Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Masih tentang pakaian


__ADS_3

Tapi mau bagaimana lagi jika tuan Arnold sudah memberikan keputusan aku sudah tidak bisa melakukan apapun dan tetap kembali masuk ke dalam lalu mulai mencoba pakaian yang selanjutnya, yang kali ini juga tidak kalah bagus dan saat aku tidak sengaja melihat bandrol harga di dekat lehernya, aku sangat kaget melihat harganya sangat mahal bahkan ku pikir untuk orang-orang sederhana ini lebih seharga satu buah motor.


"Wahhh....harganya gila sekali, aku mana berani memakai gaun semewah ini" gerutuku pelan.


Tapi mau bagaimana pun aku tetap harus memakainya karena tuan Arnold sudah berteriak dari luar dan meminta aku untuk segera memperlihatkan gaun yang kedua tersebut.


"Hei, apa kau tidur di dalam sana, cepat ganti pakaiannya tunggu apa lagi?" Teriak tuan Arnold sangat keras.


Aku pun segera menjawabnya dengan cepat dan mulai mengambil pakaian itu dengan perlahan.


"A...ah...iya...iya tunggu sebentar ini juga akan ku ganti, tidak sabar sekali sih" balasku sedikit kesal dengannya.


Aku mengambil gaun tersebut dengan sangat lembut, dan perlahan aku pakai pada tubuhku pelan-pelan, rasanya sungguh tidak tega untuk memakai gaun semewah itu di tubuhku, meskipun dulu aku juga dari keluarga yang berada dan seorang pengusaha besar tapi pakaianku tidak pernah semahal ini bahkan ayahku selalu memintaku berhemat dan berhemat maka dari itu aku sedikit takut dan berhati-hati ketika memakai pakaian tersebut.


Gaun yang kedua ini berwarna biru dengan aksen putih kotak-kotak tanpa lengan, kerahnya sangat cantik dan tingginya diatas lututku sedikit, cukup lucu dan terlihat imut untuk aku kenakan, rasanya aku ingin berteriak dan menjerit ketika bisa merasakan menggunakan pakaian semewah ini.


"Astaga... Ini luar biasa, bagus sekali aaahhh....bisakah aku memiliki gaun ini cantik sekali" ucapku berbicara sendiri sambil berputar menatap pantulan diriku cermin besar tersebut.


Setelah aku rasa bagus dan semuanya sudah aman, barulah aku keluar dengan perlahan dan tersenyum menatap pada tuan Arnold lagi-lagi dia menatapku diam tertegun dan tidak mengucapkan sepatah katapun sampai ketika aku bertanya kepadanya barulah dia menyatu dengan sedikit linglung begitu.



"Tu...tuan" ucapku memanggilnya,


"Aahhh ...iya, bagaimana apa kau suka gaunnya?" Tanya tuan Arnold kepadaku.


Aku langsung mengangguk dengan tersenyum kecil kepadanya.


"Ya sudah ambil itu dan coba lagi yang berikutnya" balasnya dengan santai dan menyetujui keinginanku dengan sangat mudah.

__ADS_1


Bahkan aku langsung membuka mataku lebar karena tidak percaya dia bisa langsung memberiku gaun cantik dan seharga satu buah motor dengan sebegitu mudahnya, bahkan dia terlihat tidak berpikir sama sekali, sehingga aku mencoba untuk menanyakannya lagi agar lebih pasti.


"HAH? Tu....tuan apa kau yakin aku boleh mengambil gaun ini?" Tanyaku memastikan,


"Iya tentu saja, memangnya kenapa?" Balasnya dengan santai,


"Tapi harganya itu loh tuan, apa kau masih yakin?" Ucapku masih merasa sedikit ragu,


"Aishh....apa kau pikir aku orang miskin, sudah cepat bungkus itu dan kembali coba gaun lainnya. Cepat....cepat!" Ucapnya sambil mendorongku masuk kembali ke dalam ruang ganti lagi.


Aku merasa senang ketika mendengar itu dan aku tersenyum senang berjingkrak di depan cermin yang ada di dalam ruang ganti itu.


"Aaahh... Aku senang sekali, gaun cantik ini akan menjadi milikku, haha....tuan Arnold ini memang gila dia mengijinkan aku membeli pakaian semahal ini" ucapku bicara sendiri dengan kegirangan.


Aku lanjut mengganti dengan gaun yang selanjutnya, kali ini yang akan aku kenakan adalah sebuah gaun berwarna kuning yang sangat pendek dan tanpa lengan, bagian dadanya juga terlihat sangat turun sehingga membuat aku sedikit gugup ketika sudah memakainya.


"Aduhh... Kenapa gaun ini pendek sekali, aku merasa malu sendiri memakainya, bagaimana ini" gerutuku merasa tidak nyaman saat memakainya.


Gaun ke tiga.



"Astaga! Aishh....apa yang kau pakai, apa kau ingin membuat semua laki-laki tertuju tatapannya kepadamu! Heh kau pelayan macam apa kau berani memberikan pakaian kurang bahan seperti itu kepada gadis seusianya, cepat kau kembali dan ganti dengan yang lebih baik!" Bentaknya memarahiku tidak jelas.


