
Tetapi berbeda dengan tuan Arnold, hingga sampai di rumah dia tidak membiarkan aku untuk berjalan sendiri dan menggendong aku hingga masuk ke dalam kamar dia juga menyuruh aku untuk tidak pergi kemanapun seorang diri kecuali ke kamar mandi, aku hanya bisa menurutinya dan ku lihat dia membereskan semua pakaian yang baru saja dia belikan untukku bahkan dia juga tetap membeli gaun pertama yang aku coba sebelumnya.
Gaun itu tidak dia sukai tetapi dia tetap membelikannya karena aku menyukai gaun tersebut, dia pria yang baik dan aku mulai menyukai karakternya itu. Meski di luar terlihat sangat dan kejam tapi hatinya lembut dan perasa aku merasa aman berada di sampingnya.
"Heh, kenapa kau melihatku seperti itu apa kau menyukaiku?" Tanya tuan Arnold tiba-tiba,
"A..apa? Aku hanya melihat pakaian itu, kenapa tuan membelinya bukankah tuan tidak suka aku memakai gaun itu?" Balasku balik bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
Dia sangat membuatku gugup saat itu, karena pertanyaannya begitu gamblang dan jika aku suka dengannya mana mungkin aku akan mengungkapkannya lebih dulu lagi pula aku saat ini hanya menganggapnya sebagai kakak bagiku jadi rasa suka ku berbeda dengan rasa suka seorang pasangan, maka dari itu aku mengalihkannya dengan cepat.
"Oh...gaun ini, pelayan disana bilang kau menyukainya jadi aku sekalian belikan untukmu tapi ingat, kau hanya boleh menggunakannya jika bersamaku, tidak boleh memakainya di luar sembarangan apa lagi saat tidak bersama denganku!" Ucap dia memperingati,
"CK....kenapa banyak sekali aturan" gerutuku berdecak kesal,
"Heh! Kau berdecak padaku?" Ucap tuan Arnold dengan sorot mata datar dan tajam.
Aku langsung menggelengkan kepala dan menarik selimutku hingga menutupi dada dan segera berpura-pura tidur dengan cepat karena aku takut ketahuan olehnya bahwa aku memang berdecak kesal kepadanya barusan.
Untunglah dia tidak berlama-lama disana dan segera pergi setelah semua pakaianku dimasukkan ke dalam lemari, dia juga mematikan lampu untukku dan menutup pintunya dengan pelan, aku seperti memiliki sosok ayah lagi berkat kehadirannya.
Tiga hari sudah berlalu dan dalam tiga hari itu tuan Arnold menjaga aku dengan sangat baik, mulai membantuku terus mengobati luka di kaki dan lenganku, juga membuatkan aku makanan, dia yang selama ini tidak pernah terlihat memasak untuk pertama kalinya memasak sarapan untukku dan rasanya sangat tidak enak tapi aku tetap memakannya dengan habis karena menghargai usaha yang dia lakukan dalam menjaga aku selama aku sakit, hingga kini aku sembuh dia masih terlihat baik ke padaku meski wajahnya tetap terlihat datar dan nada bicaranya yang terdengar cuek dan sedikit membentak.
__ADS_1
Kakiku sudah sehat seperti sedia kala dan hari ini aku memutuskan untuk pergi berolahraga mengelilingi rumah itu, meski tidak keluar dari lingkungan rumah tapi aku merasa senang karena akhirnya bisa menghirup udara segar dengan bebas, bisa berlari tanpa takut jatuh dan menginjak bumi dengan tenang.
"Aahhh...menyenangkan sekali bisa kembali beraktivitas seperti sebelumnya" ucapku merasa sangat senang.
Tidak lama sekretaris Ken tiba disana dan seperti biasa dia membawakan makanan untuk sarapanku dan tuan Arnold, aku berlari menghampiri dia karena penasaran dengan menu sarapan hari ini yang dia bawakan.
"Sekretaris Ken makanan apa yang kau bawa pagi ini" ucapku sambil mengiringi langkahnya dengan berlari kecil di sampingnya.
Sekretaris Ken hanya tersenyum saja kepadaku dan dia menjauhkan makanan itu dariku.
"Sekretaris Ken, kenapa kau menyembunyikannya, apa itu aku ingin lihat" ucapku semakin penasaran.
