
Aku juga memalingkan pandangan darinya dan aku sangat tidak suka dengan sikapnya yang kasar seperti itu, aku mulai merasa tidak enak dan ingin segera pulang karena dia sudah marah kepadaku dan aku berdebat panjang dengannya sedangkan di depan sekretaris Ken bahkan tidak mau ikut campur apapun dengan masalah itu, dia hanya fokus menyetir saja di depan sana tanpa mengatakan apapun lagi.
"Huh....mereka berdua sangat menyebalkan, aku tidak suka dengan sikap kedua orang ini" gerutuku pelan.
Entah itu di dengar mereka atau tidak aku sudah tidak perduli lagi dan aku hanya ingin sendiri saja dan diam terus sekarang, sampai ketika kita sampai di tempat tujuan rupanya tuan Arnold pergi ke tempat sebuah proyek bangunan yang masih dalam proses.
Dan tempatnya itu cukup dekat dengan pantai sehingga melihat hal tersebut rasa kesal ku langsung hilang seketika karena melihat pantai yang sangat cantik dengan airnya yang biru dan banyak orang juga yang berwisata ke tempat tersebut.
Saat mobil berhenti aku langsung berlari keluar dan tuan Arnold terdengar berteriak memanggil aku, sehingga yang tadinya aku berniat bermain ke pantai dengan banyak pengunjung lainnya aku mengurungkan niatku karena dia meneriaki aku dan menyuruh aku untuk kembali kepadanya.
"Wahhh ...kita beneran ke pantai?, Aaahhh aku ingin pergi ke sana" teriakku sambil langsung keluar dari mobil dengan cepat,
"Aishh.....hey.....mau kemana kau! Kenari kesini" ucap tuan Arnold sambil menatapku dengan tajam.
Melihat dia memasang wajah garang seperti itu membuat aku sedikit takut dan aku pun terpaksa harus kembali ke padanya, aku berjalan dengan lesu dan kepala yang aku tundukkan ke bawah sambil berjalan dengan cemberut kesal.
"Bagus, jadilah penurut sekretaris Ken ayo kita pergi ke sana" ucap tuan Arnold mengajak sekretaris Ken.
Aku pun berjalan di belakang dia dan mengikuti mereka berdua ke dekat sebuah bangunan proyek yang belum jadi disana, kulihat bangunan itu cukup besar meskipun belum selesai namun sudah terlihat bentuk-bentuk ruangannya, ada banyak.juga pekerja yang mengerjakan bangunan itu aku hanya memperhatikan dari kejauhan sedangkan tuan Arnold dan sekretaris Ken sibuk mengobrol dengan mandor di sana dan mereka memeriksa perkembangan bangunan itu.
Aku tidak mengerti dengan apa yang tengah mereka bicarakan aku hanya bisa plonga plongo sendiri sambil berdiri mematung tidak jelas dan hanya memegangi tanganku sendiri dengan kesal seorang diri.
"Hmmm...ini sangat membosankan, aku ingin pergi ke pantai disana, aaahhh orang-orang terlihat sangat bahagia bisa berlibur di pantai, kapan aku bisa merasakan hal seperti itu?" Gerutuku terus memikirkan sambil menatap ke arah pantai dengan sendu.
Mengingat keluarga yang sudah hancur, ayah yang tidak memperdulikan aku lagi dan juga ibuku sudah meninggalkan aku sendiri, aku tidak memiliki apapun selain hidupku di dunia ini, dan aku juga sudah sangat beruntung bisa di pertemuan dengan dua orang yang mau menampungku kini, setidaknya meski mereka selalu membentak aku dan memarahiku mereka tetap membiarkan aku memiliki tempat tinggal dan bisa menempuh pendidikan.
Saat aku berbalik aku sudah tidak melihat keberadaan tuan Arnold di sekitar sana dan aku terus mencari keberadaannya kesana kemari.
