
Aku mulai menghirup udara segar dengan panjang lalu membuangnya perlahan aku mengulanginya beberapa kali hingga diriku merasa jauh lebih tenang dan nyaman, hingga sesampainya di depan kediaman tuan Bramantyo ayah segera membukakan pintu mobil kepadaku dan dia menggandengkan lengankunpada gandengan tangannya, kami pun berjalan bersama menuju kediaman Bramantyo dan rupanya di sana sudah sangat dipersiapkan untuk kedatanganku bersama ayah.
Kami disambut dengan sangat baik oleh para pelayan yang ada disana dan kami segera diarahkan untuk masuk ke rumah tamu dimana di sana sudah disediakan sebuah meja panjang dengan banyak hidangan mewah yang terlihat sangat lezat di atasnya, aku sungguh terpukau melihat semua kemewahan yang jauh berada diatasku.
Padahal selama ini sejak aku lahir aku tinggal dan di besarkan di keluarga kaya raya dan apapun yang aku ingin selalu bisa aku miliki dengan mudah, aku pikir saat itu aku sudah menjadi putri orang paling kaya raya nyatanya masih ada keluarga lain yang jauh lebih kaya dari keluarga ibuku, melihat betapa mewahnya semua barang yang ada disana aku menjadi sedikit gugup dan mulai tidak percaya diri.
Aku mendekati ayahku dan mulai berbisik kecil di samping telinganya.
"Ayah apa aku sungguh pantas untuk keluarga ini?" Tanyaku kepada ayah dengan rasa yang ragu,
"Kamu sangat pantas sayang, sudah jangan berpikiran macam macam duduklah dengan tenang tuan Bramantyo dan putranya akan segera tiba kau harus bersikap baik" ujar ayah yang segera aku berikan anggukan.
Ternyata ucapan ayah benar tak lama dari itu tuan Bramantyo datang dengan penuh karisma di sekitarnya dia berjalan dengan tegak meskipun usianya sudah tidak mudah lagi, aku dan ayah segera bangkit berdiri dan memberi hormat kepadanya, namun yang cari cari sedari tadi adalah putranya karena dia hanya masuk ke dalam ruangan itu seorang diri.
"Selamat datang di kediamanku ini Johana, dan ini putrimu?" Ucap tuan Bramantyo setelah duduk tepat berhadapan dengan ayahku,
"Aahh, benar sekali tuan ini Sesilia putri saya yang pernah anda lihat di foto dan dia masih Sesilia yang sering anda temui ketika dia masih kecil dulu" balas ayahku.
Sedangkan aku hanya tersenyum sambil menundukkan kepala terhadapnya untuk memberikan rasa hormat kepadanya.
Ayah pun terus saja sibuk mengobrol bersama tuan Bramantyo sedangkan aku tidak tahu harus berbuat apa dan aku hanya duduk diam tanpa melakukan apapun, jujur saja aku tidak pernah membayangkan bahwa acara perjamuan makan malam akan menjadi sangat membosankan seperti ini, bahkan aku sudah dengan sengaja tidak makan di rumah agar bisa menghabiskan makananku di sini namun nyatanya sudah beberapa menit berlalu tuan Bramantyo belum mempersilahkan aku dan ayah untuk menikmati makanan yang ada diatas meja makan.
Mereka hanya terus asyik mengobrol kesana kemari membicarakan mengenai masa depanku dengan putranya tapi putranya sendiri justru masih belum datang juga aku sudah sangat kesal dan hampir mati dengan kebosanan yang melanda.
Mungkin saat itu tuan Bramantyo diam diam memperhatikanku sehingga dia tiba-tiba saja mengajakku berbicara.
"Sesilia kamu pasti sangat bosan menunggu putraku yang belum tiba juga, tolong maafkan dia yah dia masih dalam perjalanan, jika kamu bosan kamu dipersilahkan untuk berjalan jalan disekitar" ujar tuan Bramantyo membuatku sedikit malu dan tersanjung,
"Ohh...itu tidak masalah untukku tuan, aku akan menunggunya" balasku sambil berusaha memasang wajah yang manis dan cerah.
