
Sekretaris Ken hanya tersenyum dan menahan tawa karena dia masih merasa lucu dengan sebutan manusia robot yang dibuat oleh Sesilia kepada sahabatnya itu.
"Haha...kasihan sekali Arnold ini, lebih mending aku hanya dikira seorang supir oleh gadis kecil itu, dari pada dia yang dikatai manusia robot, setidaknya seorang supir masih manusia normal dan nyata haha" gumam sekretaris Ken di dalam hatinya.
Arnold semakin kesal karena melihat sekretaris Ken yang terus menertawakan dia secara diam diam, namun dia juga tidak bisa melakukan apapun saat ini karena masih ada Sesilia yang polos di dalam mobilnya tersebut, sehingga dia hanya bisa menggerutu di dalam hatinya dan merutuki sekretaris Ken dengan ancaman yang dia pikirkan.
"Aishh dasar Ken sialan, awas saja kau aku akan memotong gajihmu bulan ini!" Gumam Arnold dengan kesal.
Sedang di sisi lain Sesilia tidak menyadari pertarungan sengit diantara kedua pria itu secara diam diam, dia hanya tengah fokus menyiapkan obat untuk mengobati lengan Arnold.
Saat sudah menemukan dan mempersiapkan obat Sesilia pun menatap pada Arnold karena dia masih merasa sedikit canggung dan ragu ragu ketika ingin meminta izin untuk mengoleskan obat merah yang dia pegang pada lengan Arnold yang terluka tadi.
"Eu..tu..tuan..." Ucap Sesilia terbata bata dan penuh keraguan.
Karena kesal melihat sekretaris Ken menertawakannya secara diam diam sedari tadi sehingga Arnold menjadi kesal dan malam menjawab ucapan dari Sesilia dengan emosi juga.
"Apa ha?" Balas Arnold sambil menaikkan kedua alisnya serempak membuat kaget Sesilia yang melihatnya,
"I..itu tuan bisakah aku melihat lenganmu yang lecet tadi, aku akan mengobati tanganmu itu" kata Sesilia dengan gugup, sambil terus menatap ke arah Arnold dengan tatapan matanya yang cerah.
Tuan Arnold yang selama ini selalu bersikap cuek dan acuh terhadap wanita namun tiba tiba saja kali ini saat melihat wajah polos Sesilia dia malah menjulurkan lengannya dan memberikan izin kepada Sesilia untuk memegang lengan dia dan segera mengobatinya dengan perlahan, Sesilia nampak meraih lengan tuan Arnold dan dia mengusapkan obat merah itu dengan perlahan pada tangan tuan Arnold yang terluka.
"Tahan ya, ini mungkin akan sedikit perih" ucap Sesilia sambil mengobati luka di tangan Arnold dengan serius.
__ADS_1
Arnold hanya menatap fokus pada wajah Sesilia yang begitu menggemaskan baginya dan ini adalah pertama kalinya dia membiarkan seorang wanita menyentuh bagian tubuhnya walau pun itu hanya sekedar mengobati lengannya yang luka.
"Apa yang salah denganku, kenapa aku membiarkan dia menyentuh lenganku dan kenapa aku merasa dia berbeda dengan kebanyak wanita lainnya" gumam tuan Arnold di dalam hatinya.
Bukan hanya tuan Arnold sendiri yang merasa bahwa terjadi perubahan dengan dirinya namun sekretaris Ken juga sampai membelalakkan mata dan seakan tidak percaya saat melihat dengan langsung seorang Arnold temannya sejak kecil yang sangat anti dengan wanita kini tiba tiba saja membiarkan seorang gadis kecil yang polos menyentuh tangannya bahkan mengobati luka di tangannya itu.
"Wah...wah...sepertinya dia sudah lebih baik sekarang, gadis itu mungkin bisa menyembuhkan penyakit aneh di dalam dirinya" gumam sekretaris Ken sambil terus memperhatikan kedua orang itu lewat kaca depan sesekali.
Sesilia hanya terus berfokus mengobati luka di tangan Arnold dengan sentuhan terakhir dan dia meniup lengan Arnold sehingga membuat tuan Arnold merasa sedikit geli dan dia langsung menarik lengannya cukup kuat.
"Aishh...apa yang kau lakukan, seenaknya meniup lenganku yang luka apa kau tidak tahu dari mulutmu itu ada berapa banyak kuman yang akan terbang pada lenganku!" Bentak tuan Arnold yang memang sangat mengutamakan kebersihan.
Awalnya Sesilia meniup lengan Arnold karena dia pikir itu akan meringankan rasa sakit yang dirasakan oleh Arnold karena sudah sangat wajah dan umum bagi banyak orang jika meniup luka untuk mengurangi rasa nyerinya pada bagian luka tersebut.
Tapi kali ini dia malah mendapatkan bentakkan dari pria asing yang sudah dia bantu mengobati lengannya itu dan bahkan malah berkata sekarang itu kepadanya, tentu saja Sesilia merasa sangat kesal dan dia segera membalas perkataan Arnold tadi.
