Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Di kejar preman


__ADS_3

Sedang disisi lain aku sudah berjalan cukup jauh dan kini tengah duduk di pinggir jalan seorang diri dengan membawa surat undangan pertunangan dari Siksa dan Brain sebelumnya tapi tiba-tiba saja dia orang preman yang tidak tahu datang darimana mereka berjalan mendekatiku.


"Cantik kau mau bersenang-senang dengan kami, ini akan menjadi malam yang sangat indah" ucap salah satu preman yang memakai sweater hitam,


Aku langsung bangkit berdiri dan berjalan menjauh dari mereka, namun yang satunya lagi menahanku dan mereka bekerjasama untuk menangkap ku.


"Hei cantik, kau mau kemana. Ayo ikut dengan kami kau akan aman dengan kami berdua" ucap yang satunya lagi sambil memegangi tanganku.


Aku sudah sangat panik dan langsung menepis tangannya itu dengan kuat.


"Eughh...tidak...aku tidak ingin pergi dengan para preman mesum seperti kalian, rasakan ini bugh, plakkk...." Balasku sambil mendaratkan tamparan ke wajahnya dan aku menendang bagian bawah pria tersebut.


Yang satunya lagi ku tendang perutnya hingga dia terjungkal ke belakang dan aku segera melarikan diri, berlari sekuat tenaga, aku tidak memiliki sebuah pilihan dalam kondisi ini sehingga aku langsung berlari kembali menuju kediaman tuan Arnold.


Karena jarakku memang lebih dekat untuk kembali ke rumah tersebut dan yang ada di pikiranku hanyalah rumah tuan Arnold yang akan membuatku aman dan lolos dari kejaran para preman sialan tadi, mereka juga mengejarku sehingga aku tidak bisa berpikir panjang.


"...... tunggu kau gadis sialan, berhenti disana!" Teriak preman itu sambil terus mengejarku.


Aku hanya menengok sekilas ke belakang dan tetap berlari dengan sekuat tenaga, mereka tidak menyerah meski aku melempari mereka dengan batu, entah itu mengenai mereka atau tidak aku tidak bisa memastikannya sebab aku hanya mengambil batu sembarangan dari jalanan lalu melemparkannya ke belakang dengan acak.


Aku pikir hanya itu yang bisa aku lakukan untuk memperlambat lari mereka dalam mengejarku, aku yakin aku pelari yang buruk sehingga nafasku mulai pelan dan kakiku sudah sangat lemas, untung wilayah tuan Arnold sudah dekat dan aku terus memaksakan kakiku berlari menuju pagar tinggi kediaman tuan Arnold.


"Hah....hah....hah...aku harus kuat, itu sebentar lagi dan aku akan aman" ucapku menguatkan diriku.


Saat aku sampai di depan gerbang rumah tuan Arnold, gerbang tersebut tertutup dan satpam justru tengah tidak ada disana sehingga aku terus berteriak meminta tolong dengan keras dan menggebrak pagar besi tersebut dengan sekuat tenaga.

__ADS_1


"Ahh...kemana satpamnya, hey.... tolong siapapun yang ada di dalam tolong aku.....tolong tuan Arnold, sekretaris Ken tolong aku, apa kalian di dalam hey.....cepat buka pagarnya!" Teriakku dengan keras hingga tenggorokanku terasa sakit.


Sayangnya tidak ada sahutan dari dalam mungkin teriakkanku tidak akan terdengar sebab jarak dari gerbang depan ke rumah cukup jauh belum lagi rumah itu cukup luas aku tidak yakin tuan Arnold akan mendengar teriakkan dariku meski aku berteriak sangat kencang.


Tiba-tiba saja dari belakang kedua preman itu sudah sampai dan mereka memang tidak pernah menyerah mengejarku.


"Haha....mau lari kemana lagi kau gadis cantik, sebaiknya kau menyerah atau kami akan memperlakukanmu dengan kasar" ucap salah satu preman sambil berjalan pelan mendekatiku.


Aku sangat panik dan ketakutan, tidak tahu harus melakukan apa lagi, dengan pikiran yang sempit dan keringat yang bercucuran di dahiku aku tidak memiliki pilihan lain, selain memanjat gerbang besi yang tinggi ini.


"Tidak ada cara lain, aku akan memanjatnya meski aku akan jatuh dan mati, setidaknya aku mati dengan cara terhormat" gerutuku pelan.


