Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Membalas Perbuatan Mereka


__ADS_3

Aku hanya bisa terus menangis tersedu-sedu dengan merasakan hati yang begitu sakit ketika menunggu ibuku yang masih berada di dalam ruang operasi, ini sudah berlangsung selama satu jam lamanya dan dokter masih belum selesai juga, hingga lima menit kemudian pintu ruang operasi itu terbuka dan keluarlah dokter juga suster yang menangani operasi tersebut, aku langsung bangkit berdiri dan menghampirinya.


"Dok....bagaimana keadaan ibuku, apa dia baik-baik saja, tolong katakan yang sebenarnya dok?" Ucapku bertanya dengan penasaran.


Dokter nampak diam dan dia mulai membuka sarung tangan yang melekat di tangannya juga membuka pakaian medis yang dia kenakan lalu dia mulai berbicara mengenai kondisi ibu kepadaku dan semua orang yang ada disana.


"Operasi berjalan dengan lancar hanya saja saat ini ibu anda tengah mengalami masa kritis entah sampai kapan dia akan bisa melewati masa ini, saya sudah berusaha sebaik mungkin dan hanya keajaiban tuhan yang bisa membantu, permisi" ucap dokter mengungkapkannya.


Kaki ku terasa sangat lemas dan aku ambruk terjatuh ke lantai cukup keras, Tante Maria langsung memelukku dan mengusap lembut kepalaku berkali kali.


"Tante...ibu Tan...ibuku ..dia...dia...tidak sadar juga...Tan aku harus bagaimana?" Ucapku histeris dengan tatapan mata yang kosong.


Hatiku terasa sangat hancur dan sakit aku sangat membenci Siska sejak saat itu dan aku tidak akan membiarkan dia lolos begitu saja setelah membuat ibuku celaka sampai seperti ini, padahal sebelumnya jelas sekali ibu sudah hampir sembuh, dan kini aku tidak akan bisa memaafkannya lagi.


Tante Maria terus berusaha menenangkanku namun aku tetap tidak bisa menerima semua kenyataan ini karena bagiku ini terlalu tidak adil untuk ibuku kenapa orang baik sepertinya harus menerima kesakitan dan penderitaan sebanyak ini sedangkan j*Lang kejam dan biadab seperti Dona harus mendapatkan keberuntungan dalam setiap kejadian yang dia lakukan.


Tentu saja aku tidak bisa menerima hal itu, aku tidak bisa terus terduduk lemah tanpa melakukan apapun kepada mereka.


"Sesilia sayang sabar nak, sabar ini ujian tante yakin kamu anak yang kuat ibumu juga akan kuat dia tidak akan membiarkanmu berjuang seorang diri" ucap tante Maria menenangkan aku,


"Tidak tante aku harus bangkit aku harus memberikan pelajaran kepada mereka karena sudah membuat ibuku koma seperti ini" ucapku dipenuhi dengan emosi yang menggebu dan menjalar di seluruh tubuhku.


Aku bangkit dan melepaskan pegangan tangan dari Tante Maria aku berlari keluar dari rumah sakit dengan emosi yang masih menggebu dan pergi ke rumah untuk menemui Siska dan membalas dia secara langsung atas perbuatannya kepada ibuku.


Ayah juga berusaha menghentikan aku dan dia berhasil menahan lenganku namun aku mendorongnya dengan kuat hingga ayah terjatuh dan aku langsung menghentikan taxi.


"Sesilia tunggu kau mau kemana....Sesilia!" Teriak ayahku begitu keras.

__ADS_1


Aku tidak mendengarkannya dan terus berjalan sesuai tujuanku, hingga sesampainya di rumah aku mendobrak pintu dengan kakiku sekuat tenaga, dan aku berjalan ke arah Siska juga Dona yang saat itu kaget melihat kedatanganku dengan banyak keringat di sekujur tubuh serta kedua tangan yang aku kepalkan.


"Brakkk...." Suara pintu yang aku tendang dengan kuat,


"Astaga dasar kau wanita sialan untuk apa kau kembali lagi kemari, pergilah bersama ibumu ke neraka!" Bentak Siska dengan mulut sampahnya,


Mendengar bentakkan dari Siska emosiku semakin tersulut dan aku semakin yakin untuk membalaskan dendam ibuku terhadapnya, hingga jarakku sudah sangat dekat dengan mereka aku langsung mencengkram kedua kerah baju wanita iblis itu dengan kuat bahkan aku sempat mencekik kedua wanita kejam itu dengan semua emosi di dalam diriku.


"Eughh....eughh...KA..kau..le..lepaskan...kita .." ucap Dona terbata bata karena aku mencekiknya.


Aku hanya tersenyum sinis dengan penuh kepuasan saat melihat mereka hampir kehabisan nafas dan aku sudah rela untuk mendapatkan hukuman di penjara seandainya aku berhasil membunuh mereka yang sudah mencelakainibukunhingga kritis seperti saat ini.


