
Rasanya punggungku terasa retak saat aku berusaha menggerakkannya dan leherku tidak bisa aku putar ke kanan dan ke kiri dengan leluasa itu sangat menyakitkan untukku tapi aku tetap merasa senang karena berhasil menyelesaikan semua tugas tugas membuat surat lamaran, aku memupuk semangat di dalam diriku sendiri lalu mulai segera mandi dan bersiap siap.
Aku pergi menuju beberapa cafe yang sudah aku tulis di daftar pencarian kerja ponselku, aku mulai memasukkan surat lamaran ke sana satu persatu, masalah diterima atau tidaknya aku tidak terlalu memperdulikan hal tersebut yang terpenting saat ini adalah aku sudah berusaha sekuat tenagaku untuk mencari pekerjaan dan bisa menghasilkan sedikit uang untuk membantu ayahku.
"Aahh mari kita lihat sudah berapa banyak toko dan cafe yang sudah ku masuki surat lamaranku" ucapku sambil memeriksa daftar dan duduk di pinggir jalan seorang diri.
Aku sangat senang ketika melihat sudah banyak sekali tempat yang aku masukkan surat lamaran bahkan aku juga memasukkan surat lamaranku ke salah satu toko swalayan yang tak jauh dari universitas internasional tersebut, itu memang universitas favorit di negaraku, dan rasanya aku juga sudah sangat tidak sabar untuk segera masuk menempuh pendidikan di sana.
Aku yang begitu kagum dengan bangunan mewah universitas segera berjalan memasukinya karena penasaran dengan seberapa cantiknya kampus tersebut, meski aku masih belum menjadi mahasiswa resmi disana tapi aku setidaknya bisa masuk ke dalam secara diam diam untuk berjalan jalan di lingkungan universitas.
"Hehe, sebaiknya aku masuk saja ke dalam lagi pula tidak akan ada yang mengenali aku dan tidak akan ada yang tahu jika aku bukan mahasiswa resmi di kampus ini" gerutuku sambil tersenyum kecil.
Tanpa basa basi lagi aku berlari kecil masuk ke dalam lingkungan universitas dan terus berjalan jalan tanpa arah di sekitar universitas, hingga saat aku mulai memasuki gedung universitas sebuah penampakkan yang tidak pernah aku lihat sebelumnya terpampang sangat jelas di mana banyak sekali mahasiswa berseliweran dengan buku buku tebal di tangan mereka.
Ada juga yang berjalan sambil mengobrol dan banyak kesibukan lain di sekitar sana, rasanya aroma ilmu pengetahuan terasa sangat pekat di sekitar sana, aku mulai menghirup udara dengan leluasa dan sangat bahagia bisa masuk serta menyaksikan langsung bagaimana aktivitas mahasiswa di sana.
"Waahhh...ruangannya luas sekali aku tidak menyangka ruang kelas mahasiswa bisa sebesar ini, bangkunya juga bagus sekali, Aahh.....aku tidak sabar untuk menempuh pendidikan di sini" ucapku sambil melihat ruang kelas di balik pintu kecil.
Aku benar benar sangat tidak sabar dan memutuskan untuk semakin masuk ke dalam lingkungan universitas sampai ketika di perjalanan aku tidak sengaja menabrak seorang pria yang tengah membawa berjalan sambil bermain ponsel hingga membuat ponselnya jatuh ke lantai.
Aku tidak bisa menyalahkannya karena aku tahu aku juga memiliki bagian kesalahan dalam hal tersebut sebab aku sibuk melihat ke sekitar daripada fokus menatap jalanku ke depan. Aku segera meminta maaf sambil meraih ponsel miliknya yang jatuh.
__ADS_1
"Aaaaahh....maaf... Maafkan aku kak aku tidak sengaja menabrak mu, dan ini ponselmu untungnya tidak retak" ucapku sambil memberikan ponsel milik pria itu ke tangannya.
Wajah pria itu tidak asing di mataku namun sebelum aku bisa mengingat siapa pria itu tiba-tiba saja pria itu membentakku dan memarahiku dengan terang terangan di hadapan banyak orang.
"Aishh ...ada apa dengan ponselku aku baru saja menggantinya kini sudah rusak lagi gara gara kau orang aneh!, Heh apa kau tidak punya mata kenapa menabrak ku sekarang kau harus mengganti ponselku yang tidak mau menyala!" Bentak pria itu sambil memberikan ponselnya padaku.