Aku langsung berbalik dan memanjat gerbang besi yang tinggi itu dengan sekuat tenaga, hingga membuat kedua preman itu semakin marah dan kesal karena aku masih tetap mencoba kabur dari mereka.


"Aishh....kau masih tidak menyerah rupanya, cepat goyangkan pagarnya agar dia jatuh" ucap preman yang satu.


Hingga ketika aku sudah berada di titik paling atas dan mencoba untuk kembali ke bawah, preman itu menendang pagar tersebut sehingga aku kehilangan keseimbangan dan langsung jatuh ke bawah begitu saja.


"Jangan biarkan dia lolos tendang dengan kuat pagarnya, setidaknya dia harus mati atau hidup dengan sengsara itu yang di perintahkan tuan pada kita, dia sudah membayarnya kita harus melakukan tugas dengan benar" ucap salah satu dari mereka.


"Tidak....jangan, jangan tendang pintunya!" Ucapku berusaha menahan mereka,


"Aaaaahhhh....bughhh" teriakkan terakhirku sebelum aku benar-benar jatuh ke tanah dan langsung tidak sadarkan diri.


Kedua preman yang melihat Sesilia tidak bergerak setelah jatuh, mereka mulai panik dan mengira Sesilia sudah mati sebab darah dari jidatnya mengalir dengan deras sehingga mereka langsung kabur dari sana dan pergi untuk melaporkan kepada tuan yang sudah menyuruh mereka.

__ADS_1


"Gawat dia benar-benar mati, kita akan berurusan dengan polisi jika ada saksi mata disini, ayo sebaiknya kita pergi" ucap salah satu preman dan mereka langsung meninggalkan tempat itu.


Beberapa saat kemudian aku mulai tersadar, dan merasakan kepalaku yang sakit serta seluruh tubuhku yang terluka, kakiku sakit dan lembab, tanganku juga banyak bekas goresan begitu pula dengan jidatku yang terdapat darah mengering disana.


"AA..ahhh...berapa lama aku tidak sadarkan diri disini?" Ucapku sambil bangkit perlahan.


Aku mencoba berjalan menuju kediaman tuan Arnold dan segera mengetuk pintu rumah tersebut dengan sedikit tenaga yang masih tersisa di tubuhku, aku juga sudah menekan bel berkali-kali dan memanggil nama tuan Arnold.


"Tuan.....tolong.....aku....tuan....." Ucapku pelan sampai akhirnya aku kembali ambruk terjatuh dengan lemah di lantai.


Meski aku tidak pindang tapi aku tidak memiliki energi sedikitpun dari tubuhku sekarang, hingga aku pikir itu akan menjadi sebuah akhir dari hidupku, tanpa kusadari air mata mengalir perlahan keluar dari pelupuk mataku hingga membasahi pipi yang penuh dengan darah.


"Ohok....ohok....ini akhir hidupku?, Aahh....sangat menyedihkan" gerutuku pelan.


Hingga aku mulai mendengar pintu terbuka dan sekretaris Ken berteriak menghampiriku dengan cepat.


"SESILIA?, apa yang terjadi denganmu?" Ucap sekretaris Ken kaget dan panik.


Aku senang, dan aku melemparkan senyum kepadanya, karena dia seperti malaikat yang datang menyelamatkan aku di detik-detik terakhir hidupku.


"Sekre....taris Ken....aku ...senang.... Melihat wajahmu.." ucapku dengan senyum yang miris.


"Diam...jangan bicara, aku akan membawamu kedalam" ucap sekretaris Ken langsung menggendongku dan membawaku ke kamar yang sebelumnya pernah aku tempati.


Dia juga terlihat sangat panik dan langsung menelpon seseorang, aku tidak tahu siapa yang dia hubungi karena perlahan kesadaranku juga mulai memudar dan aku pikir saat itu aku akan meninggal dunia, menyusul ibuku yang sudah pergi lebih dulu.

__ADS_1


Padahal disisi lain sekretaris Ken sebenarnya menghubungi dokter pribadi keluarga tuan Arnold dan segera menyuruh dokter tersebut untuk datang ke kediaman tuan Arnold dan memeriksa Sesilia, tidak lupa sekretaris Ken juga segera menghubungi tuan Arnold.


__ADS_2