Namun sayangnya tiba-tiba saja pria tua yang tidak berguna datang ke rumah dan dia menendangku dengan kuat hingga aku jatuh tersungkur ke lantai serta kepalaku yang terpentok mengenai sudut meja yang tajam.


"SESILIA...LEPASKAN MEREKA!" Teriak Johana dengan nada yang membentak dan mendominasi.


Aku merasakan sakit yang sangat kuat pada jidatku karena mengenai ujung meja hingga mengeluarkan darah dari sana.


Lukanya cukup besar dan aku mulai merabanya, lalu melihat bahwa itu benar-benar darah, sedangkan ketika rasa pusing di kepalaku sudah sedikit reda aku bisa melihat dengan jelas bagaimana seorang pria brengsek mengkhawatirkan wanita dan anak simpanannya.


"Sayang apa kau baik baik saja, Siska bagaimana denganmu nak?" Ucap Johana sambil memegangi mereka beberapa saat,


"Sayang aku hampir mati dibuatnya dia anak yang jahat kita tidak bisa membuatnya bertahan di rumah ini, dia iblis berkedok manusia" ucap Dona mulai memasang wajah menyedihkan dan berakting di depan ayahku yang bodoh.


"Tenang saja sayang aku akan menjaga kau dan Siska dia tidak akan berani mencelakai kalian berdua" ucap Johana menenangkan mereka berdua.


Aku perlahan bangkit dengan tertatih dan kaki yang masih merasa sakit, lalu aku berjalan menghampiri mereka dengan mata yang merah serta senyum kecil penuh dengan dendam serta kebencian.

__ADS_1


Melihat mereka sangat membenciku dan bisa saling mengkhawatirkan hingga berpelukan bersama di belakang ibuku yang tengah berjuang atas hidupnya ditengah-tengah hidup dan mati aku sungguh semakin benci melihatnya.


"Prok...prok...prok...bagus...hahaha...bagus sekali Johana, kau berani menendangku dengan kuat tanpa berpikir apa aku akan mati dan celaka atau tidak karena perbuatanmu tadi, tapi kau sangat mengkhawatirkan keluarga simpananmu itu hahaha....bagus Johana" ucapku dengan tawa yang menggelegar dan terluka tangan yang membuat mereka bergidik ngeri.


Johana nampak melindungi Dona dan Siska dia berdiri menghadangku dan melindungi kedua orang pembunuh itu di belakang tubuhnya sambil dia yang merentangkan kedua tangannya.


"Sesilia...sayang....dengarkan ayah, tadi ayah hanya panik dan tidak sengaja melakukan itu padamu, Sesilia sadarlah kamu tidak boleh seperti ini....ingat dengan ibumu nak...dia membutuhkanmu" ucap Johana berusaha menahanku.


Aku terasa sakit dan langsung menangis saat mengingat tentang ibuku dan aku tidak berhenti berjalan mendekati ayahku aku tetap merasa kesal dan tidak bisa membiarkan mereka lolos begitu saja meski aku tahu ibu sedang kritis di rumah sakit tapi aku tahu ada tante Maria di sana dia pasti akan menjaganya sehingga aku bisa mempercayai ibu kepadanya.


"Ahaha ...lucu sekali kau berusaha menahanku dengan menggunakan nama ibuku?, Lalu bagaimana denganmu hah?, Kau berusaha melindungi mereka meski mereka berkali kali mencelakai aku dan ibuku, kau pikir aku hilang ingatan?, Kau bodoh Johana aku baik-baik saja, aku ingat semua yang wanita simpananmu lakukan padaku. Dan sekarang....aku akan membalasnya" ucapku dengan keras dan emosi yang membeludak.


Aku menghajar Johana tepat mengenai perutnya hingga dia ambruk ke lantai dengan meringis kesakitan sedangkan aku terus menghampiri Siska dan dia nampak begitu panik tak karuan.


"Tidak berhenti di situ, jangan mendekatiku, pergi kau..." Teriak Siska bergetar ketakutan,


Aku semakin senang ketika melihatnya ketakutan seperti itu dan aku hanya menggambarkan senyum kecil lalu langsung mencekik lehernya dan menghempaskan dia ke dinding dengan sekuat tenagaku.


"Aaahhh....brukk.....aaawww...." Teriak Siska yang jatuh menghantam dinding rumah itu.


Setelah itu aku mulai beralih kepada Dona, wanita yang sudah mencelakai ibuku, dan dia juga yang telah merebut ayahku.


"Kau....kau adalah otak dari semua bencana ini, aku akan membunuhmu wanita sialan!" Bentakku sambil berjalan ke arahnya.


Namun tiba-tiba saja ada seseorang yang memukul kepalaku dari belakang sampai aku langsung kehilangan kesadaranku dalam sekejap.


"Maafkan ayah Sesilia" ucap Johana lalu dia memukul kepala Sesilia dari belakang menggunakan pas hiasan yang ada di sana.

__ADS_1


"Arkhh...." Suaraku menahan sakit dan ambruk tak sadarkan diri.


__ADS_2