Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Teleskop


__ADS_3

Brain tetap diam dalam beberapa saat sehingga aku begitu gelisah menunggu jawaban darinya jadi aku pun memutuskan untuk menanyakannya kembali.


"Heyy.... Kenapa kau diam saja, tolong yah aku mohon" ucapku memohon untuk yang kedua kalinya,


"Huft... Baiklah aku tidak akan membatalkan pertunangannya tapi ingat kau harus patuh dengan perintahku dan jangan macam macam padaku, mengerti!" Ucap Brain mendominasi.


Tidak ada pilihan lain lagi untukku sehingga mau tidak mau aku harus menurutinya, kupikir dia juga tidak akan memerintahkan hal keterlaluan ataupun konyol terhadapku sehingga aku memutuskan semuanya dengan mudah.


"Oke, aku setuju" balasku padanya dengan tersenyum lebar.


"Hah, kau akan menyesali keputusanmu sendiri gadis kecil" kata dia dengan senyum setengah sinis di wajahnya.


Aku hanya menanggapi ucapannya dengan keheranan serta kedua alis yang aku kerutkan secara bersamaan, lalu tiba-tiba dia menarik lenganku dan membawaku pergi dari tempat itu.


"Hey, berhenti kau mau membawaku kemana kali ini?" Tanyaku dengan kencang dan berusaha melepaskan pegangannya dari tanganku.


Dia tetap tidak memberitahuku dan terus saja menarik aku hingga kami berada di depan sebuah kamar, aku takut dia akan berbuat jahat terhadapku sehingga aku langsung berontak dan berniat kabur dari hadapannya, namun belum juga aku sempat berlari kerah baju bagian belakangku malah ditarik olehnya, sehingga membuatku tidak bisa lari kemanapun sekarang.


"Hah?, Apa apaan kau?, Dasar pria tidak bermoral aku mau pergi" teriakku hendak kabur,


"Eistt....kau pikir kau bisa pergi dengan mudah setelah kau berjanji untuk menurutimu dengan baik, cepat masuk ke dalam" ucapnya begitu menyeramkan untukku.


Dia mendorongku masuk ke dalam kamar itu dan aku sangat ketakutan, ku pikir dia akan melakukan sesuatu yang tercela namun nyatanya dia hanya membawaku ke balkon kamarnya untuk menikmati langit malam yang bertabur bintang.


"Ckk...kenapa kau harus ketakutan seperti itu, aku bukan pria m*sum!" Ucapku dengan gigi yang dia kerutkan,


Aku tahu dia mungkin kesal dan marah karena aku mengiranya akan berbuat yang tidak-tidak namun cara dia membawaku ke kamarnya memang membuatku overtingkhing, bukan hanya aku mungkin perempuan lain juga akan berpikiran sama sepertiku jika diseret seorang pria dengan paksa dan cukup kasar untuk masuk ke dalam kamarnya dimalam hari.


Meski begitu aku tetap malu dan berusaha menutupi kegugupanku di hadapannya, aku tidak mau mempermalukan diriku lagi dihadapan pria sepertinya.

__ADS_1


"A..apa yang ketakutan aku hanya tidak sudah kau memperlakukanku seperti seekor kucing jalanan huh!" Bentakku kesal,


Dia pergi ke lemarinya lalu mengeluarkan sebuah yg teleskop keluar dari sana lalu mulai merakitnya dan menaruhnya tepat di balkon kamar menghadap kelangit.


Saat pertama kali melihat teleskop sebagus itu aku sungguh takjub dan seketika melupakan kejadian sebelumnya aku bangkit dan berjalan menghampiri dia yang masing mengutak ngatik teleskop miliknya tersebut.


"Wahhh...apa ini teropong bintang?" Tanyaku padanya dengan wajah yang terus menatap kagum pada benda tersebut.


"Tentu saja memangnya apa lagi hah!" Balasnya dengan judes,


Aku memang sedikit kesal karena dia selalu berbicara jutek terhadapku dia juga sering melemparkan tatapan sinisnya padaku sehingga membuatku selalu naik pitam dan ingin menghajarnya setiap saat namun aku tidak bisa melakukan itu karena tenagaku jauh di bawahnya lalu pengaruh keluarganya juga jauh diatarku, apa yang bisa aku lakukan padanya dia terlalu terlindungi di bandingkan aku yang seperti hidup sendiri meskipun masih memiliki kedua orangtua yang lengkap.


Brain mulai menggunakan yg teleskop itu dan dia tersenyum begitu tulus saat bisa melihat bintang dalam jarak yang lebih dekat, dia juga mengarahkannya pada bulan malam itu yang terlihat begitu cantik, lagi lagi wajahnya begitu memperlihatkan kedamaian sehingga aku merasa iri padanya dan aku juga ingin bisa merasakan apa yang dia lihat.


"Brain...ekhmm...Brain..." Ucapku sambil menarik ujung kemejanya perlahan,


"Ckk....dasar pria sialan, aku tidak akan melakukan itu dan mencoba bersikap manis denganmu jika bukan karena teropong ini" gerutuku pelan.


