Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Di Perusahaan Bramantyo


__ADS_3

"Ahahah....Brain kau terlihat konyol barusan bagaimana bisa kau terkenal botol dari lemparan seorang perempuan apalagi dia melemparnya dengan berbalik badan seperti itu, hahaha mau ini kurang berolahraga yah" ucap salah satu mahasiswa yang menertawakan Brain di sana di ikuti dengan anak-anak yang lainnya.


Aku segera pergi dengan cepat dari sana karena aku takut mereka akan mengejarku dan membalaskan perbuatanku barusan padahal aku sama sekali tidak bermaksud mempermalukan Brain bahkan sampai menumpuk kepalanya dengan botol itu, kejadian tadi sungguh pyur sebuah kecelakaan.


Bahkan aku sendiri merasa terkejut saat mengetahui botol itu mengenai kepala Brain dengan tepat sasaran seperti itu.


Saat mengetahui ternyata botol minuman bekas yang aku lempar ke belakang benar-benar mengenai kepala Brain aku langsung berlari secepat yang aku bisa menuju keluar dari gedung kampus dan untungnya disana sudah ada sekretaris Ken yang menungguku di luar gerbang dengan mobil yang sudah siap aku pun langsung masuk ke dalam mobil dan meminta dia untuk segera membawa aku pergi dari sana secepatnya.


"Ayo.... sekretaris Ken kita harus pergi sekarang, sebelum dia manusia sinting itu akan mengejarku" ucapku kepadanya dengan wajah yang panik tidak karuan,


"Ehhh ... Ada apa kenapa kau terlihat terburu-buru gadis nakal, apa kau melakukan kesalahan lagi saat di kampus yah?" Ucap sekretaris Ken yang malah banyak bicara,


"Ya ampun sekretaris Ken sudahlah ayo cepat kita pergi dari sini" ucapku mendesaknya.


Sampai akhirnya sekretaris Ken mau melajukan mobilnya dan segera pergi dari sana dengan cepat, aku baru bisa merasa tenang setelah mobil yang di kemudikan oleh sekretaris Ken benar-benar sudah jauh dari daerah kampus dan aku tidak melihat dua orang jahat itu tidak mengejarku lagi, aku menghembuskan nafas sangat lega saat di dalam mobil dan sekretaris Ken justru tidak membawa aku kembali ke rumah dia malah membawa aku ke sebuah kantor perusahaan yang sangat besar.


Bahkan saat aku melihatnya dari luar, gedung bangunan perusahaan itu sangatlah besar, dan aku merasa aku pernah ke tempat itu namun tidak terlalu mengingatnya dengan jelas.


Hingga sekretaris Ken langsung menarik tanganku dan dia mengajak aku untuk masuk ke dalam, sampai saat aku masuk aku mulai sadar bahwa aku saat itu tengah berada di dalam perusahaan milik Brain yang tidak lain adalah perusahaan Bramantyo Group yang sangat terkenal, ketika sudah sadar aku langsung berdiri dengan lutut dan kaki yang gemetar, aku tidak tahu kenapa sekretaris Ken malah membawaku ke tempat seperti ini.


Kantor yang luas dan besar ini sangat menyeramkan bagiku setelah apa yang baru saja aku lakukan kepada Brain di tambah aku juga tahu Brain pasti akan datang ke perusahaan itu saat ini juga sehingga aku sangat takut bertemu dengannya.


"Sekretaris Ken kenapa kau malah membawa aku ke perusahaan ini? Aishh....aku akan mati jika sampai dia melihatku disini" ucapku pelan sambil menarik ujung jas milik sekretaris Ken ketika kami baru saja keluar dari lift.


"Tenang saja kita akan menemui tuan Arnold di ruangan sana, kau akan mengetahui semuanya ketika kita sudah masuk ke dalam sana" ucap sekretaris Ken sambil menarikku dan segera membawa aku masuk ke dalam ruangan tuan Bramantyo.


Bahkan sebelumnya aku tidak pernah masuk ke dalam ruangan yang terhormat itu, aku tahu bagaimana tuan Bramantyo meskipun dia bilang dia menyukai aku saat itu, tapi aku juga tahu dia tetap menerima Siska sebagai menantunya dan itu menunjukkan bahwa dia sama sialannya dengan Brain dan ayahku.


Mereka hanya mementingkan bisnis mereka sendiri tanpa melihat perasaanku yang sudah mereka sakiti selama ini, aku sangat tidak ingin masuk ke dalam ruangan itu apalagi bertemu menemui tuan Bramantyo lagi, tapi meski aku berusaha berontak dan berniat untuk keluar dari ruangan itu sekretaris Ken tetap saja menarik tanganku lagi dan memaksaku terus untuk masuk ke sana sampai aku bertemu tuan Arnold yang duduk di sofa itu, dan dia langsung memanggil aku dan berteriak cukup keras menyuruhku untuk duduk di sampingnya.


