Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Perintah tuan Arnold


__ADS_3

Setelah mendengar dan melihat dengan jelas semua rekaman cctv yang di berikan oleh sekretaris Ken, emosi tuan Arnold mulai semakin sulit untuk di kendalikan dia langsung memerintahkan sekretaris Ken untuk mencari tahu lebih dalam mengenai siapa yang menyuruh kedua preman tersebut untuk melakukan hal jahat kepada gadis kecilnya.


"Ken kau tahu apa yang harus kau lakukan sekarang bukan?" Ucap tuan Arnold yang langsung di balas anggukan oleh sekretaris Ken.


Tanpa perlu menjelaskan perintahnya lagi, sekretaris Ken sudah paham apa yang harus dia kerjakan dan sebelum pergi untuk melaksanakan tugasnya sekretaris Ken memberikan sebuah kartu surat undangan kepada tuan Arnold dimana itu adalah surat undangan yang sekretaris Ken ambil dari tangan Sesilia semalam.


"Tuan gadis kecil itu memegangi surat ini dengan sangat erat semalam padahal dia tidak sadarkan diri, tapi aku kesulitan untuk mendapatkan ini dari tangannya, kau bisa melihatnya" ucap sekretaris Ken menaruh surat undangan itu diatas meja tuan Arnold.


Tuan Arnold segera melihat surat undangan itu dan dia membaca nama Brain di dalamnya, setelah melihat semuanya, tuan Arnold bisa langsung tahu bahwa itu adalah undangan sebuah pesta pertunangan dan dia mencurigai Sesilia memiliki hubungan dengan Brain dan wanita bernama Siska tersebut.


"Ken cari tahu juga apa hubungan gadis nakal itu dengan Brain putra Bramantyo dan gadis tunangannya ini" tambah tuan Arnold menambahkan tugas.


Setelah mendapatkan tugas tambah itu sekretaris Ken benar-benar menyesal karena sudah memberitahu tentang surat undangan itu kepada tuan Arnold sehingga malah menambahkan bebannya saja.


Meski merasa tertekan dan keberatan sekretaris Ken tetap tidak bisa menolak dan dia hanya bisa menyetujui lalu segera pergi untuk menjalankan tugasnya tersebut sebaik mungkin, sedangkan tuan Arnold tiba-tiba saja menghentikan sekretaris Ken lagi disaat Ken sudah hampir meninggal tempat itu.


"Eh, tunggu Ken!" Teriak tuan Arnold menghentikannya.


Sekretaris Ken yang sudah memegangi gagang pintu dia pun terpaksa harus kembali berbalik dan menahan emosinya lalu berjalan menghampiri tuan Arnold lagi.


"Aishh....ada apa lagi dia memanggilku, jangan bilang kau akan menyusahkan aku lagi, ohh...tuhan aku mohon tugasku sudah sangat banyak" gumam sekretaris Ken mengeluh.


"Ada apa lagi tuan Arnold?" Tanya sekretaris Ken dengan tersenyum yang dipaksakan.

__ADS_1


Tuan Arnold tahu jika sekretaris Ken tengah memasang senyum jengkel dan dipaksakan kepadanya sehingga dia semakin senang melihat sekretaris Ken kesulitan dan frustasi karena perintah darinya.


"Jangan lupa kau urus rapat kantor dengan baik, dan usahakan mengirimkan dokumen kontrak dengan perusahaan Bramantyo kepadaku, aku harus memeriksanya lagi" ucap tuan Arnold menambah lagi perintahnya,


"Baik tuan" balas sekretaris Ken dengan menghembuskan nafas berat.


Tidak sampai disana tuan Arnold yang baru ingat bahwa dia sudah berkata kepada Sesilia untuk membelikan dia bubur pagi ini, sedangkan dia tidak bisa keluar dalam keadaan belum mandi dan pakaian yang kusut seperti itu, sehingga lagi-lagi dia menghentikan sekretaris Ken dan meminta bantuannya untuk membeli bubur tersebut.


"Ahh ..tunggu sekretaris Ken, ada satu lagi yang saya terlupakan" ucapnya menahan sekretaris Ken untuk yang ke dua kalinya,


"Silahkan tuan, apa lagi yang ingin anda katakan" balas sekretaris Ken semakin kesal dan telinganya sudah merah padam menahan emosi.


"Aish....ayolah Ken, ini masih pagi dan kau berada di rumahku kenapa kau terlihat tertekan seperti itu dengan pekerjaan yang aku berikan padamu, yang ini tugasnya gampang kok hanya tolong belikan bubur ayam untuk Sesilia yah juga makanan lainnya, aku tidak bisa pergi keluar dengan penampilan seperti ini" ucap tuan Arnold bicara santai karena dia sudah melihat sekretaris Ken yang menahan emosi.


