Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Memutuskan Hubungan


__ADS_3

Sedangkan Tante Maria terus menunggu hingga Sesilia siuman meskipun dokter sudah membawa jasad nyonya Laura ke ruang mayat dan siap untuk dikebumikan, Tante Maria meminta kepada pihak rumah sakit agar menunggu dahulu sampai Sesilia siuman agar dia bisa melihat dahulu wajah ibunya meski untuk yang terakhir kalinya.


"Sesilia sayang bangunlah nak, kamu harus kuat sayang hiks...hiks....hiks" ucap tante Maria dengan memegang lengan Sesilia begitu erat.


Beberapa saat kemudian akhirnya Sesilia tersadar dan dia langsung meminta kepada tante Maria agar membawanya kepada sang ibu.


"Sayang Sesilia akhirnya kamu sadar juga" ucap Tante Maria merasa senang,


"Tante dimana ibuku, aku ingin melihatnya dahulu, dimana ibuku Tante?" Tanya Sesilia dengan histeris dan dia terus berusaha berontak dan turun dari ranjang rumah sakit.


Tante Maria membantu Sesilia untuk pergi ke ruang mayat saat itu juga dan Sesilia kembali bergetar hebat, aku tidak tahan melihat sosok ibuku yang selama ini aku rawat dan aku pertahanku sudah terbujur kaku di atas sebuah peti mati, aku menghampirinya dan melihat wajah ibuku untuk yang terakhir kalinya.


"Hiks...hiks....hiks... Ibu, kenapa kenapa kau pergi meninggalkanku begitu cepat?, Kenapa ibu?, Hiks...hiks... Maafkan aku ibu ini salahku, semuanya kesalahanku" ucapku menyalahkan diriku sendiri.


Tante Maria memelukku dan dia berusaha menguatkan aku tapi tidak bisa aku tetap merasa bahwa semua ini adalah kesalahanku, seandainya aku tidak memberikan kesempatan kepada Johanan maka semua ini tidak akan terjadi dan mungkin aku sudah mendapatkan kembali seluruh harta kekayaan ibuku, dan aku tidak akan se menderita ini.


"Sesilia, sayang kamu harus kuat nak ibumu akan segera dikebumikan kamu harus bisa mengikhlaskan kepergiannya agar dia bisa tenang di alam sana, dia sudah tidak merasakan sakit lagi, percayalah Sesilia kamu harus tabah" ucap tante Maria sambil terus memelukku dan mengusap lembut punggungku.


Aku berusaha untuk berhenti meratapi kepergian ibuku dan aku juga mengingat pesan ibuku saat aku bermimpi sebelumnya, apa yang dikatakan oleh tante Maria memang benar, aku seharusnya tidak menangis seperti ini, aku tidak boleh membuat ibu terganggu dan aku harus tegar atas kepergiannya.


"Tante kau benar, ibu sudah bahagia dia sudah benar-benar sembuh sekarang harusnya aku senang bukan meratapinya" ucapku sambil langsung berhenti menangis dan mengusap sisa air mat di pipiku.


Setelah aku merasa jauh lebih tenang kami pun mulai mengurusi pemakaman ibuku dan segera menuju ke tempat pemakaman umum yang tidak jauh dari sana, selama proses pemakaman berlangsung aku terus berusaha menahan air mataku agar tidak jatuh, aku hanya tersenyum menahan kesedihan bersama tante Maria yang selalu ada menamaniku disamping, disana juga hadis suami Tante Maria yang tak lain adalah seorang dokter yang menangani ibuku sebelumnya, dia juga dokter yang merawat ibuku selama ini hingga dia berangsur sembuh.


Namun hanya karena Dona dan Siska ibuku harus kehilangan nyawanya, aku sangat membenci mereka dan tidak akan pernah memaafkan mereka bertiga.


Setelah selesai pemakaman suami Tante Maria yang tak lain adalah dokter Margo harus segera kembali ke rumah sakit karena dia masih meninggalkan banyak pekerjaannya disana dan segera berpamitan kepada istrinya tante Maria juga kepadaku.


"Sayang aku harus kembali ke rumah sakit dan Sesilia kamu baik-baik bersama istriku jika kau membutuhkan apapun kami akan selalu ada di sampingmu" ucap dokter Margo sambil menepuk pundakku,


"Iya dokter, terimakasih banyak karena kamu dan istrimu telah memperlakukan aku dan ibu dengan sangat baik" balasku padanya sambil membungkuk memberi hormat.


