
Sejujurnya barusan aku merasa sedikit gugup dan aku merasa jantungku sedikit berdebar cukup kencang sulit untuk aku kendalikan sendiri, rasanya memang sedikit berbeda jika menikmati makanan dengannya, niat hati pergi untuk makan siang justru malah makan malam, aku pikir pasti tuan Arnold sudah sangat lapar karena dia melewatkan makan siangnya karena diriku, aku sedikit merasa bersalah kepadanya.
Hingga ketika pelayan mulai menyajikan makanan kepada kami dan untungnya mereka menyajikan banyak makanan sehingga aku pikir tuan Arnold bisa menikmati semua makanan itu lebih banyak dariku karena aku sudah makan ayam sangat banyak sebelumnya sehingga tidak terlalu lapar saat ini dan bisa menahan perutku sendiri.
"Wahhh... Makanannya banyak sekali, tuan apa kau sedang merayakan sesuatu sekarang?" Tanyaku kepadanya,
"Tidak ada aku hanya sangat lapar karena kau menghabiskan semua makanan yang aku beli" ucapnya sesuai dengan dugaanku,
"Ehehe... Maaf aku kan tidak sengaja habisnya kau juga malah pergi dan lama sekali kembali sehingga aku ke balasan memakan semuanya" balasku sambil tersenyum kecil.
Dia hanya membalas tatapanku dengan tatapan sinis sekilas dan dia segera memotong makanan yang tadi disajikan saat aku lihat steak itu sangatlah sulit untuk di potong, aku sudah berusaha susah payah memotongnya menggunakan pisau yang sudah di sediakan oleh pelayan sebelumnya namun sangat sulit, entah karena pisaunya yang tidak tajam atau memang aku yang pandai dalam melakukannya.
"E...eueuu....eughhh...aishhh kenapa ini sulit sekali" gerutuku pelan sambil terus berusaha keras memotongnya dengan sekuat tenagaku.
Hingga tidak lama tuan Arnold tiba-tiba saja langsung memberikan steak yang sudah siap untuk di makan, dan sudah di bantu memotong kecil-kecil olehnya.
"Ini makanlah, dan kemarikan piringmu" ucap tuan Arnold dengan wajah datarnya itu,
"Ehh... Kau memotongnya untukku, apa kau tidak lapar, kau makan saja milikmu aku akan memotongnya sendiri, aku bisa melakukannya kok" balasku kepadanya,
"Sudah, jangan mengulur waktu cepat berikan piring itu padaku" ucapnya mendesak.
Aku tidak bisa menolaknya lagi karena tidak bisa aku pungkiri sebenarnya aku juga merasa sangat senang karena di perhatikan seperti itu olehnya, rasanya sangat menyenangkan sekali, aku pun memberikan piring itu kepadanya dan dia kembali memotong steak itu lagi untuk dirinya, sedangkan aku mulai menikmati steak daging yang sudah dia iris-iris sebelumnya.
Saking senangnya aku terus mengunyah makanan sambil tersenyum senang dan ku lihat tuan Arnold juga mulai menikmati makanannya, aku diam diam mencuri curi pandang kepadanya dan wajahnya itu sangat membuat aku senang untuk menatapnya lebih lama lagi, dia membuat aku tidak bisa berpaling ke tempat lain meski pemandangan kota di malam hari yang ada di sampingku cukup memukau.
"Jika di lihat-lihat ternyata dia tampan juga ya hehe, memang cocok menjadi kakakku" gumamku dalam hati.
__ADS_1
Disaat aku tengah menatap dia secara diam-diam tiba-tiba saja tuan Arnold menatap ke arahku secara tiba-tiba dan aku langsung memalingkan pandangan ke arah lain agar tidak ketahuan olehnya kalau sedari tadi aku memperhatikan dia secara diam-diam.
Saat itu aku merasa sangat gugup hingga dia mulai mengatakan sesuatu kepadaku yang membuat aku semakin salah tingkah di buatnya.