"Aahh....sudahlah, jangan berani beraninya kau melakukan itu lagi padaku" ucap tuan Arnold memperingati.
Sesilia langsung memalingkan wajahnya ke luar jendela dan dia menggeser tempat duduknya memberikan jarak yang cukup jauh dari Arnold karena dia merasa sangat kesal dan muak ketika melihat wajah Arnold itu.
"Huuh dasar pria tua tidak tahu terimakasih" gumam Sesilia di dalam hati kecilnya.
Di depan sekretaris Ken hanya bisa menggelengkan kepala merasa heran dan kini sudah kembali tersadar mengingat bagaimana perlakuan sahabatnya itu yang ternyata masih belum pulih sepenuhnya, dia masih tetap berani membentak seorang perempuan dan berbicara kasar bahkan kepada seorang gadis yang baru menginjak usia remaja seperti Sesilia.
__ADS_1
"Aishh dia sudah sulit untuk tertolong, benar benar Arnold ini" gerutu sekretaris Ken.
Setelah serangkaian drama di perjalanan akhirnya mereka pun sampai di depan sebuah gedung perusahaan yang cukup besar, gedung itu hampir sama besarnya dengan gedung perusahaan milik ayahnya Sesilia namun memang lebih besar sedikit perusahaan tersebut, saat sekretaris Ken menghentikan mobil tiba tiba saja Arnold memperingati Sesilia agar dia tetap dia di dalam mobil.
"Heh...ingat jangan berani beraninya kau melarikan diri, jika tidak aku akan mencarimu bahkan sampai ke lubang semut sekalipun!" Ucap tuan Arnold memperingati Sesilia yang membuat gadis polos tersebut sulit untuk menelan salivanya sendiri.
Saking takutnya Sesilia tidak bisa berbuat cukup banyak dan dia hanya refleks mengangguk patuh begitu saja, sampai akhirnya kedua pria itu pergi masuk ke dalam perusahaan tersebut, karena penasaran Sesilia mencoba untuk melihat sebuah tulisan besar di atas gedung tersebut lalu dia mencoba mencari informasi mengenai perusahaan tersebut di internet.
Betapa kagetnya Sesilia saat mengetahui ternyata itu adalah salah satu perusahaan yang pernah bekerjasama dengan perusahaan ayahnya yang tak lain adalah perusahaan milik keluarga Bramantyo, perusahaan itu di beri nama Okezone yang di pimpin oleh tuan Bramantyo saat ini.
Namun di internet Sesilia juga mendapatkan fakta lain bahwa kakak kelasnya saat SMA yang terkenal sebagai siswa populer juga merupakan pewaris perusahaan Okezone tersebut.
"APA?, Astaga kenapa aku baru mengetahui kalau kak Brain adalah pewaris tunggal perusahaan sebesar ini" ucap Sesilia merasa kaget dan tidak menyangka.
Pasalnya saat dia masih duduk di bangku SMA, Sesilia memang tidak terlalu memperdulikan kabar atau berita yang sering lalu lalang dan bertebaran di lingkungan sekolah, dia hanya fokus pada pelajaran dan prestasinya karena dulu dia dikenal sebagai salah satu siswa berprestasi dan sering mewakili sekolah untuk olimpiade sains maupun perlombaan lainnya.
Saat sudah mengetahui fakta tersebut, Sesilia mulai memiliki ide untuk melarikan diri dari mobil pria asing tersebut, karena dia pikir ini adalah satu satunya kesempatan untuk dia bisa melarikan diri.
"Aahhh...tidak peduli lagi, yang penting sekarang aku harus melarikan diri, ini satu satunya kesempatan baik untukku jika aku hilang di sini dia pasti akan kesulitan mencariku karena wilayah perusahaan ini sangat luas" pikir Sesilia sambil berusaha membuka pintu mobil sekuat tenaga.
Sudah beberapa kali Sesilia berusaha membuka pintu mobil itu dengan sekuat tenaganya namun tetap saja dia tidak bisa membuka pintu yang sudah di kunci otomatis lewat remote kontrol sebelumnya.
"Hah....ini sia sia aku hanya terus menguras energiku saja" gerutu Sesilia hampir menyerah.
__ADS_1
Saat itu dia sudah sangat kelelahan dan hampir kehilangan setengah dari energi yang ada di tubuhnya sampai akhirnya saat tengah kelelahan dia melihat sebuah ke bawah kakinya di mana terdapat sebuah benda untuk membuka tutup botol, melihatnya sebuah ide langsung muncul di benak Sesilia.
"Ehh, bukankah ini alat untuk membuka tutup botol?, Haha aku bisa menggunakan ini untuk memecahkan kaca mobilnya dengan begitu aku bisa melarikan diri, huuh semoga saja mobil itu tidak berbunyi saat aku memecahkan salah satu kacanya" ucap Sesilia sambil meraih benda tersebut dari bawah.