Dokter Margo hanya tersenyum sesaat lalu dia segera pergi meninggalkan kami sedangkan aku masih ingin duduk di depan makam ibuku yang masih sangat baru, aku terus menaburkan bunga diatas makamnya hingga semua bunga yang aku bawa habis barulah setelah itu tante Maria mengajakku untuk pergi dari sana sebab hari sudah mulai gelap.


"Sayang ayo kita kembali, ini sudah hampir malam, kita tidak mungkin terus berada disini" ucap tante Maria menyadarkan aku,


"Baik Tante ayo kita pergi, ibu aku pergi dulu yah" ucapku berpamitan pada ibuku.


Aku tahu ibuku pasti bisa melihatku dari atas sana dan aku berusaha tegar untuk kepergiannya, aku tidak ingin membuat ibuku cemas dan memikirkan masalahku ketika dia sudah seharusnya tenang di alam sana.


Tante Maria mengajakku agar aku pulang bersamanya ke rumah dia bersama dokter Margo namun aku merasa tidak enak jika harus tinggal di rumahnya dan semakin merepotkan dirinya sehingga aku menolak dan memilih untuk tetap kembali ke kediamanku yang semula.


"Sayang sebaiknya kamu tinggal bersama Tante saja ya, Tante akan merawatmu sama seperti ibumu, Tante janji akan mengambil hak asuh kamu dari ayahmu asalkan kamu mengijinkannya" ucap Tante Maria membujukku,


"Maafkan aku Tante, bukannya aku tidak menyukaimu ataupun tidak ingin tinggal bersamamu tetapi aku harus mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku, aku tidak akan pergi tanpa perjuangan sama sekali, aku harus tinggal di dalam rumahku sendiri disana juga banyak kenangan ibuku aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja" ucapku kepada tante Maria sambil memegang kedua lengannya dengan erat.


Untunglah Tante Maria mengerti apa yang aku maksud dan apa yang aku inginkan sehingga dia dapat menerima keputusanku dengan lapang dada dan mengijinkan aku untuk kembali ke kediamanku semula.


Dia hanya mengantarkan aku hingga kedepan gerbang rumahku lalu pergi begitu saja sedangkan aku segera masuk ke dalam dan berusaha menguatkan mental ku dengan menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan.

__ADS_1


Aku tahu siapa yang akan aku hadapi saat ini dan aku tahu jelas seberapa kuat musuhku itu sehingga aku sudah mempersiapkan diriku sendiri untuk hal hal buruk yang akan terjadi saat aku masuk ke dalam rumah itu.


Aku tidak mengetuk pintu dahulu dan langsung menerobos masuk ke dalam, kulihat disana sudah ada Dona dan Siska mereka dengan gembiranya menikmati makanan dan minuman lezat di dalam rumahku seperti tengah merayakan hancurnya hatiku, aku sangat benci ketika melihatnya dan aku memutuskan untuk mengabaikan keberadaan mereka.


Aku terus berjalan lurus hingga menaiki tangga sampai Siska berteriak dan menahan langkahku.


"SESILIA!, Bagaimana bisa kau kembali kemari?" Ucap Siska berteriak kepadaku,


Aku langsung menghentikan langkahku dan aku menengok sedikit ke kanan lalu mulai mengatakan kalimat dengan sinis.


"Ini rumahku jelas aku akan kembali kesini, dan kau siapa kau?, Kenapa ada di rumahku?" Ucapku dengan sinis tanpa melihatnya dan langsung kembali melanjutkan langkahku menuju kamarku.


Aku masuk ke dalam kamarku segera karena aku malas menghadapi mereka namun saat aku masuk kamarku sudah berubah semuanya berubah menjadi warna pink dan seisi kamarku benar-benar berubah, barang-barang milikku sebelumnya sudah diganti entah dengan barang milik siapa, aku tahu itu pasti milik Siska dan mungkin itu alasan kenapa dia menghentikan aku sebelumnya.


Aku berjalan semakin masuk ke dalam kamarku dan aku mulai merusak semuanya, aku menyobekkan semua pajangan dan poster yang ada di dinding kamar tersebut, lalu aku langsung memecahkan beberapa pajangan mewah dan karakter fiksi yang ada di meja hias berwarna pink di kamar tersebut, meja riasnya yang berisikan banyak sekali make up kecantikan aku juga merusaknya dan membuat semua benda disana hancur berserakan di lantai.


"Sampah...semua ini sampah...." Ucapku dengan menahan kekesalan dan terus menghancurkan semua barang yang ada disana,


Tidak lama Siska berlari dan menerobos masuk ke dalam kamar lalu dia mendorongku dan kaget melihat kamar tersebut telah hancur berantakan.


"Apa....kamarku....ibu lihat dia menghancurkan semua barangku dan dia merusak kamarku" ucap Siska sambil berlari memeluk ibunya.