"Heh, apa yang kau perhatikan barusan? Apa kau diam-diam menatapku apa kau mau makanannya?" Tanya dia kepadaku,
"E...euu....itu aku memang menatapmu tapi yang kedua juga tidak salah, tapi tenang saja aku tidak akan merebutnya darimu kok, aku sudah makan banyak ayam jadi perutku sudah penuh meski mulutku masih ingin mengunyah, jadi kau aman, ayo makanlah makan yang banyak agar kau lebih kuat" ucapku kepadanya.
Aku sengaja mengalihkan pembicaraan dengan cepat karena tidak ingin membahas masalah itu lagi, sebab itu cukup memalukan untukku karena aku sudah hampir ketahuan olehnya, dan itu sangat membuat gugup dan merasa tidak nyaman.
Dia tetap menatapku dengan wajah datarnya itu dan aku sangat terganggu dengan tatapannya tersebut, aku pun menatapnya kembali dan segera menyuapi dia makanan di sana agar dia tidak terus menatapku seperti sebelumnya.
"Tuan apa yang kau lakukan kau membalas perbuatanku padamu yah?" Ucapku menduganya karena jelas sekali dia seperti menirukan apa yang aku lakukan kepada dia.
"Tentu saja agar kau tahu bagaimana risihnya aku ketika kau menatapku dengan sangat lekat dan selama tadi, sekarang kau tahu bagaimana rasanya bukan? Jadi jangan coba-coba untuk melakukannya lagi kepadaku atau aku akan menghukummu dengan cara yang sama" ucap dia mengancamku.
Bahkan di tempat umum seperti ini dia masih saja bisa mengancam aku seperti itu sungguh pria yang sangat dingin dan tega terhadap wanita, aku benar-benar tidak habis pikir dengan kepalanya itu, apa yang dia pikir sampai dengan wanita sepertiku saja dia mau membalasku begitu, sungguh pria yang cukup menyebalkan, bahkan sangat menyebalkan sekali hingga aku ingin menggigitnya.
Namun tuan Arnold tetap mengambil suapan dari tanganku dan dia memakannya masih dengan ekspresi yang tidak berubah dan itu membuat aku menghembuskan nafas kasar dan menggelengkan kepala dengan kelakuannya itu.
"Aishh benar-benar manusia robot yang sesungguhnya, tidak tahu bagaimana sialnya orang yang akan menjadi pasanganku nanti, dia pasti akan tersiksa" gerutuku pelan.
Aku tidak tahu apakah dia mendengar gerutuanku barusan atau tidak namun dilihat dari tatapannya mungkin dia tidak mendengarkan ucapanku itu tetap dia menatapku dengan tatapan sangat tajam dan menusuk gading di piring dengan garpu cukup keras sambil matanya yang tidak lepas terus menatap aku dengan tajam dan dia memakan daging itu dengan cara yang tidak biasa, seakan dia tengah memperingati aku saat itu.
Sehingga aku merasa merinding ngeri melihatnya dan memalingkan pandangan lagi ke samping melihat pemandangan kota dari sana meski fokusku sebenarnya masih ingin melihat ke arah tuan Arnold.
"Aishh... Dia sangat menakutkan, aduh matilah aku jika dia mendengarkan gerutuanku barusan. Aaaaahhhh Sesilia lain kali seharusnya kau tidak menggerutu di depan seseorang" gumamku memikirkan sambil menepuk kepalaku sendiri beberapa kali.
__ADS_1
Bahkan sejak kejadian itu hingga kita kembali ke rumah tuan Arnold tidak bicara lagi kepadaku bahkan disaat aku ingin berbicara kepadanya dia sudah langsung berjalan menaiki tangga danasuk ke kamarnya dengan membanting pintu sangat keras membuat aku kaget dengan suara bantingan pintu yang begitu keras.
"Brugh" suara pintu yang di banting oleh tuan Arnold sangat kencang,
"Oh, astaga? Apa dia benar-benar marah padaku?" Gerutuku memikirkan dengan heran,
"Aaaaaahhh...sudahlah aku tidak perduli, biarkan saja nanti dia juga akan menjadi baik dengan sendirinya juga" tambahku sambil segera masuk ke dalam kamar dan merebahkan tubuhku untuk beristirahat dengan tenang.
