
Tangan dokter tersebut bergetar, dan dia segera masuk ke dalam untuk memeriksa Sesilia bahkan disaat para perawat lain hendak menyentuh Sesilia dokter tersebut berteriak beberapa kali untuk memastikan mereka benar-benar memeriksanya dengan lembut dan baik, hingga membuat suster lain yang ada di dalam bersamanya menatap dengan heran dan kebingungan sebab mereka tidak mengetahui siapa yang tengah mereka hadapi saat ini.
Sedangkan disisi lain tuan Arnold terus saja merasa cemas dan dia berjalan mondar-mandir tidak jelas berulang-ulang kali di depan sekretaris Ken sampai Ken yang melihatnya menjadi pusing dan jengkel.
"Tuan bisakah anda menjadi lebih tenang, lagi pula gadis kecil itu sedang ditangani oleh dokter terbaik di rumah sakit ini, kau bisa mempercayainya" ucap sekretaris Ken berniat untuk menghentikan tuan Arnold agar tidak terlalu cemas berlebihan.
Bukannya menuruti ucapan sekretaris Ken, tuan Arnold justru malah langsung memarahi sekretaris Ken dengan sangat keras dan mata terbuka sangat lebar.
"Ken apa yang kau katakan barusan, apa kau tidak lihat dokter tadi bicara denganku saja tangannya bergetar seperti itu bagaimana aku bisa mempercayai dia sepenuhnya" jawab tuan Arnold dengan keras,
"Aishh....tentu saja dokter itu ketakutan karena kau mengancamnya seperti tadi" gumam sekretaris Ken dalam hati kecilnya.
Dia tidak berani mengungkapkan semuanya secara langsung pada tuan Arnold karena sudah tahu apapun ucapan darinya itu tidak akan pernah masuk ke dalam otak tuan Arnold yang sedang mencemaskan Sesilia seperti ini, sampai tidak lama akhirnya dokter selesai memeriksa dan disaat dokter itu baru saja keluar dari ruangan tuan Arnold sudah langsung menghampirinya bahkan memegang kedua pundak dokter itu dengan erat.
Bukan hanya dengan erat tapi matanya juga melotot serta bertanya dengan nada sedikit membentak membuat sang dokter kembali menjadi sangat gugup saat hendak menjawabnya.
"Heh dokter, bagaimana keadaannya apa dia baik-baik saja, dokter apa kau tuli cepat jawab!" Bentak tuan Arnold yang sudah tidak sabar.
Sekretaris Ken yang paham dengan keadaan dokter tersebut dia pun segera menghampiri tuan Arnold dan dia menahan tangan tuan Arnold sambil berbicara berusaha untuk menenangkan dia hingga perlahan tuan Arnold mau menurunkan tangannya dan dokter segera menjelaskan.
"E...e..ehh tuan sabar tuan sabar, mari turunkan dulu tanganmu dan kita dengarkan penjelasannya" ucap sekretaris Ken sambil memegangi tangan tuan Arnold,
__ADS_1
"Baiklah, sekarang cepat katakan dengan jujur" tambah tuan Arnold yang sudah jauh lebih tenang dari sebelumnya.
Meskipun sorot matanya masih sangat jelas menggambarkan bahwa dia masih sangat mencemaskan Sesilia tapi keadaannya saat ini sudah jauh lebih baik daripada membuat dokter ketakutan seperti sebelumnya.
"Be..begini tuan nona manis itu baik-baik saja dan dia hanya pingsan karena kelelahan sebab dia memiliki tensi darah yang rendah, mungkin itu juga disebabkan karena badannya terlalu banyak terguncang" ucap dokter menjelaskan.
Tuan Arnold akhirnya bisa bernafas dengan lega setelah mendengar bahwa Sesilia hanya kelelahan dan memiliki darah rendah, dia langsung merasa tenang dan segera menerobos masuk ke dalam ruangan.
"Aaahh...syukurlah dia baik-baik saja, minggir kau aku akan memberikan kalian bonus karena memeriksa wanitaku dengan baik" ucap tuan Arnold dengan senang dan segera masuk ke dalam.