Aku kebingungan harus menghadapinya seperti apa, aku tidak mungkin membalas memarahi dia di depan umum karena aku juga takut identitasku sebenarnya akan ketahuan oleh orang orang yang berada di sana apalagi jika sampai ketahuan oleh pihak universitas maka aku akan ditendang keluar secara kejam.
"A...aku aku minta maaf lagi pula ini bukan sepenuhnya salahku, kau juga berjalan sambil melihat ponselmu jelas kau malah menabrakku kau juga tidak memperhatikan jalanmu sendiri, jadi bagaimana bisa kau hanya menyalahkanku, anggap saja ini sebuah kecelakaan" ucapku membalasnya dan berusaha mengambil jalan tengah.
Bukannya menyudahi masalah tersebut dan membuat pria itu berpikiran terbuka dia justru malam menarik lenganku dengan kuat dan membawaku ke depan ruang rektor yang membuat aku semakin heran dengan apa yang ingin dia lakukan.
Dia menghempaskan lenganku tepat di depan ruang rektor dan aku membelalakkan mata kaget sekaligus tidak mengerti dengan maksudnya.
"Ada apa kau membawaku kemari?" Tanyaku dengan heran.
Dia mendekatkan wajahnya ke telingaku lalu mulai membisikan sebuah kalimat ancaman yang membuatku sangat kaget serta ketakutan.
"Kau berani membantahku maka akan aku laporkan kau sebagai penyusup pada rektor, bagaimana?" Bisik pria itu membuatku sangat kaget dan langsung mendorong dia untuk menjauh.
"Sial bagaimana orang ini bisa tahu kalau aku seorang penyusup?" Gumamku merasa heran.
__ADS_1
"Kenapa diam?, oh kau masih tidak ingin mengganti ponselku yah, baiklah ayo ikut aku masuk ke dalam" ucapnya mendesakku sambil menarik lenganku.
Aku tidak bisa memilih pilihan lain dan segera menyerah kepada orang tersebut dan terpaksa harus menuruti keinginannya dengan mengganti ponsel miliknya itu.
"Ehh ..tunggu, oke... Oke, baiklah kemarikan ponselmu aku akan menggantinya" ucapku menyerah.
Aku mengambil ponsel miliknya dan aku segera menyimpan ponsel mati itu ke dalam tas selempangku, aku pun hendak pergi karena aku pikir urusanku dengan pria itu sudah selesai tapi lagi-lagi pria itu menahan lenganku.
"Urusan kita sudah selesai nanti aku akan kembali ke sini untuk memberikan ponsel baru" ucapku sambil bergegas pergi,
"Tunggu!, Kau tidak perlu menemuiku di sini kita bisa bertemu kapan saja dan dimana saja jika kau mau" ucap pria itu membuatku mengerutkan kedua alis bersamaan.
Dia terlihat sangat aneh dengan senyum kecil yang melengkung di wajahnya, itu lebih mengerikan daripada senyum joker yang sering aku lihat di televisi, aku pun langsung menghempaskan lengannya dan segera berlari secepat yang aku bisa untuk menghindari pria aneh tersebut.
"Hah...hah...hah akhirnya aku bisa keluar dan menjauh dari pria aneh itu, huh aku tidak akan pernah mengganti ponselnya lagi pula aku yakin tidak akan bertemu lagi dengan pria menyebalkan dan aneh tersebut" gerutuku dengan nafas menderu.
Aku segera kembali ke rumah secepat yang aku bisa sedangkan tanpa Sesilia ketahui sebenarnya pria yang barusan dia tabrak adalah Brain Bramantyo ya dia adalah mahasiswa senior sekaligus asisten dosen andalan di universitas tersebut, seharusnya Sesilia juga mengenali Brain namun mungkin karena saat itu Brain memakai kacamata hitam sehingga Sesilia tidak mengenalinya.
Brain tersenyum kecil dan licik ketika melihat Sesilia pergi berlari dengan cepat untuk menghindarinya dan entah kenapa perasaan terus saja ingin menjahili Sesilia dan membuatnya menderita padahal dia tahu sendiri bahwa Sesilia adalah gadis yang akan di jodohkan oleh ayahnya untuk dirinya sendiri.
"Haha...dia tidak terlalu buruk untuk menjadi tunanganku, namun dia tetap memiliki sikap konyol yang membuatku jengkel" gerutu Brain saat melihat Sesilia berlari tunggang langgang keluar dari area kampus.
__ADS_1