Aku hanya berdiri tanpa ekspresi melihat akting yang dilakukan perempuan hina tersebut, bukan hanya Dona yang datang ke kamar itu setelah Siska namun Johana juga datang dia menatap ke arahku dengan tatapan yang penuh emosi aku tahu dia akan membenciku dan marah terhadapku karena aku menghancurkan kamar itu.


"Sesilia apa yang kau lakukan, kenapa kau menghancurkan semua barang milik Siska?" Ucap Dona dengan nada suara yang tinggi,


"Mengapa kau bertanya padaku?, Harusnya aku yang bertanya pada kalian bertiga kenapa sampah ini bisa ada di kamarku!" Ucapku membalikan perkataan merek.


"Sayang lihatlah putrimu itu sudah berani membentakku dan dia melawanku seperti itu" ucap Dona sambil memeluk lengan ayahku.


Aku benci melihat semua itu dan aku kepalkan kedua lenganku untuk menahan emosi yang sudah menjalar di seluruh tubuhku.


Johana menghampiriku dan dia memegangi pundakku tapi aku langsung menghempaskan lengannya itu, aku tidak sudah tangan kotor miliknya menyentuh tubuhku walau hanya sedikit, bahkan berada dekat dan melihat wajahnya sudah membuatku muak.


"Sesilia ada apa denganmu?" Tanya Johana kepadaku dengan wajah yang heran,


"Jangan berpura-pura perduli terhadapku Johana, aku ingat dan aku tahu kau yang mencelakaiku dan kau yang membuat kepalaku seperti ini, kau juga yang membuang aku di jalanan bukan?, Kau berharap aku dan ibuku mati di waktu yang sama namun sayangnya aku selamat dan hanya ibuku yang mati, kau kecewa karena aku kembali Johana, iya kan?" Bentakku dengan mata yang merah padam,


Johana yang saat itu baru mengetahui bahwa Laura meninggal dunia dia sangat kaget sedangkan Siska dan Dona mereka bahagia karena mereka memang sudah mengetahui kabar tersebut dari pegawai rumah sakit yang telah bersekongkol dengan mereka sejak lama.


"Apa?, Ibumu dia....dia meninggal?, Kapan dia meninggal kenapa kamu baru memberitahu ayah?" Tanya Johana dengan kaget,


"Haha...bukankah istri dan putri simpananmu sudah mengetahuinya bahkan mereka telah merayakan kematian ibuku dan mereka juga berharap aku mati kenapa kau tidak tahu soal itu Johana?" Balasku kepada ayahku membuka aib Dona dan Siska.


Aku pikir Johana akan sadar namun rupanya dia memang telah dibutakan mata hatinya oleh Dona sehingga dia tidak mempercayai ucapanku dan malah menamparku dengan sangat keras.


"Plakkk....Sesilia ayah tidak pernah mendidikmu seperti ini?, Kenapa kau tumbuh begitu buruk bahkan berani memfitnah ibu tirimu sendiri, meski dia adalah ibu tiri dan saudara tiri bagimu kau harus menghormatinya!" Bentak Johana setelah menamparku dengan keras,


Aku ingin menangis namun tangisan itu sudah hilang air mata sudah tidak bisa keluar dari pelupuk mataku, aku berusaha menahan rasa sakit di pipiku karena tamparan darinya dan aku mulai kembali mengangkat kepalaku sambil tersenyum sekilas kepada Johana.

__ADS_1


"Hhaa...kau berani menamparku Johana?, Kau memang tidak pantas menjadi ayahku, jika kau menginginkan semua kekayaan ibuku, ambil Johana aku tidak akan mempermasalahkannya kau tidak perlu takut aku akan mengugatmu karena telah membunuh ibuku, mencelakaiku bahkan mencuri harta kekayaan keluargaku" ucapku dengan tegas dan keras.


Lalu aku mengambil serpihan pecahan kaca di lantai lalu aku menggoreskan luka ditanganku ya aku memotong tanganku sendiri dan aku menarik paksa lengan Johana.


"Srettt.....ini adalah tanda bahwa mulai sekarang kau dan aku tidak memiliki hubungan darah apapun lagi, kau bukan ayahku lagi Johana" ucapku sambil menempelkan darahku dan darah dari tangannya yang mengalir saat itu.


Aku menyobek kain pakaianku sendiri lalu membalut luka ditanganku yang aku buat sendiri dan aku pergi dari tempat itu dengan menyenggol bahu Johana cukup keras sambil membalut luka ditanganku.


Johana ambuk dia lemas, kaget dan membiarkan begitu saja lengannya yang terluka, dia kaget karena melihat Sesilia putri kesayangannya kini benar-benar telah memutuskan hubungan darah diantara dia dan dirinya.


