesilia seperti ini, kau juga tidak akan bisa melihat keadaannya yang saat ini, dia sungguh mengkhawatirkan" ucap sekretaris Ken dengan tatapan mata yang tajam.


Tuan Arnold hanya diam membeku dan dia tidak bisa melakukan apapun ataupun berkata sepatah katapun, dia hanya bisa tertunduk dengan lesu hingga ketika dokter keluar dari kamar dia langsung berdiri dengan cepat dan langsung menerobos masuk ke dalam.


"Sesilia...." Ucap tuan Arnold sambil menerobos masuk ke dalam.


Sedangkan sekretaris Ken menanyakan mengenai kondisi Sesilia kepada dokter dan dokter sudah memberikan obat yang dibutuhkan untuknya, seta memberikan infus kepada Sesilia di dalam sana.


Tuan Arnold yang masuk ke dalam kamar dia melihat Sesilia berbaring di ranjang dengan lemas dan wajahnya yang terlihat pucat juga seluruh tubuhnya yang memiliki beberapa bekas lupa, termasuk kepalanya yang di perban serta kakinya yang juga di balut dengan sebuah gift kaki.


"Se.... Sesilia apa yang sudah terjadi denganmu?, Ke..kenapa kau menjadi seperti ini?" Ucap tuan Arnold merasa sedih tidak karuan.


Dia duduk di samping ranjang dan memegangi tangan Sesilia dengan lembut, dia merasa sangat kesal dan marah pada dirinya sendiri, dia merasa menyesal atas perbuatannya sendiri.


Tuan Arnold terus merawat Sesilia dan menjaga dia sepanjang malam disana sedangkan urusan kantor dia sudah menyerahkannya kepada sekretaris Ken, sehingga dia hanya merawat Sesilia disana.


Hingga ke esokan paginya aku mulai sadar dan melihat tuan Arnold yang masih tidur sambil menggenggam tanganku, aku merasa heran kenapa dia bisa tidur disana.


"Tu...tuan Arnold, apa ini benar dia, kenapa dia bisa tidur disini apa dia juga menjagaku sepanjang malam" ucapku pelan.


Aku berusaha untuk meraih wajahnya dan aku perlahan menyentuh wajahnya, entah kenapa aku hanya ingin saja menyentuh wajahnya disaat dia tertidur seperti itu, aku melihat wajahnya yang terlihat hangat dan begitu damai ketika dia tertidur lelap, meski dia akan berubah menjadi menyebalkan dan cukup menyeramkan ketika dia bangun nanti.

__ADS_1


Dengan perlahan aku berusaha menyentuh wajahnya pelan-pelan tetapi dia tiba-tiba saja membuka matanya dan aku langsung terbelalak kaget serta refleks langsung menarik tanganku kembali dan aku juga berpura-pura kembali tertidur karena merasa takut dan malu kepadanya.


Tuan Arnold sebenarnya sudah mengetahui bahwa Sesilia sudah bangun lebih dulu dia hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Sesilia yang menurutnya begitu menggemaskan sebab berpura-pura tertidur namun dengan mata yang setengah terbuka dan bibir yang terus dia gerakkan.


"Dia benar-benar berpikir aku akan tertipu dengan kelakuannya ini, sungguh menggemaskan" gerutu tuan Arnold dengan pelan.


Karena mengetahui hal itu, tuan Arnold justru malah dengan sengaja menggoda Sesilia dan dia berpura-pura kesakitan untuk melihat reaksi apa yang diperlihatkan oleh Sesilia jika melihatnya kesakitan seperti itu.


"A..a...aaarkhhh...sakit ..aduh kepalaku sakit sekali aaaww...." Ucap tuan Arnold meringis kesakitan sambil memegangi lebam di sudut matanya bekas tonjokan dari sekretaris Ken semalam.


Memang sebelumnya tuan Arnold bahkan tidak sempat untuk mengobati lukanya itu karena dia terus saja merawat Sesilia dan menjaganya sepanjang malam bahkan melupakan lebam di wajahnya sendiri dan mengesampingkan rasa sakitnya sendiri.


Aku yang mendengar suara tuan Arnold meringis kesakitan, sangat kaget dan tidak bisa menahan diriku sendiri untuk mengkhawatirkan dirinya, tanpa sadar aku langsung bangkit terduduk dan mengabaikan rasa sakit di pinggangku lalu langsung menyentuh wajah tuan Arnold dengan cemas.


"Ahh ..dimana, dimana yang sakit ..apa kau baik-baik saja, kenapa kau kesakitan mana yang terluka?" Tanyaku bertubi-tubi dengan terus memegangi wajahnya.


Sedangkan tuan Arnold menatapku dengan tatapan yang aneh dan dia hanya terdiam menatapku dengan lekat sehingga membuat aku keheranan dan menaikkan kedua alisku dengan heran.


"A...ada apa denganmu tuan, kau membohongiku yah?" Ucapku sambil segera menurunkan lenganku.


Aku langsung merubah ekspresi wajahku dan cemberut menatapnya dengan perasaan sedikit kesal, siapa juga yang tidak akan kesal jika di permainkan seperti itu, bahkan aku melupakan semua rasa sakit di sekujur tubuhku hanya karena mengkhawatirkan dirinya.

__ADS_1


Bukannya langsung meminta maaf atas semua kesalahannya, dia justru malah tertawa dengan puas dan dia membuatku sangat kesal serta emosi, aku langsung memalingkan pandanganku dan terus memasang wajah yang cemberut kepadanya.


__ADS_2