Aku pikir dia tidak akan mendengar gerutuanku namun ternyata aku salah dia langsung berdiri tegak dan melepaskan diri dari teropongnya lalu menatapku dengan tajam dan seperti menyelidik.


"Apa?" Kataku padanya dengan kesal,


"Pakaian saja jika kau mau memakainya, kau tidak perlu berpura-pura bersikap manis kepadaku hanya karena mainan tidak berguna ini" katanya lalu pergi meninggalkanku di balkon sendirian.


Aku tahu dia marah tapi aku tidak perduli yang ada aku justru merasa sangat senang karena dengan kepergiannya maka tidak akan ada lagi orang yang membuatku kesal dan menggangguku, aku langsung mencoba teropong itu dan langsung saja bisa melihat betapa menakjubkannya bintang malam ini, rasanya hatiku begitu damai ketika bisa menyaksikan langit sedekat itu.


"Waahhh....ini indah sekali, pantas saja dia betah melihatnya... Aku ingin memiliki yang seperti ini satu untuk dibalkonku" ucapku sembarangan sambil terus tersenyum senang seorang diri.


Di sisi lain diam-diam Brain sebenarnya memperhatikan Sesilia dia melihat dengan jelas bagaimana Sesilia menggunakan teropong kesayangannya tersebut dan dia mendengar jelas apa yang Sesilia katakan lalu bibirnya terangkat membentuk sebuah senyuman kecil ketika mendengar perkataan Sesilia yang menginginkan teropong sama sepertimu miliknya untuk di balkon kamarnya sendiri.

__ADS_1


"Benar-benar gadis yang berbeda, aku akan terus mencari tahu lebih dalam tentangnya" ucap Brain sambil bergegas menjauh dari tempat itu.


Dia segera menghubungi orang kepercayaannya lalu menyuruh orang itu agar datang ketempatnya saat itu juga.


Setelah menghubungi orang kepercayaannya itu dia kembali menghampiri Sesilia dan mengajaknya secara asal asalan seperti biasa untuk kembali ke meja makan menemui kedua orangtua mereka.


"Heh, rewel sudah cukup bermainnya ayo kembali. Orang tua itu pasti menunggu kita" ucapnya begitu jutek dan terdengar menyebalkan.


Semuanya yang keluar dari mulut Brain sialan itu selalu terdengar menyebalkan dan membuatku jengkel setiap waktu, aku tengah asik menyaksikan bintang bintang di langit malam dia malah memaksaku untuk kembali, sedangkan tadi saja dia juga yang mendorongku secara kasar untuk masuk ke tempat itu dan berdiri di balkonnya.


"CK .... Orang yang tidak konsisten, padahal aku masih ingin menggunakan teleskop itu" ucapku dengan wajah yang cukup murung dan tertunduk lesu.


Tidak ada yang bisa kulakukan selain menuruti ucapan pria menyebalkan itu, aku sudah berjanji agar menuruti ucapannya dan bersikap baik kali ini sehingga aku tidak bisa melawannya dan hanya bisa menggerutu kesal di belakang dia tanpa diketahui.


Aku kembali ke meja makan dan bertemu kedua orang tua menyebalkan itu, entah kenapa aku kesal dengan sikap ayahku karena dia sudah membiarkan pria itu membawaku dengan begitu mudah.


"Ehh, kalian sudah kembali kenapa sebentar perginya?" Tanya tuan Bramantyo,


"Itu sudah cukup malam untuknya ayah, ku rasa dia juga mengantuk bukankah sebaiknya dia segera ku kembalikan kepada ayahnya" balas Brain dengan senyum bercanda di dalam wajahnya itu,


"Ahaha...kalian ini benar-benar pasangan serasi, aku belum pernah melihat Brain begitu perhatian pada seorang wanita manapun, Johana gadis cantikmu memang berbeda tidak salah aku memilihnya sebagai menantu" tambahnya dengan tawa menggelegar dari ayahku.


Dia senang dan tertawa dengan puas serta begitu lepas tanpa beban dipundaknya sedangkan aku harus memaksakan senyum dengan penuh tekanan, ada banyak hal yang harus kuperbuat dan harus aku tanggung sendiri sedangkan ayahku malah terlihat tanpa tekanan seperti itu.


Entah kenapa malam itu aku mulai merasa kembali curiga dengan ayahku dia terlihat tidak memikirkan perasaanku apalagi di saat tuan Bramantyo menyuruhku untuk tinggal di rumahnya, aku semakin merasa tertekan dan ingin rasanya bisa menolak tawaran tersebut dengan cepat dan memberikan alasan masuk akan kepadanya agar dia membiarkanku untuk pulang.


Namun sialnya ayah justru malah mengijinkanku tinggal di sana begitu saja, dia seperti telah menjualku.pada mereka karena tidak terlihat sedikitpun kepedulian dari wajahnya ketika dia memberi izin pada tuan Bramantyo untuk membiarkan aku tetap tinggal di rumah tersebut.


Dia juga sepertinya tidak merasa khawatir tentang putrinya yang masih suci ini, dan aku sangat muak melihat semua adegan dalam ruang makan tersebut yang sangat membuatku kesal.

__ADS_1


__ADS_2