Siska dan Dona menghampiri Johana dan mereka segera membantunya berdiri serta membalut luka di tangan Johana.


"Sayang ...ya ampun tanganmu berdarah kau akan kehilangan banyak darah jika terus membiarkannya seperti ini, Siska cepat ambilkan kotak obat" ucap Dona begitu panik,


"Sesilia...dia...dia melakukannya, dia sudah membenciku..." Ucap Johana dengan mata yang sayu dan menatap kosong ke depan.


Aku meninggalkan rumah itu dengan cepat dan aku tidak tahu harus pergi kemana, tidak ada uang tidak ada ponsel dan aku juga tidak membawa barang-barang milikku, aku hanya berjalan dengan tangan terluka dan air mata yang mulai tumpah begitu saja, aku terus berjalan seorang diri menyusuri jalanan tanpa tahu akan pergi ke mana.


"Hiks...hiks...ibu kenapa aku harus semenyedihkan ini, tidak ada yang menyayangiku selain kamu ibu, kenapa kau harus memiliki suami sepertinya, dia adalah iblis dia bahkan tidak mengejarku, dia membiarkan aku pergi dalam keadaan seperti ini, dia tega padaku ibu hiks...hiks...hiks..." Ucapku sambil menengadahkan kepadaku ke atas langit.


Aku berharap ibu bisa melihatku dari atas sana dan aku tidak merasa takut karena harus berjalan seorang diri di malam hari tanpa tujuan seperti ini.


Hingga tiba-tiba sebuah mobil berhenti dan lampunya membuat mataku silau.


Itu adalah mobil tuan Albert dia baru saja berniat untuk kembali ke rumahnya setelah menyelesaikan beberapa urusan penting di kantor namun di perjalanan pulang dia justru malah kembali bertemu dengan gadis yang dia tolong sebelumnya.


Karena melihat Sesilia berjalan lesu sambil menangis seorang diri makanya tuan Albert menyuruh sekretaris Ken untuk menghentikan mobilnya lalu dia keluar dan memanggil Sesilia.


"Hey, bocil sedang apa kau...." Ucap tuan Albert tidak sampai karena Sesilia tiba-tiba saja memeluknya.


Saat aku melihat orang yang keluar dari mobil adalah pria yang menolongku di rumah sakit aku tahu dia adalah orang baik makanya aku langsung memeluknya, aku selalu membutuhkan pelukan disaat aku merasa diriku sedang sakit dan sedih, karena bagiku pelukan adalah obat terbaik untuk meringankan kesedihan di dalam hatiku.


Aku langsung memeluknya dengan erat dan menangis tersedu-sedu sama seperti pertama kali aku bertemu dengannya.


"Hiks...hiks...tuan bantu aku....hiks...hiks.." ucapku meminta bantuannya lagi dan lagi.


Untunglah pria itu mau membantuku dia membawaku masuk ke dalam mobilnya lagi dan dia bahkan memberikan jas yang sebelumnya dia kenakan kepadaku.


"Pakai ini, kau akan kedinginan karena pakaianmu sobek seperti itu" ucap tuan Albert kepadaku dengan lembut.


Aku menatapnya cukup dalam, dia adalah pria baik yang pertama kali aku temui, meskipun aku tahu dia bisa tiba-tiba berubah menjadi kejam dan jahat kapan saja, tapi sejauh ini dia memperlakukan aku sangat baik, berbeda dengan Brain yang selalu membentak dan memarahiku.


"Terimakasih tuan kau baik sekali padaku" ucapku sambil tersenyum padanya.


Aku menghembuskan nafas lesu dan terus menundukkan kepada hingga dia bertanya padaku ke mana dia harus membawaku.


"Gadis kecil, kemana aku harus mengantarmu sekarang?" Tanya tuan Albert dengan wajah dinginnya,


"Aku tidak tahu, aku ingin menemui Tante Maria, tapi aku tidak tahu dia tinggal dimana, aku juga tidak bisa kembali ke rumahku, kau lihat ini aku baru saja memutuskan hubungan darah dengan ayahku dan dia tidak mengejarku aku pikir dia masih menyayangiku namun ternyata dia baik-baik saja meski aku pergi dari rumah dalam keadaan seperti ini" ucapku merasa sedih.

__ADS_1


Tuan Albert menepuk jidatnya sendiri karena dia merasa pusing menghadapi bocah kecil seperti Sesilia, apalagi sekretaris Ken dia justru tertawa karena mengira Sesilia hanya sedang merajuk dan kabur dari rumah seperti anak-anak nakal biasanya.


__ADS_2