Sampai ke esokan paginya aku sudah bersiap siap kembali pergi ke kampus bersama sekretaris Ken dari sejak kami sarapan bertiga hingga di perjalanan tuan Arnold sama sekali tidak berbicara kepadaku dan dia bahkan tidak melirik aku sedikitpun bahkan ketika aku berusaha menatapnya lebih dekat dan dengan keras berusaha agar dia melirik ke arahku, dia selalu saja berpaling dan menghindari kontak mata denganku hingga aku menjadi sangat kesa di buatnya sebab semua usaha yang aku lakukan selalu gagal.
"Ihk.... Kenapa dia seperti itu sih? Apa yang salah dengannya hari ini?" Gerutuku sangat kesal ketika aku sudah sampai di depan gerbang kampus,
"Sesilia ayo masuk ke dalam, cepat kau akan kesiangan jika terus berdiri disitu" ucap sekretaris Ken kepadaku,
"Sekretaris Ken aku pergi kalau begitu, hati-hati di jalan. Sampai jumpa" balasku kepada sekretaris Ken dengan lesu.
Dia mengangguk membalas ucapanku dan segera menaikkan lagi kaca mobilnya lalu segera melajukan mobil meninggalkan tempat itu sedangkan aku segera masuk ke dalam dan masih merasa aneh juga merasa tidak menentu sebab tuan Arnold merajuk seperti itu kepadaku.
Karena melihat sikap dia yang seperti menjauhiku seperti tadi aku merasa tidak enak dan aku bahkan tidak bisa fokus dalam belajar kali ini, bahkan di saat Siska datang lagi menghampiriku aku tidak memperdulikannya dan hanya terus mengabaikan dia hingga dia hampir kembali menarik tanganku lagi tapi aku dengan cepat menghempaskan nya karena aku tidak ingin kejadian sebelumnya terjadi lagi kepadaku.
"Heh, beraninya kau menghempaskan tanganku! Apa kau sudah punya nyali sekarang hah?" Bentak Siska dengan wajahnya yang membuat aku sangat muak ketika melihat itu.
"CK... Sejak dulu aku memang berani padamu, untuk apa aku takut kepada wanita sepertimu, kau justru lebih penakut denganku karena selalu menyerang aku menggunakan orang suruhan dan anak buahmu itu" balasku kepadanya.
Aku sangat tidak baik saat ini sedangkan Siska malah mencoba memperkeruh keadaan sehingga tentu saja aku tidak bisa menahan emosi dan tidak bisa mengendalikan diriku sendiri, berbeda sekali dengan aku yang biasanya bahkan tidak berani untuk membuat keributan di kampus, kecuali jika di luar kampus mungkin sejak lama aku sudah menghajarnya dengan pukulanku sendiri.
Selama ini dia hanya berani melawanku dengan keroyokan dan selalu menyuruh kedua teman wanitanya itu yang hanya memoroti hartanyan yang selalu dia belikan segalanya bahkan dia sama sekali tidak perhitungan kepada karyawannya namun semua orang yang bekerja kepada dia selalu menekan mereka jika pemikiran mereka tidak sama dengannya dan dia bahkan tidak bisa mengijinkan temannya untuk berteman dengan orang lain.
__ADS_1
Mungkin dia terasa baik dengan memberikan banyak uang kepada kedua temannya namun dia melakukan itu tentu saja harus selalu ada harga yang di bayar oleh teman yang sudah menggunakan uangnya itu sebab dia tidak ingin mengeluarkan uang secara cuma-cuma dan dia tidak akan pernah mengeluarkan uang untuk hal yang tidak menguntungkan baginya.
Aku sudah bisa tahu kemana akal bulus yang sering dia lakukan kepadaku selama ini atau kepada ayahku hingga ayah bisa tertipu karena wajahnya itu.