Dimana disana juga ada tuan Bramantyo, yang duduk di hadapannya dan dia juga langsung mempersilahkan aku untuk segera duduk, sehingga aku tidak bisa berkutik lagi untuk pergi dan menghilang dari tempat itu.


"Sekretaris Ken lepaskan aku, kenapa kau malah menahanku begini, aishh....aku tidak ingin berada disini" ucapku berusaha berontak kepadanya,


"Gadis kecil ayolah disini ada tuan Arnold dan aku kau akan baik-baik saja, kenapa kau keras kepala seperti ini, ayo cepat jalan kesana tuan Arnold sudah menunggumu cukup lama" ujar sekretaris Ken yang terus mendorongku,


"Ehh... Rupanya kau sudah tiba, Sesilia ayo duduk di sampingku ada hal yang akan kita bicarakan dengan tuan Bramantyo" ujar tuan Arnold kepadaku.


Karena dia memanggilku aku sudah tidak memiliki kesempatan lagi dan terpaksa harus berbalik menatap menghadapinya meski aku sebenarnya sangat tidak ingin berhadapan dengan tuan Bramantyo saat ini.


"A..ah ..i...iya tuan aku akan kesana sekarang" balasku dengan menatap kebingungan dan sedih pada sekretarias Ken yang justru dia langsung keluar dari ruangan itu,


Aku pun segera duduk di samping tuan Arnold dan aku terus menatap ke arah wajahnya karena aku malas sekali untuk melihat wajah tuan Bramantyo, aku sangat tidak menyukainya bahkan aku membencinya sekarang, jika aku sudah membenci seseorang aku memang tidak pernah mau melihat wajah mereka sekalipun dia adalah ayahku apalagi ini adalah tuan Bramantyo yang aku pun tidak mengenal dia sebelumnya.


"Tuan....aku tidak ingin ada disini, kenapa kau malah mengajakku kemari, aku ingin pulang" ucapku kepadanya sambil memegangi ujung lengannya,

__ADS_1


"Tenanglah aku disini juga untuk melindungimu, kau jangan khawatir" ujar tuan Arnold sambil mengalengkan tangannya ke belakang pundakku dan dia langsung saja memelukku menggeser dudukku menjadi lebih dekat dan rapat dengannya.


Aku tersentak kaget melihat apa yang dia lakukan kepadaku di hadapan tuan Bramantyo saat itu itu sehingga aku berusaha untuk melepaskan diri darinya namun tuan Arnold terus saja malah semakin mempererat pelukan tangannya kepadaku sehingga aku hanya bisa pasrah saja.


Sampai tidak lama Brain juga muncul di ruangan itu dan dia segera duduk di samping ayah ya yang tidak lain tuan Bramantyo sehingga kami saling berhadapan sekarang, dan melihat dia datang aku langsung menyembunyikan kepalaku ke arah jas milik tuan Arnold karena aku tidak sanggup melihat wajahnya yang sinis itu.


Aku sudah tahu dia pasti akan membenciku dan akan membalas atas perbuatanku sebelumnya meski pun itu adalah sebuah ketidak sengajaan.


"Hey ... Ada apa denganmu kenapa sekarang malah bersembunyi seperti itu, ayo angkat kepalamu dan lihatlah ke layar di depan aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu" ujar tuan Arnold kepadaku.


Aku terpaksa harus bengkit dengan perlahan dan sama sekali tidak berani menengok ke samping, hanya menatap lurus saja ke depan sana.


"Dan kalian, lihatlah ini juga termasuk kau Brain kau harus melihat ini secara nyata agar kau sadar" ucap tuan Arnold memperingati mereka berdua.


Aku tidak tahu kenapa tuan Arnold bersikap seperti tuan rumah di ruangan tuan Bramantyo bahkan seorang tuan Bramantyo dan Brain tidak dapat berkutik di hadapannya dan mereka hanya mengangguk patuh pada ucapan yang di keluarkan oleh tuan Arnold saat itu, sehingga itu membuat aku merasa heran dan aneh.


Aku pun langsung mengangkat kepalaku lebih tinggi karena sudah merasa percaya diri sekarang karena ternyata tuan Arnold lebih kuat dari mereka, itulah yang aku pikirkan saat itu sampai tuan Arnold menekan sebuah tombol di tangannya hingga layar di depan menunjukkan rekaman video di saat Siska melakukan pembullyan kepadaku saat itu.


Aku kaget terperangah dan langsung menutup mulut dengan kedua tanganku saat melihat kejadian itu, aku bahkan tidak menduga tuan Arnold bisa melihat dan mendapatkan video tersebut, aku sangat merasa malu sehingga langsung menutupi wajahku.