"Ehhh...dimana tuan Arnold dan sekretaris Ken? Tidak mungkin mereka meninggalkan aku sendirian bukan? Aishhh aku tidak tahu apapun tentang tempat ini, aduhh aku harus pergi kemana sekarang?" Gerutuku sambil terus berusaha mencari keberadaan dua orang itu.
Aku menyesal karena malah sibuk memperhatikan ke arah pantai sedangkan aku malah kehilangan jejak sekretaris Ken dan tuan Arnold, aku mulai berjalan mendekati bangunan itu dan akhirnya bisa melihat tuan Arnold yang memakai helm proyek dengan sekretaris Ken disana aku berjalan menghampiri dia dengan terburu buru karena takut tertinggal lagi, namun karena di sekitar sana banyak kayu yang berserakan tidak jelas.
Aku tidak sengaja tersandung dengan salah atau kayu batangan yang ada disana dan langsung jatuh ke bawah hingga membuat lututku berdarah.
"Ahhh...itu mereka tuan Arnold tunggu aku!" Teriakku memanggilnya.
Karena aku terlalu bersemangat aku tidak memperhatikan langkahku meski tuan Arnold sudah memperingati aku untuk berhati-hati.
"Aishhh...hati hati nanti kau akan jat....." Ucap tuan Arnold memperingati aku belum selesai bicara.
Tuan Arnold baru akan mengatakan jatuh aku sungguh benar-benar langsung jatuh tersungkur ke tanah saat itu dan merasakan kakiku yang sakit juga berdarah.
"Aaa...brukk...." Suaraku yang jatuh ke tanah dan tuan Arnold langsung berlari menghampiriku lalu dia langsung menggendong aku membawaku ke pinggir dari sana.
"Aduhhh....hiks...hiks..hiks...ini sakit" ucapku menangis terisak karena memang rasanya sakit dan lukanya cukup besar,
"Aishh....aku kan sudah bilang kau diam saja di mobil kenapa kau malah berlari ke arahku seperti itu, aku sudah bilang untuk hati-hati kenapa kau tetap tidak mendengarkan?" Ucap tuan Arnold yang malah membentakku.
Karena takut dengannya aku langsung berhenti menangis dan menahan rasa sakit di lututku itu.
"Tidak papa aku baik baik saja aku tidak sakit lagi aku akan pergi sekarang, kau lanjutkan saja pekerjaanmu" ucapku kepadanya sambil menjauh sedikit darinya.
Dia terlihat menghembuskan nafas kasar dan menyuruh sekretaris Ken untuk mengambilkan kotak p3k yang ada di dalam mobilnya.
"Aahhh sudahlah, Ken bawakan aku kita p3k di mobil" ucap tuan Arnold memberikan perintah.
Lalu dia menarik kakiku yang terluka dan meniupi luka itu sehingga rasa sakitnya sedikit mereda dia juga membersihkan lukanya dengan air mineral yang dia bawa dan saat sekretaris Ken kembali dia segera mengobati luka di lututku dengan sangat hati-hati dan begitu fokus dalam mengobati lukaku tersebut.
Aku sungguh terpesona melihat wajahnya yang terlihat begitu serius dan sangat tampan ketika tengah mengobati luka ku seperti itu.
Dia kembali meniupi lukaku dan memasangkan plester di lututku tersebut.
"Sudah selesai, kau tidak boleh kemana-mana, dan tetaplah duduk disini, aku akan segera menyelesaikan urusanku, mengerti!" Ucap dia kepadaku dan aku membalasnya dengan anggukan.
Tuan Arnold pun kembali pergi memantau bangunan itu dengan sekretaris Ken sedangkan aku duduk di pinggir pantai dekat mobil yang terparkir aku tidak bisa melakukan apapun karena sudah mengatakan akan tetap diam disana dan patuh aku pun hanya bermain pasir disana sambil terus menatap ke arah pesisir pantai dimana banyak sekali orang yang bermain di pantai itu.
