Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang

Terjerat Cinta Gadis Pelunas Hutang
Menyetujui Perjodohan


__ADS_3

Setelah berbicara dan memberikan pengertian ke pada sang ibu agar tidak mengkhawatirkan dirinya Sesilia pun pergi ke kamarnya dengan perasaan campur aduk, tidak bisa di pungkiri meski keadaan ibunya semakin hari kini semakin membaik namun Sesilia tahu jika syarat mati tidak hanya sakit, dia merasa ibunya menjadi lebih pesimis sekarang bahkan dia mengatakan bahwa waktu tidak lama lagi.


Itulah yang membuat Sesilia merasa sedih sekali, namun meski se sedih apapun dirinya saat ini Sesilia tetap harus terus semangat dan mengikuti apa yang menjadi keinginan serta harapan terakhir ibunya tak tak lain untuk melanjutkan pendidikan dan berkuliah di universitas internasional di mana itu adalah satu satunya universitas terbaik di negeri ini bahkan universitas tersebut sudah sangat terkenal sejak lama dengan lulusannya yang begitu sukses saat ini.


Sesilia kembali menyemangati dirinya dan mulai menghapus sisa air mata di pipinya dia mulai membuka laptop dan mencari informasi mengenai pendaftaran ke universitas tersebut. Tak lama saat Sesilia baru saja selesai mendaftar ayahnya datang mengetuk pintu kamarnya.


"Tok....tok...tok...Sesilia apa kamu sudah tidur?" Teriak sang ayah di balik pintu,


"Masuklah ayah aku masih terjaga" balas Sesilia yang membuat Johana langsung masuk ke dalam.


Johana menghampiri putrinya tersebut lalu dia duduk tepat di samping Sesilia lalu mulai mengutarakan niatnya tersebut untuk menyampaikan berita mengenai perjodohan putrinya dengan Brain putra dari sahabatnya Bramantyo.


"Ayah kau baru pulang?, Kenapa langsung ke kamarku?" Tanya Sesilia dengan heran.


Pantas saja Sesilia merasa heran karena tidak biasanya sang ayah menemui dia ke kamarnya di waktu selarut ini dan saat itu Sesilia sudah memiliki firasat bahwa akan ada hal penting yang mau ayahnya bicarakan terhadap dirinya.


"Begini Sesilia kamu tahu sendiri bagaimana kondisi perusahaan kita saat ini dan ayah tadi baru saja pergi ke perusahaan sahabat ayah, kamu masih ingat tuan Bramantyo kan?" Ucap sang ayah mulai menjelaskan,


"Iya aku tahu, lalu bagaimana pendapatnya apa dia mau memberikan pinjaman dana padamu?" Balas Sesilia balik bertanya,

__ADS_1


"Untungnya dia mau tapi dengan syarat kamu harus bertunangan dahulu dengan putranya Brain, kamu juga pasti mengenal Brain dia sangat terkenal di kampus internasional dan dia adalah lulusan terbaik tahun lalu, ayah pikir tidak ada salahnya memberikan putri ayah kepada pria sehebat dirinya. Itu akan membuat masa depanmu terjamin dan dia juga pria yang baik" ucap Johana menjelaskan semuanya.


Sesilia membuka matanya sangat lebar dia kaget dan tidak menyangka ayahnya sendiri menjadikan dirinya sebagai jaminan atas uang yang dia pinjam dari sahabatnya sendiri, meskipun ayahnya tidak mengatakan hal seperti itu namun dari cara yang dilakukannya itu sama saja dengan membuat Sesilia sebagai bayaran atas hutang yang dipinjam oleh dirinya.


Tentu saja Sesilia menolak dengan keras dan dia sangat tidak setuju dengan keputusan ayah ya tersebut.


"APA?, ayah apa kau berpikir aku ini sangat tidak berharga untukmu?, Kenapa kau tega sekali menjualku pada tuan Bramantyo untuk menjadi menantunya?" Bentak Sesilia dengan kesal dan sedih yang bercampur jadi satu,


Johana tertunduk lesu dia paham apa yang dikatakan oleh putrinya memang benar secara tidak langsung dia menjadikan putrinya sebagai bahan jaminan dari semua hutang hutangnya, melihat reaksi dari Sesilia yang menolak dengan keras mengenai perjodohan tersebut Johana pun berhenti membicarakan mengenai hal lainnya yang jauh lebih penting terutama dampak jika dia menolak kesepakatan tersebut juga nasib Sesilia yang sudah terlanjur dia sepakati dengan tuan Bramantyo dan dia sudah menandatanganinya.


Alhasil Johana mulai menggunakan trik cerdik dan liciknya dia mulai memasang wajah yang menyedihkan juga berbicara yang sangat lesu tak bersemangat hingga pada akhirnya membuat Sesilia menyetujui keinginan ayahnya karena dia tidak tega dengan keadaan sang ayah, apalagi yang dikatakan oleh ayahnya menyangkut mengenai ibunya saat ini.