Penampilan aku di dalam rekaman video itu sangat mengkhawatirkannya bahkan tanpa sadar aku kembali menitikan air mata saat melihatnya dan tuan Arnold langsung menggenggam tanganku lagi dan dia segera menghentikan rekaman video itu.


"Videonya sudah cukup sampai di situ jika kalian ingin memastikannya, aku akan memberikan file tersebut kepada kalian dengan senang hati agar kalian bisa berpikir dahulu sebelum mencari calon menantu" ucap tuan Arnold dengan tatapan tajam kepada tuan Bramantyo dan Brain yang ada di hadapannya.


Mereka berdua terlihat marah dan mungkin bingung sebab tidak pernah menduga Siska bisa melakukan hal sejahat itu di kampus bahkan merekamnya sendiri dan itu di ketahui oleh tuan Arnold, mereka langsung meminta maaf kepadaku dan tuan Arnold saat itu juga.


Aku heran dan membuka mataku dengan lebar melihat seorang tuan Bramantyo yang sangat di hormati selama ini oleh semua orang bahkan oleh ayah dan ibuku kini justru malah minta maaf dan bersikap seakan dia tidak ada apa apanya di hadapan tuan Arnold.


"Ehhh..... Apa aku tidak salah dengar, kenapa dia malah meminta maaf seperti itu pada tuan Arnold?" Gumamku merasa heran sendiri,


"Saya juga meminta maaf kepada anda, dan aku minta maaf yang sebesar besarnya kepadamu Sesilia, maaf karena aku telah salah paham padamu, maaf karena aku tidak mengetahui hal itu" ucap Brain meminta maaf sambil menundukkan kepalanya kepadaku.


Namun meski dia membungkuk seperti itu aku masih bisa melihat bagaimana tangannya menahan emosi dengan dia kepalkan sangat kuat hingga urat-urat di tangannya itu terlihat sangat jelas.


"Saya tidak dapat memutuskan dan akan saya serahkan kepada Sesilia langsung, apakah dia akan memaafkan kalian atau tidak, jika dia tidak memaafkanmu yaaa.... Terpaksa aku harus mencabut semua dana yang aku berikan kepada perusahaan kalian dan memutuskan hubungan kerjasama kita yang berjalan sangat baik selama ini" balas tuan Arnold seperti sengaja melakukan itu.


Dia pun menatap ke arahku dan menaikkan kedua alisnya mempersilahkan aku untuk mulai berbicara.


"A..apa...kenapa harus aku?" Ucapku menatapnya dengan bingung,


"Semuanya aku serahkan kepadamu" ucap tuan Arnold sambil menepuk pundakku pelan.


Aku pun menarik nafas dalam dan mulai membuangnya perlahan aku langsung mulai bicara kepada mereka sesuai dengan apa yang aku rasakan selama ini.


"Brain, tuan Bramantyo kalian sebetulnya tidak perlu meminta maaf kepadaku dan tuan Arnold, kalian tidak melakukan kesalahan apapun kepadaku ataupun tuan Arnold, semua ini dilakukan oleh Siska dan aku tahu betul seberapa bencinya dia padaku, jadi aku tidak perlu memaafkan kalian" balasku mengatakannya.

__ADS_1


Kini justru malah tuan Arnold yang langsung menarik pundakku dengan tiba-tiba dan dia langsung bertanya sedikit meninggikan suaranya kepadaku.


"Aishh.....kenapa kau malah bicara begitu, apa kau ini seorang malaikat atau apa, kau tidak kesal atau dendam dengan mereka sedikit pun apa? Mereka sudah mengkhianati mu bocah nakal, ayo tunjukkan kenakalanku dan beri saja mereka hukuman atau apa kek, kenapa harus memaafkan mereka semudah itu!" Ucap tuan Arnold sambil menggoyangkan tubuhku agak keras,


Aku bingung dan hanya menatapnya dengan terperangah, pasalnya dia sendiri yang menyuruh aku untuk memutuskan semuanya tapi sekarang dia justru malah protes dengan keputusanku itu, bagaimana aku tidak heran dan bingung jika dia tidak memiliki prinsip seperti itu dan membuat aku merasa bingung karenanya.


"Aduh....tuan berhenti, kenapa kau malah menggoyangkan pundakku terus, aku bisa pusing" ucapku kepadanya.


Sampai akhirnya dia melepaskan tangan dia yang memegangi pundakku dan dia mulai memijat keningnya terlihat sedikit frustasi dengan jawaban dariku sebelumnya.