Saat itu juga tidak lama pintu mulai terbuka dan munculah seorang pria yang baru saja aku temui tadi siang di universitas, aku sangat kaget dan refleks langsung bangkit berdiri dengan mata yang terbelalak sempurna dan menutup mulut dengan kedua lenganku.
__ADS_1
"Nah itu putraku Brain sudah tiba, Brain mari ke sini" ucap tuan Bramantyo yang membuatku langsung memalingkan pandangan pada orang tersebut.
"Kau....." Ucapku cukup keras dengan mata yang terbuka lebar,
Tuan Bramantyo dan ayahku hanya menatap kebingungan saat melihat aku berbicara cukup keras dengan wajah yang begitu kaget saat pria itu berjalan ke arahku dan dia memberikan hormat telat di hadapanku.
"Hallo, kita bertemu lagi" ujar pria itu sambil mengedipkan sebelah matanya.
Aku sungguh kaget dan tidak tahu harus bersikap seperti apa, terlebih ketika tuan Bramantyo menyebutkan namanya Brain aku langsung teringat dengan Brain yang menjadi kakak kelasku sebelumnya, tapi saat itu aku masih belum bisa memastikan, hingga tuan Bramantyo membuatku segera tersadar dari lamunan yang membingungkan.
"Wahh, ternyata kalian sudah saling mengenal yah, itu bagus sekali jika kalian sudah mengenal satu sama lain, maka pertunangan akan di laksanakan lebih cepat" ujar tuan Bramantyo,
Aku masih benar benar merasa syok dan segera kembali duduk begitu pula dengan pria yang ada di hadapanku aku bingung bagaimana harus menghadapinya dia terlihat begitu santai dan terus menatapku dengan tatapan yang sedikit mencurigakan, dia juga menyapa ayahku dan bersikap seperti seorang pria sejati dan baik dihadapan kedua orang tua tersebut.
Sedangkan aku tahu dengan jelas bagaimana sikapnya ketika di luar dia bahkan memaksaku dan mengancamku untuk mengganti ponselnya itu, sementara aku sudah membiarkan ponsel rusak miliknya di dalam tas begitu saja dan sama sekali tidak berniat untuk menggantinya, mengingat hal itu semakin membuatku malu dan aku sungguh mati kutu dibuatnya.
Ayah mulai mencairkan suasana dan dia mengajukan beberapa pertanyaan untukku dan pria bernama Brain tersebut.
"AA..ah...itu aku" ucapku gugup dan bingung bagaimana harus menjawabnya.
Sampai tiba-tiba saja Brain membantuku dan dia menjawab pertanyaan dari ayahku sendiri dengan begitu santai dan membuatku kembali kaget karena ternyata dia mengetahui bahwa aku seorang perempuan yang pernah masuk ke dalam mobilnya secara diam diam.
"Ohh...kami saling mengenal karena dia pernah menjadi adik kelasku beberapa tahun lalu, tetapi aku mulai memperhatikan putrimu sejak dia masuk ke dalam mobilku beberapa Minggu lalu saat dia dikejar seseorang yang tidak dia kenal" jawab pria itu seenaknya.
Apa yang dia katakan memang sebuah kebenaran namun tetap saja seharusnya dia tidak mengatakan seperti itu di depan kedua orangtuaku kami terlebih dalam acara penting seperti ini, dia benar benar hampir membuat jantungku copot karena terus berbicara bersama ayahku di depanku secara langsung bahkan dia membongkar masalahku yang pernah menyusup ke dalam mobilnya.
Aku tidak bisa mengelak lagi di saat ayah memastikannya kepadaku.
"Sesilia apa itu benar?, Kenapa kamu tidak menjelaskannya pada ayah?" Ucap ayah bertanya lagi kepadaku,
"Itu sebuah ketidak sengajaan ayah, dan aku hanya berlindung di mobilnya sebab ada seseorang yang mengikutiku sehingga aku sedikit takut tapi untunglah dia tiba di waktu yang tepat" ucapku berusaha menyembunyikan kejadian sebenarnya dari ayah.
__ADS_1
Untunglah ayah dan tuan Bramantyo tidak merasa curiga dengan jawabanku serta jawaban pria dihadapanku itu, sekilas aku menatapnya dengan si is dan penuh kebencian dia benar benar pria menyebalkan, aku tidak akan membiarkan dia menekan aku seperti ini lagi dikemudian hari.
