
Aku sudah sangat puas karena berhasil menggigitnya dan memberikan dia sebuah pelajaran berharga, setidaknya dengan begitu aku sudah berhasil meluapkan emosi serta kekesalan yang sudah aku tahan sejak lama kepada tuan Arnold yang menyebalkan itu.
"Huh, rasakan itu siapa suruh kau malah mengaku-ngaku sebagai suamiku aku ini masih 19 tahun kapan kau menjadi suamiku" ucapku membentaknya cukup keras,
"Kau akan segera menjadi istriku jika usiamu sudah 20 tahun" balasnya dengan santai.
Aku sangat kaget dan membelalakkan mataku dengan lebar, bagaimana bisa dia berkata seperti itu dengan raut wajah yang terlihat begitu santai sedangkan aku sendiri saja sangat panik tidak karuan dan begitu gugup saat mendengarnya namun dia hanya bersikap santai seakan apa yang dia katakan tidak ada artinya sama sekali.
"Heh, apa lagi yang kau bicarakan aku tidak akan menikah denganmu bahkan jika usiaku sudah tua!" Bentakku sangat kesal dan memalingkan wajah darinya.
Dia hanya menatapku sekilas dan dia kembali menatap pada pekerjaannya di depan komputer, bahkan dia sama sekali tidak membalas atau menanggapi ucapanku sebelumnya seakan-akan dia mengabaikanku dan tidak perduli atas pendapat dari mulutku ini, aku sangat kesal melihatnya seperti itu, dan aku berjalan mendekati dia lalu membentaknya lagi lebih keras.
"Hey, apa kau tidak mendengarkan, aku bilang aku tidak akan menikah denganmu! Aishhh dasar manusia robot sekarang dia menjadi tuli" bentakku dengan kedua alis yang aku kerutkan hingga hampir menyatu serta kedua tangan yang berkacak pinggang.
Dia tetap diam saja dan aku sangat kesal karena merasa sangat diabaikan olehnya aku pun memutuskan untuk pergi dari ruangan itu sebab dia juga selalu membuatku kesal dan tidak membuatku betah berada di sampingnya.
"Ohh....kau benar-benar mengabaikanku yah, oke aku akan pergi kau tidak bisa menahanku kali ini karena kau sendiri yang mengabaikan aku...huh aku tidak masalah aku akan pergi menemui kak Ken yang lebih perhatian padaku" ucapku sambil berjalan menjauh dari dekat mejanya.
Aku terus berjalan selangkah demi selangkah dan aku merasa senang karena aku pikir dia benar-benar tidak memperdulikan aku lagi, tapi di saat aku baru saja hendak meraih gagang pintu untuk keluar dari ruangan tersebut, tiba-tiba saja dia menepuk pundakku pelan dari belakang membuatku sangat kaget dan terperangah hingga kepalaku terpentok ke dinding.
"Astaga....Duk...aaaduhhh....aishh kau ini apa apaan sih, tiba-tiba muncul di belakangku seperti hantu saja, lihat ini gara-gara kau kepalaku ter....." Ucapku tertahan karena dia tiba-tiba saja mengangkat tubuhku di sebelah pundaknya begitu saja.
__ADS_1
"Ehhh ..heyy...turunkan aku apa yang kau lakukan, kau mau membawaku kemana hey turunkan aku" teriakku sangat keras sambil memukul pundaknya beberapa kali.
Aku sudah berusaha berontak agar dia menurunkan aku tapi ternyata dia tetap tidak menurunkanku dan terus membawaku keluar dari ruangan itu entah menuju ke ruangan mana, bahkan dia masuk ke dalam lift masih dengan menggendongku dalam posisi seperti itu, aku sudah sangat lelah dan pusing karena kepalaku terbalik seperti itu.
Dan ditambah aku merasa sangat malu sebab melewati banyak karyawan di kantor tersebut yang menatap ke arahku sebab di gendong olehnya dengan posisi yang sangat kasar seperti itu, alhasil saat di dalam lift aku memohon ampun kepadanya dan meminta dia agar segera menurunkan aku dari pundaknya.
"Ya ampun hey, sampai kapan kau akan menaruh ku seperti ini kepalaku sudah pusing, rasanya aku ingin muntah" ucapku mengatakan apa yang aku rasakan,
Dia tetap tidak terusik sedikitpun dan tidak mengeluarkan perkataan apapun juga.