Aku berusaha untuk meraih dan mengintip di balik paper bag yang dibawa olehnya namun tetap saja aku tidak berhasil melihatnya sedikitpun hingga kami masuk ke dalam rumah dan dia duduk di depan meja makan menunggu kedatangan tuan Arnold.
"Sekretaris Ken ayo sajikan makanannya kenapa kau diam saja, aku sudah sangat lapar, ayo buka paper bag nya" ucapku sambil menatapnya tidak sabar,
"Sesilia kau lupa aturan di rumah ini, kita harus menunggu tuan Arnold baru bisa membukanya, jadi bersabarlah oke" ucapnya sambil tersenyum padaku.
Karena sekretaris Ken tidak berhasil aku bujuk, terpaksa aku harus pergi mencari tuan Arnold dan meminta agar dia segera turun.
"Ya sudah, aku akan pergi mencarinya agar bisa lebih cepat sarapan" ucapku sambil segera pergi menaiki tangga menuju kamar tuan Arnold.
__ADS_1
Sekretaris Ken hanya tersenyum kecil, dia tahu bahwa Sesilia tidak akan berani mengganggu tuan Arnold apalagi memintanya untuk segera turun, dan dugaannya memang benar saat sampai di depan pintu kamar tuan Arnold aku justru tidak bisa berkutik, tanganku sudah aku angkat dan ku kepalkan dengan kuat namun aku merasa ragu-ragu saat ingin mengetuk pintu kamarnya tersebut.
"A..ahh.....aku ketuk atau jangan yah? Nanti jika dia marah padaku bagaimana?" Ucapku memikirkan dengan menggaruk pelan belakang kepalaku.
Tapi saat itu perutku sudah sangat lama dan membutuhkan asupan makanan dengan segera, apalagi aku sudah berolahraga cukup lama sebelumnya jadi saat ini aku membutuhkan banyak makanan untuk mengisi energi di dalam diriku.
Meski begitu aku tetap saja merasa ragu dan tidak berani untuk mengetuk pintu kamarnya, aku berjalan mondar mandir menunggu dia keluar dengan sendirinya dan mengumpulkan niat untuk mengetuk pintunya, dia terasa sangat lama hingga aku memberanikan diri berniat untuk mengetuk pintunya sekaligus.
Tapi disaat aku berbalik dan tanganku sudah hampir mengetuk pintu, tuan Arnold membuka pintunya sendiri dan dia keluar dengan merapihkan jasnya menatap ke arahku sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Sedang apa kau berdiri di depan kamarku?" Tanya dia dengan tegas dan wajah datarnya.
Aku.kaget dan langsung terperangah ketika melihat dia tiba-tiba membuka pintunya seperti itu, dan aku juga merasa sangat gugup sehingga sulit untuk menjawab pertanyaan darinya, bukan hanya itu dia juga malah langsung melewati aku begitu saja disaat aku hendak menjawab pertanyaannya.
"A..anu...itu" ucapku tak sampai karena dia lebih dulu pergi,
"Aishh.....dasar manusia robot tidak memiliki perasaan! Dia yang bertanya tapi dia juga yang acuh seperti itu, huh menyebalkan sekali sih dia" gerutuku pelan dengan mulut yang memonyongkan ke depan saking kesalnya.
Aku mengikuti dia dari belakang hingga kami duduk di depan meja makan berhadapan, aku sengaja memilih duduk di samping sekretaris Ken yang langsung berhadapan dengannya tapi dia justru malah menyuruh aku untuk berpindah tempat duduk.
"Kau....berdiri dan pindahkan, jangan duduk di samping siapapun di rumah ini" ucapnya datar dan memerintah.
__ADS_1
Meski aku merasa aneh dan tidak tahu apa alasan sebenarnya dia menyuruhku berpindah duduk, tapi aku tetap menurutinya, aku pindah ke kursi yang jauh dari mereka berdua dan tentu saja itu menyulitkan aku untuk mengambil makanan yang di sajikan oleh sekretaris Ken di hadapan tuan Arnold.
Saat aku lihat ternyata menu sarapan kali ini adalah sandwich, aku sudah sangat penasaran dan antusias ketika melihat sekretaris Ken mulai mengeluarkan makanan dari paper bag coklatnya itu, namun setelah di buka isinya sangat mengecewakan, aku pikir isinya sebuah ayam goreng, ayam krispi atau ayam geprek ternyata hanya sebuah sandiwara roti lapis.