Melihat betapa senangnya orang-orang bermain di pantai itu membuat aku merasa iri dengan mereka karena mereka bisa bahagia hanya dengan bermain di pantai dengan keluarga mereka yang sangat lengkap sedangkan aku hanya seorang diri di dunia ini padahal aku juga ingin merasakan apa yang orang lain rasakan saat mereka bisa bermain di pantai tanpa perlu mengkhawatirkan apapun dalam hidupnya.
"Aku juga ingin main di pantai dan menyentuh air laut yang asin" ucapku pelan sambil menghembuskan nafas yang lesu.
Yang tidak aku sangka saat itu disaat aku tengah duduk tertunduk disana seorang diri tiba-tiba saja ada Dona yang saat itu aku lihat dia berjalan melewati tempat dimana aku duduk disana dan dia bersama seorang pria namun pria itu bukanlah Johana.
__ADS_1
Sehingga aku merasa curiga dengannya, tapi walau begitu aku juga tidak bisa mencari tahunya lebih dalam sebab aku tidak ingin ikut campur lagi dengan urusan mereka semua hingga aku pun malah lebih memutuskan untuk bersembunyi di balik mobil dengan cepat karena tidak ingin dia melihat keberadaanku disana.
"Aishh.....bukankah itu Dona? Aahhh kenapa dia dengan seorang pria muda dan kenapa mereka terlihat seperti sebuah pasangan?" Gerutuku memikirkan.
Di saat mereka berjalan semakin dekat ke arahku aku langsung mundur ke belakang dan bersembunyi di balik mobil milik tuan Arnold.
"Ahhhh...gawat sepertinya dia akan lewat kemari, aku harus sembunyia" ucapku sambil berusaha berjalan dengan secepatnya ke belakang mobil.
Segera aku bersembunyi di balik mobil milik tuan Arnold dan aku menatap dia secara diam-diam sampai mereka datang dan berjalan melewati jalanan tersebut hingga tidak lama kemudian mereka pun pergi menjauh dari sana dan barulah aku bisa merasa lega dengan kepergian mereka.
"Aaahhh ... akhirnya mereka sudah pergi" ucapku sambil mengusap dadaku dengan pelan.
Aku sungguh merasa lega saat melihat Dika dan pria yang lebih muda darinya sudah pergi melewati jalanan itu dan tidak menemukan keberadaan ku, hampir saja tadi jantungku copot aku takut sekali dia akan menemukanku dan aku tidak mau berhadapan dengannya aku juga takut dia akan memperlakukan aku sembarangan jika sampai dia tahu aku ada disana dan melihat apa yang dia lakukan di belakang ayahku Johana.
Setelah melihat bagaimana Dona di belakang ayahku aku mulai merasa bahwa Johana benar-benar akan menyesali perbuatannya dimana dia sudah merelakan kehilangan aku dan ayahku hanya demi membela wanita sepertinya, padahal sudah jelas aku dan ibuku lebih menyayangi Johana melebihi apapun di dunia ini.
Namun sayangnya dia yang sudah membuat keputusannya sendiri dan dia sudah menyia-nyiakan kebaikanku dan ibuku semasa hidupnya, sehingga aku merasa bahwa keputusanku untuk melepaskan hubungan ayah dan anak dengannya adalah keputusan yang terbaik yang sudah aku ambil selama ini.
"Sekarang dia yang akan benar-benar menyesali semuanya" ucapku pelan.
Hingga tidak lama terdengar suara tuan Arnold yang menyahut dari belakang secara tiba-tiba membuat aku kaget sekali di buatnya.
"Siapa yang akan menyesal?" Ucap tuan Arnold yang tiba-tiba sudah ada di belakangku.
"Oh....astaga....tuan aku pikir siapa? Aaahh kau membuatku takut saja" ujarku sambil memegangi dadaku yang terus berdetak kencang,
"Sedang apa kau berdiri di samping mobil sambil mengendap-ngendap seperti itu, siapa yang sedang kau incar hah?" Tanya tuan Arnold kepadaku,
"Ahhh...itu bukan apa-apa dia hanya wanita sialan yang merebut ayah dari ibuku tapi aku tidak perduli kok lagian dia juga bukan ayahku lagi sekarang" ucapku kepadanya.