"Ohoho....ini adalah sebuah takdir, bahkan di saat kita belum menentukan rencana perjodohan mereka sudah dijodohkan oleh takdir, ini adalah sebuah kebenaran yang luar biasa, Brain kau harus menjaganya ayah sangat menyukai Sesilia dia selalu terlihat cantik dan menggemaskan sejak dia masih kecil dan dulu bahkan ayah ingin menjadikan dia putri ayah sendiri" ujar tuan Bramantyo dengan tatapan yang dalam terhadapku.
Entah mengapa aku merasa apa yang diucapkan oleh tuan Bramantyo bukanlah sekedar gurauan semata dia menatapku dengan begitu lekat dan aku bisa melihat bahwa dia sangat perduli terhadapku bahkan rasanya dia lebih memperhatikan aku dibanding ayahku sendiri.
Aku tidak ingat jika dia pernah mengurusku sejak kecil aku juga tidak ingat kapan dia mulai mengenaliku dan kenapa dia mau menjadikan aku sebagai putrinya sampai menggunakan cara perjodohan seperti ini untuk bisa mengakui aku sebagai putrinya.
"Ahaha...kau memang akan segera menjadi ayah untuk putriku, dan putramu juga putramu juga tidak perlu khawatir tentang itu tuan Bramantyo" balas ayahku begitu senang.
Aku benci ketika melihat ayah senang dengan perjodohan yang membuatku tertekan seperti ini tapi dalam keadaan seperti itu aku harus tetap memasang wajah manis dan tersenyum lebar padahal aku sangat tidak ingin dan masih dalam keadaan suanasa hati yang buruk, selera makanku juga sudah hilang sejak aku melihat wajah pria menyebalkan itu.
Meski awalnya aku senang dan aku sempat mengagumi dia, tapi itu dulu sejak dia masih menjadi murid teladan di SMA, sekarang semenjak dia mengusirku dari mobilnya kala itu aku sudah berubah membencinya apalagi saat mengingat pertemuanku di universitas bersamanya lagi yang membuat aku harus mengganti ponselnya.
Bahkan sekarang aku tidak bisa kabur dari genggamannya lagi, aku sangat sebal dan rasanya ingin segera pergi keluar dari rumah itu namun sayangnya acara baru saja dimulai, tuan Bramantyo mulai mempersilahkan kami untuk makan malam dan menikmati sajian makanan lezat yang sudah terpampang diatas meja.
Aku dan ayah pun segera menikmati makanan disana lalu setelah acara makan malam selesai pria menyebalkan itu justru malah mengajakku untuk berjalan jalan di rumahnya padahal aku sangat benci dengan dia dan aku sudah tidak tahan ingin segera pulang tapi dia malah terus menahanku dan membuatku terus harus berada di sana.
"Ayah, om boleh aku membawa Sesilia pergi berkeliling sebentar aku ingin mengenalnya lebih jauh dan kalian bebas memutuskan tanggal yang tepat untuk pertunangan kamu" ucap Brain meminta izin,
Tentu saja mereka akan dengan senang hati mengijinkannya dan bahkan ayahku sendiri tidak segan segan melemparkan aku pada pria tersebut meski aku sudah berusaha keras memberikannya kode lewat tatapan mata.
"Ayah....aku mohon jangan izinkan dia aku ingin pulang" gerutuku dalam hati penuh harap semoga ayah akan memahami kode dariku,
Sayangnya harapanku langsung musnah ketika melihat ayah begitu antusias untuk mengijinkan dia membawa aku kemanapun bersama pria menyebalkan itu.
"Ohh...Brain kau tidak perlu meminta izin seperti ini untuk membawa putriku dia adalah calon tunanganmu aku mempercayai kamu untuk menjaganya" balas ayahku membuat harapan satu satunya miliki hancur berkeping keping,
"Iya Johana benar, silahkan kalian menjadi lebih dekat satu sama lain itu jauh lebih baik" tambah tuan Bramantyo dengan senang hati.
"Huh, aku benar-benar tidak memiliki wewenang sama sekali untuk diriku sendiri, menyedihkan" gumamku kesal dan lesu.
__ADS_1