"Tuan...aku mengatakan itu memang itulah yang terjadi, aku memang sangat kesal dan membenci mereka berdua, karena tuan Bramantyo sudah dengan mudah menggantikan posisiku dengan Siska begitu juga dengan Brain aku pikir dia orang baik namun dia selalu membela Siska ketika mereka sudah bertunangan dan melakukan hal hal jahat kepadaku bersama tetapi kejahatan di dalam video itu tidak ada hubungannya dengan mereka, bukankah tidak adil bagi mereka jika kita menghukum mereka sedangkan itu bukan perbuatan mereka?" Ucapku memberikan pengertian kepada tuan Arnold bahkan di hadapan tuan Bramantyo dan Brain secara langsung saat itu juga,


"Sesilia kau bisa menghukum kami, aku bisa menerima semuanya karena memang yang dikatakan oleh tuan Arnold benar, aku sudah gelap mata dan termakan semua ucapan manis dari Siska" ucap Brain menambahkan,


"Tidak Brain aku tidak akan berlaku tidak adil karena aku tidak seperti kau ataupun ayahmu, aku tidak ingin berhubungan lagi dengan kalian dan aku tidak ingin terlibat apalagi ikut campur dalam urusan bisnis antara kau dan tuan Arnold" ucapku membalasnya dengan tegas.


Tuan Arnold langsung menatapku dan dia pun mulai berbicara menyelesaikan pertemuan itu dengan cepat.


"Baiklah aku menghargai keputusanmu, dan aku hanya ingin membuat pilihan untuk mereka berdua, aku akan tetap melanjutkan hubungan bisnis dengan mereka namun dengan satu syarat" kaya tuan Arnold membuat semua orang menatap ke arahnya,


"Kami akan melakukan apapun syarat mu tuan" ujar tuan Bramantyo,


"Aku hanya ingin putramu tidak boleh ikut campur lagi dengan apapun yang dilakukan oleh orang yang membully Sesilia dan dia juga tidak boleh mendekati Sesilia walau hanya sedikit saja" ucap tuan Arnold memutuskan dengan menatap sinis pada Brain,


"Baik kami setuju" ucap tuan Bramantyo dan urusan diantara mereka pun selesai.


Tuan Arnold langsung menarik tanganku dan segera membawa aku keluar dari ruangan itu bahkan Brain mengantarkan kami hingga ke lantai atas dan tuan Arnold terus mengalengkan tangannya ke pundakku dan dia selalu menjauhi aku dari Brain.


Bahkan aku sampai kewalahan karena dia berbuat seenaknya saja menarik aku kesana kemari semuanya, bahkan ketika Brain hendak berpamitan kepadaku dia langsung saja menarik aku dan membawa aku masuk ke dalam mobil, meski aku tidak tahu kenapa dia melakukan itu tapi dia sungguh menyebalkan sekali hari ini.


"Tuan kau ini apa-apaan sih, apa kau pikir aku ini barang dan semacamnya?" Bentakku kepadanya saat sudah berada di dalam mobil,


"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu? Tentu saja aku tidak menganggap mu seperti itu, kau adalah manusia dan kau adalah gadis nakal yang merepotkan aku setiap saat" balas tuan Arnold kepadaku,


"Lalu kenapa kau selalu menarik tanganku, memelukku bahkan kau terus saja merangkul aku seenaknya, aku kan menjadi merasa tidak enak dengan Brain dan tuan Bramantyo tadi" balasku mengatakan semua yang aku rasakan sebelumnya.


Tiba-tiba saja dia langsung menoleh ke arahku dan menatapku dengan tajam membuat aku sedikit takut dengan tatapannya yang sangat dekat itu dan dia begitu mendominasi.


"Kenapa kau harus merasa tidak enak dengan mereka, apa kau masih menyukai pria sialan itu hah? Aishh....aku akan menghancurkan mereka sekarang juga" ucap tuan Arnold yang tiba-tiba saja marah tidak jelas.


Aku yang takut dia benar-benar akan menghancurkan mereka segera aku menahan tangannya dan aku mulai bicara menghentikannya.


"Tuan ada apa denganmu hari ini, kenapa kau mudah sekali marah, aishhh....kau ini membuatku bingung, aku tidak menyukai Brain dan sama sekali tidak pernah menyukainya aku hanya membenci dia karena mengkhianati pertunangan aku dengan dia sebelumnya, karena bagiku semua itu adalah hal yang sakral sekalipun aku tidak menyukainya" ucapku menjelaskan semuanya kepada dia.


Setelah mengatakan semuanya aku mulai merasa heran dengan diriku sendiri kenapa aku harus menjelaskan masalah itu kepadanya padahal semua itu tidak ada hubungannya sama sekali dengan tuan Arnold.

__ADS_1


"Aishh....sudahlah aku tidak perduli, lagi pula kenapa aku malah menjelaskan semuanya padamu, ini kan tidak ada urusannya dengan dirimu, aaahh lupakan saja mungkin aku terbawa emosi barusan" tambahku kepada tuan Arnold yang menatapku dengan diam.


__ADS_2