Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Sadar


__ADS_3

Dona langsung mengejar putrinya dan berusaha meminta Siska untuk membuka pintu kamarnya yang sudah dia kunci dari dalam.


"Siska...sayang bukan pintunya, sayang dengarkan ibu dulu Siska...." Teriak Dona berusaha membujuk putrinya.


Siska tetap merajuk dan dia masih mengabaikan ibunya sedangkan Johana juga mulai menarik Dona dan meminta agar dia membiarkan Siska dahulu.


"Sudahlah sayang, biarkan putri kita sendiri dulu. Mungkin dia membutuhkan waktu untuk menenangkan dirinya aku juga sudah harus pergi, jaga diri kalian baik baik" ucap Johana berpamitan.


Dona mengangguk mengerti dan Johana segera pergi dari tempat itu, dia pergi kembali ke kediamannya dan meminta anak buahnya untuk memindahkan kembali istrinya ke rumah sakit yang sama dengan tempat Sesilia di rawat.


Saat sampai di rumah Johana segera merebahkan tubuhnya dan mencoba mengistirahatkan pikiran dan fisiknya, hari ini terlalu melelahkan untuknya dengan seraingakain peristiwa yang harus dia hadapi, hatinya merasa sangat bersalah pada Sesilia karena dia tidak bisa melindungi putrinya sendiri.


Entah mengapa Johana sangat mengkhawatirkan Seselia dan jauh lebih menyayangi Sesilia di banding Siska dan dia menyadari sendiri hal tersebut, melihat Siska merajuk pun Johana sama sekali tidak perduli dia hanya bersikap selayaknya seorang ayah karena ada Dona di sana dan tidak ingin melukai hati wanita yang dia cintai sejak dulu.


Johana sudah merasa curiga dan merasa ada yang aneh pada Siska sebab wajah Siska tidak mirip sedikitpun dengan wajahnya begitu juga dengan wajah ibunya Dona, sehingga Johana tidak terlalu menyayanginya dan Johana tidak bisa memiliki perasaan yang sama kepada Siska seperti kasih sayangnya kepada Sesilia.


Dia selalu berusaha untuk bersikap adil namun batinnya seakan menolak dan selalu enggan untuk berdekatan dengan Siska padahal Siska juga putrinya sama seperti Sesilia hanya bedanya Siska tidak hidup bersama dia sejak kecil sedangkan Sesilia dia rawat sejak kecil sampai saat ini.


"Mengapa aku tidak merasa cemas dan sakit saat Siska marah denganku bahkan sampai merajuk seperti tadi, padahal aku bisa sangat tak enak hati dan cemas jika itu terjadi pada Sesilia, kenapa aku tidak bisa menyayangi Siska seperti aku menyayangi Sesilia?" Gerutu Johana merasa heran dengan perasaannya sendiri.


Lelah memikirkan hal itu Johana berusaha untuk mengistirahatkan tubuhnya dan mencoba untuk menutup mata agar bisa segera tertidur, namun sayangnya dia masih tetap mengkhawatirkan kondisi Sesilia dia hanya takut ketika putrinya sadar justru tidak ada siapapun di sampingnya.


"Aaahhh....bagaimana aku bisa istirahat dengan nyaman dan tenang di sini, sedangkan putriku masih tak sadarkan diri di rumah sakit, aku harus menemaninya agar ketika dia sadar dia tidak akan kesepian" gerutu Johana sambil segera bangkit membenahi dirinya.

__ADS_1


Johana segera bersiap siap dan langsung pergi ke rumah sakit, dia akhirnya menunggui Sesilia semalaman dan tertidur dengan posisi duduk dan tangannya yang menggenggam tangan putrinya, sampai paginya Sesilia mulai tersadar dan mengerjap ngerjapkan matanya perlahan.


Betapa kagetnya dia ketika melihat seorang pria tua tertidur sambil memegangi lengannya, dia pun berteriak sangat kencang sampai membangunkan sang ayah dan membuat seorang suster sampai masuk ke ruangan tersebut lalu menenangkan Sesilia.


"Arkhhh.....siapa kau...pergi...pergi...pergi dariku..." Teriak Sesilia begitu histeris.


Johana yang langsung terbangun dari tidurnya dia berusaha untuk menenangkan Sesilia dan menjelaskan namun sayangnya Sesilia tetap tidak bisa di kendalikan karena dia tidak mempercayai pria itu.