Sementara dokter itu terlihat begitu bahagia dan dia langsung berjalan dengan penuh percaya diri dan rasa takutnya sudah hilang seketika berbeda dengan perawat lain yang hanya menatap kebingungan dengan kejadian yang mereka hadapi hari ini, sedangkan sekretaris Ken hanya bisa menggelengkan kepala dan memijat keningnya perlahan.
Meski dia sudah biasa melihat tingkah tuan Arnold yang selalu marah-marah tetapi dia baru kali ini melihat kelakuan tuan Arnold begitu random dan berubah-ubah hanya dalam hitungan detik, bahkan dia sendiri hampir tidak dapat mengendalikannya, dan dia hanya bisa berjalan dengan lesu sambil menggelengkan kepalanya pelan dan mengikuti tuan Arnold masuk ke dalam ruangan rawat tersebut.
"Essstt....aduh kenapa kepalaku terasa pusing sekali yah?" Ucap Sesilia sambil memegangi kepalanya,
Tuan Arnold langsung bertanya kepadanya dengan wajah yang cemas dan langsung meminta sekretaris Ken untuk kembali memanggil dokter.
"Dimana yang sakit, sekretaris Ken cepat panggil dokter kembali, cepat" ucap tuan Arnold yang begitu panik tidak jelas.
Aku yang saat itu baru saja sadar dari pingsan sungguh merasa heran ketika melihat raut wajahnya yang terlihat begitu panik dan dia berteriak menyuruh sekretaris Ken untuk memanggil dokter aku pun segera menghentikannya karena ku pikir sakit seperti ini tidak membutuhkan dokter.
__ADS_1
"Eh...eh ..jangan, tuan kau ini kenapa sih aku hanya bilang kepalaku pusing dan dokter juga sudah memeriksaku barusan, aku hanya perlu makan tablet tambah darah saja, nanti juga akan langsung sembuh" balasku menahannya sambil memegangi tangan tuan Arnold.
Dia pun akhirnya langsung terdiam dan tiba-tiba saja memelukku dengan erat sampai aku hampir tidak bisa bernafas karena dia memelukku sangat erat.
"Hey....hey...tuan lepaskan, aku sulit bernafas hey...." Ucapku berusaha melepaskannya.
Akhirnya dia mau melepaskan pelukannya dariku dan aku bisa kembali bernafas dengan lega, aku sungguh tidak mengerti dengan sikapnya itu, dia sungguh terlihat sangat aneh dari sebelumnya.
"Tuan apa kau salah minum atau apa kenapa kau terlihat begitu panik, siapa yang membuatmu menjadi gila seperti ini, merepotkan sekali!" Ucapku dengan sedikit kesal.
Sekretaris Ken yang mendengar itu dia kaget bukan main dan refleks langsung membuka matanya sangat lebar dan dia mulai ketakutan karena melihat wajah tuan Arnold yang langsung berubah menjadi datar serta menjaga jarak dari Sesilia dalam seketika.
"Aishhh...sial gadis kecil itu malah membuat tuan Arnold menjadi kesal, tuhan semoga saja aku tidak mendapatkan imbasnya" gumam sekretaris Ken merasa takut dan cemas.
Aku berusaha untuk turun dari ranjang rumah sakit tersebut tapi sayangnya ranjang itu terlalu tinggi untukku sehingga kaki pendekku ini tidak bisa menyentuh lantai dengan benar, aku pun meminta bantuan tuan Arnold yang jelas ada dihadapanku saat itu tapi dia justru malah mengabaikan aku disaat aku meminta bantuannya.
"Euu..euuuh....aishh siapa sih yang membuat ranjang rumah sakit menjadi setinggi ini, bagaimana aku turun....tuan bisakah kau membantuku aku tidak bisa menyentuh lantai dengan benar" ucapku meminta bantuannya,
"Turun saja sendiri, dasar pendek" ucapnya yang malah meledekku aku.
Aku terperangah mendengar ucapannya dan dia malah berjalan keluar dari ruangan itu dengan santai tanpa menoleh sedikitpun kepadaku, untunglah sekretaris Ken datang dan langsung membantuku turun saat itu juga.
__ADS_1
"Eh...ada apa sih dengannya aneh sekali?" Gerutuku keheranan,
"Sudah gadis kecil, ayo aku bantu kau turun pelan-pelan oke" ucap sekretaris Ken dengan lembut.