Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Ayam


__ADS_3

Dia pun segera mengambilnya dan membuka botol itu dengan mudah lalu kembali memberikannya padaku, aku juga merasa kaget karena dia membukanya hanya dalam beberapa detik sedangkan aku sedari tadi membukanya sangat sulit sekali.


"Ini" ucapnya sudah selesai,


"Eh... Semudah itu? Kenapa tadi aku kesulitan sekali membukanya, apa yang salah dengan botol ini" gerutuku sambil terus memeriksanya.


Tuan Arnold terus berusaha menahan tawa melihat Sesilia yang begitu polos dan lugu, dia sangat lucu dan menggemaskan disaat kesulitan membuka tutup botol itu apalagi di saat dia menatap kaget dan keheranan karena ternyata tutup botolnya bisa dia buka dengan mudah.


"Bodoh! Kau memang gadis yang bodoh hahahah" ucap tuan Arnold yang tidak bisa menahan tawanya lagi,


"Eh... Apa? Kau baru saja mengatai aku bodoh?" Ucapku sangat kesal sambil mengerutkan dahiku menatap padanya,


"Iya memang kau bodoh, membuka tutup botol seperti itu saja tidak bisa, dimana otakmu?" Ucap tuan Arnold dengan nada yang tinggi.


Aku hanya menatapnya sekilas dengan sinis lalu segera pergi meninggalkan dia dengan cepat, aku kembali ke dalam kamar dengan perasaan yang kesal dan penuh emosi, rasanya aku ingin menjambak bibirnya yang mengatai aku bodoh.


Hingga ke esokan paginya aku bangun cukup pagi dan kebetulan sekretaris Ken sudah datang di rumah dengan membawa banyak makanan, aku bisa melihatnya saat aku membereskan kamar dan membuka gordeng ku lihat sekretaris Ken Mambawa beberapa paper bag sehingga aku pikir itu adalah makanan untuk sarapan kali ini.


Aku sangat senang dan langsung pergi ke kamar mandi membersihkan diri dan mulai memakai pakaian dan segera keluar untuk mencari sekretaris Ken.


Saat ku lihat ternyata mereka tengah tertawa berdua sambil menonton sesuatu di ponsel tuan Arnold dan aku mencurigai sesuatu karena sebelumnya mereka belum pernah duduk sedekat itu apalagi sambil tertawa terbahak-bahak begitu.


"Hey.... Apa yang kalian tonton, sepertinya seru?" Tanyaku sambil berjalan menghampiri.


Tuan Arnold langsung menarik ponselnya dan mematikan video itu lalu segera memasukan ponsel itu ke dalam saku jasnya.


"Eh... Kenapa berhenti aku baru saja ingin melihatnya, apa kalian menyembunyikan sesuatu dariku yah?" Ucapku dengan menatap menyelidik.


Dengan bersamaan mereka menggelengka kepala kompak dan entah kenapa aku tetap merasa curiga dengan tingkah mereka berdua hari ini yang sangat aneh.


"Ck.... Kalian sangat kompak sekali, baiklah apapun yang kalian sembunyikan nanti juga akan terbuka dengan sendirinya, lihat saja nanti" ucapku dengan merotasikan mataku,


"Aih... Sudahlah aku membawakan banyak makanan untukmu, makan" ucap sekretaris Ken sambil menyajikan makanannya.

__ADS_1


Ku lihat ada ayah krispi, ada ayam goreng dan sate ayam juga beberapa menu olahan ayam lainnya, aku memang sangat suka ayah dan segera menyantap semua kenikmatan di depan mataku ini.


"Wahhh... Apa kau pergi ke restoran ayam khusus untuk mendapatkan semua ayam ini?" Ucapku sambil segera mengambil makanan disana.


Sekretaris Ken hanya membalasku dengan anggukan dan aku sungguh terharu dengan kebaikannya itu, aku senang sekali pagi ini karena bisa menikmati berbagai jenis ayam dengan puas, rasanya seperti di surga ayam, semua makanannya enak dan membuat aku kenyang dengan cepat. Hingga ketika berangkat ke kampus pun aku masih menikmati ayah di dalam mobil, karena sayang sekali jika tidak di habiskan.


"Eumm.... Eummm.... Ayahnya sangat lembut" ucapku sambil terus mengunyah dengan senang hati,


"Hey, apa kau ini monster kecil yang memburu ayam yah?" Ucap tuan Arnold sambil menatap kepadaku sedari tadi,


"Kenapa kau berkata begitu?" Tanyaku di sela-sela makanku,


"Buktinya kau selalu ingin makan ayam setiap hari dan tidak ada bosannya, bahkan kau membekalnayam itu ke kampus apa kau anak TK hah?" Ucap tuan Arnold meninggikan suaranya,


"Ouhh... Begitu aku tidak masalah jika orang menduga aku anak TK atau balita sekalipun, yang penting aku bisa makan ayam dengan puas" balasku dengan santai.


Aku memang tidak pernah memperdulikan padanangan orang lain tentang diriku, aku hanya ingin menjadi diriku sendiri dimanapun aku berada, bisa menikmati makanan yang aku suka dan menggunakan pakaian juga barang-barang yang memang membuatku nyaman dan percaya diri saat memakainya, tidak perduli meski orang lain mengatai aku dan semacamnya.