Aku merasa heran dan bingung, apalagi disaat dia mengataiku seperti itu padahal semua pakaian yang aku coba sedari tadi dia sendiri yang mengambilnya bersama pelayan sebelumnya, aku sedikit kesal dan bad mood karenanya.


"Huh!....tuan, kalau kau tidak suka dengan pakaiannya jangan malah membentakku seperti itu, yang salah juga dirimu sendiri, kan kau sendiri yang memilihnya, aku hanya mencoba saja, kenapa kau malah mengatakan hal yang tidak pantas, lagi pula jika aku berniat untuk membuat semua pria menatap ke arahku, aku sudah melakukannya sejak lama!" Bentakku membalasnya dan segera berbalik pergi kembali ke ruang ganti.


Sayangnya di saat aku berbalik karena terburu-buru dan aku tidak hati-hati dalam berjalan, aku justru malah terpeleset dan tuan Arnold langsung menyanggah tubuhku, kakiku mulai terasa ngilu dan sakit sehingga aku tidak bisa menyembunyikan refleks di wajahku.

__ADS_1


"Aaahh....aa..aaawww...aduh...sakit...kakiku..." Ucapku meringis.


Tuan Arnold terlihat cukup panik dan dia segera menggendongku lalu membawa aku langsung keluar dari toko itu, dia bahkan berlari sambil menggendongku dan segera membawa aku ke dalam mobil sedangkan semua pakaian tadi dia ambil begitu saja dan pelayan memasukkannya ke dalam bagasi mobil miliknya dengan cepat.


"Apa kau baik-baik saja? Tolong bertahan sebentar, aku akan segera membawamu ke rumah sakit" ucapnya sambil memasangkan sabuk pengaman padaku.


Dia langsung menyalakan mobil dan melakukannya dengan cepat aku masih merasa kaget dan terperangah melihat tuan Arnold yang begitu sigap dalam merawatku dia bahkan bergerak sangat cepat tidak memperdulikan apapun disekitarnya dan terus mencemaskanku.


Wajah panik dan seriusnya itu sungguh membuatku tenang dan tanpa sadar aku tersenyum saat melihatnya, rasa sakit di kakiku juga tidak terasa lagi karena teralihkan dengan menatap wajah tuan Arnold yang begitu menyenangkan.


"Tuan mengemudilah lebih pelan, aku baik-baik saja kakinya sudah tidak terlalu sakit" ucapku kepadanya pelan,


"Tidak! Kakimu itu harus ditangani dengan benar, dan jika sesuatu terjadi dengan kakimu, aku tidak akan memaafkan diriku sendiri.


"Sudah sekarang kau diam saja biar aku melakukan tugasku" ucapnya dengan tegas.


Dari wajahnya aku bisa melihat dan merasakan ketegasan dan rasa tanggung jawab di dalam dirinya yang begitu besar terhadapku, aku benar-benar merasa terharu melihatnya yang merawat aku dan menjagaku dengan baik, padahal aku ini hanyalah orang asing baginya dan mungkin hanya sebuah beban di hidupnya, tapi dia tetap memperlakukan aku dengan baik, memberiku rumah, tempat tidur bahkan pakaian dan makanan untukku.


Ayahku sendiri saja tidak memperdulikan nasibku dan dia sama sekali tidak pernah mencoba mencari tahu keberadaanku, tidak pernah memberiku pakaian mahal, atau mengkhawatirkan aku seperti ini selama hidupku.


Dia benar-benar cocok untuk ku sebut sebagai pelindungku, dia orang paling baik yang pernah aku temui dan aku sudah menganggapnya sebagai kakakku sendiri mulai saat itu.


Hingga ketika sampai di rumah sakit tuan Arnold masih saja mencemaskan aku bahkan ketika dia hendak menggendongku keluar dari mobil dia segera mengurungkan niatnya karena melihat pakaianku yang terlalu terbuka sebab sebelumnya tidak sempat berganti pakaian lagi.


Dia pun melepaskan jasnya dan mengenakan jas itu ke tubuhku, dia sangat menghormati aku bahkan menatap padaku dahulu sebelum menggendongku.


"Pegang jasnya jangan sampai orang lain melihat auratmu" ucapnya dengan sorot mata yang yang cukup tajam,


"Eumm" balasku sambil mengangguk patuh.

__ADS_1


Kemudian dia segera menggendong aku dan membawaku masuk ke dalam rumah sakit, dia segera menyuruh dokter paling bagus di rumah sakit itu untuk memeriksa kakiku lebih dulu dibandingkan dengan pasien lainnya yang mengantri di luar.


Dia sangat memproritaskan aku, dan aku merasa di Ratu kan oleh seseorang untuk pertama kalinya, saat dokter memeriksa kakiku dan memutuskan untuk memberikan obat pereda nyeri padaku aku hanya menurutinya karena rasa sakit itu sudah hilang sejak beberapa saat yang lalu dan dokter juga sudah menjelaskan bahwa kakiku akan segera sembuh, jadi aku tidak terlalu mengkhawatirkan itu.


__ADS_2