"Heyyy apa kau tuli, tolong turunkan aku, aku sungguh tidak bohong ughh....aku ingin muntah aku tidak tahan lagi, hey...pria robot cepat turunkan aku!" Teriakku sangat keras sambil berusaha terus menepuk punggungnya lebih keras lagi,
Bukannya menurunkan aku dia malah menepuk b*kong ku cukup keras dan menyuruhku untuk diam.
Aku tetap tidak bisa diam saja karena aku sungguh ingin muntah saat itu, aku tidak bisa menahannya ini sudah berada hampir di tenggorokanku.
"Huaaa...aku mohon tolong turunkan aku, aku janji akan menurutimu dan bersikap baik, tolong turunkan aku, aku ingin muntah...sungguh hanya itu" ucapku memohon kepadanya berkali-kali.
Akhirnya setelah keluar dari dalam lift dia menurunkanku juga dan disaat dia menurunkanku kepalaku benar-benar terasa sangat pusing hingga aku tidak bisa berdiri dengan benar dan aku terus sempoyongan hingga hampir jatuh dan dia menahan tubuhku serta menanyakan keadaanku.
"Hey...hey... Apa kau baik-baik saja?" Tanya nya sambil memegangi tubuhku dengan erat,
__ADS_1
"Aku.... Aku....hoeek.....howekk...." Suaraku yang langsung muntah di hadapannya begitu saja.
Untunglah muntah itu tidak mengenai pakaiannya namun justru membuat pakaianku kotor dan aku merasa sangat pusing hingga perlahan aku tidak bisa melihat semuanya dengan benar, aku kehilangan kesadaranku sedikit demi sedikit dan setelah itu aku tidak tahu lagi apa yang terjadi dengan diriku.
Sedang disisi lain tuan Arnold kaget hingga membelalakkan matanya dengan lebar melihat Sesilia yang muntah di depan umum terlebih di hadapannya dan dia juga muntah seperti anak kecil sampai mengenai pakaiannya sendiri, saat itu tuan Arnold ingin marah dan sangat kesal dengan Sesilia tetapi saat melihat wajah Sesilia semakin pucat dia mulai merasa cemas dan panik apalagi ketika melihat Sesilia tiba-tiba saja tidak sadarkan diri.
Dia langsung menggendong Sesilia dan berteriak memanggil sekretaris Ken, lalu menyuruh Ken untuk menyiapkan mobil dengan cepat, saat itu juga mereka langsung pergi ke rumah sakit terdekat dan sepanjang perjalanan tuan Arnold terus saja membentak sekretaris Ken agar melajukan mobil dengan lebih cepat.
"Ken apa kau bisa menyetir atau tidak, cepat lakukan lebih cepat lagi aku tidak ingin terjadi sesuatu kepadanya!" Bentak tuan Arnold sangat keras dengan wajahnya yang begitu serius dan panik.
Ini adalah pertama kalinya sekretaris Ken melihat seorang tuan Arnold begitu panik setengah mati seperti itu, bahkan jika ada sesuatu yang terjadi dengan bisnisnya sekretaris Ken tidak pernah melihat tuan Arnold sepanik itu dan dia selalu bersikap tenang dengan apapun yang terjadi kepadanya, tapi hanya karena seorang gadis kecil kini tuan Arnold panik kelimpungan tidak jelas seperti itu.
"I..i..iya tuan, saya sudah melakukannya dengan sangat cepat jika kita menambah lagi kecepatannya saya takut terjadi sesuatu yang buruk" balas sekretaris Ken dan langsung saja mendapatkan semprotan lagi dari tuan Arnold,
"Aishhh....dasar kau tidak becus fokus menyetir!" Bentak tuan Arnold,
"Hey...gadis nakal bangun apa yang salah denganmu, hey....aishh kenapa dia tidak bangun juga" gerutu tuan Arnold merasa sangat frustasi.
Bahkan sesampainya di rumah sakit tuan Arnold langsung keluar dari mobil dan berlari terburu buru hingga membuat keributan di rumah sakit karena dia membentak dokter agar segera memeriksa Sesilia lebih dulu.
Mungkin suster tersebut pegawai baru disana sehingga dia tidak mengetahui siapa yang ada dihadapannya sehingga sekretaris Ken segera menahan suster tersebut dan tuan Arnold langsung membawa Sesilia masuk ke dalam ruang perawatan dan dokter segera memeriksanya lebih dulu dibandingkan pasien lainnya.
__ADS_1
"Aku akan menutup rumah sakit ini jika kalian tidak memeriksa gadis ini dengan baik!" Ancam tuan Arnold kepada kepala dokter tersebut.