
Namun ketika mata tuan Albert mulai melihat ke arah tangan Sesilia yang tengah dibalut dengan sebuah sobekan kain hingga kain putih itu dipenuhi dengan warna merah sehingga warnanya berubah, dia menjadi cemas dan seketika meraih tangan Sesilia.
"Heyy....apa kau sungguh menggores tanganku sendiri?" Tanya tuan Albert dengan wajah yang tegang,
"Iya...ini buktinya mana mungkin aku berbohong aku kan sudah bilang aku sudah memutuskan hubungan antara ayah dan anak dengan dia, aku membencinya dan aku keluar dari rumah" balasku mengatakannya lagi.
"Bodoh ...kau bodoh!" Ucap tuan Albert sambil menyentil jidat Sesilia hingga dia meringis kesakitan.
"Awww...tuan apa yang kau lakukan ini sakit" ucapku sambil mengusap jidatku yang terasa lumayan sakit,
Tuan Albert segera menyuruh sekretaris Ken untuk meningkatkan laju mobilnya agar mereka bisa segera sampai di rumah dan mengobati luka di tangan Sesilia segera. Sekretaris Ken segera menuruti perintah tersebut dengan perasaan yang masih kaget karena dia pikir ucapan Sesilia sebelumnya hanyalah candaan namun ternyata dia benar-benar menggores tangannya.
Dan itu berarti dia benar-benar telah kehilangan hubungan darah dengan ayahnya, sekretaris Ken hanya bisa menggelengkan kepala dan kagum dengan karakter Sesilia yang sangat mirip dengan tuan Arnold Albertus. Ya nama panjang tuan Arnold adalah Arnold Albertus dia sering di panggil tuan Arnold ataupun tuan Albert semua mengetahui hal itu.
Hingga sesampainya di kediaman tuan Arnold, dia tiba-tiba saja menggendongku dan membawaku masuk ke dalam rumahnya, meski aku sudah berusaha berontak dan meminta agar dia menurunkanku tetap saja dia diam dan mengabaikan aku padahal aku sudah membentak dia dengan menyebutkan nama lengkapnya karena aku tahu itu dari sekretaris Ken sebelumnya.
"Hey....tuan...lepaskan aku cepat turunkan aku apa yang kau lakukan hey aku masih bisa berjalan" teriakku berontak,
Dia tetap tidak menurunkan aku dan dia membawaku masuk lalu mendudukkan aku di sofa rumahnya lalu dia menunjuk ke arahku dan memerintahkan aku untuk tetap diam di sana, aku pun hanya terdiam saja sampai dia kembali dengan membawa kota obat dan mulai menyuruhku untuk mengulurkan tangan yang luka.
"Ulurkan tanganmu yang luka itu" perintahnya mendominasi,
"Untuk apa?" Tanyaku heran dengan kedua alis yang dikerutkan bersamaan,
__ADS_1
"Kau tidak lihat aku membawa apa, tentu saja untuk mengobati lukamu, cepat kemarikan tanganmu" ucap pria itu yang lagi-lagi berbicara dengan aksen mendominasi.
Aku pun dengan perlahan mengulurkan tanganku tapi dia langsung menarik lenganku dengan kuat lalu dia membuka balutan kain yang aku buat sebelumnya, tapi ada yang berbeda di saat aku menutup mataku karena aku pikir dia akan melepaskan balutan itu dengan kasar, ternyata dia membukanya dengan perlahan dan sangat lembut.
"Ehh....kenapa tidak terasa sakit?" Ucapku heran sambil kembali membukakan mataku.
Dia hanya tersenyum kecil lalu menatapku sekilas dan mulai membersihkan luka ku dengan alkohol, disitulah baru aku rasakan sakit yang luar biasa dan rasa perihnya itu menjalan di seluruh tanganku.
"Aw...perih....heh, tuan bisakah kau melakukannya dengan benar!, Tanganku sakit hiks...hiks..." Teriakku menangis dan meringis kesakitan.
Dia tetap saja dengan wajah datarnya dan tidak berpengaruh sedikit pun meski aku sudah meringis kesakitan habis-habisan dan rasanya begitu ngilu.
"Hey...apakah kau memiliki perasaan?, Aku bilang itu menyakitkan!" Bentakku lagi kepadanya,
"Kau....aaahhh....sudah...sudah aku bisa mengobati lukaku sendiri, lepaskan saja tolong lepaskan, ini sangat sakit...hiks...hiks..." Ucapku kembali menangis karena dia memberikan obat kepada lukaku sekaligus.