Tuan Arnold terlihat hanya menaikkan kedua alisnya bersamaan dan dia langsung menarik tanganku dan menyuruh aku untuk menyingkir.
"Minggu aku akan membuka pintunya" ucap dia kepadaku begitu saja.
Aku pun segera menyingkir secepatnya hingga dia membukakan pintu mobil dan aku langsung masuk ke dalam hingga membuat wajahnya berubah menjadi kesal.
"Terimakasih tuan Arnold" balasku padanya sambil tersenyum,
Aku tidak mau mendengarkannya dan aku langsung saja menyuruh dia untuk langsung masuk ke dalam mobil sedangkan aku segera bergeser ke samping memberikannya ruang.
"Sudahlah tuan kan sama saja mau kau membuka untukmu atau untukku, ayo masuk aku bisa bergeser" balasku kepadanya.
Walaupun wajah tuan Arnold terlihat kesal tapi dia tetap langsung masuk ke dalam mobil dan menggerutu sedikit tapi aku justru tersenyum kecil karena melihat dia yang menggerutu seperti itu terlihat lucu dan menggemaskan dimataku.
"Dasar bocah nakal sialan, aarghhh...aku merasa aku sudah gila karena mau menampungku di rumahku dan membiayai semua hidupmu aaahhh ada apa denganku" gerutu tuan Arnold berbicara sendiri sambil mengacak rambutnya kasar beberapa kali,
"Xixixi....tuan sudah jangan menggerutu seperti itu, kau sangat menggemaskan jika terus bicara seperti itu, lagi pula aku tahu kau adalah orang baik, itulah kenapa kau melakukan semua itu kepadaku, iya kan hehe" balasku kepadanya.
Dia hanya menatapku sekilas dan kembali memijat kepalanya yang terasa pening sebab Sesilia yang sangat membuat dia jengkel dalam setiap saat, sedangkan aku hanya diam saja menatap ke luar dan hingga lama kelamaan aku mulai mengantuk sampai tidak tahan lagi untuk membuka mataku dan aku langsung menjatuhkan kepalaku bersandar pada pundak tuan Arnold begitu saja.
Tuan Arnold yang melihat Sesilia bersandar ke bahunya dia mulai merasa tegang dan gugup, dia tidak bisa membiarkan Sesilia terus berada dekat apalagi bersentuhan dengan dirinya walaupun itu hanya sebuah sandaran saja.
"Aaa....AA...ahhh...apa apaan dia ini, hey...bangun apa yang kau lakukan, bangunlah jangan membuat pundakku sakit!" Ucap tuan Arnold sambil menggoyangkan pipi Sesilia namun semua itu tetap tidak berhasil untuk membuatnya terbangun.
Sekretaris Ken justru malah menahan tawa melihat kelakuan tuan Arnold yang selalu saja kalah dan tidak bisa berkutik jika itu berhubungan dengan Sesilia.
Bahkan selama ini dan selama dia bekerja bersama sahabatnya itu dia tidak pernah melihat tuan Arnold sampai sekesal itu, dan dia bisa melihat dengan jelas dimana tuan Arnold memperlihatkan pipinya yang merona setiap kali Sesilia berada di dekatnya bahkan tuan Arnold tidak bisa melarang dan mencegah Sesilia.
Dia selalu mengijinkan semuanya meski dalam.keadaan membentakmatau marah, tapi sekretaris Ken tahu bahwa di dalam hatinya tuan Arnold menyukai Sesilia hanya saja dia mungkin baru pertama kali merasakan perasaan aneh tersebut di dalam dirinya sehingga sulit untuk mengendalikan dirinya sendiri.
Kalo ini tuan Arnold sudah tidak bisa menahannya lagi Sesilia justru malah memeluknya dan dia semakin tidak bisa mengendalikan diri dan perasaannya dia sebenarnya sangat ingin memeluk Sesilia saat itu namun sayangnya dia takut Sesilia akan menjadi menjauh darinya jadi dia yang sudah mengangkat tangannya kembali melepaskan lagi.