"Maafkan ayah Sesilia, tapi ayah sudah menyetujui perjodohan ini dengan tuan Bramantyo dan kamu tidak bisa lepas dari orang besar sepertinya, maafkan ayah karena ayah gelap mata, ayah melakukan ini demi ibumu juga, karena jika perusahaan kita bangkrut dari mana lagi uang untuk membiayai ibumu sedangkan kamu tahu ayah ingin ibumu sembuh seperti sedia kalah, maafkan ayah Sesilia. Jika kamu tidak mau ayah rela mengorbankan diri ayah sendiri untukmu nak, kamu tidak perlu khawatir" ucap Johana mulai berakting.


"Baiklah ayah, jika semua ini sungguh demi ibu aku akan menerima perjodohan ini, dan kau bebas menentukan tanggalnya hanya saja aku ingin menikah ketika aku sudah lulus kuliah" ucap Sesilia memberikan keputusan.


Johana langsung berubah senang dia mulai mengusap air mata palsu yang dia keluarkan dengan susah payah sebelumnya lalu dia langsung memeluk Sesilia dengan erat.


"Terimakasih sayang, ayah sangat berhutang banyak padamu, terimakasih Sesilia" ucap Johana begitu senang,

__ADS_1


"Tidak masalah bagiku ayah asalkan semua ini demi ibu dan kau harus berjanji untuk tidak mengkhianati ibuku maka aku akan dengan senang hati membantumu tetapi ingatlah ini ayah jika sekali saja kau berkhianat dan menyakiti ibu, kau bukan ayahku lagi" ucap Sesilia memberikan sebuah peringatan besar dan tegas kepada Johana.


Johana sangat kaget saat mendengar peringatan tersebut dari Sesilia dia sungguh merasa sangat terpukul oleh ucapan putrinya sendiri dan dengan cepat Johana mengangguk menyetujui ucapan putrinya tersebut bahkan demi menutupi ke gugupan dalam dirinya Johana sampai berani berjanji pada Sesilia dengan niat agar Sesilia tidak menaruh kecurigaan dan yakin dengan dia sepenuhnya.


"Tenang saja Sesilia ayah akan memberikan yang terbaik untukmu dan ibumu ayah juga janji tidak akan mengkhianati ibumu apalagi menyakitinya" ucap Johana telah berjanji pada Sesilia.


Untuk saat ini Sesilia telah jatuh ke dalam perangkap ayahnya sendiri dia merasa senang karena berpikir ayahnya telah berubah, dia juga mempercayainya lagi saat ini, tanpa dia ketahui apa yang sebenarnya terjadi di belakangnya.


*****


Ke esokan paginya Johana telah menentukan waktu temu dengan keluarga Bramantyo dan pagi ini Sesilia tengah bersiap siap untuk membawa ibunya berjalan jalan di sekitar jalanan sana bersama suster Maria yang senantiasa merawat ibunya dengan penuh kasih sayang.


Sesilia juga mulai menceritakan semuanya ke pada sang ibu, namun di sini ibu Laura justru berubah drastis wajahnya yang tadi ceria saat Sesilia membawanya berjalan jalan di pagi hari kini telah berubah menjadi penuh dengan amarah.


"Ibu apa kamu baik baik saja?" Tanya Sesilia khawatir,


"Sesilia kenapa kamu begitu ceroboh?, Kenapa kamu mempercayai ayahmu lagi padahal ibu sendiri belum bisa memaafkan dia?, Ibu lebih tahu bagaimana ayahmu dan ibu perintahkan kamu untuk membatalkan perjodohan tersebut!" Ucap ibu Laura dengan wajah yang dipenuhi kekesalan,


"Tidak bisa bu, aku sudah membuat keputusan dan tuan Bramantyo bukan orang yang bisa kita singgung seperti ini, jika kita menyinggungnya secara terang terangan dia bisa membuat keluarga kita benar benar rata dengan tanah, dan aku tidak ingin ibu terluka sedikitpun, aku ingin ibu sembuh maka dari itu aku membantu ayah untuk mempertahankan perusahaan kita, dan aku juga berhak mempertahankan perusahaan itu karena itu milik kita, iya kan bu" ungkap Sesilia menjelaskan kepada sang ibu.

__ADS_1


Meski Sesilia telah mengatakan segalanya dan memberikan penjelasan yang sangat masuk akal dan sangat detail kepada sang ibu namun tetap saja ibu Laura menentang perjodohan tersebut sangat keras.


"Tidak ibu tetap tidak setuju dengan keputusanmu, seandainya ibu harus memilih ibu akan tetap memilih mati dan berhenti melakukan pengobatan dari pada menjualmu secara tidak langsung pada keluarga Bramantyo!" Bentak ibu Laura dengan keras.


__ADS_2