Dia benar-benar pria yang kasar aku mencabut kembali ucapanku saat mengira dia mengobati lukaku dengan lembut nyatanya dia kasar dan membuat aku terus meringis kesakitan dan menangis, bahkan disaat aku menangis kesakitan dia tidak perduli sama sekali dan dia terus saja memegangi tanganku dengan kuat hingga aku merasa kesakitan.
Sampai lukanya sudah selesai dibalut aku masih bisa merasakan rasa sakit itu, dan rasanya itu terus saja menjalar di tanganku hingga aku, kelepasan memukulnya karena dia juga yang sudah membuat tanganku seperti ini.
"Eughh...buk...buk...buk....sakit ini sakit hiks...hiks..." Ucapku sambil memukulnya beberapa kali dan sekretaris Ken, menahan tanganku dengan cepat.
"Stop...gadis kecil apa yang kau lakukan, kenapa kau malah memukuli tuan Arnold, apa kau mau mati yah?" Ucap Sekretaris Ken menahan lenganku,
__ADS_1
"Apa dia bukannya mengobati luka di tanganku tapi dia justru membuatnya semakin sakit, kau lihat ini tanganku dibungkus seperti ini olehnya dan ini terlalu kencang aku sulit membukanya sendiri ini sakit sekretaris Ken...hiks...hiks.." ucapku terus menangis merasakan tanganku yang berdenyut denyut.
Tuan Arnold Albertus itu justru malah pergi meninggalkanku begitu saja sedangkan sekretaris Ken langsung membantuku membukakan balutan di tanganku yang dibuat oleh tuan Arnold sebelumnya.
"Ya sudah....sudah....sini biar aku bantu kau lepaskan yah, maafkan saja tuan Arnold dia hanya ingin membantumu tapi dia tidak tahu cara melakukannya, wajar saja dia tidak pernah membalut luka kau harus memakluminya oke" ucap sekretaris Ken membenarkan balutan luka di tanganku hingga selesai.
Aku menganggu pada sekretaris Ken, dia jauh lebih lembut dibandingkan dengan tuan besar itu dan tanganku sudah terasa jauh lebih baik dari pada sebelumnya, dia sepertinya lebih mirip ingin membuat tanganku lebih terluka daripada mengobatinya aku sangat kesal dan tetap saja tidak bisa melupakannya sekalipun sekretaris Ken sudah memintaku untuk memakluminya.
Setelah sekretaris Ken selesai membalut kembali luka ku, pria itu datang kembali dan dia menyuruh sekretaris Ken untuk pulang karena dia bilang ini sudah larut sedangkan aku tidak ingin sekretaris Ken pergi, dia orang baik aku takut pria tua dan besar itu akan melakukan hal jahat lagi kepadaku makanya saat sekretaris Ken hendak pergi aku segera menahan lengannya dengan kuat.
"Ken ini sudah larut sebaiknya kau pulang" ucap tuan Arnold dengan memberikan kode,
"Baik tuan saya akan segera pergi" balas sekretaris Ken menuruti,
"Ehh...tidak kau tidak boleh pergi bagaimana bisa kau mau meninggalkan aku berdua saja dengan tuan Albert yang kasar dan berwajah dingin ini, aku tidak akan sanggup menghadapinya, tolong jangan pergi sekretaris Ken" ucapku menahannya sambil memegangi lengannya dengan kuat.
Tuan Arnold yang melihat Sesilia memegangi lengan sekretaris Ken tentu saja dia merasa kesal dan emosi dia perlahan mengepalkan kedua lengannya dan sekretaris Ken yang menyadari perubahan tersebut dia segera melepaskan lengan Sesilia yang memegangi lengannya karena dia takut amarah tuan Arnold akan meluap saat itu.
"Ehehe....Sesilia tidak bisa begitu kau harus bersama tuan Arnold dia juga pria yang baik bahkan lebih baik dariku hanya saja kau belum mengenalnya, dan aku sarankan sebaiknya kamu jangan memanggilnya dengan nama belakangnya dia tidak menyukai itu" ucap sekretaris Ken sambil menjauh dari Sesilia.
"Haduhh matilah aku jika gadis nakal ini terus menempel denganku" gumam sekretaris Ken yang merasa ngeri.
Visual Sesilia Kiehl.
__ADS_1