Dan membiarkan saja Sesilia yang tidur menyandarkan kepalanya ke bahu dia dan memeluk dia dengan erat hingga mereka sampai di rumah dan tuan Arnold langsung menggendong Sesilia lalu membawanya segera untuk masuk ke dalam kamar lalu menidurkan dia dengan sangat hati-hati.
Tuan Arnold bahkan menyelimuti Sesilia dan dia mengusap lembut kepala Sesilia dengan penuh kasih sayang.
"Selamat tidur gadis kecilku aku akan menjagamu sampai kapanpun" ucap tuan Arnold lalu dia pergi ke kamarnya.
Entah kenapa saat itu aku seperti bermimpi bahwa tuan Arnold bersikap baik dan lembut kepadaku namun karena sangat mengantuk aku mengabaikan hal itu dan terus melanjutkan tidurku dengan lelap begitu saja.
Hingga ke esokan paginya aku mulai bangun pagi seperti biasanya dan harus melakukan kegiatan seperti biasa dimana aku harus pergi ke kampus dan sebagainya tapi hari ini ada yang terlihat berbeda disaat aku masuk ke dalam kampus semua orang saling berbisik begitu ramai satu sama lain namun aku tidak tahu betul apa yang tengah mereka bicarakan saat itu sehingga membuat aku sedikit penasaran dengan hal tersebut.
__ADS_1
Aku pun mencari tahu dengan mengintip apa yang mereka lihat di ponsel mereka namun sayangnya aku tidak berhasil melihat itu sampai tiba-tiba saja dari belakang muncul Siska yang berteriak memanggilku sangat keras.
"Sesilia dasar kau j*lang sialan!" Bentak dia memanggilku sangat keras.
Dia datang padaku dan langsung saja hendak menamparku namun aku berhasil menahan tangannya dengan kuat hingga aku menghempaskan tangannya itu secepatnya ke samping.
"Aish....berani sekali kau menghempaskan tanganku!" Bentak dia kepadaku lagi,
"Memangnya kenapa aku harus takut denganmu?" Balasku kepadanya tanpa takut sedikitpun.
Selama ini dia selalu bersikap semena-mena kepadaku dannpada semua orang, tidak ada yang berani melawannya hanya karena dia adalah putri dari Johana sedangkan semua orang tidak tahu bahwa akulah putri Johana yang sesungguhnya bahkan namaku saja memiliki nama Kiehl di akhirnya dan itu menunjukkan bahwa aku adalah keturunan asli keluarga Kiehl dimana orang yang dinikahi oleh Johana di mata publik yang pertama adalah ibuku dan akulah anak sahnya dari pernikahan mereka bukan Siska.
Dia langsung menunjukkan sesydi ponselnya kepadaku dan disana aku lihat itu adalah rekaman video dimana Siska membully aku dengan teman-temannya beberapa saat yang lalu, dan yang mengomentari video itu semuanya membelaku mereka memihak aku dan langsung merutuki juga memarahi Siska sebagai pelaku bullyan tersebut.
"Lihat ini semua ini pasti ulah dan perbuatanmu bukan? Kau sengaja menyewa semua orang itu untuk memarahiku, iya kan! Jawab aku Sesilia!" Bentak Siska sangat keras kepadaku,
Aku hanya diam termenung melihat semua itu dan aku tidak menduga rekaman video itu bisa tersebar aku langsung menggelengkan kepala kepada Siska karena memang bukan aku yang melakukan hal tersebut bahkan aku tidak tahu sama sekali mengapa video itu bisa tersebar begitu saja.
"Tidak Siska itu semua bukan aku yang melakukannya, aku juga baru mengetahui semua itu darimu, bagaimana bisa aku yang melakukan itu sedangkan aku sendiri tidak memiliki rekamannya aku bahkan tidak ada ponsel" balasku menjawab dia dan mengatakan semuanya dengan jujur.