Mendengar permintaan tuan Arnold yang semakin menyulitkan dirinya sekretaris Ken langsung menatap tajam ke arah tuan Arnold dan dia merekatkan giginya dengan kuat. Tapi walau begitu sekretaris Ken tetap melaksanakan apa yang di minta oleh tuan Arnold.


"Baik....saya akan membawakan bubur yang anda minta" ucap sekretaris Ken segera pergi dari ruangan itu tepat setelah dia menyetujui untuk membelikan bubur tersebut pada tuan Arnold.


Dia berjalan keluar dari kediaman Arnold dengan terburu-buru hingga ketika sampai di luar dia langsung berteriak melepaskan stres di dalam kepalanya dan bisa.bahkan menendang ban mobil kesayangannya sendiri.


"Aaarkhhh..... Arnold sialan, aishh.... bagaimana bisa dia memperlakukan sahabatnya seperti ini, menyebalkan sekali, aarkhh!" Teriak sekretaris Ken sampai aku yang berada di dalam kamar bisa mendengar teriakkan ya tersebut.


"Eh, seperti suara sekretaris Ken, ada apa ya dengannya?" ucapku memikirkan.

__ADS_1


Setelah berteriak dengan puas dan menyalurkan semua emosi di dalam dirinya sekretaris Ken pun merapihkan jasnya kembali lalu segera masuk ke dalam mobil dan meninggalkan halaman rumah tuan Arnold dengan cepat.


Dia segera pergi mencari penjual bubur ayam di sekitar jalanan yang dia lewati lalu dia meminta sebuah taxi untuk mengantarkannya ke kediaman tuan Arnold, lalu dia langsung melanjutkan tugas misinya yang ke dua, yakni untuk memberikan dokumen perjanjian kontrak kepada tuan Arnold.


Sekretaris Ken mengerjakan semua perintah tuan Arnold dengan cepat dan tepat dia tidak pernah salah dan tidak pernah di salahkan itulah hebatnya seorang sekretaris Ken dan dia juga seseorang yang dewasa serta bisa mengontrol emosinya lebih baik dari pada tuan Albercio yang memiliki kesabaran setipis tisyu, bahkan mungkin lebih tipis dari itu.


Disisi lain tuan Arnold yang sudah mendapatkan buburnya dia segera membawa bubur itu kepadaku dia masuk perlahan dan menaruh bubur itu di meja lalu segera membantuku terduduk, dia bersikap sangat lembut meski wajahnya terlihat datar tanpa ekspresi.


"Makan dulu buburnya setelah itu kau harus minum obat yang diberikan oleh dokter" ucapnya mengaturku,


Aku hanya mengangguk patuh dan dia memberikan suapan kepadaku sehingga membuat aku sedikit heran, aku menolak suapannya itu dan lebih memilih untuk makan dengan tanganku sendiri, karena tanganku baik-baik saja dan masih bisa aku gunakan untuk makan.


"Tuan aku bisa makan sendiri" ucapku kepadanya,


"A..ahh...iya ya sudah ini cepat makan aku akan pergi membersihkan diriku dulu" ucapnya terlihat sedikit gugup dan dia langsung pergi dari kamarku begitu saja.


Aku tidak terlalu memperdulikannya dan segera menyantap bubur itu dengan lahap, meskipun aku terbaring sakit tapi yang terluka hanya tubuh bagian luarku saja sehingga, nafsu makanku tetap besar dan sebaik sebelumnya, aku bahkan bisa menghabiskan bubur pemberian dari tuan Arni barusan hanya dalam beberapa saat.


Dan aku juga segera meminum obatnya, setelah semua sudah aku lakukan aku merasa bosan terus duduk di atas ranjang seperti itu tanpa melakukan apapun, sehingga aku memutuskan untuk turun dari ranjang dan mencoba menggerakkan kakiku yang terlihat agak lebam.


"Hmmm...kapan kakiku akan sembuh seperti semula aku tidak akan sanggup terus diam di dalam kamar seperti ini, huh sangat membosankan" gerutuku pelan sambil menunduk melihat kakiku.


Tanpa Sesilia ketahui saat itu tuan Arnold sudah kembali dan dia baru saja hendak masuk ke dalam kamarnya, awal melihat Sesilia menurunkan kakinya ke lantai tuan Arnold sempat panik dan khawatir namun karena melihat Sesilia hanya duduk saja dengan menurunkan kakinya dia pun menjadi lebih tenang, namun dia memperhatikan semua sikap Sesilia termasuk ucapannya yang merasa sangat bisa terus berdiam diri disana.

__ADS_1


__ADS_2