"Sayang, akhirnya kamu sadar ini ayah nak...ini ayah...." Ungkap Johana mengutarakan,


"Tidak....aku tidak memiliki ayah sepertimu, pergi kau dari sini....pergi...." Teriak Sesilia sambil melempar bantal ke arah Johana.


Suster segera masuk dan langsung menenangkan Sesilia hingga akhirnya dia bisa berhenti berteriak histeris dan bisa kembali bersikap tenang.


Karena perkataan dari suster tersebut akhirnya Johana bisa tenang dan dia kembali duduk sambil terus menatap dengan lekat ke arah Johana dan sepertinya saat itu Sesilia sangat berharga jaga dari ayahnya sendiri.


Hati Johana begitu sakit saat dia tidak bisa dikenali oleh putrinya sendiri, air mata hampir jatuh dari pelupuk matanya namun dia segera menghapusnya dengan cepat, hatinya sangat terluka dia telah bersama dengan Sesilia dan merawatnya dengan penuh kasih sayang selama ini namun sekarang putrinya justru tidak bisa mengingat apapun tentangnya.


Dan Sesilia terlihat begitu tidak mempercayai dirinya bahkan mencurigai ayahnya sendiri, hati ayah mata yang tidak terluka ketika ada di posisi yang Johana rasakan saat ini.


Sesilia malah lebih dekat dan lebih mempercayai suster yang merawatnya di bandingkan dengan ayahnya sendiri, Johana berusaha menjelaskan semua dan dia mulai kembali menghampiri Sesilia dengan perlahan agar tidak membuatnya merasa terancam lagi.


"Sesilia tolong dengarkan ini baik baik, aku Johana aku adalah ayah kandungmu kau mengalami kecelakaan sebelumnya sampai membuatmu kehilangan ingatanmu dan namamu adalah Sesilia kau putriku satu satunya, apa kau mengerti dan percaya padaku sekarang" ujar Johana menjelaskan semuanya.

__ADS_1


Sesilia hanya menatapnya bingung dan dia berusaha untuk mengingat ingat sesuatu yang terasa hilang dalam dirinya namun dia justru malah merasakan sakit yang teramat sangat pada kepalanya sehingga suster menyuruh Johana agar tidak menjelaskan dan memaksa Sesilia untuk mengingatnya langsung saat ini juga.


"Aaaaahhh....sakit" ucap Sesilia sambil memegangi kepalanya,


"Tuan tolong jangan memaksanya mengingat apapun saat ini, dia baru saja sadar dan sebaiknya anda harus menjaganya dengan sangat baik mungkin dia akan rentan dengan ingatannya, tapi itu hanya sementara anda tidak perlu terlalu mengkhawatirkannya" ucap suster tersebut memberitahu,


"Baik sus, saya mengerti terimakasih sudah merawat putri saya" balas Johana sambil tersenyum pedih.


Suster tersebut pun hendak pergi untuk memanggil dokter agar bisa segera memeriksa kondisi Sesilia lebih lanjut, namun di saat suster tersebut hendak pergi Sesilia menahannya seakan dia tidak ingin di tinggalkan seorang diri oleh suster tersebut.


"Tidak kau tidak boleh pergi, biarkan saja dia yang pergi" ucap Sesilia membuat sang suster tertegun.


Sedangkan Johana dia langsung bangkit dan memutuskan untuk dia sendiri yang pergi memanggil dokter sesuai keinginan putrinya tersebut.


"Ahhh suster sebaiknya kau tunggu di sini biar saya saja yang pergi memanggil dokter, sepertinya putriku lebih nyaman denganmu" balas Johana mengusulkan,


"Tapi pak..." Ucap suster tersebut merasa tidak enak,


"Tidak papa saya pergi dulu, tolong jaga putriku" ucap Johana sambil segera pergi dari ruangan rawat Sesilia saat itu.


Johana merasa sangat terpukul dan dia benar benar merasakan sakit juga sesak di dadanya tatkala Sesilia sebegitu tidak inginnya dia melihat wajah ayahnya bahkan Sesilia justru lebih percaya dan nyaman pada seorang suster yang baru dia temui di bandingkan dia yang jelas adalah ayah kandungnya serta orang yang merawatnya sejak kecil.


Namun Johana juga berusaha memaklumi dan memahami kondisi tersebut karena semua ini juga terjadi karena dirinya. Johana masih merasa bersalah karena dia hampir saja melenyapkan nyawa putrinya sendiri meskipun kejadian itu terjadi karena Siska namun dia tetap merasa itu karena dirinya sebab tak bisa melindungi putri kesayangannya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2