Tapi Siska tetap saja tidak mempercayai aku dan dia justru malah hendak menampar aku lagi dan saat itu aku tidak sempat untuk menghindar atau menahannya tapi untunglah seseorang menahan tangan Siska dengan kuat sehingga aku tidak terkena tamparannya.
"Ehh ....Brain...kamu?" Ucapku tidak menduga karena ternyata orang yang menahan tangan Siska agar tidak menamparku adalah Brain.
Dia tiba-tiba saja muncul entah dari mana dan menahan tangan Siska dengan kuat aku bahkan kaget dan tidak menduga dengan kemunculannya itu, dia langsung menghempaskan tangan Siska dengan sangat kuat.
"Aahhhh ....Brain apa yang kamu lakukan? Kenapa kau malah membela dia?" Ucap Siska dengan wajahnya yang kesal dan dia memegangi tangannya meringis kesakitan karena di hempaskan sangat kuat oleh Brain sebelumnya.
"Karena aku ada di pihaknya sekarang dan mulai saat ini kita bukan siapa-siapa lagi, ayahku juga sudah memutuskan hubungan pertunangan diantara kita, ini kau lihat ini eughhh" ucap Brain sambil melemparkan cincin tunangannya dengan Siska ke sembarangan arah.
Aku kaget hingga langsung menutup mulut dengan kedua tanganku, begitu pula dengan Siska, aku tahu dia sangat menyukai Brain dan dia terlihat sangat sedih ketika melihat Brain melakukan hal itu kepadanya.
"Brain....apa maksud dengan semua ini? Kenapa kau melakukan ini kepadaku, apa semua ini karena Sesilia? Apa kau masih menyukai dia?" Bentak Siska dengan matanya yang mulai berkaca-kaca,
"Tidak aku tidak menyukai Sesilia namun kau pantas mendapatkan semua itu, kau tahu siapa yang menyebarkan video itu, akulah orangnya. Aku yang sengaja melakukan semua itu untuk membalas perbuatan jahat mu kepada Sesilia, dan aku peringatkan kepadamu agar kau tidak berani macam-macam lagi dengan Sesilia apalagi mengatas namakan karena kau takut aku bisa menyukainya, aku tegaskan padamu aku tidak menyukai Sesilia!" Bentak Brain lalundia menarik tanganku cukup kuat dan dia membawa aku pergi dari sana meninggalkan Siska yang terlihat menangis.
Aku tidak tega melihat dia menangis seperti itu dan di jadikan bahan gunjingan semua orang di kampus, meski aku tahu apa yang telah dia lakukan kepadaku semua ini adalah salah dan dia begitu jahat kepadaku namun aku sama sekali tidak pernah berniat untuk melawan dia apalagi mendendam hingga membalas perbuatannya kepadaku dengan cara yang sama.
Aku langsung menghempaskan tangan Brain yang menggenggam tanganku dengan kuat.
"Eughh...lepaskan tanganmu dariku, aku tidak sudah di pegang oleh orang jahat sepertimu!" Bentakku sangat keras hingga melepaskan tangan darinya.
Dia berhenti dan segera membalikkan badan menatap ke arahku dengan tatapan yang berbeda kali ini.
"Sesilia kenapa kau begitu baik? Kenapa kau sangat lemah dan tidak membiarkan Siska menerima hukumannya, dia pantas mendapatkan semua itu dan aku yakin tuan Arnold juga akan setuju dengan apa yang aku lakukan kepadanya" balas Brain padaku sedikit meninggikan suaranya.
Aku hanya tertawa sekilas dan langsung menatapnya dengan tajam juga memperingati dia agar dia tidak ikut campur lagi dengan urusan dalam hidupku ataupun dengan tuan Arnold.
"Brain kau pikir kau siapa? Kenapa kau ikut campur dengan urusanku, kau tidak mencintaiku dan kau bukan saudaraku, kau tidak berhak ikut campur atas apapun dalam hidupku!" Balasku kepadanya dengan keras.