Saking bosannya dan sedikit geram melihat Sesilia yang terus memakan ayam di mobil tanpa henti tuan Arnold segera merampas ayam di tangan Sesilia lalu dia memakan ayam itu hingga habis hanya dalam beberapa gigitan dan mengembalikan lagi tulang ayamnya pada Sesilia yang menatapnya dengan bingung.


"Ehh ... Tuan.... Itu kan ayamku dan itu yang terakhir kenapa kau malah mengambilnya?" Gerutuku sangat kesal,


"Kau sudah makan banyak sekali sejak tadi, apa kau masih belum puas juga? Lagian cara makanku sangat menggangguku" ucap tuan Arnold dengan wajahnya yang serius.


Aku pun hanya tertunduk lesu dan mulai kehilangan mood karenanya, ayam terakhir biasanya menjadi ayam yang paling enak tapi dia sudah menghabiskannya dengan secepat kilat, dia sungguh sangat menyebalkan bagiku.


Bahkan ketika sampai di kampus aku tidak berpamitan padanya dan langsung keluar dari mobil begitu saja dengan membanting pintunya cukup keras.


"Brakkk....." Suara pintu mobil yang aku banting cukup keras,


"Astaga! Apa dia sungguh marah karena sebuah ayam?" Ucap sekretaris Ken di depan,


"Sudahlah ayo kita ke perusahaan sebelum terlambat" ujar tuan Arnold memerintah.

__ADS_1


Sekretaris Ken segera melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan kampus tersebut sedangkan aku segera masuk ke dalam dan tidak sengaja kali ini aku memiliki kelas yang sama dengan Siska dia juga duduk di kursi yang paling depan dan saat itu aku sudah duduk lebih dulu disana namun dia malah duduk di sampingku sehingga aku langsung bergeser untuk menghindarinya.


Menyebalkan sekali jika harus duduk berdekatan dengannya. Saat aku hendak berdiri dan menjauh darinya dia malah menarik tanganku cukup kuat hingga aku langsung kembali duduk di kursi tersebut.


"Aahhh..... Hey apa yang kau lakukan?" Bentakku kepadanya,


"Mau kemana kau? Apa sekarang kau takut karena pelindungmu itu tidak hah?" Ucap dia padaku dengan mata yang tajam.


Untunglah saat itu dosen tiba dan aku cepat berpindah duduk menjauh darinya, aku tahu dia akan berniat jahat padaku, apalagi ketika di lihat dari sorot matanya tadi, dia pasti mendendam denganku karena acara pertunangan dia sebelumnya.


Aku bukan takut dengannya hanya saja aku malah untuk meladeni orang sepertinya dan aku tahu dia tidak akan pernah mendengarkan aku, dia hanya ingin selalu menang dariku dan dia membenciku begitu pun denganku aku juga membencinya namun aku tidak pernah berniat untuk melakukan kejahatan padanya.


Ku pikir aku sudah berhasil menjauh darinya dan menyelamatkan diriku dari pertengkaran yang tidak penting bersamanya namun ternyata aku salah setelah dosen membubarkan kelas, dia kembali datang menghampiriku dan menahan tanganku dengan kuat.


"Mau kemana kau, apa kau pikir aku akan membebaskan mu setelah apa yang kau lakukan padaku hah?" Bentak dia dengan gigi yang dia kerat kan,


"Lepaskan Siska atau aku tidak akan memberikanmu ampun lagi!" Ucapku memperingatinya.


Dia tetap tidak mendengarkan aku sama dengan apa yang aku duga, dia langsung menarik tanganku dan menyeretku keluar dari ruangan kelas itu hingga dia membawaku ke lorong yang cukup sepi disana.


Dan aku mulai memiliki firasat yang buruk ketika dia beri melepaskan genggaman tangannya padaku di tempat sepi seperti itu.


Aku berusaha untuk kabur saat itu juga karena aku yakin ada niat jahat yang terselubung darinya namun sayangnya saat aku hendak kabur beberapa wanita menahanku dan mereka langsung memegangi kedua tanganku.


"Haha... Mau lari kemana kau?" Ucap Siska dengan seringai jahatnya,


"Siska tolong jangan lakukan hal-hal yang jahat atau kau sendiri yang akan menanggung akibatnya nanti!" Ucapku memperingati dia untuk ke dua kalinya,


"Ahahah.... Kau pikir aku takut dengan ancaman itu hah? Haha tentu saja tidak.


"Teman-teman ayo lempari dia dengan telur buruk dan tepung haha" ucapnya memerintah.


Mereka langsung mengikat tangan dan kakiku lalu mendorong aku hingga jatuh tergeletak tanpa bisa melakukan apapun di lantai, lalu mereka mulai melemparkan telor buruk dan beberapa sayuran busuk lainnya padaku, bahkan mereka juga melempari aku dengan tepung dan kopi bubuk hingga seluruh badanku tidak terlihat lagi, dan Siska juga merekam kejadian itu, bahkan dia juga menjambak rambutku hingga memaksaku untuk mengangkat kepala dan melihat ke arah kameranya.

__ADS_1


__ADS_2