"Dan satu lagi Brain, aku camkan padamu bahkan aku sama sekali tidak lemah aku hanya tidak ingin membuat Siska semakin menjadi wanita yang jahat hanya karena kau yang telah memancing dendam di dalam hatinya, dia yang mencintaimu bisa saja menjadi membencimu karena apa yang sudah kau lakukan kepadanya melewati batas, dan kau harus bersiap untuk serangannya yang mungkin akan lebih berbahaya dari ini" ujarku padanya dan segera pergi meninggalkan dia dengan cepat.
Sejak awal aku memang bukannya tidak berani dengan Siska ataupun lemah karena tidak melawan atau tidak membalas semua perbuatan jahat dia kepadaku namun aku sudah pernah melawannya dan ingin membalas semua perbuatannya dahulu tapi yang aku dapatkan justru adalah sebuah penyesalan dan aku merasa menyesal hingga saat ini karena aku sudah pernah mau melawan dia dan membalas perbuatannya kepadaku saat itu.
Karena aku mendendam dengannya saat itu, ibuku meninggal di tangan mereka dan karena aku ingin membalas mereka dan mempertahankan milikku aku juga hampir terbunuh di tangan mereka, jika saja seandainya saat itu tuan Arnold tidak menolongku, mungkin aku akan benar-benar berada di dalam tanah terbujur kaku dan sudah menjadi tulang belulang yang sudah tidak menyatu saat ini.
Namun untungnya keberuntungan dan takdir masih memberikan aku kesempatan kedua untuk menjalani hidup yang lebih baik, aku tidak ingin berurusan dengan mereka lagi dan apa yang dikatakan oleh mendiang ibuku sebelumnya memang benar di saat aku mengiklaskan semua hal yang telah mereka renggut secara paksa dariku aku bisa merasa tenang sebab rasa ikhlas itu.
Meski aku terus merasakan sakit yang sangat luar biasa dalam waktu yang lama, namun balasannya bagiku adalah sebuah ketenangan dan kedamaian yang tidak terhingga sehingga aku bisa menjalani hidup dengan damai dan tenang.
Walau Siska masih tetap saja menggangguku tapi setidaknya dia tidak akan melakukan hal-hal yang gila jika aku tidak membalasnya atau melawan dia dengan cara yang sama, yang terpenting bagiku aku sudah melindungi diriku sendiri dan menahan dia dengan sekuat tenaga agar tidak melakukan hal jahat lagi kepadaku ataupun melukai aku seperti yang sudah-sudah.
Aku segera pergi ke kelasku dan menghindari untuk bertemu dengan Brain maupun dengan Siska saat itu, karena aku sudah tahu bahwa mereka berdua sedang kacau saat ini, aku duduk di kelas dengan perasaan yang tidak menentu dan aku terus saja merasa takut karena sebelumnya aku melihat wajah Siska yang seperti mendendam kepadaku juga Brain.
Mungkin aku bisa berjaga-jaga namun aku justru mencemaskan Brain karena dia sama sekali tidak mengetahui bagaimana Siska sebenarnya, dia adalah orang paling jahat diantara yang jahat dan aku rasa dia bukanlah orang yang bisa menerima maaf dari orang lain, dia tidak akan melakukan semua itu dengan mudah.
Aku takut dia akan semakin membenciku dan melakukan hal-hal yang lebih jahat lagi di kemudian hari sehingga itu bisa membuat bencana yang lebih besar lagi.
"Semoga saja Siska tidak akan melakukan hal-hal yang buruk atau jika tidak aku tidak akan diam saja kali ini, dan aku sungguh akan menjebloskan dia ke penjara jika dia terus tidak berhenti" gumamku memikirkan.
Aku sudah mempersiapkan diri untuk hal yang paling buruk sekalipun yang akan aku hadapi nantinya karena aku tahu betul bagaimana dia, dia tidak akan diam saja setelah mendapatkan penghinaan seperti itu di dalam dirinya sendiri, diau gkin saja bisa menerima maaf dari Brain karena dia menyukainya tapi dariku dia akan semakin membenci aku.
__ADS_1